
Kemarin lusa, saat mereka kembali dari Sleman. Bunga Tulip yang Iwan dan Sugeng beli rencana nya akan mereka taruh di rumah kaca keluarga Sugeng, akan tetapi karena hari sudah mulai gelap jadinya hanya mereka taruh di kebun rumah Sugeng saja.
Rencananya mereka menaruh di kebun rumah Sugeng hanya sementara saja, baru besok nya akan mereka pindahkan ke tempat yang sudah di rencakan, tetapi keesokan harinya malah Sugeng dan Sari merencakan PDKT buat Iwan dan Bella sehingga mereka pulang kesorean dan tidak sempat memindahkan bunga tersebut.
Pada akhirnya hari ini, Iwan dan Sugeng menyempatkan waktu sepulang dari sekolah untuk agenda memindahkan bunga yang sempat tertunda kemarin.
"Sorry Geng, gara - gara aku, kita pulang sekolah kesorean terus sampe nggak sempet mindahin bunga nya nih, ntar abis mindahin bunga aku traktir dehh," ucap Iwan kepada Sugeng sembari menunggu angkutan umum ke arah rumah Sugeng.
"Santai aja sih Wan... Lagian kan itu rencana aku juga sama Sari buat ngedeketin kamu sama Bella," meskipun Sugeng bilang begitu, tapi raut wajahnya masih terlihat berharap mendengar kata traktiran dari Iwan.
"Tenang - tenang bro, tetep kok aku traktir kamu, tapi jangan di rumah makan padang 'Sederhana' yaah, kapok aku makan disana, namanya aja 'Sederhana' pas bayar udah kayak bayar buat makan 5 Orang, nanti malem kita beli sate aja," ucap Iwan yang masih perhitungan dengan uangnya.
"yaahhh... yaudah deh gapapa, tapi aku satenya 2 porsi yaa, ayam sama kambing," jawab Sugeng
"Iyaa tenang aja.. besok kalo bunga nya udah ke jual aku traktir kamu di restoran bintang 5," ucap Iwan sembari menggelengkan kepalanya melihat temannya yang doyan makan ini.
"Serius lu brooo!!, awas aja kalo bohong," balas Sugeng
Mereka pun terus mengobrol dengan asik hingga angkutan umum datang, dan menuju ke rumah Sugeng.
---
Setelah mereka tiba di depan jalan rumahnya Sugeng, mereka harus jalan lagi masuk sekitar 800 meter, karena rumah Sugeng tidak terletak di pinggir jalan besar. Setibanya di depan gerbang, Sugeng memencet bel rumahnya kemudian gerbang terbuka.
Mereka pun masuk ke dalam rumah sembari ada beberapa tukang kebun yang menyapa mereka dan ketika mereka memasuki rumah, terlihat ibu dan bapak Sugeng sedang mengobrol di kursi teras.
"Soreee... om tantee," ucap Iwan kepada orang tua Sugeng dengan sopan.
__ADS_1
"Ehh Iwaan. tumben sekali kalian udah pulang jam segini, biasanya juga abis maghrib," ucap ibunya Sugeng melirik kearah mereka.
"Hehe... iya tann, aku sama Sugeng mau mindahin bunga Tulip yang ada di kebun," ucap Iwan sembari menunjuk kearah kebun tempat mereka menaruh bunga nya.
"Hah? itu bunga kalian yang ada di kebun situ?," ucap ibunya Sugeng sedikit terkejut.
"Iyaa tann.. kemarin lusa aku sama Sugeng beli bunga itu di Sleman, emangnya kenapa yah tan?," tanya Iwan yang melihat sedikit keterkejutan ibunya Sugeng.
"Bunga yang disitu kemarin tante kasih ke temen tante pas ada acara arisan dirumah, mereka yang ngelewatin kebun ngeliat bunga itu cantik dan minta ke tante, karena Sugeng juga nggak bilang apa - apa yasudah tante kasih aja, lagian keliatannya lumayan ada banyak, tante nggak tahu itu punya kalian," ibunya Sugeng menjelaskan dengan rasa bersalah.
"Yaahh ibuu.. itu punya Iwan bunga nyaa," seru Sugeng dengan nada memelas.
"Udah jangan ribut gara - gara bunga, ntar bapak gantiin pakai uang bapak, barang yang udah dikasih ke orang lain mana mungkin kita minta lagi, lagian salah kamu juga Geng, nggak bilang ke ibu bapak kalo bunga nya masih diperluin," ucap ayah Sugeng yang menangahi keributan mereka.
Iwan dan Sugeng pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, kemudian mereka langsung menuju ke arah pick up untuk memindahkan bunganya ke rumah kaca milik keluarga Sugeng. Sebelum itu mereka mengganti seragam mereka dengan setelan yang telah disiapkan oleh mereka.
Mereka pun mulai menaiki pot demi pot bunga dari kebun di area rumah Sugeng ke atas pick up, Iwan memperhatikan dengan seksama bunga tersebut. Untungnya bunga yang diberikan ibu Sugeng ke temen arisannya bukan termasuk bunga yang memiliki kecantikkan diatas rata - rata.
