Jenius Wan

Jenius Wan
Programmer


__ADS_3

    Beberapa hari kebelakang ini, Iwan dan Sugeng sepulang sekolah rutin mampir ke kampus - kampus yang ada di Jogja untuk mencari programmer yang berpotensi. Mereka bertanya - tanya tanpa malu ke setiap mahasiswa yang lewat tentang mahasiswa tingkat akhir maupun lulusan baru yang sesuai dengan kriteria dan membutuhkan pekerjaan. Namun ternyata tidak semudah yang di bayangkan Iwan dalam mencari orang ini.


    Pada hari kelima, Iwan datang sendirian mencari programmer yang sesuai dengan kriterianya, Iwan tidak mencari programmer dengan jam terbang tinggi, yang ia butuhkan hanya seseorang yang mengerti pemprogramman dan terpenting memiliki loyalitas tinggi.


    Iwan tidak berani mengambil resiko jika nantinya ide cemerlang game yang pontensial mendatangkan keuntungan bisa dicuri karena tidak bertanggung jawabnya programmer perusahaan.


    Beberapa jam tidak lelah dia mencari kandidat yang tepat di depan kampus, namun lagi - lagi Iwan pulang tanpa hasil apapun. dirinya tidak menyangka akan sesulit ini mendapatkan programmer yang sesuai dengan kriterianya dan ingin bergabung.


    ia sudah beberapa kali mengobrol dengan beberapa mahasiswa, awalnya mahasiswa tersebut ingin bergabung tapi ketika Iwan memperkanalkan dirinya dan perusahaan nya yang baru saja dibuat, mahasiswa tersebut pun mengurungkan niatnya untuk bergabung. Belum lagi dia harus mencari graphic designer nya.


    Di hari itu pun Iwan menyerah dan kembali ke parkiran memasuki mobilnya, kemudian mengecek handphone nya yang ternyata ada notifikasi dari Bella.


    Bella : Wann?


    Bella : PING!!!


    Iwan : Iya Bell, kenapa?


    Bella : Kamu sibuk nggak Wan?


    Iwan : Nggak kok Bell, aku lagi ada di luar nih, ada apa emang nya?


    Bella : Boleh minta tolong ngga Wan?

__ADS_1


    Iwan : Iyaa, tolong apa Bell?


    Bella : Jadi aku sekarang lagi ada dirumah Sari, tapi disini nggak ada makanan sama sekali, keluarganya pada pergi semua, aku mau minta tolong beliin KFC. Bisa nggak?


    Iwan : Iya bisa, mau pesen makanan apaa?


    Bella : (Foto menu makanan yang telah ditandai)


    Bella : yang itu yaa Wan.


    Iwan kemudian melanjutkan perjalanan yang memang kebetulan dirinya pun lapar, jadi tidak ada salahnya sekalian dia belikan makanan untuk Bella toh rumahnya Sari ini juga searah ke arah perjalanan pulang Iwan, jadi tidak ada alasan Iwan untuk menolak permintaan Bella.


    Saat ini aplikasi pengantar makanan online belum ada, jadi Iwan tidak berfikiran negatif jika Bella hanya ingin sekedar memanfaatkan nya saja, Iwan juga tahu sebenarnya Bella bukan tipikal orang yang ingin merepotkan orang lain, tapi karena sekarang Iwan dan Bella bisa dibilang mempunyai hubungan yang dekat. Jadinya Bella tidak akan sungkan untuk meminta tolong pada Iwan.


    Setelah pesanannya siap, ia pun membayar dan beranjak keluar menuju parkiran. Iwan menemukan seseorang yang mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, membawa ransel berwarna hitam, mengenakan pantofel. Dia awalnya mengira bahwa pria ini adalah MLM yang akan mengincarnya untuk join.


    Tapi setelah melihat penampilan nya yang begitu acak - acakan, rambut kusut, kancing kebuka 2 dibagian atas saking gerahnya, dan duduk di trotoan depan mobil Iwan, ia menyingkirkan tebakannya tentang pria tersebut adalah MLM, jika MLM sudah pasti akan berpenampilan rapih demi bisa menipu targetnya.


    Iwan pun seperti merasa simpati, dirinya bernostalgia di kehidupan sebelumnya, dia pernah mengalami pengalaman yang sama dengan pria tersebut, mengenakan kemeja putih celana hitam duduk letih dipinggir jalan.


    Menghampiri pria yang duduk di troar tersebut, Iwan menyodorkan makanan miliknya, pria tersebut pun ingin menolak, tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi tiba - tiba bunyi keroncongan, dengan malu pun dia menerima makanan dari Iwan.


