
Hari ini Galuh Citrawani kembali ke istana. Ibunya telah berangsur sembuh, meskipun belum pulih sepenuhnya. Galuh Mayani menemani kakaknya ke ibukota sementara Galuh Wasanti tetap tinggal untuk merawat sang ibu.
Adipati Daha dan istrinya memeluk putri mereka erat-erat. Terasa sekali mereka enggan untuk melepas si sulung pergi. Si kembar juga berpelukan erat .
"Mayani, nanti kalau kamu sudah puas melihat-lihat ibukota, segera pulang ke sini ya. Gantian aku yang akan berjalan-jalan ke ibukota," Wasanti mengingatkan kembarannya.
"Beres !" Mayani menepuk-nepuk punggung saudaranya.
"Wasanti, kakak titipkan Ayah dan Ibu padamu ya. Tolong jaga orangtua kita baik-baik !"
"Siap laksanakan, kakak!" Wasanti melepaskan pelukan Mayani, lalu menghampiri kakaknya dan memeluk erat-erat.
"Kakak, jangan biarkan Mayani berkeliaran sendiri di ibukota ya...dia sering lupa jalan," Wasanti meledek adiknya sambil tertawa. Mayani memukul lengan Wasanti main-main.
"Mana ada. Kamu yang harus selalu aku temani ke mana-mana karena suka nyasar !"
"Sudah, sudah. Kalian kalau bersama selalu bertengkar, tapi kalau berjauhan saling merindukan," tegur sang ibu.
" Citra, jaga adikmu baik-baik ya, dia tidak begitu mengenal ibukota ! Mayani, nanti dengar apapun kata-kata kakakmu, jangan suka keluyuran sendirian. Ingat, kamu sudah jadi anak gadis sekarang."
"Baik, ibu!" Kedua gadis itu hampir menyahut berbareng.
Setelah bersujud di kaki kedua orangtuanya, Citrawani menuntun tangan adiknya untuk menaiki kereta kuda, dibantu oleh para pelayan. Mereka melambai-lambaikan tangan ketika kereta mulai bergerak maju, membelah jalanan kadipaten Daha.
Mayani memandangi istana kadipaten yang makin menjauh. Seumur hidup, ia lebih banyak terkurung oleh tembok tinggi istana kadipaten. Belajar semua keterampilan wanita di dalam istana, dibimbing oleh para inang pengasuh dan guru yang tinggal di istana.
Diam-diam Mayani juga ikut belajar silat ketika Nareswara digembleng oleh guru-gurunya karena sang ayah tidak mengijinkan putri-putrinya belajar ilmu beladiri.
Mayani dan Wasanti telah ditinggalkan selamanya oleh ibu kandung mereka. Istri kedua Adipati Aryawisena yang masih muda belia itu meninggal ketika melahirkan si kembar. Sejak itu, bayi kembar diasuh dengan penuh welas asih oleh ibu Citrawani, sehingga mereka mencintai ibu tirinya seperti ibu kandung sendiri.
Tidak heran jika Mayani merasa agak berat meninggalkan ibunya yang masih belum pulih sepenuhnya. Tetapi ia percaya Wasanti pasti bisa merawat ibu mereka dengan resep obat yang ditinggalkan Citrawani.
"Kenapa termenung, Mayani?" tegur Galuh Citrawani. "Adik merasa berat meninggalkan kadipaten?"
"Tidak, Kak. Aku memikirkan Ibu. Berat rasanya pergi, tetapi aku yakin Ibu sudah akan sembuh sebentar lagi. Teknik pengobatan kakak memang hebat."
"Kebetulan kakak belajar pengobatan di istana."
"Bolehkah aku belajar pengobatan juga di istana, Kak?"
"Tentu saja. Bukan hanya teknik pengobatan. Di istana kakak juga menyelenggarakan pelatihan mengolah sutra, membatik, senam yoga dan sebagainya.."
