JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#13


__ADS_3

Malam benderang dengan rembulan purna di atas hamparan biru langit. Dedaunan seperti bermandikan akan cahayanya yang jernih. Lagu pesta sejam yang lalu telah di tutup. Para tamu undangan sudah lama membubarkan diri. Begitupun dengan anak-anak muda yang masih nongkrong di depan rumah, satu persatu meninggalkan tempat.


Jam dinding berdentang. Sudah pukul satu malam. Di atas dipan dengan hamparan spray putih dan beberapa bunga mawar yang tersusun rapi di tengah ranjang. Di depan cermin, Hafiza nampak sedang memperhatikan senyum dan rona kebahagiaan di wajahnya. Satu persatu perhiasan dan gaun pengantin yang di kenakannya ia tanggalkan. Sambil menunggu Raka tiba, ia akan memperbarui dandanannya. Parfum Wild Berry disemprotkannya lagi ke tubuhnya. Tak lupa ia poleskan sedikit gincu merah muda di bibirnya.


Hafiza berdiri. Ia menatap tubuhnya lekat. Mulai memperhatikannya. Di depan dan dibelakang. Pinggulnya pun tak luput dari pehatiannya. Ia harus tampil perfect di hadapan Raka. Ia merasa bentuk tubuh dan pinggulnya tak terlalu mengecewakan. Ia berharap, Raka tidak terpikir untuk membandingkannya dengan Kasni. Lagi pula, dari segi body maupun wajah, ia masih mendapatkan nilai delapan.


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Buru-buru Hafiza duduk di depan cermin dan berpura-pura merapikan rambutnya. Raka muncul dari balik pintu. Setelah menutup pintu dan memeriksa jendela kamar, perlahan Raka mendekatinya. Jantung Hafiza berdebar. Nafasnya sesekali tertahan, berusaha menstabilkan debar jantungnya yang berdetak lebih kencang.


Inikah malam pertama itu? Malam dimana semuanya akan dipersembahkan untuk sang kekasih? Harus seperti inikah rasanya?


Raka kini ada di belakangnya. Memandangnya lewat cermin di depannya. Di telinga Hafiza, ia berbisik lembut,"Bismillahi wassalamu 'ala Rasulillah, assalamualaikum,"


Hafiza tersenyum dan mencium tangan Raka yang ia silangkan di lehernya. Ia menatap Raka yang tersenyum penuh gairah di depan cermin. Dengan lirih ia menjawab,"Wa alaikum salam."


"Maukah aku bacakan syair dari seorang pujangga?"

__ADS_1


Hafiza mengangguk. Raka tersenyum. Bibirnya didekatkannya lebih dekat di telinga Hafiza.


قال لها : لا تبتسمي أمام أحد


فقالت : لماذا


قال : أتتذكرين كيف وقعت بغرامك


Hafiza kembali tersenyum dan melirik ke arah Raka.


"Laki-laki itu mengatakan pada kekasihnya,


Jangan senyum di depan siapapun.


Ia pun berkata : Kenapa?

__ADS_1


Laki-laki itu berkata : "Apa kamu ingat? Bagaimana aku jatuh cinta padamu?


Lagi-lagi ia tersenyum. Disandarkannya pipinya di lengan Raka yang semakin erat melingkar di lehernya.


"Aku juga punya puisi untukmu, dan semoga bisa jadi pengingat untukmu bahwa hanya ada aku di dalam hatimu." Raka mengangguk,"ucapkanlah," jawabnya.


Ketika kita mencintai, perasaan kita akan merasakan ketakutan; takut kehilangan, takut perpisahan dan takut berbagi.


Hafiza bangkit dan berdiri menghadap Raka. Kedua senyum terkulum indah. Rona wajah bahagia Raja dan Ratu yang bersanding di pelaminan malam. Rasa indah dalam hati, bisa merubah sesuatu yang biasa menjadi sangat luar biasa. Kini persandingannya, seperti persandingan dalam megahnya kereta kencana. Terbang menembus awan menuju alam yang hanya bisa tergambarkan dalam imaji.


Raka membopong tubuh Hafiza ke atas ranjangnya. Bunga mawar di tengah-tengah ranjang di selipkan di telinga Hafiza. Tak lupa ia melepas tali pengikat rambut Hafiza sehingga tergelar indah di atas spray putih. Hafiza terbaring pasrah seiring bergantinya cahaya terang menjadi remang-remang.


Malam terasa hening. Suara jangkrik dan suara anjing yang sedang mengais sisa-sisa makanan pesta akad terdengar ramai sesekali. Begitupun dengan suara batu yang dilempar ibunya Raka untuk mengusir gerombolan anjing, sesekali menggelinding membelah hening malam.


Terdengar suara langkah kaki seperti mengarah ke arah kamar. Hafiza menahan dada Raka yang mulai menindihnya. Ia memberi isyarat kepada Raka untuk mendengar dengan seksama arah langkah kaki itu.

__ADS_1


__ADS_2