
Bagawan Wistara memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Sebuah bintang yang besar di langit barat, memancarkan sinar yang sangat terang. Terlihat mencolok di antara bintang-bintang lain yang bersinar redup.
"Takdir membuatku harus mencampuri urusan duniawi sekali lagi. Aah...biarlah. Setelah ini aku bisa mengundurkan diri untuk waktu yang lama .." gumamnya sendiri.
Sang Bagawan tersenyum ketika langkah kaki orang di kejauhan tertangkap oleh indra pendengarannya yang luar biasa tajam.
" Mereka sudah datang..."
Bergegas sang Bagawan memerintahkan murid-muridnya untuk merebus air mandi dan menyiapkan hidangan makan malam untuk empat orang tamu.
Benar saja.
Tengah malam itu muncul empat orang tamu yang bukan lain adalah Surya Kencana, Citrawani dan dua pengawal mereka.
Keempat orang itu tercengang ketika hidangan makan yang masih panas mengepul tersedia di depan mereka .
"Kalian pasti lelah dan lapar, anak-anakku. Mandilah terlebih dulu. Air hangat telah tersedia untuk kalian. Setelah itu makan dan istirahat. Besok barulah kalian menghadap pada Romo."
Romo Bagawan menyambut mereka, menyentuh kepala kedua keponakannya yg bersujud di kakinya.
"Semoga Hyang Widi selalu menjaga kalian," katanya sambil tersenyum teduh.
"Terimakasih Romo. Kalau begitu silahkan Romo beristirahat, hari sudah sangat malam. Maafkan kami yang tergesa-gesa dalam perjalanan..." kata Surya Kencana .
"Romo mengerti. Baiklah, biar para murid yang melayani kalian. Romo tinggal dulu, ya ?"
Keempat orang itu segera membersihkan badan masing-masing. Mereka bersantap tanpa basa-basi lagi karena perut mereka memang lapar sekali .
Keesokan harinya, Bagawan Wistara menemui mereka di balai pergola .
"Bagaimana, nanda? Apa jawaban dari Bagawan Lalitaswara?"
"Romo Lalitaswara mengirimkan surat balasan untuk Romo."
Surya Kencana menghaturkan surat dari Bagawan Lalitaswara kepada pamannya.
Bagawan Wistara menerima surat itu dan langsung membuka gulungannya, lalu dibaca dengan seksama.
__ADS_1
"Hmm... baiklah. Sudah saatnya Romo mengunjungi Daha dan Panjalu. Kalian beriatirahatlah dulu di sini. Jika lelah kalian sudah hilang, kalian boleh menemani Romo pergi turun gunung ." Kata Bagawan Wistara.
"Benarkah itu, Romo?" Surya Kencana girang.
Telah belasan tahun lamanya Bagawan Wistara tidak pernah keluar dari pasraman gunung Welirang. Selama ini, jika rindu atau membutuhkan bimbingan, merekalah yang berkunjung ke pasraman.
Termasuk adik-adik kandung sang Bagawan, yaitu Prabu Aryaiswara, Adipati Arya Wisena dan Panglima Jayasendra.
Kini untuk pertama kalinya Bagawan Wistara turun gunung . Mereka merasa girang dan terharu.
"Kapan Romo berencana untuk berangkat? Kami akan ikut dengan Romo turun gunung, kapanpun itu..." kata Citrawani, disetujui oleh Surya Kencana dengan anggukan kepala.
"Istirahatlah dulu barang beberapa hari, nanda. Berikan juga kesempatan pada kuda-kuda kalian untuk beristirahat. Setelah kalian cukup isitarahat barulah kita akan berangkat."
"Baik, Romo."
Para murid sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan menjadi bekal sang guru turun gunung .
Mereka mengeringkan ketela, jagung dan beberapa jenis sayur dan bumbu yang bisa dikeringkan. Bagawan Wistara adalah seorang vegetarian, sehingga perjalanan panjang melewati hutan dan dusun-dusun akan lebih mudah untuk dilakukan dengan membawa bekal.
Bagi orang lain, mudah saja bagi mereka untuk mendapatkan bahan makanan di hutan atau dusun.
Ketika saatnya tiba untuk turun gunung, Bagawan Wistara membawa serta dua orang muridnya. Mereka menuruni lembah dengan berjalan kaki, lalu memasuki dusun di bawah kaki bukit. Kuda-kuda milik Surya Kencana dan kawan-kawannya dititipkan di situ.
Hanya ada seekor kuda milik kepala dusun yang bisa dibeli oleh Surya Kencana, untuk diberikan kepada Begawan Wistara.
Dua ekor kuda untuk kedua murid sang Begawan akhirnya didapatkan dari sebuah desa yang agak ramai, sekitar satu hari perjalanan dari gunung.
Akhirnya mereka semua menunggang kuda hingga perjalanan menjadi lebih cepat menuju kadipaten Daha.
.....
