Jatukarma

Jatukarma
Bab 29


__ADS_3

Di jalan yang sepi, pemuda bercaping berhenti. Ia sudah tahu ada yang mengikuti langkahnya.


Pemuda itu sengaja mengambil arah menjauhi penginapannya, berjalan berputar-putar di tengah kota.


"Keluarlah !" katanya ditujukan pada para penguntitnya.


Tandika dan kawan-kawannya meloncat keluar dari balik pepohonan.


"Pemuda petani, makanlah ini..." Kalisang melemparkan dua batang kayu pendek mengarah dua jalan darah penting.


Pemuda itu mengelak. Kayu totok yang dilempar Kalisang runtuh ke tanah.


"Kenapa kamu menyerangku?" suara yang berat dan dalam pemuda itu bertanya dengan heran.


"Kami hanya ingin berkenalan denganmu, saudara !" Tandika yang menyahut.


"Bisakah kamu buka capingmu? Biarkan kami melihat wajahmu yang bagus." kini giliran si genit Kania yang bicara dengan suaranya yang centil.


"Berkenalan tetapi menyerang ! Sungguh suatu cara yang berbeda !" sindir pemuda itu.


"Abaikan saudara kami yang pemarah ! Silahkan saudara memperkenalkan diri dan maksud tujuan ke mari?" Kata Tandika dengan suara lebih sopan.


"Apakah kau datang untuk mengikuti sayembara Tuan Narjuman?" tambah Kalisang.


"Hmm..." pemuda itu tersenyum .


"Kalau iya, memangnya kenapa? Kalau tidak, memangnya kenapa?" jawabnya penuh teka-teki.


"Jangan banyak bicara ! Lekas jawab pertanyaan kami !" bentak Kalisang.


"Siapa kalian? Rajaku bukan, majikanku bukan. Kenapa harus mematuhi perintah kalian?" ejek pemuda itu.


Kemudian ia berkelebat pergi.


Gerakannya sangat cepat kali ini. Keempat orang itu sama sekali tidak mampu mengejarnya.


Dalam sekejap mereka telah kehilangan jejak.


Hanya Citra Kartika yang masih mampu mengejar orang bercaping itu diam-diam


Di sebuah tikungan, orang itu tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang. Citra Kartika tidak sempat bersembunyi lagi.


Mereka berdiri berhadapan.


"Raden Surya Kencana, kenapa memakai kedok caping?" tanya Citra Kartika.


Orang bercaping terkesiap. Ia mendongak, dan menatap wajah hitam di depannya dengan terkejut.


***


Sore itu, serombongan orang menunggang kuda akan melintasi hutan bambu untuk menuju kota M. Rombongan itu dipimpin oleh Harya Wisanggeni, putra Adipati Hujunggaluh.


Harya Wisanggeni berhenti di pinggir hutan bambu. Hari sudah gelap. Ia memerintahkan para pengawalnya untuk menghentikan perjalanan ke kota M dan bermalam di situ.


Belum sempat mereka turun dari kuda, berdesing berbagai macam senjata rahasia mengarah ke tubuh Harya Wisanggeni. Pemuda itu segera meloncat dari atas punggung kuda untuk menghindar.


Sebagai akibatnya, kudanyalah yang terkena sabetan senjata rahasia. Kuda malang itu tersungkur lalu melejangkan kakinya, kesakitan.


"Kurang ajar! Siapa kalian? Pengecut sekali kalian, menyerang dari kegelapan !" bentak Harya Wisanggeni.


"Tunjukkan wajah kalian kalau berani !" tantangnya .


Beberapa orang bertopeng berloncatan dari balik rerimbunan pohon bambu. Total ada sekitar dua puluhan orang, mengepung Harya Wisanggeni dan sepuluh orang pengawalnya.

__ADS_1


Tanpa diberi komando lagi, dua puluhan orang itu bergerak serentak menyerang.


Para pengawal Harya Wisanggeni segera melindungi sang majikan. Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi terjadi dengan serunya.


Pada dasarnya pasukan pengawal Harya Wisanggeni sudah kalah jumlah.


Apalagi rata-rata orang-orang yang mengeroyok memiliki ilmu kanuragan tinggi, terutama dua orang pemimpinnya.


Harya Wisanggeni dikeroyok oleh kedua orang itu. Pemuda bangsawan itu melihat sebagian prajuritnya sudah terluka, sehingga ia bertempur dengan marah.


Pada saat itulah tiba-tiba berkelebat dua bayangan orang bercaping.


