Jenius Wan

Jenius Wan
OS


__ADS_3

    Iwan masih memikirkan bagaimana mendapatkan tambahan uang untuk pengobatan ibunya Agung, minta ke orang tuanya? tidak mungkin. Jika begitu orang tuanya akan menanyakan untuk keperluan apa, walaupun dia bisa berbohong tetapi dengan kekuatan orang tuanya pasti bisa menyelidiki untuk apa sebenarnya uang itu digunakan, dan ini akan membuat usaha yang Iwan jalani akan ketauan. Dia tidak memikirkan lagi cara ini


    Akhirnya dia kesampingkan dulu urusan biaya pengobatan sebab pembayaran biaya pengobatan biasanya akan di bayarkan setelah pasien keluar dari rumah sakit, jadi paling tidak ia mendapatkan waktu sebulan untuk mencari cara membayar pengobatan ibu Agung.


---


    Keesokan paginya Iwan memulai hari seperti biasanya dan berangkat sekolah. Pada siang harinya ia menuju ruko tempat kantornya berada. ia mendapati 2 ruangan diatas masing - masing telah terisi oleh meja dan kursi, jam dinding, lemari kecil, peralatan tulis dan 1 set komputer high spesification.


    Ruangan sebelahnya hampir sama seperti itu, namun di ruangan ketiga masih kosong sama sekali. Iwan melihat Agung yang sedang memasang - masang kabel pada komputer dan peripheral komputer untuk memudahkan menggambar menggunakan komputer. Kemudian Agung menyalakan komputer tersebut


    "Mas Agung, gimana? udah di beli semuanya?," tanya Iwan.


    "Siaap bosss, udah beress, semua lengkap untuk memulai studio game, tinggal nunggu nanti sorean ada orang yang mau pasang internet," jawab Agung dengan antusias


    "Baguuusss... berapa semua yang kamu habiskan untuk belanja?," tanya Iwan.


    "Total semuanya Rp18.950.000,- boss.. kebetulan 2 komputer itu barang second temen saya yang jual, dan sudah saya cek kondisinya masih bagus 95%, jadinya bisa dapat harga miring boss, selain itu nggak perlu waktu lama rakit ulang, jadi kita bisa hemat uang dan waktu, kita juga bisa beli beberapa barang tambahan, oh iya nota bukti pembayaran komputer dan barang lainnya sama ATM punya boss ada di lemari ruangan sebelah," jelas Agung.


    "Okelaah! bagus kamu udah memikirkan efisiensi.. Sekarang kamu lagi ngerjain apa?," tanya Iwan sembari mengambil kursi untuk duduk.


    "saya lagi install program di komputer ini sama di komputer ruangan sebelah, perkiraannya sih sekitar 1 jam lagi selesai baru kita bisa mulai buat prototype game nya boss," jawab Agung matanya tetap fokus pada komputer.


    "Hmm.. oke lanjutin.. kamu belum makan siang kan? aku mau beli makan di warung sebelah, mau dibeliin?," tanya Iwan berdiri dari kursinya.


    "Boleh boss.. terimakasih banyak," jawab Agung


    Iwan pun beranjak ingin keluar dari kantor akan tetapi dirinya sekilas melihat sedikit ke khawatiran pada diri Agung seperti ada yang ingin dibicarakan namun ia ragu - ragu.


    "Ada apa mas Agung? ada yang perlu di bicarakan?," tanya Iwan kembali duduk

__ADS_1


    "emm.. begini boss, kemarin ibu saya di opname, saya sama sekali belum bayar biaya awal pengobatannya. Rumah sakit tadi pagi udah nelfon saya untuk urus pembayaran..," ucap Agung dengan menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak meminta seperti ini dengan terus terang, namun gimana lagi, hanya Iwan yang dikenalnya yang dapat membantu.


    "Oke mas Agung, berapa biayanya?," tanya Iwan


    "biaya nya Rp2.500.000,- boss," jawab Agung.


    "Yasudah, mas Agung nanti sore langsung urus aja ke rumah sakit, bawa ATM yang tadi, sisanya kan masih ada Rp1.050.000,- nanti aku transfer sisanya ke ATM tersebut, kebetulan itu ATM sudah aku khususkan untuk keperluan kantor," jelas Iwan


    ia menyuruh Agung untuk menggunakan ATM kantor agar bukti transaksi pembayaran rumah sakit terecord dengan jelas semuanya. Dengan adanya bukti transaksi yang jelas maka Agung tidak perlu khawatir jika Iwan melebih - lebihkan total biaya pengobatan nantinya.


    "Siap bosss.. terima kasih banyak!," jawab Agung dengan perasaan senang.


    "Oke, yang penting kamu harus fokus kerja, jangan kepikiran lagi, perusahaan akan bantu kamu," ucap Iwan sembari tersenyum kemudian berdiri lagi untuk meninggalkan ruangan.


