
"Jawaban untuk pertanyaan yang pertama, saya nggak akan buat game lagi setelah ini, tapi saya akan buat film. Untuk pertanyaan kedua, gimana kalo mbak Amanda baca naskah film saya sebelum jawab penawaran dari saya?," ucap Iwan sembari mengeluarkan naskah yang dibawa nya ke Jakarta lalu memberikan naskah tersebut kepada Amanda.
Amanda awalnya menduga langkah selanjutnya Iwan adalah membuat game yang lebih populer dan potensial, akan tetapi setelah mendengar jawaban Iwan, ia pun menjadi sedikit ragu. Meski ragu, ia tetap menerima naskah film yang Iwan berikan dan membacanya.
Amanda mau membaca naskah film tersebut karena penasaran. Ayahnya akan pensiun dua tahun mendatang. Untuk melanjutkan tradisi keluarga, ayahnya berkata akan memberikan warisan keluarga kepada anak yang berhasil menjadi asisten dari orang hebat. Aneh memang, tetapi kedua orang tua Amanda mengetahui bahwa tidak setiap orang dapat menjadi tangan kanan orang hebat.
Kedua kakak dari Amanda telah mendedikasikan keahlian mereka kepada orang yang dianggap tepat oleh mereka.
Pada saat Amanda sedang fokus membaca naskah yang diberikan Iwan, smartphone milik Iwan berdering mendapatkan pesan dari Sugeng.
Sugeng : Aku udah di depan gerbang kedatangan broo!
Sugeng : Kamu dimana Waan?
Iwan : Ke Starbucek sini Geng
Iwan menutup smartphone nya dan mengambil pesanan yang tadi telah dipesan. Iwan menaruh minuman Amanda di depannya, sementara Amanda yang sedang fokus membaca hanya menganggukkan kepalanya saja.
Sugeng kebetulan sedang liburan bersama keluarganya setelah Ujian Nasional, ia pun memasuki Starbucek dan melihat Iwan kemudian berjalan ke arahnya. ia ingin menyapa Iwan yang sedang duduk akan tetapi mengurungkan niatnya sebab melihat kode dari Iwan agar tidak berisik sembari melirik ke arah Amanda.
"Ehh Waann.. Itu mbak mbak yang kita temuin di toko bunga waktu itu kan yaakk?," tanya Sugeng yang melihat Amanda sedang duduk satu meja dengan Iwan, ia pun menarik kursi dan duduk disamping Iwan
"Iyaa.. Kebetulan tadi aku ketemu sama mbak nya pas nunggu kamu. Katanya emang dia asli sini, keluarga nya juga ada di Jakarta," jawab Iwan berbisik kepada Sugeng
"Owalaahh, kirain lu barengan sama dia kesininya. Ada apa emang bro kok dia baca sesuatu serius banget, nggak ngobrol gitu sama kamu?," tanya Sugeng
"Dia lagi baca naskah film yang mau aku buat," jawab Iwan sambil meminum kopinya.
"WHAAT!! FILM?," teriak Sugeng karena kaget sambil berdiri dari kursinya.
Orang orang yang ada di sekitar reflek menoleh ke arah meja yang di tempati Iwan, Sugeng dan Amanda tidak lama mereka melanjutkan aktivitas masing masing.
__ADS_1
Amanda yang sedang fokus membaca pun ikut melihat kearah Sugeng kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya pertanda menyapa Sugeng
Sugeng yang melihat reaksi orang orang disekitar pun hanya tersenyum bodoh sembari menggaruk garukkan kepalanya padahal nggak gatel.
"SShhh.. Berisik amat sih kamu Geng, malu maluin tuh diliatin banyak orang!," bisik Iwan kepada Sugeng sembari menyikut sedikit
"Abis kamu ngagetin aku broo, kamu mau buat film, serius?," tanya Sugeng memasang raut wajah terheran
"Seriuslah, gua juga udah kerjasama sama production house, rencananya mau ngadain casting di Jakarta buat nyari pemeran filmnya," ucap Iwan
"Tapi broo, emangnya kamu ada dana nya?," tanya Sugeng sambil menyeruput kopi milik Iwan
"Ada, aku ada dana 1 miliar dari hasil bikin game kemaren," ucap Iwan berbisik kepada Sugeng
"1 miliar?!? hasil kamu kemarin bikin game 1 miliar?," ucap Sugeng terkejut tetapi tidak teriak seperti sebelumnya.
"Iyaa, kemungkinan sih dana segitu cukup untuk ngebuat film komedi," ucap Iwan berfikir sejenak
"Hmm.. tapi kamu yakin broo filmnya bakalan berhasil?," tanya Sugeng
"mmmm... hasilnya sukses besarr," jawab Sugeng yang tidak dapat berkata apa apa lagi.
Sugeng pun berfikir, apabila project Iwan yang satu ini berhasil juga dan Sugeng masih meragukan potensi perusahaan Iwan, takutnya ia akan kehilangan kesempatan lagi untuk sukses tanpa kedua orang tuanya. seperti sebelumnya Iwan mengajaknya pas membuat game.