Dua orang itu tanpa basa-basi membantu mengusir sepasukan orang bertopeng hingga kucar-kacir.


Salah satu orang bercaping membantu Harya Wisanggeni yang dikeroyok dua. Bantuan itu amat berarti bagi pemuda yang telah terluka itu.


Keadaan kini berbalik. Dua puluh orang beropeng terdesak hebat oleh bantuan dua orang yang baru datang. Banyak di antara mereka yang telah terluka parah kena sabetan senjata para pengawal Wisanggeni.


Dua pimpinan orang bertopeng memberi tanda. Seketika orang-orang bertopeng melarikan diri, berloncatan masuk ke dalam rerimbunan hutan kembali.


Dua orang bercaping membiarkan mereka melarikan diri.


Salah satu pemuda bercaping itu menghampiri Harya Wisanggeni yang bersoja memberi hormat pada mereka.


" Kisanak, terimakasih banyak atas bantuannya ! Saya, Harya Wisanggeni saat ini tidak bisa membalas, mudah-mudahan lain kali kami bisa membalas budi baik kisanak berdua ! Mohon kami diberitahu siapa nama kisanak berdua yang mulia..."


Kedua orang itu membuka capingnya.


Harya Wisanggeni terbelalak ketika mengenali pemuda tampan yang menatapnya sambil tersenyum .


"Tuan... Raden..."


"Ssst..." Raden Surya Kencana memberi tanda agar Harya Wisanggeni tidak melanjutkan kata-katanya.


"Harya Wisanggeni, yang paling berperan untuk menyelamatkanmu adalah dia..." kata Surya Kencana sambil menunjuk orang di sebelahnya.


"Perkenalkan, gadis ini bernama Nila Warsiki. Dia yang meminta padaku untuk menyelamatkanmu di sini. "


"Benar. Aku tidak sengaja mendengar percakapan empat orang mencurigakan yang ingin menyingkirkanmu di hutan bambu. Mereka ingin menghilangkanmu yang dianggap salah satu penghalang terbesar mereka ! " Gadis manis berkulit hitam itu menjelaskan.


Harya Wisanggeni terpaku. Tak dinyana perjalanannya ke kota M untuk mencegah keterlibatan ayahnya dalam kelompok-kelompok pengkhianat negara, telah diketahui oleh orang-orang jahat itu .


Salahnya yang membawa terlalu sedikit orang. Padahal ia sebelumnya mempertimbangkan untuk membawa prajurit pengawal lebih banyak lagi. Tapi ia kuatir jumlah pasukan pengawal terlalu banyak akan menarik perhatian dan kecurigaan .


"Marilah kita obati dulu luka-lukamu dan segenap pasukanmu, serta kuda-kuda yg terluka."


Nila Warsiki atau Citra Kartika mengeluarkan obat-obatan dari buntalan yang selalu dibawanya.


Dengan cekatan ia membersihkan dan mengobati luka di lengan Harya Wisanggeni, lalu membalutnya. Setelah selesai, ia beranjak menuju para prajurit yang menderita luka paling parah.


Dua jam kemudian, seluruh prajurit dan kuda-kuda yang luka telah dirawat dengan telaten oleh gadis itu.


Tenda-tenda telah didirikan. Beberapa api unggun telah dinyalakan untuk mencegah binatang buas mendekat.


Di sebuah tenda, Harya Wisanggeni menjamu kedua penolongnya dengan makanan sekedarnya. Mereka makan minum ditemani seguci kecil arak untuk menghangatkan badan dari dinginnya malam.


Nila Warsiki menceritakan secara detail persoalan empat bersaudara Tandika yang mengincar nyawa Harya Wisanggeni.


"Entah kenapa kamu disebut-sebut sebagai penghalang terbesar untuk kelompok mereka. Entah bagaimana maksudnya, aku belum begitu jelas. Maukah kamu menceritakannya padaku dan Raden Surya Kencana?"


Nila Warsiki menatap dalam-dalam mata Harya Wisanggeni.


Pemuda bangsawan Hujunggaluh itu merasa betapa tatapan itu menghujam uluhatinya. Ia serasa akrab dengan sorot mata sayu memukau ini. Tetapi di manakah kira-kira ia pernah berjumpa dengan gadis keling ini?

__ADS_1


"Raden Surya Kencana, pertama-tama hamba menghaturkan permohonan ampun kepada Raden, atas apa yang akan hamba ceritakan !"


