
Hari yang ditunggu Iwan dan Sugeng pun akhirnya tiba, bunga Tulip semakin diburu oleh pecinta tanaman hias, harganya sudah mencapai Rp1.000.000,- untuk bunga Tulip yang cantik, sedangkan bunga Tulip yang mereka punya termasuk kriteria bunga yang cantik, jadi apabila di jual pasti akan laku dengan cepat.
Iwan dan Sugeng berencana menjual bunga Tulip mereka nanti setelah pulang sekolah. Berhubung Ujian Tengah Semester telah dilalui dengan lancar, Iwan tidak memberikan kursus privat baik kepada Bella maupun Sugeng. Bel pertanda selesainya pelajaran di hari itupun telah berbunyi, Iwan dan Sugeng berpamitan kepada Sari dan Bella untuk pulang duluan. Kemudian mereka menuju rumah kaca milik keluarga Sugeng untuk mengangkut bunga Tulip milik mereka menggunakan pick up. Tanpa beristirahat mereka langsung pergi ke kota.
"Waaan, kemana nih kita?," tanya Sugeng sembari menyetir pick up
"Kita ke pusat kota Geng, disana juga banyak toko bunga," jawab Iwan
"Kok ke pusat kota Wan? kenapa nggak ke Sleman lagi aja, kan disana lebih lengkap, apalagi tempat kemarin kita beli bunga nya," tanya Sugeng dengan terheran.
"Ehhh panjul, nggak usah kamu bawa pusing, nih yaah, aku kasih tau kamu, kita ini mau jual bunga nya, bukan mau beli bunga. Kalo kita jual di Sleman, harganya malah lebih murah nanti," jelas Iwan
"Ohh iya yaahh, yaudah - yaudah kita puter balik duluu...," ucap Sugeng.
---
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mereka berdua tiba di suatu jalan yang dipenuhi toko bunga di sisi kiri kanan jalan. Daerah ini memang terkenal sebagai pusat tanaman hias dan bunga yang ada di pusat kota, melayani juga jasa pembuatan papan ucapan selamat maupun ucapan belasungkawa.
Iwan dan Sugeng kemudian memarkirkan mobil pick up nya, mereka memasuki toko bunga yang terlihat ramai oleh pengunjung, kemudian mereka menghampiri karyawan toko tersebut untuk menawarkan bunga Tulip yang mereka punya.
"Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu," ucap karyawan toko tersebut kepada Iwan.
"Mas, saya mau nanya, ada bunga Tulip nggak yaah disini?," tanya Iwan berbasa - basi untuk mengetahui stock bunga tersebut tersedia atau tidak di toko ini.
__ADS_1
"Mohon maaf mas, untuk bunga Tulip belakangan ini sedang diburu oleh banyak orang, maka dari itu di toko kami sudah tidak ada stock nya lagi. Untuk informasi stock bunga Tulip lebih lanjut, mas nya bisa cek nanti di halaman facebook toko kami," jawab karyawan toko tersebut.
"Gini mas, saya punya bunga Tulip, rencananya mau saya jual, apa toko ini sekiranya mau beli?," tanya Iwan dengan sedikit berbisik ke kuping karyawan toko tersebut.
"Oohh yaa? mmm... mohon tunggu sebentar ya mas, untuk masalah ini saya sampaikan ke bos saya dulu," ucap karyawan toko berpamitan kepada Iwan untuk memanggil bos toko yang ada di lantai 2
Beberapa menit kemudian, pria karyawan toko tadi turun bersama pria paruh baya dengan badan yang sedikit gemuk. Mereka menuruni tangga kemudian berjalan ke arah Iwan dan Sugeng, karyawan toko tersebut menunjuk ke arah Iwan dan Sugeng sembari membisikkan sesuatu ke pria paruh baya itu. Tidak lama pria paruh baya tersebut menghampiri Iwan dan Sugeng.
"Adik berdua ini tadi katanya mau jual bunga Tulip nya yaa?," tanya pria paruh baya sembari menggosok - gosokkan telapak tangannya.
"Iyaa bener pak, kami berdua mau ngejual bunga Tulip?," jawab Sugeng.
"Adik punya berapa? mau dijual berapa?," tanya pria tersebut pada Sugeng
"Kita punya 5 pak, untuk masalah harga bapak liat dulu aja bunga nya, gimana?," jawab Iwan memotong Sugeng yang ingin menjawab sebelumnya.