"Bro, bro. Kali ini aku mau join di kru film kamu yaah. Jadi apa aja deh yang penting aku ikut," ucap Sugeng dengan nada memelas kepada Iwan
"Hmm.. boleh, kebetulan untuk posisi asisten produser masih kosong dan aku bingung mau ngasih ke siapa. Kalo kamu mau ikut yaah hayuu.. Tapi aku cuma bisa ngasih 5% dari pendapatan film bagianku," ucap Iwan menawarkan posisi tersebut kepada Sugeng
Berbeda dengan asisten CEO yang ia tawarkan kepada Amanda, asisten produser adalah sebutan lain untuk pesuruh produser.
"Serius bro? gua mau kok gua mau," ucap Sugeng kegirangan dengan tawaran Iwan
__ADS_1
Lagipula, untuk saat ini yang dapat dipercaya hanya Sugeng. Sugeng telah membuktikan pertemanannya di kehidupan Iwan sebelumnya saat keluarganya jatuh. Dan dirinya ingin membalas hal tersebut kali ini.
"Serius, tugas kamu nanti gini, kalo aku nggak ada di set, kamu yang mantau yahh, terus kalo ada apa apa hubungin aku deh," ucap Iwan menepuk bahu Sugeng
Mereka mengobrol selama beberapa menit, sampai akhirnya Amanda menaruh naskah film yang ia baca di atas meja pertanda dirinya sudah selesai membacanya. Kemudian Amanda menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan
"Pak Iwan, anda berhasil membuat saya tertarik. Sebelumnya, saya hanya memiliki keyakinan 30% untuk menjadi asisten bapak. Tapi setelah membaca naskah film ini, saya menjadi yakin 70%. Saya harap bapak akan mendatangkan keajaiban lagi dengan film ini seperti sebelumnya ketika film Flappy Bird dibuat," ucap Amanda tersenyum kepada Iwan
"Jadi, gimana dengan tawaran saya?," tanya Iwan dengan tersenyum sembari memasukkan kembali naskah film yang ada di atas meja.
Amanda menatap mata Iwan kemudian berdiri dan sedikit membungkukkan badannya
"Asisten Amanda siap membantu boss. Mohon bimbingannya," ucap Amanda dengan formal kemudian duduk kembali.
tetapi tidak sesantai sebelumnya, Amanda saat ini memasuki mode asisten pribadi dengan gaya duduk tegak sembari merapihkan pakaiannya.
"Oke!! Selamat datang di Wannabe Entertaiment Corporation!," ucap Iwan tersenyum lebar
"Apa kegiatan selanjutnya boss?," tanya asisten Amanda kepada Iwan
"Hari ini aku mau istirahat dulu di villa milik keluarga Sugeng. Besok, aku rencananya mau mendaftarkan perusahaan induk dari Wannabe Game Studio dan Wannabe Pictures. Oh iya, setelah itu kita persiapkan buat casting. Cari vanue yang bagus yah untuk casting, kalo bisa tempat yang kedap suara biar nggak ngeganggu. Sama, kontak production house yang kerjasama dengan kita, nomornya nanti aku kirim ke kamu," ucap Iwan mengelus dagu nya memikirkan apa saja yang mau ia selesaikan terlebih dahulu
"Baik boss.. Saya akan cari vanue yang cocok sesuai dengan spesifikasi yang boss sebutin barusan. Untuk pendaftaran perusahaan, saya punya koneksi untuk mempermudah prosesnya," ucap asisten Amanda menerima perintah
"Okeehh! kamu istirahat aja dulu hari ini, besok saya temuin kamu lagi," ucap Iwan tersenyum kemudian meminta kontak Amanda agar ia dapat menghubungi nanti.
Iwan dan Sugeng tiba di vila milik keluarga Sugeng. Villa tersebut cukup luas, bernuansa tradisional karena villa tersebut adalah warisan dari kakeknya yang membeli rumah murah pada jamannya. Kemudian orang tua Sugeng merenovasi dan membeli tanah di sekitar rumah tersebut untuk dijadikan villa. Tak lupa Iwan mengirimkan kontak Rara kepada asisten Amanda
Pada malam hari, Iwan mendapatkan pesan dari asisten Amanda, mengatakan ia telah membuat time table yang sangat detail untuk kegiatan casting. ia juga mendapat file dokumen formulir pendaftaran perusahaan, serta beberapa vanue yang sesuai dengan spesifikasi yang di minta Iwan.
Iwan mengangguk puas dengan kinerja asisten Amanda, memang benar dirinya membutuhkan asisten, apalagi dengan rencananya membuat banyak perusahaan.
__ADS_1
Apabil Iwan mengurus ketiga hal tersebut, maka dapat dipastikan ia tidak akan bisa menyelesaikan tugas tersebut secepat dan sedetail asisten Amanda.
[Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak like ya]