
Hafiza bangkit dari tempat duduknya. Kakinya begitu lemas untuk dilangkahkan. Pelan ia melangkah dan masuk ke dalam kamarnya. Hafiza tertegun di atas ranjangnya.
Pertemuannya dengan Kasni benar-benar mengganggu pikirannya. Terlebih lagi ketika mengingat kata-kata pembuka pembicaraannya tadi. Yang masih melekat dalam ingatannya kini adalah ketika mengingat, bahwa perempuan itu mengaku ingin rujuk dengan Raka. Entah apa maksudnya mengatakan itu kepadanya, yang jelas-jelas adalah calon istri baru mantan suaminya. Apakah ini adalah rencananya untuk membatalkan pernikahannya dengan Raka? Wanita itu mungkin ingin mengacaukan pikirannya. Dan apa gerangan yang ia rencanakan nanti malam jika ia masih saja berada di tempat ini? Apa yang harus aku lakukan Ya Allah. Jika saja jauh hari aku bertemu dengannya, mungkin aku tidak akan menerima ajakan Raka untuk menikah. Haruskah aku kabur?
Hafiza menoleh ke sana kemari. Setelah itu ia bangkit. Dibukanya pintu perlahan, hanya sekedar untuk memastikan tak ada orang di depan rumah. Kembali ia menutup pintu dan segera bergegas ke arah lemari. Di keluarkannya tas kecil yang ia bawa ketika Raka menjemputnya di kampus. Dua buah potong pakaian yang sempat ia bawa, ia masukkan ke dalam tasnya. Ia akan menemukan cara untuk kabur dan segera pergi dari tempat itu. Biarlah Raka melanjutkan akad nikah dengan Kasni dan merajut kembali rumah tangga mereka yang hancur. Biarlah dia mengalah demi sesama perempuan, dan demi anak mereka yang masih kecil.
Tapi tiba-tiba saja tubuh Hafiza terasa lemas. Tubuhnya kembali terhempas di atas ranjang. Keinginannya untuk kabur tiba-tiba saja buyar, ketika mendengar suara ramai masih terdengar di luar rumah. Suara orang-orang yang sejak siang tadi sibuk membantu mempersiapkan acara pernikahannya nanti malam. Sudah tidak akan terhindarkan bagaimana sumpah serapah mereka, juga keluarga Raka jika ia benar-benar menghancurkan segala yang telah mereka persiapkan. Seketika itu pula ia teringat ayah dan keluarganya. Terbayang bagaimana malunya mereka ketika mengetahui anak gadisnya kabur dari rumah calon suaminya. Hafiza menangis. Ia merasa tak berdaya. Tangisnya meledak, hingga ketika terdengar pintu terbuka, ia membalikkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
__ADS_1
“Hafiza, kamu masih tidur?" Terdengar suara lembut dari samping. Ia juga merasakan sebuah tangan membelai kepalanya dari balik selimut. Entah, kemana saja Raka setelah sedari tadi ia berjibaku dengan kebingungannya. Jika tadi dia datang tepat waktu, tentu dia tidak akan membiarkan mantan istrinya mendekatinya. Tapi perlahan usapan tangan itu sedikit demi sedikit mulai menenangkan perasaannya. Hafiza menghapus air matanya. Ia berbalik dan tersenyum ke arah Raka. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“Kamu menangis?" Tanyanya. Hafiza tersenyum dan menggeleng kecil. Raka memegang tubuhnya dan membangunkannya.
“Maaf jika Kas berbicara yang bukan-bukan kepadamu dan membuatmu sedih. Dia hanya belum bisa menerima semua ini.” Raka mencoba menenangkan Hafiza. Hafiza mengerutkan keningnya. Ternyata Raka tahu dan tak mencoba datang mencegah.
“Entahlah, tapi mungkin saja,” jawab Raka singkat. Hafiza mendesah. Ditatapnya Raka erat seakan-akan ingin lelaki di hadapannya lebih menguatkan jiwanya.
__ADS_1
“Sekarang berdandanlah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tempat yang indah sebelum alam menghalalkan hubungan kita.” Raka tersenyum dan mencium kening Hafiza. Hati Hafiza berangsur tenang dan mulai melupakan kejadian tadi. Ia bangkit dan merapikan pakaiannya. Tas kecil diraihnya dari atas meja. Ia kemudian menyusul Raka yang sudah lebih dulu keluar mempersiapkan sepeda motornya. Tak lama kemudian, sepeda motor yang ditunggangi keduanya melaju kencang meninggalkan keramaian.
...*****...
Tatapan Faris jauh menembus ke luasnya samudra. Angin yang bertiup kencang sesekali menggoyahkan kaki yang ia pijakkan kuat ke dalam pasir. Senja di laut Segui begitu indah. Sejam tadi ia hanya berputar-putar dengan sepeda motornya. Tak tentu tujuan, hingga ketika ia tersadar telah terlalu jauh, ia memutuskan mengunjungi pantai itu.
Pemandangan yang begitu menakjubkan, ketika segerombolan burung camar bermain riang di atas permukaan laut. Seperti sedang merayakan sesuatu yang indah. Begitupun juga dengan bentangan pasir putih, yang menjelma seperti kanvas raksasa, yang selalu siap dilukis segala yang indah. Segala yang memanjakan dan menakjubkan mata.
__ADS_1
Faris memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya dan mengeluarkan lipatan kertas dari dalamnya. Lipatan itu kemudian dibukanya perlahan. Semakin terbuka dan terlihat photo seorang gadis dengan kerudung birunya seperti menebar senyum ke arahnya. Itu Hafiza yang cantik. Hafiza yang riang. Hafiza yang senyumannya membuat hatinya senantiasa riang. Tapi malang, senyuman itu kini bukan lagi senyuman yang ditujukan untuknya. Anggap saja senyuman itu adalah senyum mengejek ataupun mencemooh. Anggap saja saat ini photo itu hidup dan mengatakan, "Sekarang, rasakan saja yang ingin kamu rasakan. Terima karmamu dan bergelimanglah dalam duka."