Jenius Wan

Jenius Wan
Kenyataan


__ADS_3

    Asri Garden


    Iwan dan Sugeng turun dari mobil pick up dan berjalan masuk ke arah perkebunan Asri Garden. Kanan kiri jika di perhatikan banyak sekali bunga dan tanaman hias yang ia tidak ketahui, sebab fokus dia kesini hanya untuk membeli bunga Tulip jenis langka.


    Saat ini Iwan dan Sugeng memakai pakaian biasa saja, hanya kaos oblong. Dia teringat novel - novel yang pernah dibaca dahulu, biasanya karyawan toko tersebut akan mengacuhkan bahkan menghina pemeran utama yang hanya berpenampilan sederhana. Kemudian si pemeran utama pasti membalikkan keadaan dengan cara mengeluarkan uang banyak, memberitahu bahwa sebenarnya dia ini orang kaya, dan membuat manajer toko meminta maaf.


    Kenyataannya masih banyak orang yang bekerja dengan sepenuh hati, ketika Iwan dan Sugeng memasuki toko mereka di sambut ramah oleh karyawan toko dan manajer toko yang kebetulan sedang mengontrol. Iwan merasa mengapa di kesempatan kedua ini dia tidak diperlakukan seperti kisah di novel tersebut agar dia bisa berperan seperti pemeran - pemeran utama lainnya.


    "Selamat siang, selamat datang di Asri Garden pak, ada yang bisa saya bantu?," ucap karyawan toko kepada Iwan dan Sugeng.


    "siang mbak, kami ingin mencari bunga Tulip jenis langka, apa ada?," tanya Iwan


    "Ohh tentu ada pak, kebetulan bunga tersebut memang indah untuk dijadikan hiasan di taman, bunga nya ada di kebun belakang toko kami, silahkan ikuti saya pak," jawab karyawan toko dengan senyuman ramahnya, yang membuat Iwan terpesona.


    Karyawan toko tersebut memanggil 'pak' kepada Iwan dan Sugeng, padahal terlihat sekali bahwa mereka berdua masih diumur remaja, ini menjadi poin plus yang membuatnya terkesan akan profesionalitas karyawan toko tersebut. 'Pokoknya jika nanti membuat perusahaan ataupun membuka toko, harus yang profesional seperti ini karyawannya,' fikir Iwan dalam hati.


    Mereka pun tiba di tengah - tengah banyak nya bunga dan tanaman hias, banyak yang lebih cantik dibandikan yang ia liat di depan toko tadi. Iwan melihat hampir 120 bunga Tulip jenis langka disitu. Dalam ingatan Iwan hanya bunga Tulip jenis langka cantik yang nanti harganya akan berkali - kali lipat, diantara bunga - bunga yang ada disitu. ia melihat hanya ada sekitar 10 bunga Tulip yang mencolok kecantikkannya.


    ia pun dengan teliti melihat 10 bunga tersebut, melihat - lihat apakah ada tanda kerusakan atau hama pada tanaman tersebut untuk meminimalisir kesalahan, dan hasilnya Iwan pun berpuas diri karena tidak ada bunga yang rusak ataupun terserang hama.


    "Mbak, yang ini yaaa, sama yang ini juga, terus ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, ini, jadinya 10 bunga mbak, berapa totalnya?," tanya Iwan sembari menunjuk - nunjuk bunga yang ia nilai mencolok keindahannya.


    "Sebentar yaa pak saya hitung dulu, yang 2 bunga ini harganya 90.000, terus 2 disebalah kanan bapak harganya 85.000, terus 3 didepan bapak harganya 110.000, 3 bunga disebelah kiri bapak harganya 115.000. emmm.. Jadi totalnya Rp1.025.000,- pak," jawab karyawan toko tersenyum manis.

__ADS_1


    Iwan yang melihat senyuman karyawan toko tersebut sangat terpesona. "Mbak, senyumannya manis banget, pake gula berapa sendok sih," celetuk Iwan.


    "Maaf pak, mohon di hitung kembali, takutnya saya salah hitung," ucap karyawan toko tanpa menanggapi celutukkan Iwan.


    "Ooh iya iya baik mbak, saya hitung kembali," jawab Iwan sembari membuka kalkulator di HP nya, dan hitungan karyawan toko tersebut sudah benar.


    "Sudah saya hitung kembali mbak, dah benar tinggal pembayarannya saja," ucap Iwan malu - malu karena tadi asal nyeletuk, ditambah lagi tidak ditanggapi oleh karyawan toko tersebut. 'mungkin mbak - mbak nya nggak suka kali sama brondong kayak aku gini' pikir Iwan dalam hati.


    "Baik pak, silahkan ikuti saya ke kasir untuk pembayarannya," ucap karyawan toko sembari mengarahkan Iwan dan Sugeng berjalan ke arah kasir.


