Jenius Wan

Jenius Wan
Rara


__ADS_3

    Hari minggu, keesokan paginya. Iwan bangun seperti biasa dan melakukan aktivitas rutin nya seperti olahraga pagi dan sarapan. Iwan tidak lupa mengirimkan pesan kepada Bella, karena pada minggu lalu, Iwan ada janji kepada Bella untuk mentraktir dalam rangka perayaan keberhasilan game miliknya yang tertunda dikarenakan bertepatan dengan waktu Ujian Nasional.


    Iwan : Pagi Bell...


    Bella : Iyaa pagi Wann...


    Iwan : Gimana nanti malem bisa nggak kamu?


    Bella : Iyaa Waann bisa kok aku


    Iwan : Aku jemput nya jam berapa nih?


    Bella : Jam 5an aja, nggak papa berangkat lebih awal nanti temenin aku shopping sekalian yaah :)


    Iwan : Oke siap bu boss!


    Iwan yang sedang chattingan dengan Bella hanya senyum - senyum sendiri saja, hubungannya dengan Bella sudah semakin dekat, hanya perlu gerakan sedikit agar mereka resmi berpacaran. Tetapi dirinya sudah memantapkan diri untuk tidak berpacaran sebelum krisis keluarganya dapat dihilangkan.


    Apalagi Iwan sekarang hanya memiliki waktu kurang lebih 7 bulan sampai akhir tahun nanti sebelum terjadinya bencana alam. Iwan menutup pesannya dengan Bella dan kemudian menelfon Agung.


    "Haloo? Boss?," terdengar suara Agung setelah telfon tersambung.


    "Iyaa mas Agung, gimana? sepupu mas Agung mau dengan tawaran saya kemarin?," tanya Iwan di dalam telfonnya.

__ADS_1


    "Mau boss! dia dari pagi udah siap siap aja, nih sekarang orangnya lagi jalan ke kantor, nggak sabar kayaknya buat ngebahas penawaran dari boss," jawab Agung


    "Oke oke, nanti kalo dia udah sampe, suruh tunggu aja yaa. Ini aku sebentar lagi juga mau otw kok, kalo kamu belum sarapan beli aja di warung sebelah, sekalian beliin juga sepupu kamu. Bilang ke mbak - mbak sebelah nanti mas Iwan yang bayar gitu, catet dulu," ucap Iwan kepada Agung


    Karena Iwan sering sekali makan di warung tersebut, pemilik warung jadinya kenal dengan Iwan, bahkan Iwan sampe diizinkan membuat buku catatan jika dia ataupun orang yang berhubungan dengan kantornya ingin makan, maka minta dicatat aja dulu, bayarnya belakangan.


    "Siaaap boss! Oh iyaa nih boss, ada email masuk dari salah satu stasiun TV, pemilik Wannabe Game Studio diundang untuk mengikuti acara wawancara talk show pejuang muda. Topiknya membahas kondisi game di Indonesia saat ini, gimana boss? jawab apa?," tanya Agung


    Iwan mengernyitkan keningnya, ia tidak terlalu menyukai wawancara talk show seperti itu, karena biasanya yang diundang bukan cuma 1 orang saja, bisa jadi ada bintang tamu artis yang ternyata tidak bermutu dan tidak ada sama sekali kaitannya dengan topik pembahasannya. Hal ini terjadi karena ketatnya persaingan stasiun televisi, jadi hanya bisa mengandalkan kepopuleran bintang tamu artis untuk meningkatkan jumlah popularitas wawancara talk show nya.


    "Tolak aja mas Agung, bilang aja kalo aku belum siap untuk tampil di depan umum. Lain kali kalo ada tawaran sejenis ini juga, langsung aja tolak dengan alasan yang sama nggak usah konfirmasi ke saya lagi," ucap Iwan dengan tegas.


    "Baik boss siaapp! ditunggu di kantor boss," ucap Agung memutuskan panggilan tersebut.


    Jika nilai Ujian Nasional Iwan rendah, ia tidak akan bisa membayangkan reaksi berlebihan kedua orang tuanya tentang game studio ataupun production house yang akan Iwan buat nanti. Kedua orang tuanya pasti akan mengait - ngaitkan nilai rendahnya dengan kegiatan bisnis diluar urusan sekolah yang ia jalani saat ini. Bagaimana pun juga, saat ini dia hanyalah pelajar, sudah pasti orang tuanya mengutamakan akademik terlebih dahulu dibandingkan hal lainnya.


    Iwan melihat pada iPhone 4 miliknya, waktu sudah menunjukkan jam 9, ia kemudian mandi dan mengganti bajunya. Iwan mengenakan pakaian kasul santai untuk pertemuannya dengan sepupu Agung. Iwan turun ke garasi tak lupa juga ia membawa surat kontrak kerjasama yang telah di siapkan semalam serta naskah singkat film My Stupid Boss.