"Oke dik, bawa kesana aja bunga nya," ucap pria paruh baya tersebut sembari menunjuk salah satu sudut di depan toko.
"Bisa pak, akan kami bawa kesitu bunganya, boleh kami pinjam troli pak?," tanya Iwan,
Pria paruh baya itu hanya menjawab dengan anggukkan kepala dan menyuruh karyawan toko mengambil troli dibelakang toko tersebut, kemudian Iwan dan Sugeng keluar toko menuju mobil pick up mereka.
"Waan.. kok kamu bilang kita cuma punya 5 bunga aja?," tanya Sugeng yang masih penasaran.
__ADS_1
"Nih aku jelasin Geng, kalo kita ngomong kita punya bunga 33, itu orang pasti akan nawar harga murah. Intinya semakin dikit kita jual kemungkinan semakin mahal harga bunga Tulipnya, belom lagi nih yaah kalo kita jual banyak sekaligus mereka pasti bertanya - tanya tentang asal usul bunga itu, karena kita juga bukan pemilik kebun tanaman hias, nanti dikira nyolong kan kocak," jelas Iwan pada Sugeng.
"Jenius banget emang kamu Wan, aku mana kepikiran sampe sejauh itu," balas Sugeng mengacungkan kedua jempolnya.
Mereka pun menurunkan bunga Tulip yang tingkat kecantikannya paling biasa dibandingkan lainnya. Kembali ke toko tersebut, pria paruh baya tadi sedang menunggu kedatangan Iwan dan Sugeng, kemudian pria paruh baya tersebut mengecek bunga - bunga Tulip yang dibawa.
"Hmmmm... kualitas bunga nya termasuk baguss, terawat dan cantik ditambah tidak ada cacat dan sehat. saya kasih harga Rp600.000,- per bunga nya gimana?," tanya pria paruh baya tersebut.
"Kalo begitu kami permisi pak, kami jual di toko sebelah saja," jawab Iwan yang mengagetkan Sugeng di sampingnya.
"Bentar dik, bentar. Jangan buru - buru huehehe, saya tawar Rp700.000,- per bunga nya, deal?," tawar pria paruh baya tersebut yang tidak menyangka remaja ini tidak mudah untuk dibodohi.
"Rp1.000.000,- ...deal?," ucap Iwan dengan bersikukuh.
"Mana bisa Rp1.000.000,- nanti saya nggak bisa dapet untung dik, Rp750.000,- nggak bisa naik lagi!," tawar pria paruh baya tersebut terkejut dengan cara negosiasi Iwan.
Negosiasi adalah bentuk perang mental dan informasi kedua belah pihak, meskipun Iwan hanya seorang remaja, tetapi wawasan dan mentalnya bisa saja di adu oleh pemilik toko bunga tersebut.
Mereka pun tawar menawar dengan sengit, akhirnya mereka pun deal di harga Rp900.000,- Walaupun pria paruh baya tersebut menyayangkan harga tersebut, tetapi karena sedang meningkatnya permintaan bunga Tulip jadi dia akan dengan cepat menjual kembali bunga tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan seperti perawatan.
Setelah mendapatkan SMS pemberitahuan uang masuk sebesar Rp4.500.000,- Iwan dan Sugeng pun keluar dari toko tersebut dengan muka puas. Sugeng tidak menyangka selain jenius dalam pelajaran, Iwan juga jenius juga dalam hal tawar menawar.
Mereka kemudian menaiki pick up untuk melanjuti penjualan bunga Tulip menuju toko bunga yang agak jauh dari toko bunga sebelumnya. Rata - rata penjualan bunga Tulip mereka dihargai Rp900.000,- sampai dengan Rp1.100.000,- mereka mendapatkan uang Rp30.000.000,- dari total penjualan 30 bunga Tulip.
__ADS_1
Tersisa 3 bunga Tulip terbaik dan tercantik yang sengaja Iwan jual belakangan, mereka pun menghampiri toko bunga paling besar di daerah tersebut. Alasannya adalah sudah pasti di toko bunga paling besar lah bunga Tulip terbaik dan tercantiknya akan lebih dihargai.
*Terimakasih sudah membaca! jangan lupa likenya