    "Jiaaahh, payah amat kamu broo! rayuan mu itu kaku banget, harusnya di kasih kata - kata puitis gitu biar lebih berkelas," ejek Sugeng berbisik kepada Iwan.


    "udah diem aja kamu Geng... basa - basi doang aku tuh sama mbaknya biar mencairkan suasana! aku masih punya malu, nggak kayak kamu, apa - apaan pasang status alay banget," balas Iwan membalikkan omongan temannya itu.


    "Alay darimana broo? kamu aja kali nggak ngikutin perkembangan jaman, kan sekarang emang lagi nge-trend pasang status yang kayak begitu," Sugeng mengelak dibilang alay.


---


    Saat mereka sampai di kasir dan ingin melakukan pembayaran, ada sepasang kekasih yang baru saja tiba dengan mobil mewah, si pria mengenakan setelan formal berkelas dengan jam tangan mahal, wanitanya mengenakan pakaian dari brand terkenal.


    "Mbak, bunga Tulip kemarin yang saya lihat sama kekasih saya ini dimana, masih ada?," tanya pria tersebut.


    "Mohon maaf pak, bunga tersebut sudah di beli sama bapak ini," jawab karyawan toko sembari menunjuk Iwan.

__ADS_1


    Sepasang kekasih tersebut saling menengok dan memperhatikan Iwan dan Sugeng, entahlah apa yang mereka fikirkan itu bukan urusannya.


    Iwan pun tiba - tiba teringat kembali kisah - kisah seperti di novel online yang pernah ia baca, biasanya sehabis ini pasti pria tersebut ingin pamer kekayaan dengan meminta bunganya secara paksa dan bersedia membayar lebih bahkan hingga 5 kali lipat demi terlihat keren di depan wanitanya. Akan tetapi pemeran utama menolak memberikan bunga nya, hingga akhirnya pria tersebut pergi dengan kesal sembari mengancam.


    Tapi ini adalah dunia kenyataan, orang kaya mana yang bersedia membayar 5 kali lipat hanya untuk sebuah bunga. Kenyataannya memang seperti ini, tidak seperti kisah - kisah novel.


    "emmm... Baiklah kalau begitu mbak, terimakasih," ucap pria tersebut kepada karyawan toko sembari tersenyum kepada Iwan dan Sugeng juga.


    "Pinter kamu dek milih bunga itu, di daerah sini itu udah yang paling bagus, yasudah saya permisi yaa," lanjut pria tersebut memuji ketelitian Iwan dalam memilih bunga.


    Iwan yang dipuji oleh mas - mas itupun hanya merespon dengan senyuman ramah, padahal sebenarnya dia merinding dipuji mas - mas. 'kalau ceweknya yang muji sih oke aja,' pikir Iwan dalam hati.


---


    Kemudian Iwan dan Sugeng menaikkan bunga Tulip yang mereka beli ke atas pick up. Lalu melanjutkan kembali perjalanan ke toko maupun kebun bunga lainnya untuk berburu bunga Tulip jenis langka ini. ia membeli bunga dengan harga kurang lebih Rp100.000,- di setiap toko lainnya, total bunga yang mereka kumpulkan sebanyak 36 bunga, punya Iwan 30 dan punya 6 punya Sugeng.


    Mereka pun bergegas untuk pulang sebab hari mulai sore, di pertengahan jalan mereka mampir restoran padang 'sederhana' yang harganya tidak ada sederhana - sederhana nya sama sekali. ia mentraktir Sugeng karena sudah mau menemaninya hari ini.


    Selesai makan, Iwan dan Sugeng pun kembali ke mobil pick up. Di tempat parkir ia di jegat oleh 2 pemuda berpenampilan preman, ia dan Sugeng ini tidak pandai berkelahi, mereka diminta menyerahkan uangnya, Iwan dan Sugeng tentunya menyerah tanpa perlawanan, dan menyerahkan uang 15 ribu kepada dua pemuda tersebut, ia mengaku hanya seorang karyawan kebun bunga. Untungnya pakaian yang dikenakan Iwan dan Sugeng sangat mendukung, hingga kedua preman itu percaya - percaya saja.


    ia teringat jika di kisah novel, pastinya si pemeran utama menghajar kedua preman tersebut dan pada akhirnya mereka malah berteman untuk saling membantu di kemudian hari jika pemeran utama terkena masalah. 'sungguh tidak masuk akal,' pikir Iwan


    "Kenyataan tetaplah kenyataan, bagaimana pun naskahnya kita harus bisa menilai secara objektif" Iwan bergumam pelan yang di dengar oleh Sugeng.

__ADS_1


    Sugeng yang mendengarnya pun langsung melongo, dengan cepat dia tersadar dan mengeluarkan HP nya lalu membuka facebook, untuk memperbaruhi status nya dengan kata - kata Iwan tadi, meski dia tidak begitu mengerti apa maksudnya, yang penting baginya terdengar keren.


Terimakasih sudah membaca! jangan lupa like nya


__ADS_2