---


    Seorang pria duduk berhadapan dengan wanita. Pria tersebut sedang memakan nasi bungkus sedangkan wanita yang ada di depannya terlihat sangat gugup. Pria tersebut adalah Agung dan wanita tersebut adalah sepupu Agung yang sedang gelisah.


    "Raa.. Nggak usah gugup gitu, bentar lagi boss Iwan dateng. Makan aja dulu nih, biar nanti ada tenaga buat diskusi sama boss," ucap Agung mencoba menenangkan sepupunya, Rara

__ADS_1


    "Nggak ah, mana nafsu makan aku sebelum production house ku dan temen temen nasibnya ada kejelasan," ucap Rara menolak tawaran makan dari Agung


    "Haiihh.. Kamu tuh yaa, dibilangin tenang aja, bos Iwan tuh orangnya jenius. Kamu jadi partner kerjasama dia pasti nggak akan nyesel, tau kan kemarin yang mau nolong sepupu mu ini yang lagi melarat dan tantemu yang lagi sakit - sakitan itu cuma boss Iwan. Dia orangnya baik nggak mandang rendah orang lain, buktinya dia mau ngasih kesempatan buat aku. Dia pasti nggak akan ada kepikiran untuk berbuat jahat sama production house kamu, pasti nggak akan ada yang dirugikan," jelas Agung yang sudah mengetahui sedikit sifat Iwan.


    Rara yang mendengar penjelasan Agung pun sedikit lega sembari menghela nafasnya.


    "Kamu tau sendirikan, production house ku itu mau di beli murah sama Eagle Production House, hasil jerih payah kami semua mau dibeli dengan harga semurah itu Gung, bayanginn!! dan pemilik Eagle Production House, Vito juga ngejar aku dari jaman kuliah dulu! aku tau pasti gara - gara aku nolak dia, dia nggak seneng dan pelan - pelan ngehancurin production house ku dengan mensabotase dari belakang layar. Sejak festival film lalu, selalu saja ada halangan yang nggak masuk akal terjadi terus menerus!," ungkap Rara dengan ekspresi marah menceritakan penyebab kegelisahannya yaitu pesaing production house nya.


    Dirinya tidak akan marah jika production house lainnya bersaing secara sehat. Namun, Rara hanya seorang yang baru lulus kuliah dengan kenaifannya menghadapi medan bisnis yang kejam. Ini hal yang wajar di dunia bisnis, dirinya menerima pengalaman pahit oleh pesaing bisnisnya.


    "Vito Wijaya? Keluarga Wijaya yang nomor 4 di Jogja itu? Katanya, mereka mau ngegeser posisi nomor 3 keluarga Sneijer? pantes aja Eagle Production House lagi gencar gencarnya mengakuisisi banyak production house kecil dan membuat banyak film," ucap Agung menarik nafas kemudian melanjutkan


    "Huffttt... Sebenernya studio game ini juga mau di akuisisi sama keluarga Wijaya. Kamu tau kan Theo Wijaya putra kedua keluarga Wijaya? dia pemilik Dominoz Game Studio kemarin orang suruhannya kesini maksa maksa mau mengakuisisi Wannabe Game Studio, tapi sama boss Iwan di tolak. Jadi menurutku nasib kalian itu sama," ucap Agung menceritakan hal yang sama


    Mendengar cerita Agung yang ini, Rara sepenuhnya menjadi tenang, sebab apabila yang dikatakan Agung itu benar. Maka, Iwan adalah sekutu yang tepat untuk melawan kearoganan keluarga Wijaya. Walaupun ia awalnya terlalu mengkhawatirkan adanya niat jahat Iwan dalam kerjasama ini, setelah apa yang dibicarakan Agung, rasanya ia tidak akan keberatan untuk bertarung melawan keluarga Wijaya bersama Iwan.


    Wajar saja jika Rara terlalu khawatir, sebab dirinya mendapat trauma bisnisnya di sabotase. ia sedikit paranoid dan mencurigai setiap orang yang ingin mengajak nya bekerjasama. Apalagi tawaran dari Iwan bisa dibilang terlalu mendadak dari sepupu jauhnya yang jarang ia temui, paling hanya beberapa kali dalam setahun.


    Setidaknya, setelah diyakinkan oleh Agung, Rara sekarang bersedia mempertaruhkan production house miliknya kepada Iwan. Hanya saja, saat ini Rara tidak mengetahui kerjasama seperti apa yang akan ditawarkan kepada Iwan untuk procution house miliknya.


    Apabila Iwan meminta untuk akuisisi production house miliknya yang didirikan dengan keringat dan darahnya, maka ia dengan terpaksa menolak mentah - mentah penawaran dari Iwan.


Terimakasih sudah membaca! jangan lupa like ya

__ADS_1


__ADS_2