"Aku sudah mendengar sedikit garis besarnya dari cerita Nila Warsiki. Tetapi kami ingin memastikan kelengkapan cerita darimu !" Surya Kencana menatap Wisanggeni.


Dengan berat hati Harya Wisanggeni bercerita.


Telah lama kelompok partai Kelelawar Maut dan Pasir Hitam membangun pasukan tentara yang terlatih. Sarang mereka ada di beberapa tempat dan selalu berpindah-pindah, untuk menghindari penciuman pihak teliksandi Panjalu.


Mereka mendapat sokongan penuh dari kerajaan Malawapati dan Jenggala. Dan masih ada lagi satu dukungan diam-diam dari kadipaten Hujunggaluh, yang adipatinya adalah ayah kandung Wisanggeni sendiri .


" Hamba tidak pernah setuju dengan keputusan Ayah. Itulah sebabnya ayah tidak pernah membawa hamba dalam setiap rencana yang disusunnya !' tegas Harya Wisanggeni.


"Yang sering diajak dalam setiap pertemuan adalah adik hamba. Kali ini hamba disuruh mewakili ayah untuk menghadiri sayembara di kota M ! Hamba tidak menyangka bahwa ini semua adalah rencana ayah untuk menyingkirkan hamba ."


"Sejujurnya, seperti yang aku dengar, rencana untuk melenyapkanmu bukanlah berasal dari ayahmu. Ia tidak tahu apa-apa dalam hal ini. Yang memerintahkan mereka untuk menghabisimu adalah Prajala, pemimpin Kelelawar Maut !" tukas Nila Warsiki.


Harya Wisanggeni manggut-manggut.


Mereka bercakap-cakap hingga jauh malam, untuk menyusun rencana selanjutnya.


Ketika mereka telah banyak berbincang, Harya Wisanggeni tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Dengan ragu-ragu dan sopan, ia bertanya pada Nila Warsiki.


"Nona, tolong maafkan kelancanganku. Sepertinya nona tidak asing bagiku, tetapi aku tidak tahu di manakah pernah berjumpa dengan nona?"


Surya Kencana yang tengah meneguk air tiba-tiba tersedak karena tertawa .


Sementara wajah keling Nila Warsiki bertambah hitam karena rona merah.


"Hahaha ..dia bukan siapa-siapa, Wisanggeni. Dia hanya seorang pendekar pilih tanding pembela tanah air yang telah lama bersahabat denganku."


"Oh ..begitu .."


"Ya, setidaknya cukup begitulah yang kamu ketahui saat ini !"


Pagi itu, sebenarnya Raden Surya Kencana pun tidak mampu mengenali wajah hitam Nila Warsiki.


"Raden Surya Kencana, kenapa engkau memakai kedok caping?" ketika gadis itu bertanya, ia sungguh-sungguh terkejut.


Dengan waspada diamatinya wajah itu. Wajah yang teramat manis, meskipun kulitnya keling. Dan wajah itu nampak tidak asing dalam ingatannya.


"Siapa kau?" tanyanya waspada .


Dan ia mundur dengan terkejut ketika gadis keling itu tiba-tiba mengeluarkan suara tawa melengking, seperti tawa hantu.


"Hihihiiiii..."


"Hihihihihiii.."


"Kalau aku katakan bahwa aku adalah hantu gunung yang kesiangan, apakah kamu percaya?" Citra Kartika menggunakan suaranya yang asli.


Seketika Surya Kencana melengak kaget. Itu suara yang tidak asing baginya. Suara adik sepupunya, yang telah lama menghilang bagai ditelan bumi.


"K..Kau..Citrawani? Galuh Citrawani?"


"Eh...kau bisa menebak dengan tepat.." gadis keling itu tertawa. Tapi diam-diam air bening membulir di sudut matanya .


"Kakak sepupu, ya ini aku Citrawani."


"Adiiikkk...." Lupa tempat dan suasana, Raden Surya Kencana hendak memeluk adik sepupunya. Tetapi Citrawani mengangkat tangannya, menahan.


"Eits, tidak boleh peluk-peluk, kakak ! Ingat kamu sudah dewasa, dan aku juga sudah dewasa !"

__ADS_1


"Baiklah. Peluk tidak boleh, tapi cerita boleh kan? Kamu harus menceritakan semua kepadaku, tidak ada yang terlewat sedikitpun !"


"Baiklah kakak, baik... Tapi kita harus mencari tempat yang aman, agar tidak ada yang ikut mendengar cerita ini !"


__ADS_2