Jenius Wan

Jenius Wan
Bella


__ADS_3

    Alarm handphone pun membangunkan Iwan dari tidurnya di pagi hari senin ini, yang mana hari senin ini adalah hari yang paling banyak tidak di sukai para pelajar maupun pekerja. Akan tetapi Iwan yang sudah mengalami kegagalan di kehidupan sebelumnya sudah tentu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


    Iwan pun bangkit dari tempat tidurnya, ia merasa seluruh badannya remuk sehabis aktivitas yang dia lakukan kemarin bersama Sugeng karena dia harus mengangkat puluhan bunga bersama dengan pot nya ke atas pick up, belum lagi perjalanan dari toko ke toko lainnya.


    Bunga Tulip yang kemarin ia beli, disimpan di kebun milik keluarga Sugeng agar ada orang yang dapat merawatnya ketika dia sedang sekolah maupun kegiatan lainnya.


    Bangun dari tempat tidurnya, Iwan mencuci mukanya lalu mengganti pakaiannya dengan setelan olahraga. ia mulai merenggangkan tubuhnya sebelum melakukan aktivitas rutin lari paginya. Mulai dari dia terbangun di masa ini, ia sudah menjaga pola hidup sehat.


    Setelah lari pagi, Iwan mandi membersihkan badannya, kemudian dia bersiap - siap untuk bersekolah. Sarapan telah di siapkan oleh mamahnya, dan tidak lupa sebelum berangkat dia berpamitan kepada kedua orang tuanya.


    Sekolah Iwan melarang anak murid nya mengendarai kendaraan saat berangkat ke sekolah dengan alasan karena masih dibawah umur dan beresiko tinggi jika terjadi kejadian yang tidak diharapkan. Jadi Iwan berangkat sekolah dengan menaiki angkutan umum.


---


    SMA Tunas Harapan


    Iwan tiba didepan gerbang menyapa santun satpam yang menjaga, melihat Iwan yang seperti itu, salah satu satpam terheran dengan kesantunannya, sebab Iwan ini pernah ketauan olehnya saat ingin memanjat pagar sekolah ketika belum waktunya bel pulang.


    Memasuki ruangan kelas 3, Iwan melihat tempat duduknya ditempati oleh temannya yang bernama Sari, gadis ini tingginya 165 cm dengan berat badan 60 kg. Melihat berat dan tingginya, Sari ini tergolong gadis yang semok.


    Sugeng terlihat menemani di samping Sari, ada kabar bahwa mereka sedang PDKT. Sugeng ini pecinta gadis - gadis yang semok, ketika dahulu Iwan bertanya pada Sugeng, dia hanya mengatakan 'biar nyaman dipeluk'.


    Iwan baru ingat bahwa jaman saat dia SMA dulu memang para anak muda sering bertukar - tukar tempat duduk demi bisa mengobrol dengan gebetan mereka. ia pun tersenyum sembari menggelengkan kepala nya sebelum menyapa Sugeng dan Sari.

__ADS_1


    "Pagiii,, kalian berdua yang sedang mabuk asmara," sapa Iwan dengan nada mengejek.


    "Ciihh, orang kita ngobrol biasa aja kok," bantah Sari..


    "Halaah kamu Sar, ngobrol biasa aja kok bisa sambil mesem - mesem sendiri," ucap Iwan


    "iiihh apaan sih waann..." jawab Sari, muka nya bersemu merah, menunduk malu karena diledeki terus oleh Iwan


    "Wush.. wushh.. sana kamu duduk di tempat Sari, ganggu aja," ucap Sugeng yang merasa terganggu oleh Iwan, ia khawatir PDKT nya dengan Sari gagal.


    Iwan pun dengan cepat pergi ke tempat duduk Sari, kemudian menyiapkan buku pelajaran pertama yaitu bahasa Inggris dan bersiap mengenakan dasi nya karena setengah jam lagi upacara bendera. Di sisa waktu itu dia hanya melamun saja memikirkan cara lain apa lagi untuk mengumpul uang.


    Lamunan Iwan terpecah begitu saja ketika ada suara akrab menyapa nya dari tempat duduk di sebalah kanan. "Eh.. Wan?," suaranya saja sudah bisa membuat hati Iwan berdebar - debar kencang, sangat akrab sekali dia dengan suara tersebut, sebab pada masa SMA ia memiliki cinta pertamanya. Dan benar saja ketika ia menengok, ia terpana, terlihat gadis cantik dengan tinggi 170 cm, rambutnya lurus panjang melewati bahu sedikit, gadis tersebut bernama Bella, Matanya yang kecoklatan menatap Iwan dengan tersenyum bibir tipisnya hingga membuat Iwan semakin berdebar - debar.


