Jenius Wan

Jenius Wan
Wannabe Pictures


__ADS_3

    Rara ingin membuka mulutnya dan bertanya sesuatu kepada sepupunya, Agung. Namun sebelum dia berbicara terdengar suara dari arah pintu ruangan tersebut.


    "Ekkhhmm.. Lagi pada ngomongin apa nih mas Agung? serius banget sepertinya," ucap Iwan sembari memasuki ruangan yang di dalam nya sudah ada Agung dan Rara.


    "Eeehh.. Boss, nggak ngomongin apa apa kok, cuma ngomongin masalah production house punya sepupu saya ini boss," jawab Agung sedikit terkejut saat Iwan masuk tanpa aba aba


    "Gapapa mas Agung, lanjutin aja ngobrolnya. Ini sepupu mas Agung yang kemarin diceritain?," tanya Iwan sembari melihat seorang wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Agung.


    "Iyaa boss, kenalin ini sepupu saya, namanya Rara. Dia dan temen - temennya punya production house yang aku omongin kemaren boss," ucap Agung memperkenalkan sepupunya kepada Iwan sembari menunjuk ke arah Rara


    "Kenalin mas Iwan, saya Rara Gunawan. Panggil aja Rara," ucap Rara sembari menyulurkan tangannya ke arah Iwan


    Iwan menjabat tangannya dengan Rara dan memperkenalkan dirinya.


    "Salam kenal, kita bahas tentang kerjasamanya di ruangan sebelah aja yaa mbak, mari ikuti saya," ucap Iwan sembari mengisyaratkan ruangan sebelah.


    Rara hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja, ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Iwan. Walaupun ia sering bertemu dengan pria tampan dan juga mapan, baru kali ini dia melihat pria semuda Iwan yang bukan hanya tampan saja tetapi juga memilki aura kharismatik yang berbeda dengan orang yang memaksakan dirinya menjadi kharismatik. Seolah - olah aura tersebut adalah hal yang sangat natural dipancarkan Iwan, apabila dirinya tidak melihat Iwan yang semuda ini secara langsung, sudah pasti Rara menganggap Iwan adalah orang tua yang telah melalui lika liku kehidupan.

__ADS_1


    Tentu saja, aura dari tubuh Iwan secara tidak sadar terbentuk dari perilaku dan sifatnya di kehidupan sebelumnya. Karena keluarganya jatuh, dirinya dipaksa merubah pandangan hidup. Iwan merasakan pahitnya kehidupan, perasaan dan kebiasaan Iwan tersebut terbawa hingga ke kesempatan kedua kali ini. Alasan ini pula yang membuat beberapa wanita yang dekat dengan Iwan merasakan sensasi kenyamanan.


    Mereka berdua berjalan ke arah ruangan sebelah. Iwan membukakan pintu dan mengisyaratkan unntuk Rara masuk terlebih dahulu. Rara hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan. Tata letak yang ada diruangan tersebut tidak jauh berbeda dari ruangan yang di tempati Agung sebelumnya.


    Iwan kemudian menutup pintu dan duduk di kursi yang sering ia tempati, lalu mengisyaratkan Rara untuk duduk di kursi yang ada di depannya.


    "Jadi mbak Rara, bisa ceritakan tentang keadaan production house milik mbak rara dan temen temen?," ucap Iwan membuka topik dengan pertanyaan dasar.


    "Baik mas Iwan, production house milik saya dan temen temen sudah berdiri sejak 1 tahun yang lalu. Nama production house kami diputuskan atas kesepakatan bersama, Pelangi Production House. Saya memiliki proporsi kepemilikan 40% sedangkan 2 teman lainnya masing - masing 30% saham di Pelangi Production House. Karena kami bertiga adalah lulusan perfiman, jadi kami berambisi untuk membuat karya terkenal, kami mempunyai misi untuk membuat film bersama - sama setelah lulus kuliah. Modal awal kami adalah membeli peralatan - peralatan perfilman, menyewa tempat, kami juga mempekerjakan beberapa temen kuliah yang baru lulus juga ada adik tingkat yang magang. Semua biaya tersebut di cover oleh kami bertiga sesuai dengan proporsi kepemilikan masing - masing," ucap Rara memperkenalkan production house miliknya dengan sedikit tersenyum karena bernostalgia.


