Jatukarma

Jatukarma
Episode 14


__ADS_3

Citrawani ternganga.


"Tega benar...tega benar..." katanya berulang-ulang.


"Nares, bisakah dia disembuhkan?"


"Sepertinya untuk sembuh total akan memerlukan waktu dan kesabaran yang cukup, kakak ! Nanti aku akan memberitahu kakak apa saja yang harus dilakukan. Karena guna-guna yang dicekoki ini sudah berlangsung cukup lama , penyembuhannya juga berlangsung perlahan !" Nareswara memandang kakaknya.


"Kenapa kakak mencemaskannya? Apakah kakak...mencintainya?"


Wajah Citrawani memerah.


"Dia suamiku, Nares. Meskipun aku tidak mencintainya, tetapi dia suamiku. Sudah kewajibanku untuk merawat dan membantu dia yang sedang sakit dan menderita !"


Nareswara memegang lengan kakaknya sambil tersenyum .


"Kakak, aku hanya bertanya ! Tidak usah marah !"


Nareswara berlari menghindar sambil tertawa kecil ketika kakaknya melemparnya dengan lap dapur.


Malam itu setelah makan bubur, Raden Suryapaksi tidur dengan nyenyaknya. Tidak ada lagi kegelisahan dan mimpi menyeramkan yang mengganggu tidurnya.


Citrawani masih berdiskusi dengan adiknya untuk menanyakan cara menangani Suryapaksi.


"Aku menguasai pengobatan tradisional, Nares. Dengan obat-obatan herbal , tusuk jarum, pijat totok dan juga diet makanan. Tetapi aku tidak berdaya jika harus menghadapi ilmu hitam seperti ini ." Keluh Citrawani.


"Teknik metafisik apa yang kamu gunakan untuk menangani Raden Suryapaksi tadi?"


"Itu teknik yang diajarkan Guru, kakak. Tidak sembarang orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang yang telah dibuka mata bathinnya oleh Guru, yang bisa mempelajari teknik itu. "


"Coba jelaskan padaku dengan cara yang sederhana," desak Citrawani.


"Intinya, Guru mengajarkan untuk membuka semua jalur energi, agar kami bisa menerima dan menyelaraskan dengan energi semesta yang mahabesar ini kakak ! Setelah itu, Guru akan membangunkan inti tenaga dalam sejati kita, agar kita mampu menggunakannya untuk banyak hal, termasuk untuk membantu orang sakit ."


"Wait, wait !" Citrawani menyentuhkan telunjuknya ke dagu, ciri khasnya ketika sedang memikirkan sesuatu. " It's heard like prana or reiki . Iya ngga sih?"


"Kakak bicara apa?" Nareswara kebingungan.


"Nares, apakah Guru pernah menyebutkan tentang prana padamu?"


"Iya, tiap hari Guru melatih kami untuk melakukan pranayama, latihan olah nafas, sebagai dasar untuk mempersiapkan raga kami."


"Apakah cara kerja yang diajarkan guru, berhubungan dengan pembukaan pintu-pintu jalur energi atau cakra-cakra?"


Kini gantian Nareswara yang ternganga.


"Darimana kakak tahu? Apakah kakak juga punya guru yang sehebat...Rama Guru Begawan Wistara,?"


Citrawani tidak menjawab. Ia hanya sedang menyimpulkan, berarti apa yang dilakukan Nareswara untuk membantu Suryapaksi adalah energi healing, entah itu prana atau reiki. Atau teknik yang lain yang ia tidak tahu namanya.


Kalau teknik yang lain bekerja pada ilmu hitam, mungkin reiki juga, bathin Citrawani menerka-nerka. Sayang, dulu ia hanya pernah mengikuti workshop reiki tingkat satu saja, ketika dipaksa oleh Yudhis untuk menemaninya.


"Aku pernah belajar penyaluran energi, Nares. Tapi aku tidak tahu apakah itu bisa membantu menangani Raden Suryapaksi ataukah tidak."


"Penyaluran energi seperti apa, kakak?"


Citrawani pun duduk di belakang Nareswara. Ia memejamkan mata, berdoa, lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Nareswara. Adiknya ikut-ikutan memejamkan mata dengan santai. Setelah beberapa saat, Citrawani pun menyudahinya.

__ADS_1


"Wah, kakak ! Ternyata energi yang kakak salurkan padaku lumayan juga! Aku bisa merasakan dan melihat cahaya putih yang memasuki diriku lewat telapak tangan kakak ! Rasanya enak, aku jadi ingin tidur...."


"Yang benar?" Citrawani tidak percaya .


"Kakak tidak pernah menggunakan teknik ini sebelumnya?"


