
"Apa yang telah dilakukan oleh ayahmu, nak?"tanya Adipati Arya Wisena sembari mengerutkan keningnya.
"Dalam surat itu, Pangeran Surya Kencana dan Dinda Citrawani sengaja tidak mencantumkan nama ayahanda. Karena mereka memutuskan untuk memberi ayah hamba satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Mohon Romo Adipati berkenan mengirim surat kepada ayah, untuk memberinya pengampunan sekaligus mengajaknya bertobat. Ayah hamba saat ini tengah mempersiapkan diri untuk mendukung Jenggala dan Malawapati..." kata Harya Wisanggeni sambil terus berlutut.
Adipati Arya Wisena tercenung beberapa saat.
Sementara itu, Dewi Borawati yang mendengar kedatangan Harya Wisanggeni, mendatangi aula dan berdiri di pintu ruangan.
"Hamba mohon ijin untuk ikut mendengarkan kabar yang dibawa Nanda Wisanggeni !" Kata permaisuri Daha itu pada suaminya.
"Masuklah, Dinda !"
Harya Wisanggeni segera memberi hormat pada calon mertuanya .
"Bangunlah, nanda ! Kenapa terus berlutut begitu? Duduklah di atas bangku !" Tegur Dewi Borawati.
Harya Wisanggeni tidak bergeming.
"Romo Adipati dan Ibu Ratu, hamba mohon pengampunan untuk ayah hamba !" katanya sambil tetap berlutut.
Dewi Borawati memandang suaminya dengan bingung. Sang Adipati menarik nafas panjang.
"Baiklah. Aku akan pikirkan caranya untuk menyadarkan ayahandamu. Sekarang duduklah, nanda Wisanggeni !"
Setelah Harya Wisanggeni duduk menundukkan kepala di depan mereka, Dewi Borawati bertanya pada suaminya.
"Ada apa ini, Kanda ? Kesalahan apa yang telah dilakukan oleh Adipati Hujung Galuh? "
"Dinda. Putrimu Citrawani mengirim nanda Wisanggeni untuk menyampaikan surat pada kita."
Begitu mendengar nama putrinya disebut, airmata Dewi Borawati membulir di sudut matanya.
"Bagaimana keadaan putriku?" bisiknya parau.
"Dinda Citrawani dalam keadaan sehat, Ibu Ratu . Dia sekarang sedang menyamar bersama Raden Surya Kencana untuk mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya tentang pengkhianatan Jenggala dan Malawapati..." tutur Harya Wisanggeni.
"Kenapa putriku tidak pulang ke Daha. Kenapa dia tidak peduli padaku yang mencemaskan dia setengah mati .." keluh Dewi Borawati. Airmatanya berlinang di pipi.
"Keadaan yang memaksa putri kita,, Dinda ! Semua yang terjadi dari awal adalah takdir dia. Kita tidak bisa menyalahkan putri kita. Yang dia lakukan sudah benar, mengabdikan diri untuk kedaulatan negeri leluhurnya !" tegas Adipati Arya Wisena.
"Nanda Wisanggeni, istirahatlah di Daha barang beberapa hari. Aku akan menyiapkan surat untuk ayahmu sesuai permintaan kalian. "
"Terimakasih, Romo Adipati !"
"Dinda, perintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar bagi Nanda Wisanggeni di istana Nareswara !"
"Baik, kanda. Kalau begitu dinda pamit dulu !"
Dewi Borawati keluar . Di depan pintu telah menunggu dayang-dayang yang biasa melayaninya.
Kepada para dayang, ratu Daha memerintahkan agar memberitahu pelayan rumah untuk menyiapkan segala keperluan bagi Harya Wisanggeni.
Berita tentang kedatangan Harya Wisanggeni tersiar di istana Daha.
Kedua Galuh kembar yang tengah menikmati senja di taman bunga mereka juga mendengar berita itu.
"Ada yang datang untuk menjenguk tunangan nih," ledek Galuh Wasanti pada saudara kembarnya.
Galuh Mayani mencibir .
"Memangnya aku peduli?"
__ADS_1
"Mana aku tahu isi hatimu ?" Galuh Wasanti masih menggoda saudarinya.
"Sepertinya kamu juga harus segera dinikahkan ! Sepertinya saudariku ini sudah kebelet pingin nikah !" Galuh Mayani balik mengejek.
"Lah aku belum punya tunangan ! Mestinya kamu yang duluan menikah, mumpung tunanganmu sudah datang melamar !"
"Ngawur ! Wong dia datang untuk mengantar surat dari medan perang kok ! "
"Lha. iya tha?"
"Lha iya, makanya jangan sok tahu !"
Kedua saudari kembar itu terus saling ledek.
Ibundanya yang melihat dari kejauhan cuma geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
.
.
.
Galuh Mayani mendatangi istana kakaknya . Ia menyertai dayangnya yang membawa setumpuk kain sutra berwarna biru. Kain-kain itu baru saja dibeli oleh sang ibu untuk diberikan pada Nareswara.
Gadis itu memasuki pintu depan yang dijaga oleh dua prajurit. Seperti kebiasaannya, gadis ceria itu langsung nyelonong masuk sambil memanggil kakaknya.
"Kanda Nares, lihat apa yang kubawa...." Suara gadis itu terhenti. Lelaki yang ia sangka kakaknya, yang tengah mengamati lukisan di dinding, membalikkan punggungnya.
"Dinda Galuh Mayani?"
"Eh??"