"Wah, apa itu? Kedengarannya sangat asing, tapi menarik. Aku mau belajar semuanya, Kakak !" Mayani terlihat girang sekali. Ia tertawa senang. Galuh Citrawani ikut tertawa, terbawa kegembiraan adiknya.
Mayani dan Citrawani melewatkan waktu dengan mengobrol. Sesekali mereka menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan.
Hamparan sawah yang hampir panen, kebun kelapa, sungai dan gunung Merapi yang menjulang di kejauhan. Angin semilir membuat mereka terkantuk-kantuk hingga akhirnya tertidur.
Kelompok mereka yang terdiri dari dua kereta penumpang, dua kereta barang dan pasukan pengawal berkuda yang dipimpin oleh Ki Parwata itu perlahan memasuki wilayah hutan.
Hari telah beranjak petang. Sebentar lagi gelap malam menyelubungi bumi.
Galuh Citrawani memerintahkan berhenti. Mereka akan bermalam di tepi hutan.
__ADS_1
Tenda-tenda pun didirikan. Beberapa pengawal mengumpulkan kayu kering di sekitar pinggir hutan untuk menyalakan api unggun. Para pelayan wanita menyiapkan tungku darurat untuk memasak hidangan santap malam.
Setelah makanan dihidangkan, mereka makan di atas tikar mengelilingi api unggun, duduk sejajar tanpa perbedaan majikan dan bawahan. Hal yang sering ditanamkan oleh Galuh Citrawani yang membuat sosoknya dihormati dan dicintai oleh semua pelayan dan pengawal.
Api unggun masih menyala, ranting kering terus ditambahkan. Para pelayan sibuk membereskan bekas makan, para pengawal pun telah berjaga-jaga bergantian di beberapa sudut. Citrawani dan Mayani masih duduk berdua di dekat api unggun.
"Tahukah kakak, seminggu setelah kakak diboyong ke istana. Raden Wisanggeni dari Hujung Galuh, datang berkunjung ke Daha untuk menemui ayah. Ia membawa beberapa hantaran dari ayahnya. Rupanya ia tidak tahu kalau kakak sudah menikah dengan Raden Suryapaksi," tutur Mayani pelan. Ia tidak ingin perkataannya didengar orang lain.
"Oh ya? Apa tujuannya menemui Ayah?" tanya Citrawani penasaran. "Apakah kakak dulu pernah mengenal Raden Wisanggeni?"
"Tentu saja kenal, bahkan dulu kakak pernah berteman dengannya, ketika kakak belajar dasar sastra di pasraman Purwahaning bersama Kanda Nareswara. Saat itu, Raden Wisanggeni sudah di tahap akhir pelajarannya sedangkan kakak baru akan mulai belajar," Mayani menceritakan apa yang pernah ia dengar dari kakak lelakinya.
"Jadi aku dan dia saling kenal. Lantas apa tujuannya mengunjungi kediaman kita, setelah sekian tahun tidak pernah berjumpa?"
"Aku dibisiki oleh pelayan yang tidak sengaja mencuri dengar, putra adipati Hujung Galuh itu rupanya ingin meminang kakak," kata Mayani.
"Bukankah ia tahu kalau kakak adalah jatukarma Raden Suryapaksi sejak kecil?" Citrawani heran.
"Pada waktu itu ia sudah mendengar kabar bahwa pertunangan kakak dengan Raden Suryapaksi dibatalkan karena diserobot oleh putri Jenggala. Tetapi rupanya dia tidak tahu kalau akhirnya kakak jadi dinikahkan ke istana," suara Mayani agak serak.
Sejujurnya ia pun tidak terima kakaknya dijadikan permaisuri alit. Tetapi apa mau dikata, titah raja adalah mutlak.