Citra hanya pernah menggunakan teknik reiki untuk membantu Sherly ketika tamu bulanannya menyebabkan kraam perut. Atau membantu Yudhis ketika migrainnya kambuh. Tetapi itupun sambil main-main dan hanya menganggap berkurangnya rasa sakit mereka sebagai suatu kebetulan.


"Jadi teknik ini benar-benar bekerja?" gumam Citrawani .


"Benar, kakak. Coba nanti aku temani dan bimbing kakak untuk menangani Raden Suryapaksi. Ohya, aku penasaran. Siapakah sebenarnya guru kakak?" Nareswara memandang kakaknya dengan penuh tanda tanya.


Citrawani tersenyum jahil.


"Itu adalah sebuah rahasia !"


****


Istana Panjalu digemparkan oleh kehilangan pusaka Ki Jagasatru dan patung Ganesha emas, pusaka dan simbol kerajaan.


Betapa berani dan hebatnya pencuri itu, bisa menjebol ketatnya pengamanan di istana , terlebih di sekitar kediaman Raja. Itu adalah wilayah terlarang, yang hanya bisa dimasuki oleh Raja, Permaisuri, para pengawal dan pelayan dalam.


Panglima Jayasendra, adik bungsu Raja kebetulan sedang berada di ibukota. Lelaki berusia 34 tahun itu bergegas menghadap ke istana raja ketika pengawal pribadi raja membawa berita pencurian pusaka.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Paduka? Siapa yang pertama kali mengetahui pusaka-pusaka itu hilang?" Tanya Jayasendra setelah menghaturkan sembah.


"Para petugas pusaka yang pertama kali menyadari pusaka itu hilang, Dimas. Mereka bersama para pengawalku dan menteri urusan upacara membuka gedong pusaka untuk membersihkan pusaka. Saat itu mereka menyadari kedua pusaka telah raib."


"Hamba akan menangani kasus ini bersama kepala penyidik istana, Paduka ! Ijinkan hamba memperpanjang masa cuti hamba di istana !"


Pusaka keris Ki Jagasatru dan patung emas Ganesha adalah warisan turun temurun dari leluhur mereka. Kedua pusaka itu adalah simbol kekuatan, kewibawaan dan kekuasaan dinasti mereka, trah keturunan Maharaja Agung Airlangga.


Hari itu juga Panglima Jayasendra bersama kepala penyidik pengadilan melakukan investigasi. Berita kehilangan pusaka diblokir sampai istana raja saja, sehingga bahkan para penghuni istana putri pun tidak ada yang tahu.


Utusan darurat dikirim untuk mengabarkan berita rahasia pada Raden Suryapaksi yang masih berada di kediaman Adipati Daha.


*****


Raden Bagus Saksena memeluk dan mencium Puspasari dengan girang. Perempuan itu membalasnya dengan sepenuh hati . Mereka bergulat di atas pembaringan sepanjang malam, hingga akhirnya nafas lelah mereka menuntut istirahat. Puspasari berguling dan bersandar di dada bidang Bagus Saksena yang berkilat karena keringat.


"Tuan, dadamu basah."


"Itu akibat dari keganasanmu, dasar perempuan yang tidak mengenal puas. " Seringai Bagus Saksena.


"Hamba hanya mengambil penghargaan atas diri hamba, sesuai dengan janji Raden Bagus !" Puspasari tersenyum ."Hamba harap,tuan tidak melupakan janji."


"Aku tidak lupa !" Bagus Saksena bangkit. Ia melilitkan kain seadanya pada tubuh telanjangnya ketika ia bangkit dari pembaringan.


Ia menatap dua benda pusaka yang tergolek di atas meja dekat pembaringannya dengan puas.


"Demi dua pusaka itu, apapun akan aku berikan .." ia membungkus kedua pusaka itu dengan kain tebal, lalu menyimpannya pada kotak kayu besi yang lalu disembunyikan pada sebuah ruang rahasia di balik tembok kamarnya.


"Kapan tuan mengangkat hamba sebagai selir resmi?" tuntut Puspasari sambil menggelendot manja di pundak Bagus Saksena.


"Sabar, Puspa ! Kamu menempuh perjalanan jauh, Hujung Galuh, Panjalu, Jenggala. Ini istanaku. Kamu bebas melakukan apapun di sini, dan memerintah semua pelayan di sini. Posisi apalagi yang lebih tinggi dari itu?"


"Hamba ingin memiliki status resmi di sisi tuan...." mata perempuan itu memandang sayu pada lelaki yang sangat dipuja dan dicintainya.

__ADS_1


Bagus Saksena merentangkan tangannya. Puspasari segera masuk dalam pelukan dada bidang itu. Wajahnya menengadah, bibirnya terbuka, yang segera dilumat oleh lelaki yang selalu dirindukannya itu.