    "Mbak Rara tau, siapa yang berusaha keras untuk menghalangi Pelangi Production House?," tanya Iwan penasaran.


    "Iyaa mas, saya mencurigai satu orang dan kemungkinan besarnya memang benar, Eagle Production House milik keluarga Wijaya. Keluarga yang menguasai bisnis entertainment di Jogja," jawab Rara dengan nada yakin


    Iwan yang mendengar tebakan Rara pun terdiam sejenak hanya mengernyitkan keningnya, ia tentu nya tahu tentang keluarga Wijaya, keluarga nomor 4 di Jogja. Rose pernah menceritakan tentang beberapa keluarga yang patut diperhitungkan saat menghadiri acara lelang tanaman hias dan bunga bulan lalu. Tentu saja keluarga Iwan tidak termasuk kedalam keluarga yang patut diperhitungkan.


    "Memangnya mbak Rara punya masalah apa dengan Eagle Production House?," tanya Iwan

__ADS_1


    "Sebenernya saya nggak ada masalah sama sekali dengan mereka mas, cuma putra sulung keluarga Wijaya, Vito Wijaya itu satu universitas dengan saya. Dari awal perkuliahan dia selalu mengungkapkan perasaannya kepada saya, tapi aku tolak dia karena aku tau watak dia yang selalu memainkan wanita saja, mungkin karena itu production house kami menjadi musuh mereka," ucap Rara dengan nada jengkel


    "Cuma karena itu aja?," tanya Iwan keheranan.


    "Iyaa mas Iwan, dia emang dikenal di kampus orangnya sangat licik, karena dia dari keluarga kaya, tidak ada yang berani nolak dia. Makanya, ketika aku menolak, dia ngerasa aku memandang rendah dia," ucap Rara menaikkan kedua bahu nya.


    "Emm.. okelah kurang lebih aku jadi tau gimana kondisi production house milik mbak Rara dan temen - temen, tadinya aku mau takeover buat mengakuisisi production house milik mbak, tapi setalah dengar ceritanya aku urungkan niat tersebut. Untuk kerjasama yang aku tawarkan, aku bakal mengoutsourching production house milik mbak Rara dengan sistem kerjasama. Saya yang memberikan naskah film dan saya yang menjadi produsernya, menggunakan peralatan film dan para kru serta sutradara yang dimiliki Pelangi Production House untuk shooting film. Tentu saja, semua dana dari saya, untuk pembagian hasil setelah mendapatkan profit dari bioskop, 70% masuk ke perusahaan saya dan 30% nya masuk ke perusahaan mbak," ucap Iwan menawarkan kerjasama nya


    Rara berfikir sejenak dengan tawaran yang diberikan Iwan, dirinya telah membahas dengan kedua rekannya sebelum datang kesini tentang pembagian profit. Mereka memutuskan paling tidak mendapatkan pembagian keuntungan minimal 25%, angka yang Iwan berikan sudah melebihi 5% diatas angka minimal, tentu saja dia cukup puas.


    "Untuk pembagian keuntungan sebelum saya kemari sudah kami bahas, dan saya setuju dengan angka yang mas Iwan berikan. Tetapi, coba mas Iwan pikir - pikir dulu, jika mas Iwan pakai jasa kami itu berarti mas Iwan bertentangan dengan Eagle Production House, apa mas Iwan tidak takut bermusuhan dengan mereka?," tanya Rara mengungkapkan kekhawatirannya.


    "Tenang aja mbak Rara, walaupun production house milik mbak Rara yang mengerjakan, tapi film ini akan tetap di produksi oleh perusahaan film yang bakal aku buat. Walaupun Eagle Production House tahu bahwa film ini bekerjasama dengan Pelangi Productio House, mereka nggak akan berani ngehalangin secara terang - terangan," ucap Iwan menenangkan kecemasan Rara


    "Production House juga kah mas?," tanya Rara


    "Bukan, tapi kerjaan bisnis entertainment. Namanya Wannabe Entertaiment Corporation dengan anak perusahaan Wannabe Pictures!," jawab Iwan yang sudah memiliki strategi sendiri dengan percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2