Setelah mereka menaikkan bunga - bunga tersebut, mereka pun menaiki pick up dan bergegas ke rumah kaca milik keluarga Sugeng. Disana lebih aman demi menghindari masalah seperti ini lagi.
"Sowry yah Wann.. bunga nya malah dikasih ke temennya ibu ku, nanti aku gantiin deh pakek bunga yang punya ku," ucap Sugeng merasa bersalah sembari menyetir pick up.
"Gapapa Geng, untung aja yang dikasih bukan bunga - bunga yang cantik. Yakin kamu mau ganntiin bunga nya? Rugi yang ada kamu," tanya Iwan dengan serius.
"Darimana ruginya wann. kan bapak ku mau gantiin 100 ribu per bunga berarti total nya 300 ribu, lumayan kan," jawab Sugeng.
"hahaha... nggak gitu Geng, kamu bisa rugi sekitaran 2,7 juta berarti," tawa Iwan pada Sugeng.
__ADS_1
"Etttt... darimana tuh angka, kok bisa 2,7 juta. Orang kita belinya aja 1 bunga rata - rata 100 ribu aja," ucap Sugeng merasa konyol.
"Nih aku jelasin yaa, kan tujuan kita beli bunga ini tuh buat kita jual lagi bulan depan, harganya bisa - bisa 10 kali lipat, 3 bunga harga belinya memang 300 ribu, tapi bulan depan kalo dijual kamu bisa dapet 3 juta, nah kalo sekarang kamu mau gantiin bunga ku pakai bunga mu dan nerima uang dari bapakmu 300 ribu, otomatis kamu rugi 2,7 juta donggg," jelas Iwan pada Sugeng.
"Sh*ttt, iya yaahh. lupa aku Wan! Rugi banget dong akuu.!!" ucap Sugeng yang akhirnya tersadar.
---
Merekapun sampai di rumah kaca milik keluarga Sugeng, kemudian mereka menurunkan bunga - bunga Tulip mereka dan menyusunnya dengan rapih, langit sudah mulai gelap, Iwan dan Sugeng dengan baju yang cukup kotor dan berkeringat menaiki pick up.
Sugeng dan Iwan yang merasa lapar pun kemudian tancap gas menuju warung sate pinggir jalan, Sugeng adalah orang yang sangat suka kulineran, sudah tentu dia tau warung sate terdekat dan enak di sekitaran rumahnya.
Setelah sampai, mereka pun memesan 2 porsi sate ayam dan 1 porsi sate kambing tidak lupa dengan lontongnya, sebab jika hanya satenya saja mana kenyang, dan 2 es jeruk sebagai minumannya.
"Eh Wann.. kita ngomong serius nih ya, kok bisa kamu tiba - tiba jenius dan sekarang jadi rajin? aku temen mu jadi paling tau kamu gimana orangnya, dulu nya kan kamu nggak peduli dengan pelajaran di sekolah. Kamu juga kan suka main warnet tapi sekarang nggak pernah ke warnet lagi, dulu kamu bilang cuma mau nunggu nerima warisan saja tapi sekarang malah nyari peluang buat ngehasilin uang sendiri sampe mau jualan bunga Tulip kayak gini. Kesambet apa kamu Wan?!," ucap Sugeng dengan serius.
"Kesambet ndass muu!!.. Aku udah mulai sadari Geng, yang kaya itu orang tua ku, itu jerih payah mereka, sedangkan kita sebenarnya nggak punya apa - apa tanpa mereka. Terus nanti gimana jadinya kalo usaha mereka gagal, belum lagi pasti para pesaing bisnis nya nggak ada yang ngebiarin usaha orang tua kita terus berkembang gitu aja," jelas Iwan yang ingin menyadarkan Sugeng juga.
"Lah, aku liat usaha orang tua mu lancar terus bahkan nambah maju dari hari - ke hari, kekayaan keluarga mu juga semakin bertambah," ucap Sugeng dengan nada bingung,
"Yah iya sih, tapi itu kan sekarang, nanti siapa yang tau Geng(?) intinya aku cuma mau berjaga - jaga aja semisalkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lagian juga duit yang sekarang aku punya mereka, bukan punya aku sendiri, kalo pun suatu saat itu terjadi, aku harus bisa bantu mereka Geng," jawab Iwan.
"Emmm.. kalo kamu bilang gitu, aku juga setuju sih, soalnya kakak - kakak ku semuanya pada jadi PNS, nggak ada yang tertarik denga bisnis. Makanya orang tua ku mengharapkan nantinya aku mau ngelanjutin usaha mereka," ucap Sugeng sembari menggelengkan kepalanya.
"Makanya Geng, aku pengen buka perusahaan sendiri, aku juga butuh orang yang bisa dipercaya buat ngewujudin itu, kamu mau nggak kerjasama nanti setelah kita lulus Geng? Tenang aja, kamu nggak akan aku minta untuk ngeluarin uang, semuanya dari aku. Kamu hanya perlu jadi mata dan telinga ku saat aku nggak ada di perusahaan, gimana menurut kamu?," tanya Iwan
Pesanan mereka pun datang, Sugeng yang mendengar ajakan Iwan masih mencerna baik - baik hal tersebut, seolah menimbang - nimbang sesuatu sembari mengaduk es jeruknya.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca! jangan lupa like nya