"Kanda Nareswaralah yang dulu gigih memohon pada Ayah agar kakak dinikahkan dengan Raden Wisanggeni. Tetapi Ayah ragu-ragu. Hingga akhirnya titah Raja datang untuk kakak dan Raden Wisanggeni terlambat. Aah, seandainya dulu Ayah mendengarkan kata-kata kanda dan mendahului untuk menawarkan pernikahan ke Hujung Galuh..."
"Kenapa? Apakah kamu lebih setuju kakak menikah dengan Raden Wisanggeni? Seperti apakah dia?" Citrawani memotong kata-kata adiknya . Ia makin penasaran.
"Kakak benar-benar lupa ya?" Mayani menyeringai. "Sungguh mengherankan, bagaimana penyakit lupa bisa membuat seseorang kehilangan masa lalunya."
"Raden Wisanggeni itu tinggi dan kekarnya kira-kira sama dengan Raden Suryapaksi, kulitnya coklat tapi tidak gelap seperti Paman Jayasendra, alisnya tebal matanya kalem seperti kanda Nareswara, suaranya dalam berwibawa seperti Ayah..." Mayani tersenyum. "Apakah kakak bisa membayangkannya sekarang?"
Citrawani membayangkan gambaran yang diberikan adiknya, dan bayangannya pun menghasilkan sosok Salman Khan, aktor Bollywood.
Langsung saja ia berhalusinasi melihat Salman Khan berjoget ala film sana dengan mengenakan busana kerajaan Panjalu. Perutnya tergelitik dan ia terkekeh-kekeh.
Mayani memandang kakaknya bingung. Citrawani segera menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak mau menakuti adiknya.
"Lalu setelah Wisanggeni tahu kakak sudah menikah, bagaimana ?"
"Dia kecewa, tentu saja. Ia telah mengumpulkan keberanian selama bertahun-tahun dan begitu ia telah siap untuk menyatakan niatnya, ternyata kakak sudah menjadi istri orang lain."
"Ooh, reaksi yang normal." Citrawani manggut-manggut.
"Tapi Ayah lalu melakukan tukar benda pertunangan dengan Raden Wisanggeni, Kak. Entah bagaimana, bisa-bisanya Ayah menawarkan salah satu putri kembarnya !" Mayani merengut.
"Hei? Jadi, siapa di antara kalian yang dijanjikan oleh ayah?" Citrawani mengangkat alisnya, merasa surprise.
"Aku!" cetus Mayani dengan muka tidak bahagia. "Tapi aku tidak suka, Kakak. Tahun ini usiaku baru 16 tahun ! Aku masih belum cukup berbakti pada Ayah dan Ibu. Lagipula Kanda Nareswara belum menikah. Mana mau aku melangkahi kakanda!"
"Kalau Nares sudah menikah, apakah kamu akan setuju untuk menikahi putra adipati Hujung Galuh?" goda Citrawani.
"Tidak juga!"
"Kenapa? Tadi katamu tidak mau melangkahi Nares. Kalau Nares sudah menikah, berarti kamu tidak melangkahinya."
__ADS_1
"Tidak. Pokoknya aku tidak suka pada Raden Wisanggeni ! "
"Untuk tidak suka itu harus ada alasan yang jelas, Mayani ! " Citrawani makin suka menggoda adiknya, karena adiknya yang pendiam ini makin digoda akan makin menggemaskan. Pipinya memerah, bibirnya digigit hingga kedua lesung pipinya timbul.
"Mimik wajahnya seperti patung, umurnya juga sudah tua." tukas Mayani cepat.
"Tua apanya? Kalau dia baru akan wisuda pendidikan sastra agama saat kakak baru masuk pasraman, berarti selisih usia kami 7 tahun, berarti usianya 26 tahun... Itu masih termasuk pemuda, Mayani !"
"Pokoknya aku tidak suka !" Tiba-tiba wajah Mayani jadi mendung. "Tapi Ayah telanjur menyerahkan tusuk konde mutiaraku pada dia, dan Ayah menerima keris darinya ! Aku sudah diikat pertunangan, Kakak. Untungnya aku masih bisa berdalih bahwa aku tidak mau melangkahi kakanda. Jadi upacara pertunangan bisa ditunda-tunda !"
