Jenius Wan

Jenius Wan
Aktor


__ADS_3

    Iwan berkata dengn percaya diri membuat Rara sedikit terpana memandang Iwan. Rara kemudian mengalihkan perhatiannya dan berkata.


    "Mas Iwan, untuk naskah apakah sudah di siapkan?," tanya Rara dengan rasa penasaran dengan isi naskah film tersebut.


    "Emm.. Sudah aku buat 50%, naskah dan kontrak kerjasama sudah aku siapkan di dalam mobil, sebentar aku ambil dulu yaa," ucap Iwan berdiri dari tempat duduk lalu keluar dari ruangan tersebut.


    Hanya tinggal Rara yang berada di ruangan tersebut. Meskipun ruangan ini lebih kecil tapi dirinya menyadari keadaan perusahaan ini lebih baik daripada production house miliknya yang memiliki tempat lebih luas akan tetapi tidak ada aktivitas operasional.


    Agung sudah menceritakan tentang Wannabe Game Studio sebelumnya, Agung menceritakan tentang proses awal Iwan hingga pencapaiannya dalam menjalankan bisnis pertamanya. Rara kagum saat mendengarkan cerita Iwan tersebut, ia tahu bahwa Iwan hanya mengeluarkan modal kurang dari 50 juta dan mendapatkan omset hingga milyaran rupiah. Hal ini memberikan keyakinan untuk mempercayakan kerjasama production house miliknya kepada Iwan.


    Setelah menunggu 4 menit, Iwan memasuki ruangan kembali dengan tas jinjing hitam nya, lalu dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan satu tumpuk kertas yang di klip dengan cover bertuliskan "My Stupid Boss".


    Tanpa basa basi Rara membuka kontrak kerjasama nya terlebih dahulu, poin demi poin yang tertera dalam kerjasama ia baca dengan teliti.


    Kontrak kerjasama tersebut berisi tentang hak dan kewajiban kedua belah pihak seperti pada umumnya, karena perusahaan perusahaan film belum Iwan dirikan, ia mengatasnamakan dirinya sendiri pada kontrak kerjasama tersebut.


    Di bagian akhir pasal perjanjian kerjasama menyatakan pembagian hasil bersih perusahaan, disebutkan bahwa Iwan berhak mendapatkan sebesar 70% dari profit dan pihak kedua yaitu Pelangi Production House mendapatkan 30% dari keuntungan bersih.


    Setelah berulang kali membaca pasal demi pasal dan diyakini bahwa tidak ada pasal yang menjebak, Rara kemudian menandatangani kontrak kerjasama tersebut sebagai pemegang saham terbesar Pelangi Production House.


    Setelah itu Iwan pun menandatangani kerjasama tersebut dan menjabat tangan Rara secara simbolis bahwa kerjasama antara mereka sudah terbentuk.

__ADS_1


    Karena kerjasama telah disetujui di atas kertas, Iwan pun mempersilahkan Rara untuk membaca naskah film "My Stupid Boss, walaupun baru jadi setengahnya akan tetapi yang menjadi tolak ukur film itu menarik atau tidak akan terlihat pada bagian pertama film untuk menarik perhatian penonton agar tidak bosan dan bersedia menontonnya hingga akhir.


    Apalagi film yang bergenre komedi, menurut Rara sebagai seorang lulusan perfilman berpendapat bahwa film komedi sangat bergantung dengan naskah. Karena film komedi jarang menggunakan efek berlebihan pada editingnya, akan tetapi lebih mengandalkan naskah nya yang harus menyajikan komedi - komedi menyegarkan.


    Berbeda dengan film action ataupun horor, yang tidak terlalu bergantung dengan naskah film. Film action mengandalkan koreografi sedangkan untuk film horor daya tariknya adalah efek sound maupun scene yang membuat para penonton merasakan jumpscare. Dengan teknik editing yang bagus maka film action maupun horor akan menjadi lebih mungkin terkenal.


    Tetapi berbeda dengan film komedi, genre ini tidak bergantung pada efek editingnya sehingga film bergenre komedi lebih gampang dibuat, hanya saja untuk naskah komedi yang bagus sangatlah susah.


    Butuh waktu 10 menit untuk Rara membaca naskah film tersebut, dirinya sudah terlatih membaca dan memahami alur cerita film dalam bentuk naskah dengan cepat.


    "Ini naskah yang buat mas Iwan?," tanya Rara kepada memperhatikan Iwan dengan ekspresi terheran


    "Iyaa, gimana menurut kamu mbak Rara?," jawab Iwan kembali menanyakan pendapat Rara


    Iwan yang mendengarnya hanya bisa tertawa saja dalam hati. Sebab di kehidupan sebelumnya, Iwan berulang kali menonton film My Stupid Boss bersama pacarnya. Dengan anugrah memori yang kuat semenjak kesempatan kedua nya ini, dia dapat mengingat setiap alur film tersebut.