    Saat itu Sari bahkan memberitahu Iwan nomor kontak Bella yang bisa dihubungi akan tetapi Iwan yang saat itu keluarganya sedang terjatuh, tidak merasa pantas lagi untuk mengejar Bella, Susi pun berkata bahwa perasaan Bella masih belum berubah kepada Iwan dan bisa menerima Iwan apa adanya. Tetap saja Iwan saat itu hanya menggelengkan kepala nya dan pergi begitu saja.


    Setelah beberapa tahun kemudian dari acara reuni tersebut, Iwan menerima undangan pernikahan Bella, ia saat itu sangat sedih karena masih belum move on juga. Iwan sudah sangat berusaha akan tetapi bayang - bayang Bella selalu saja ada di benaknya.


    'pokoknya aku nggak boleh ngulangin kesalahan yang sama' ucap Iwan dalam hati.


    "Haii bell, aku duduk disini hari ini, Susi lagi PDKT sama Sugeng tuhh," ucap Iwan sembari menunjuk kearah meja Sugeng.


    "Emhuhuhu... emangnya kalo duduk sebangku berarti lagi PDKT yaa?," tanya Bella sembari meletakkan tas nya diatas meja.

__ADS_1


    "Yaahhh syaratnya harus cowok sama cewek baru bisa dibilang PDKT, kalo sesama jenis kelamin yah nggak lah," jawab Iwan dengan tersenyum


    "Berarti itu si Putra lagi PDKT gitu sama kucing betina?," ucap Bella sembari menunjuk ke arah meja Putra yang orangnya sangat menyukai binatang, kebetulan Putra sedang bermain dengan kucing liar betina.


    "Nggak gitu juga, maksudnya beda jenis kelamin dan harus satu spesies," jawab Iwan sekena nya saja.


    "Oohh, berarti apa ini juga tandanya kamu mau PDKT sama aku?" tanya Bella dengan tersenyum samar.


    Iwan pun menjadi kikuk karena merasa terjebak oleh pertanyaan - pertanyaan Bella. Sementara pelakunya hanya menahan diri untuk tertawa karena melihat Iwan yang kikuk.


    Untungnya bel sekolah berbunyi, menandakan upacara segera dimulai. Dia terselamatkan dari situasi canggung ini.


---


    Setelah upacara yang membosankan itu selesai, pelajaran pertama yang hari senin adalah Bahasa Inggris. Gurunya bernama Udin, atau biasa dipanggil Mr. Udin ketika dikelas. Mr. Udin ini juga terkenal akan killernya saat mengajar dikelas. Karena jika mendapatkan nilai dibawah 70, Mr. Udin memberikan tugas mengarang cerita dalam Bahasa Inggris sebanyak 3 lembar kertas folio. Banyak memang apalagi kertas folio lebih panjang dari buku tulis biasanya, akan tetapi hukuman seperti ini sebenarnya dapat memberi motivasi agar murid - muridnya serius belajar saat jam pelajaran berlangsung, juga secara tidak langsung meningkatkan skill Bahasa Inggris.


    Mr. Udin mulai menyampaikan materi pelajarannya kepada murid - murid. Iwan memasang muka serius seolah - olah sedang memperhatikan Mr. Udin yang sedang menjelaskan padahal ia sedang memikirkan penjualan bunga Tulipnya nanti. Uang yang ia dapatkan apakah langsung dibelikan Bitcoin atau tidak?, jika tidak lalu mau digunakan untuk apa?, berbagai pertimbangan pun menumpuk di benak Iwan.


    Mr. Udin memilki pengalaman mengajar sejak lama, sudah tentu ia dapat menilai mana yang benar - benar memperhatikan dan mana yang hanya berpura - pura memperhatikan dengan serius, itu dapat di lihat dari tatapannya.


    "Ekkhheem.. Wan.. Coba kamu jelasin apa yang tadi saya bahas sebelumnya," tanya Mr. Udin yang mengetahui bahwa Iwan tidak fokus dalam memperhatikan. Karena tatapan Iwan seperti orang yang sedang berpikir keras


    Seisi kelaspun seketika mengalihkan perhatiannya ke arah Iwan.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca! Jangan lupa like nya


__ADS_2