Citrawani menjadi iba melihat kesedihan di wajah adiknya. Diraihnya kepala adiknya, lalu disenderkan pada pundaknya.
"Nanti masih bisa dibicarakan, adikku. Jangan kuatir, nanti kakak akan berusaha mencari jalan keluar untukmu !"
"Benarkah, kakak?" mata Mayani melebar penuh harapan. Ketika kakaknya mengangguk sambil tersenyum, Mayani merangkul kakaknya dengan girang.
****
Pagi hari setelah makan pagi, tenda-tenda dibongkar. Beriringan kereta mereka memasuki hutan untuk melanjutkan perjalanan. Kuda-kuda berjalan di depan dan di belakang untuk mengawal kereta.
Ketika berada di jalan yang menembus tengah-tengah hutan, kuda para pengawal di depan tiba-tiba meringkik dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Suara menggemuruh keras terdengar, jalanan di depan tahu-tahu ambruk. Kuda-kuda yang berada paling depan terjerumus ke dalam lubang besar .
Para pengawal berloncatan untuk menyelamatkan diri. Beberapa kuda berhasil meloncat ke samping hingga tidak sampai jatuh ke dalam lubang jebakan. Ki Parwata yang berhasil mengendalikan kudanya untuk meloncat ke samping, segera memberi aba-aba kepada seluruh rombongan untuk berhenti.
Terdengar teriakan melengking riuh rendah, dari lebatnya pepohonan berloncatan sosok tubuh berpakaian serba gelap. Banyak sekali jumlah mereka.
Di atas pohon bayangan-bayangan berpakaian hitam bergelantungan dan berkelebat dari cabang ke cabang. Mengurung mereka dari segala arah .
"Siapa kalian?" tanya Ki Parwata. Ia membaca keadaan dengan cepat.
Jumlah orang yang mengepung mereka terlalu banyak, mungkin ada tiga ratusan orang. Sangat tidak sebanding dengan jumlah pengawal yang hanya limapuluhan orang.
" Apa tujuan kalian mencegat rombongan kami? Apakah kalian menginginkan harta benda? Atau kuda?"
"Aku ingin kereta yang itu !" Lelaki bertopeng hitam yang berdiri di cabang pohon menunjuk kereta kedua, di mana Galuh Citrawani dan adiknya berada.
Wajah Ki Parwata berubah.
"Kalian tidak tahu berhadapan dengan prajurit pengawal kerajaan !" gertak Ki Parwata. " Kalian boleh ambil harta yang kalian butuhkan, kemudian menyingkirkah dari jalan kami !"
"Hahaha, jangan dikira kami tidak tahu siapa dirimu, Ki Parwata ! Kami juga tahu yang berada di dalam kereta itu adalah yang mulia tuan putri Galuh Citrawani ! " orang bertopeng itu tertawa bekakakan, disambut ketawa riuh kawan-kawannya.
Citrawani membuka pintu kereta lalu keluar dengan berkacak pinggang.
"Ki Parwata, pasukan kita bukanlah pasukan biasa ! Yang mengawalku adalah pasukan khusus. Kemampuan satu orang pengawalku setara dengan kekuatan sepuluh orang prajurit biasa. Ditambah dengan diriku dan Ki Parwata, pasukan kera hutan ini bukanlah apa-apa !" seru Citrawani disambut teriakan penuh semangat dari para pengawalnya.
Tangannya telah menggenggam sepasang pedang tipis miliknya yang jarang digunakan.
Ki Parwata segera memberi aba-aba untuk melindungi kereta penumpang. Para pengawal bergerak membentuk barikade.
Suara suitan melengking terdengar dari si pria bertopeng. Bagai air bah, pasukan hitam itu menyerang dari segala arah.
*****
__ADS_1