    Iwan kemudian berjalan keluar dan menuju warung makan yang ada di sebelah kantornya itu untuk membeli makan siang.


    "Mau beli nasi mas dibungkus, 2 yaa. Lauknya ayam bakar, oh iya sambel di pisah aja ya," ucap Iwan.


    ia tidak terlalu menyukai pedas dan Iwan juga tidak tau selera Agung terhadap pedas seperti apa, jadi pilihan terbijaknya adalah meminta sambelnya dipisah saja.


    "Baik mas, silahkan ditunggu sebentar," jawab pekerja tersebut, kemudian dia dengan lihai membungkus pesanan Iwan.


    "Ini mas nasinya, total jadi Rp26.000,-" ucap pekerja warung makan sembari memberikan kantong berisi nasi bungkus.


    "Eeehh, lupa mbak, minumannya es teh manis 2 di plastikin yaa," ucap Iwan


    "baik mas," pekerja tersebut menghitung ulang pesanan Iwan dengan total jadinya Rp30.000,- kemudian dia berbalik arah dan berteriak "PAIJOO! ES TEH 2, DIBUNGKUS!"


    Setelah membayar pesanannya Iwan kembali ke kantor dan menuju ruangan tempat Agung sedang bekerja tadi dan dirinya tidak melihat Agung di ruangan tersebut.

__ADS_1


    Iwan mengambil 1 bungkus makanannya, dia menggeser kursi menjauh dari komputer, kemudian dia memakan dengan lahap, tidak lama pintu terbuka dan Agung masuk ke dalam ruangan.


    "Makan nih mas Agung, abis dari mana?," tanya Iwan sembari meminum es teh nya.


    "Abis dari toilet boss, saya makan nih yaa bos," jawab Agung sembari berjalan mengambil 1 bungkus makanan miliknya. Kemudian membuka sambal dan menumpahkan semuanya ke bungkusan.


    "Kamu suka pedes ya mas Agung?," tanya Iwan basa - basi.


    "Iyaa boss.. saya hobi makan pedes dari kecil," jawab Agung.


    "Jarang banget nemu orang Jogja suka makan pedes lho," ucap Iwan.


    "Saya bukan orang Jogja mas, tapi aslinya dari Banten. saya kuliah di Jogja dan dapet istri orang sini. Tinggal disini makanya pindah KTP Jogja," ucap Agung kemudian menyuap makanannya.


    "Owahahha.. saya kirain orang Jogja mas Agung, soalnya saya liat dari muka mas Agung," ucap Iwan


    "hehehe.. lhoo boss sendiri muka nggak ada jawa - jawa nya tapi asli Jogja," jawab Agung, dan mereka berdua tertawa bersama.


    Setelah selesai makan, Iwan dan Agung melanjutkan pembahasan mengenai game Flappy Birdnya. Kemarin Iwan hanya menjelaskan tentang game play nya saja, saat ini dia membahas tambahan mengenai grafis, sound effect, user interface, leaderboard dan menghubungkannya ke facebook, mereka pun membahas hingga hari menjelang sore.


    "Emm... paling tidak harus punya iPhone bos untuk game khusus iOS, emang bisa sih tes di komputer pake emulator, tapi lebih baik lagi kita tesnya di iPhone juga agar merasakan sensasi bermainnya user friendly atau nggak," jelas Agung pada Iwan.


    "Oke oke, nanti aku beli iPhone, untuk masalah game udah kita bahas, tinggal eksekusi aja. Masalah lainnya apa ada masukan dari mas Agung?," tanya Iwan kepada Agung yang jelas lebih berpengalaman dalam bidang ini.


    "Ada boss.. saya mau usul kalo game ini ga hanya buat iOS saja, tapi untuk OS Blackberry, OS Symbian, OS Java. Walaupun target boss game ini untuk market US dan Eropa, tapi di dalam negeri semakin banyak orang yang pake Blackberry, Nokia/Samsung. Tinggal pindahin aja gampang. Game playnya juga hanya berubah sedikit, jika di iOS kita hanya perlu menekan jari pada layar, kita bisa buat pemain menekan tombol trackpad untuk Blackberry ataupun handphone yang menggunakan OS Symbian dan OS Java," ucap Agung memberikan saran pada Iwan.


    "Emm.. bagus bagus! kamu pinter! kita eksekusi juga buat Blackberry, Symbian dan Java!," jawab Iwan dengan mata bersinar, untuk masalah seperti software memang Agung lebih berpengalaman dibandingkan dirinya. Di kehidupan sebelumnya dia adalah produk gagal, entahlah di kesempatan kedua ini apakah dia akan gagal lagi kah(?)


*Terimakasih sudah membaca! jangan lupa like yaa

__ADS_1


__ADS_2