Raden Jayanti Suryapaksi mengepalai para pemimpin pasukan Jenggala bersama Nareswara dan Panglima Jayasendra. Mereka merundingkan masalah pasukan-pasukan pendam yang diam-diam dihimpun oleh musuh-musuh kerajaan.
"Menurut laporan para telik sandi di daerah Hujung Galuh, pasukan pendam di sana telah diusir oleh pihak adipati Wilanggiri..." lapor seorang komandan pasukan.
"Adipati Hujung Galuh itu mendengarkan peringatan yang diberikan oleh Romo Adipati Daha. " Suryapaksi menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Jika ia memilih untuk setia kepada Jenggala, maka daerah kekuasaannya meliputi Hujung Galuh dan Semeriwi harus bersih dari pasukan-pasukan asing !" Narewara berkata.
"Demikian pula daerah Kebisah, Kedung, sampai pesisir utara telah bersih dari pasikan-pasukan pendam. Para kepala daerah telah diberi peringatan keras oleh Panglima. Mereka semua tidak ada yang berani macam-macam lagi," kata seorang komandan.
"Kita sudah memberi peringatan terakhir. Jika masih ada laporan dari para telik sandi, maka pasukan kerajaan siap ngelurug daerah-daerah yang membangkang dan meratakan pasukan mereka dengan tanah!" tegas Raden Suryapaksi.
"Telik sandi hamba melaporkan, masih ada beberapa pasukan pendam di sepanjang daerah perbatasan barat laut dan pantai selatan, Raden !" lapor komandan pasukan intelijen yang khusus menyisir daerah selatan .
"Jumlah prajurit tempur mereka ada sekitar duaratus ribu orang, dan mereka terbagi menjadi prajurit berkuda sebanyak seribu orang, sisanya prajurit kavaleri (berjalan kaki). Pemimpin tertinggi mereka adalah Prajala yang berasal dari Malawapati. Mereka disamarkan sebagian di perguruan Pasir Hitam dan Partai Kelelawar Maut , dan sebagian kecil lainnya dipendam di perguruan gunung Kemukus ."
"Belakangan ini pasukan perang Janggala tidak menunjukkan pergerakan berarti. Mereka terlihat tidak sibuk dan adem-ayem," pemimpin telik sandi yang bertugas di Jenggala melaporkan.
"Hal ini mungkin ada kaitan dengan tidak aktifnya Prabu Jayengrana dalam tampuk pemerintahan. Sementara ini roda pemerintahan digerakkan oleh Ratu Liku divantu oleh Patih Agung kerajaan Panjalu !"
"Apakah telik sandi ada melaporkan kenapa Prabu Jayengrana tidak aktif ? Apakah beliau sakit?"
"Telik sandi kami tidak ada melaporkan hal tersebut. Hanya saja, ditengarai beliau memang sedang sakit, karena Pangeran mahkota Bagus Saksena sempat meninggalkan istana menuju ke gunung Kelud. Ditengarai Raden Bagus Saksena tengah mencari tabib yang terkenal tapi sulit untuk ditemui, yaitu Begawan Lalitaswara."
"Begawan Lalitaswara?" Raden Suryapaksi mengerutkan dahi. Rasa-rasanya ia tidak asing dengan nama itu. Entah di mana ia pernah mendengarkan nama itu.
"Apakah kalian pernah mendengar tentang Begawan Lalitaswara?" tanya putra penguasa Panjalu itu .
"Tidak pernah, Raden. Konon beliau adalah seorang yang sangat sakti dan bertuah. Tidak ada yang bisa menemukan kediaman beliau, jika bukan atas ijin dan kemauan beliau sendiri."
"Hebat sekali .." Suryapaksi bergumam.
Panglima Jayasendra berdehem.
"Raden, paman pernah mendengar nama itu . Ayahandamu, Romo Adipati dan Romo Begawanmu, mereka semua tahu tentang beliau. Hanya paman yang tidak pernah bertemu muka dengan beliau, karena paman terlalu kecil saat itu. "
"Kalau begitu, nanda akan bertanya kepada ayahanda !" kata Raden Suryapaksi.
"Jadi selama tidak ada pergerakan berarti dari Jenggala , pihak kita hanya akan bersiaga. Mengenai pasukan pendam di Malawapati, saya akan perintahkan kepada pihak dimas Nareswara. Dan para prajurit Daha sebagai daerah terdekat dengan Malawapati, untuk bekerjasama dengan pasukan berkuda kita . Dibantu oleh Panglima Warawi untuk mengurusnya!"
"Hamba siap. Kanda !" kata Narewara.
"Siap, Raden !" Panglima Warawi menerima perintah dengan tegas.
__ADS_1
"Panglima Warawi siapkan pasukan berkuda kita lima kali lebih banyak dari pasukan pendam Prajala. Dimas Nares, siapkan pasukan kavaleri dua kali dari jumlah pasukan mereka. Kita buat mereka kocar-kacir dan hancur tanpa jejak !"
"Siap !"