Jenius Wan

Jenius Wan
Banci


__ADS_3

    Iwan kembali ke dalam mobil untuk menunggu anak pemilik ruko tersebut datang agar bisa berteduh dari teriknya matahari dan juga bisa sembari mendengarkan radio di mobilnya. Beberapa menit kemudian handphone nya berdering, terlihat nomor tidak dikenali menelpon.


    "Halooo?," sapa Iwan setelah panggilan tersambung.


    "Haloo! saya anaknya bapak Jaswanto, benar dengan yang ingin menyewa ruko?, posisi tepatnya dimana pak? saya sebentar lagi sudah mau sampai ruko nih," ucap lawan bicara Iwan di ujung telfon dengan suara halusnya.


    "Iyaa benar itu saya, posisi saya ada di depan ruko, di dalam mobil sedan sekarang," jawab Iwan


    "Baiklah mas, saya sudah liat mobil mas nya," jawab seseorang tersebut dengan suara merdu nya kemudian mengakhiri panggilannya.


    Setelah menutup telfonnya, Iwan membayangkan suara merdu saat menelfon tadi, menurut penilaian dari suaranya, paling tidak anak pemilik ruko ini adalah seorang wanita berusia 20an tahun seperti Manda yang dia temui di restoran empek - empek tempo lalu.


    Pikirannya terpecahkan setelah ada seseorang yang mengetukkan jendela mobilnya, dengan reflek dia menengok dan Iwan sangat kaget, ternyata yang mengetuk adalah seorang pria dengan penampilan seperti wanita.


    'Sungguh pria yang sangat feminim' pikir Iwan. pria dengan balutan make up di mukanya mengetuk - ngetuk lagi kaca mobilnya karena Iwan sekarang lagi terdiam kaget. Banciii!! Sialan... Dari dulu Iwan paling takut sama makhluk yang setengah - setengah ini.


    Pernah suatu hari di kehidupan sebelumnya saat Iwan sedang ulang tahun dan ia di berikan kejutan sama teman - temannya, mata Iwan di tutupi dengan kain lalu Iwan di ciumi dan tubuhnya di raba - raba oleh 4 pasang tangan, ketika penutup matanya terbuka ternyata bukan seorang wanita, malah 4 banci yang sedang menggrumuni Iwan.


    Hari itu Iwan tiba - tiba pucat dan dirinya tidak selera makan. Dari kejadian inilah ia sangat takut ketika melihat banci. Melihat banci tersebut yang terus menerus mengetuk kaca mobilnya Iwan pun menurunkan jendela mobil.


    "Omeyygattt.. ini mobil cantik bingiiittss," waria tersebut berbicara dengan nada feminimnya


    "oohh maaf maaf mas, eehh.. mbak.. sisst.. saya nggak pesen sii.. situ," jawab Iwan terbata - bata karena takut.


    "iihh cakep bingiittss ini cowok, seneng deh eikee liat cowok model begini," ucap waria tersebut.


    "Siisst.... saya lagi nunggu oo.. orangg..," jawab Iwan


    "Yeeyyy iya eikee yang kanua tunggu," ucap waria tersebut.


    "eikee kesiniy karenina organ tunggal eike nyuruh eike kesiniy," lanjut pria tersebut dengan nada manja

__ADS_1


    "Sisstt, pa.. pake omongan biasa aja, nggak ngerti sa.. saya," ucap Iwan mengeluh dengan terbata.


    "Eikee kesini disuruh bokap buat ketemu sama yang mau nyewa ruko bokapnya eike, kamu kan orangnya?," ucap banci tersebut mengubah sedikit cara bicaranya sembari menunjuk ruko yang ingin Iwan sewa


    "I...iyaa.. Saya yang mau nyewa ruko, tadi siss yang nelfon saya?," jawab Iwan


    "Yaappp,, eikee tadi yang nelfon kamuu, cusss keluar?," ucap banci tersebut sembari mengedipkan matanya, lalu berjalan ke arah ruko dengan berlenggak lenggok.


    Iwan dengan takut dan berat di hati nya pun mau tidak mau keluar dari mobil mengikuti banci tersebut dari belakang, sesampainya di depan ruko pria yang seperti banci itupun mengobrak - abrik handbag miliknya mencari kunci.


    Kemudian mereka berdua memasuki ruko, ruko tersebut tidak begitu luas, ada 2 lantai dan di lantai 1 terdapat 2 ruangan berukuran 3x3 dan koridor kecil menuju tangga.


    Iwan dan anak dari pemilik ruko tersebut memasuki satu persatu ruangan tersebut, ruangannya kosong tidak ada apa apa tetapi terlihat bersih. Diujung koridor menuju lantai 2 ada toilet berukuran kecil di samping tangga.


    Mereka berdua kemudian menuju lantai dua dan Iwan mendapati ada 3 ruangan yang ukurannya sama seperti di lantai 1, anak pemilik ruko tersebut menjelaskan kepada Iwan bahwa sebelumnya ruko ini digunakan sebagai tempat kursus bahasa Inggris.