Di luar ruangan, dua orang pelayan berbicara dengan wajah ditekuk.


"Sejak kedatangan perempuan itu, kita diabaikan oleh paduka Raden," keluh yang lebih montok pada temannya yang tinggi langsing.


"Ah, Rasmi, apalah kita, hanya butiran debu di kaki Raden Bagus. Kita tidak berhak bermimpi terlalu tinggi ," kata si tinggi langsing.


"Setidaknya kita bisa melayani di pembaringan Raden sebelum perempuan itu datang dan bersikap sok memiliki, Diyani.." si montok masih tetap mengeluh .


"Sudahlah, jangan keras-keras. Nanti perempuan itu dengar! Konon ia adalah seorang pendekar wanita yang berkemampuan tinggi !" tegur Diyani.


Rasmi terdiam, tapi dalam hati ia masih mengeluh. Sudah setahun ia merindukan tuan mudanya. Ketika Raden Bagus Saksena pulang seminggu lalu, dengan bahagia ia melayani tuannya.


Seperti biasa, ia berdua Diyani selalu melayani Raden Bagus Saksena, baik bersamaan ataupun sendiri. Mengurus semua keperluan sang Raden, dari baru bangun tidur, mandi, makan, hingga menemani tidur.


Semenjak kedatangan perempuan yang harus dipanggil Nona Puspasari itu, keadaan berubah. Rasmi dan Diyani hanya boleh melayani keperluan makan. Selebihnya, si perempuan yang selalu bertingkah genit itu lah yang menempel pada Raden Bagus Saksena.


Rasmi merasa tersingkir dan kecewa. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Benar kata Diyani, mereka hanya pelayan rendahan.


Diam-diam Rasmi bertekad akan mencari cara apapun, segala cara, untuk mendapatkan kesempatan melayani tuannya seperti dulu lagi.


Dan kesempatan itu tiba, ketika suatu hari ia dipanggil untuk menghadap permaisuri Raja.


***


Rasmi menghidangkan makan malam itu dengan hati berdebar-debar. Minuman telah ia tuang di cangkir untuk tuannya dan juga untuk


nona Puspasari. Mereka makan minum dengan gembira seperti biasanya.


Raden Bagus Saksena telah menghabiskan minumannya dan meminta Rasmi untuk menuangkan secangkir lagi untuknya. Sedangkan Puspasari yang hanya menghabiskan secangkir minuman, tiba-tiba menghentikan makan. Ia mengernyitkan keningnya sejenak. Tanpa mengatakan apapun, ia kembali melanjutkan makannya.


Setelah makan malam selesai, mereka berdua meninggalkan ruang makan pribadi Raden Bagus Saksena. Rasmi membereskan bekas makan dengan tangan gemetar, hingga Diyani bertanya heran.


"Kenapa kamu kelihatan gugup, Rasmi?'


"Tidak apa-apa, Diyani. Mungkin aku kelelahan."


"Oh, nanti setelah selesai membereskan ruangan ini, kamu istirahat saja. Biarkan aku yang menjaga di luar ruangan Raden."


"Tidak apa-apa, Diyani. Jika aku boleh minta tolong, nanti kamu jerangkan aku teh obat untuk masuk angin ya...Biasanya setelah minum obat darimu, aku langsung mendingan."


"Oh, baiklah." Diyani menganggukkan kepala. Mereka melanjutkan pekerjaannya membereskan meja dan ruang makan. Setelah itu mereka menunggu di ruang tidur sang majikan.


Ketika istana telah sunyi sepi, Diyani juga telah tertidur di dipannya, Rasmi masih terjaga. Ia menunggu di depan pintu majikannya.


Ketika ia melihat bayangan beberapa pengawal berpakaian hitam-hitam berkelebat, ia merasakan badannya bergetar dan telapak tangannya berkeringat.


Kebo Prakasa , pengawal rahasia Raden Saksena langsung bereaksi ketika beberapa pengawal bayangan memasuki ruangan tidur majikannya.


Tetapi orang-orang berpakaian hitam itu memperlihatkan stempel Permaisuri Ratu Jenggala, ibunda Raden Saksena. Kebo Prakasa pun terpaksa mundur dan menghilang kembali .


Raden Saksena dan Puspasari tertidur nyenyak sekali. Mereka tidak akan terbangun meskipun gempa bumi dashyat ataupun gunung meletus di sampingnya.


Para pengawal Permaisuri mengangkat tubuh Puspasari dan mengikatnya dengan tali, kemudian dibungkus selimut tebal. Setelah itu, mereka membawanya pergi, diikuti pandang mata Rasmi dari kejauhan.


****

__ADS_1


__ADS_2