Galuh Mayani terkesima. Lelaki itu ternyata bukan kakaknya.
"Eh.. kenapa ..kenapa kamu ada di sini?" tanya Galuh Mayani ketus .
"Ibu Ratu yang mengatur begitu. " jawab Harya Wisanggeni dengan sabar.
"Tapi aku tidak tahu kamu ada di sini. Kalau tahu, aku tidak akan ke sini !"
"Tidak apa-apa, Dinda..."
"Tapi kamu nanti berpikir kalau aku sengaja ke sini untuk menemuimu !" tukas Galuh Mayani .
Harya Wisanggeni terkejut.
"Aku tidak .."
"Ah, sudahlah " tukas Galuh Mayani galak. "Nanti tolong kasitahu kakakku, Ibunda menyuruhku membawakan kain-kain ini untuk Kanda Nares !"
"Baiklah, Dinda."
Dayang-dayang meletakkan setumpuk kain itu di atas bangku.
Tanpa berkata sepatah katapun, Galuh Mayani membalikkan tubuhnya. Di depan pintu ia nyaris bertabrakan dengan Nareswara yang baru saja datang .
"Dinda, kenapa buru-buru begitu?" tegur kakaknya melihat langkah tergesa Mayani .
"Kanda darimana saja sih? Itu ada kain sutra warna kesukaan kanda, Ibunda yang memberikan. Hamba capek-capek bawakan ke sini. Kanda malah tidak ada ," kata Galuh Mayani dengan manja.
"Di dalam ada Wisanggeni. Dinda sudah menyapa tunanganmu?" tegur Nareswara.
__ADS_1
"Huh, tidak sudi !" ketus Mayani, lalu menghentakkan kaki dan keluar dengan tergesa.
"Heii Mayani ! Ke sini, cepat !" panggil Nareswara.
Dengan cemberut, Galuh Mayani menghampiri kakaknya kembali.
"Ada apa sih Kanda?"
"Dinda kenapa tumben tidak sopan begitu pada tamu? Lagian tamu itu tunanganmu ! Tuangkanlah secangkir minuman untuknya sebagai tanda penghormatan !"
"Baik, Kanda !"
Galuh Mayani tidak berani membantah kakaknya. Ia memerintahkan dayang-dayangnya untuk menyiapkan minuman.
Ia sendiri lalu duduk menunggu agak jauh dari tempat kakaknya yang duduk sambil mengobrol dengan Harya Wisanggeni.
Sebenarnya Harya Wisanggeni merasa kasihan kepada gadis itu. Terlihat sekali ia duduk dengan terpaksa dan kaku, kepalanya menunduk. Gadis itu tidak tertarik sama sekali dalam percakapan hangat di antara dirinya dengan Nareswara.
Gadis itu terlihat mirip dengan Citrawani, hanya saja matanya lebih sipit dengan sorot mata yang jeli. Bibirnya manis sekali, meski sedang ditekuk dan cemberut .
Ketika minuman hangat dan beberapa penganan diantarkan oleh para pelayan, Galuh Mayani menuangkan minuman untuk Wisanggeni dan Nareswara.
"Terimakasih, dinda Mayani," Wisanggeni tersenyum .
Galuh Mayani hanya mengangguk tanpa senyum.
"Silahkan diminum, Kanda !" Katanya datar.
Tak lama kemudian ia mohon pamit untuk meninggalkan ruangan bersama dayang-dayangnya.
"Maafkan Mayani, Kanda Wisang ! Dia memang agak manja dan galak," kata Nareswara sambil menepuk punggung tangan Wisanggeni .
Pemuda itu hanya tersenyum maklum.
.
.
.
"Jangan gila kamu, Mayani !" kata Wasanti .
"Tapi kamu tidak benci padanya, Wasanti. Beda denganku. Aku benar-benar tidak menyukai pemuda itu !"
"Meski begitu, kamu yang ditunangkan dengannya . Bukan aku !"
" Kenapa bukan kamu saja ? Apa bedanya denganku? Toh wajah kita sama?" bujuk Mayani .
"Meskipun wajah kita sangat mirip, tetapi hanya untuk orang yang melihat kita untuk pertama kalinya ! Bagi keluarga dan orang-orang dekat, kita ini berbeda Mayani."
"Coba jujur padaku, Wasanti. Andai kamu yang ditunangkan dengan Harya Wiaanggeni, kamu tidak akan menolak, bukan ?" desak Mayani. "Karena itu, hayolah temani aku memohon pada Ayahanda dan Ibunda, agar pertunanganku diganti denganmu !" bujuk Mayani.
"Ini gila. Aku tidak mau !" tolak Wasanti dengan suara tinggi .
'Kalau kamu tidak mau, aku pergi saja seperti Kakak Citra !" rajuk Mayani . "Biar aku bebas lepas, tidak usah menikah dengan orang yang tidak kusukai !"
" Jangan gila kamu Mayani !" seru Wasanti . "Kakak Citra bukan pergi begitu saja. Dia menyelidiki para penjahat dan pengkhianat negara ! Memangnya kamu memiliki kemampuan seperti kakak?"
Galuh Mayani termangu-mangu.
Kedua gadis yang tengah bercengkerama di taman istana itu sama sekali tidak menyadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka dari balik tikungan jalan di balik semak-semak.
__ADS_1
Orang itu menghela nafas panjang. Ia urung melangkah menuju istana Adipati Daha. Ia membalikkan langkahnya dan kembali ke jalan darimana ia datang .