    Iwan hanya mengangguk - angguk saja mendengarkan penjelasan anak pemilik ruko, dia cukup puas karena setiap ruangannya cukup bersih, sudah ada AC nya pula. Bisa dibilang ia cukup puas dengan keadaan ruko tersebut.


    "Bokap eikee sih bilangnya ke eikee harga per bulan 1,5 jetiii," jawab anak pemilik ruko tersebut sembari menepuk lengan Iwan.


    Iwan yang mendapatkan kontak fisik tersebut pun reflek mundur sedikit.


    "Sa...saya bayar 15 juta cash buat setahun, gimana?," tanya Iwan mencoba menawar


    "Hemm... eikee telfon bokap dulu dehh biar enak," jawab anak pemilik ruko sembari mengeluar handphone nya dan berjalan sedikit menjauh dari Iwan untuk menelfon ayahnya. Setelah menelfon anak pemilik ruko tersebut menghampiri Iwan lagi.


    "Yeayy.. kata bokap eikee gapapa 15 juta per tahun, tapi syaratnya kamu harus mau foto sama eikeee," ucap anak pemilik ruko yang seperti banci sembari mengedipkan matanya menggoda Iwan.


    "I... iyaa yaudah, ta.. tapi jangan pegang - pegang yaa," jawab Iwan pasrah, dalam hati dia berpikir begini amat biar dapet harga murah


---

__ADS_1


    Setelah berfoto beberapa kali dengan anak pemilik ruko, Iwan mengeluarkan uang cash 15 juta, dan anak pemilik ruko tersebut memberikan Iwan kunci ruko tersebut bersama kunci - kunci ruangannya. Tidak lupa Iwan meminta nota sebagai bukti pembayaran sewa nya.


    Setelah mendapatkan kunci - kunci dan nota nya Iwan bergegas ke dalam mobil, dan langsung menyenderkan punggungnya dengan kasar sembari menghembus nafas kencang. Pada saat foto tadi dirinya di peluk di rangkul sama banci tersebut, beruntungnya banci tersebut tidak mengunci ruko dan menusuknya dari belakang, ia merasa lega sudah lolos dari rintangan maut banci tersebut. Kemudian Iwan bergegas pulang ke rumah.


---


    Sesampainya di rumah jam menunjukkan pukul 12 siang, ia memasuki rumah dan mendapati kedua orang tuanya tidak ada dirumah. ia kemudian berjalan ke kamar nya mengganti setelan formalnya dengan baju kasual. setelah itu dia mengambil handphone dan chatting dengan Bella lewat Black Berry Massanger. Tidak lama satpam rumahnya mendatangi Iwan dan memberitahu bahwa ada seseorang yang mencarinya di depan gerbang.


    Iwan pun sepertinya mengetahui orang tersebut adalah Agung Gunawan yang ia temui tempo hari. Lalu Iwan menuju garasi dan menyalakan mobil, ketika sudah sampai di gerbang Iwan membuka jendelanya.


    "Mas Agung? masuk sini, kita mengobrol di restoran saja," ucap Iwan, tanpa basa - basi Agung pun menaiki mobil Iwan.


    "Siaang mas, maaf jika saya mengganggu siang - siang," sapa Agung agak sungkan


    "eehh mas, santai aja, kita ngobrolnya di KFC tempat kemarin ketemu aja yaa, sekalian makan siang juga, mas nya belum makan kan?," ucap Iwan sambil menyetir mobilnya.


    "Nggak usah repot - repot mas, saya sudah makan kok," jawab Agung yang terlihat malu - malu


    Mereka berdua pun tidak mengobrol lagi, benci dengan keheningan seperti ini, ditengah perjalanan pun Iwan mencoba memecahkan suasana.


    "Gimana ibu mas, masih sakit?," tanya Iwan


    "mm.. Iya mas, masih sakit, kemarin sudah di rawat di rumah sakit," jawab pria tersebut dengan murung


    Iwan tidak bilang kalo dirinya sudah tau kondisi ibunya Agung tersebut.


    "Gini mas, kalo mas nya mau kerja sama saya, nanti ibu nya mas akan saya pindahkan ke rumah sakit yang lebih bagus, biayanya biar saya yang tanggung dulu," ucap Iwan yang berjanji akan membantu Agung, hal ini Iwan lakukan agar Agung tidak terlalu banyak murung dan mulai bersemangat.


    Karena mau bagaimana pun jika seorang karyawan murung, sudah pasti sedikit banyak akan mempengaruhi kinerjanya, Iwan tidak mau hal ini terjadi. Jadi untuk mengurangi fikiran Agung dia menjanjikan hal tersebut. Ini juga akan memberikan kesan baik untuk dirinya dan hasilnya Agung akan lebih loyalitas terhadap perusahaan.


*Terimakasih sudah membaca! jangan lupa like ya

__ADS_1


__ADS_2