    Pria tersebut makan dengan sangat lahap, setelah melihatnya selesai, Iwan pun kembali menyodorkan minuman cola yang didapatkan dalam paket pesanannya. Pria itu hanya mengangguk kemudian meminum minuman tersebut.

__ADS_1


    "Terimakasih banyak mas, saya seharian ini belum makan," ucap pria itu


    "Nggak papa kok mas, kenapa mas nya kok duduk disini?," tanya Iwan


    "Huufftt.. Saya udah beberapa minggu ini keliling - keliling buat ngelamar pekerjaan mas, tapi ditolak sama semua perusahaan yang saya hampiri... nasib nasib," ucap pria itu mengeluh dan meratapi nasib


    "Ditolak semua perusahaan mas? mas nya lulusan baru yaa?," tanya Iwan dengan penasaran


    Mendengar pertanyaan Iwan, pria tersebut sebenarnya ragu ingin menceritakan kisahnya atau tidak, tapi mengingat makanan yang diberikan Iwan, tidak ada salahnya jika dia menceritakannya.


    "Saya bukan lulusan baru mas, saya sebenarnya sudah ada pengalaman 3 tahun menjadi programmer di perusahaan IT, saya secara mandiri tanpa melibatkan pekerjaan berhasil membuat anti virus yang dapat bersaing di market luar negeri, tetapi ketika saya ingin negosiasi penjualan anti virus tersebut dengan customer di luar negeri, entah darimana bos perusahaan saya datang, dan mengakui bahwa anti virus itu adalah milik perusahaan. Bos saya bahkan menuntut saya dengan tuduhan membocorkan rahasia perusahaan. Yang salah dari saya memang saya menyusun program anti virus tersebut menggunakan komputer perusahaan saat jam istirahat dan di luar jam kerja. Meskipun saya mengerjakan itu di luar jam kerja, tapi sudah ada bukti backlog yang dibawa ke pengadilan. Kesalahan fatalnya adalah saya tidak menyadari isi kontrak perjanjian kerja, ada klausul yang berbunyi semua pekerjaan yang dilakukan di perusahaan adalah milik perusahaan. Saya yang hanya karyawan ini pun tidak dapat menyangkal nya, apalagi melakukan pembelaan dengan menyewa pengacara, mau tidak mau mengaku salah dan didenda puluhan juta. Akhirnya sekarang saya di lilit hutang, ibu saya sakit - sakitan, istri saya tiba - tiba menceraikan saya," ucap pria tersebut menceritakan kisahnya dengan raut wajah penuh kesedihan.


    Iwan yang mendengar permasalahan tersebut pun paham tentang masalahnya, kasus pria tersebut sebenarnya tidak terlalu rumit, jika saja dia dapat membuktikan code tersebut adalah dia yang mengerjakan, dan apalabila di awal dia meregistrasikan program tersebut ke undang - undang hak cipta, itu semua bisa disangkal.


    Tapi pria tersebut sepertinya tidak mengerti ilmu hukum dan tidak mampu menyewa pengacara, jadi keputusannya sudah bijak untuk mengaku salah agar tidak dijatuhi hukuman penjara hanya membayar denda saja.


    "Jadi gini mas, kebetulan sekali saya membutuhkan programmer di perusahaan. Saya baru membuka bisnis Game Studio. Jika mas nya mau, bisa ke alamat ini buat ngobrol lebih lanjut sama saya. Saya tunggu sampe besok siang dirumah saya," Ucap Iwan menawarkan kepada pria tersebut sembari menepuk pelan punggungnya seolah memberi ketegaran dan menyodorkan kartu nama milik ayah nya.


    Iwan tidak terlalu buru - buru dalam merekrut, dia tidak mungkin percaya gitu aja dengan kisah pria itu, masih harus diselidiki kebenaran dan latar belakangnya. Jika benar semuanya, dia masih harus mengetes lebih lanjut dengan memberikan soal pemrogramman yang sederhana.


    Pria tersebut pun lega dengan respon Iwan, jika Iwan langsung memberikan pekerjaan kepada dirinya, sudah tentu dia akan curiga, baru juga ketemu masa sudah direkrut. Tapi ini hanya undangan interview untuk datang kerumah Iwan besok, dan juga melihat kartu nama berlapis emas milik ayah Iwan yang ternyata CEO Hertanto Group menambah keyakinan bahwa Iwan tidak menipunya.


*Terimakasih sudah membaca! jangan lupa like nya.

__ADS_1


__ADS_2