    Terlebih lagi, naskah yang Iwan tulis adalah naskah final, yang artinya, tidak akan banyak adegan tidak berguna yang akan dipotong. Dalam pembuatan film, biasanya penulis naskah dan sutradara akan menulis dan mengambil adegan berlebih untuk nantinya akan dipilih saat proses editing untuk mendapatkan pacing yang sesuai.


    Karena Iwan telah menonton film yang telah selesai di edit pada saat di bioskop, maka naskah yang ia tulis adalah naskah tanpa bagian yang tidak perlu.


    "Baiklah, untuk langkah pertama kita harus menghubungi aktor dan aktris yang akan menjadi pemeran utama," ucap Iwan memulai pembicaraan serius.

__ADS_1


    "siap mas Iwan, ada aktor yang mas Iwan rekomendasikan?," tanya Rara


    "Adaa, BCL sama Reja Rajardein. Mbak Rara bisa nggak ngontak mereka berdua?," jawab Iwan dengan nada percaya diri.


    "Eeeehh.. apa mas Iwan bercanda, BCL sama Raja Rajardein kan aktor dan aktris papan atas, mereka nggak bakalan mau lah main film yang dibuat oleh production house yang belum ternama," jawab Rara dengan nada konyol sembari menggelengkan kepalanya.


    Iwan yang mendengar jawaban seperti itu pun terkaget, maklum lah Iwan ini produk gagal di kehidupan sebelumnya mana mungkin dia kepikirin sampai sejauh itu, yang dapat dia andalkan dari kejeniusannya hanya memori yang kuat.


    Dirinya tidak kepikiran hal sepenting ini, Iwannuel Hertanto bukanlah produser ternama! walaupun dia memiliki naskah yang bagus, belum tentu para aktor dan aktris ternama mau bermain di film yang akan dia buat. Apabila fil tersebut gagal, maka pamor dari aktor dan aktris yang membintangi film tersebut pun akan menurun juga.


    Iwan menepuk jidatnya 'sial sial sial, aku melupakan hal yang paling penting ini,' ucap Iwan dalam hati


    Rara yang melihat ekspresi Iwan, dapat mengetahui kalau Iwan tidak memiliki rekomendasi aktor dan aktris untuk memerankan filmnya.


    "Ekkhhmm.. Mas Iwan, kalo mas Iwan nggak punya rekomendasi lainnya aku saranin untuk ngadain casting aktor dan aktris kelas menengah. Contohnya aktor yang aktingnya bagus tetapi pamornya sedang turun, artis pendatang baru dan selebriti lain yang ingin mencoba berakting. Karena genre film ini komedi, jadi kita nggak perlu mencari pemain dengan kualifikasi yang rumit," ucap Rara menjelaskan kepada Iwan.


    "Hmm, untuk selebriti yang hanya mencoba berakting bisa menjadi bintang tamu di film kita dalam bentuk promosi film. Walaupun film kita bagus, tetapi apabila para penonton tidak ada yang membeli tiket di bioskop, maka sama saja dengan membuang - buang uang. Kita cari aktor yang namanya sedang turun untuk menjadi pemeran utama, kemudian pendatang baru untuk pemeran pendukung. Untuk figuran dan peran kecil lainnya lebih baik kita cari langsung di Malay nanti," ucap Iwan memutuskan untuk mengikuti saran Rara


    "Saya setuju mas Iwan, untuk vanue casting saya saranin kita casting nya di Jakarta, karena banyak aktor dan aktris yang berdomisili disana. Lagipula, jika kita mengadakan casting di Jogja, takutnya nanti keluarga Wijaya akan mengatahui kerjasama yang kita jalani. Paling tidak, kita harus menyembunyikan kerjasama kita sampai film kita diputar di bioskop. Mas Iwan lebih baik mendiirkan Wannabe Pictures secepatnya biar rencana kita bisa dilaksanakan menggunakan nama dari perusahaan mas Iwan," ucap Rara memberikan masukan lainnya.


    Iwan hanya menganggukkan kepalanya menyetujui saran dari Rara, walaupun ia mengetahui banyak film yang belum dibuat saat ini dalam memorinya, dirinya masihlah orang yang awam dalam hal membuat film.

__ADS_1


*Terimakasih sudah mau menunggu update terbaru 'Jenius Wan' mohon maaf atas ketidaknyamanannya, terimakasih buat para pembaca setia yang sudah mendo'akan kakek ku.


__ADS_2