JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#37


__ADS_3

Terik matahari terasa menyengat siang itu. Hafiza terlihat berjalan lunglai di tepi jalan. Sesekali ia berhenti mengaso jika kakinya sudah terasa lelah. Hafiza mengusap peluh yang mengalir di wajahnya. Mukanya terlihat kusam. Nafasnya terengah-engah. Air sungai yang ia tampung di dalam botol kemasan bekas, kini hanya tersisa sedikit. Ia berharap, di depannya sana ia menemukan gubuk. Hafiza meneguk air dalam botol. Ia mendongak ke atas. Langit begitu cerah.


Hafiza mendesah. Sudah satu malam setengah hari ia meninggalkan rumah. Ayah, ibu serta keluarganya saat ini pasti sedang berduka karna kehilangannya. Mereka pasti menganggap tubuhnya sudah hangus menjadi abu.


Hafiza tersenyum lirih. Kini ia teringat Faris. Saat ini adalah hari bahagianya, berbanding terbalik dengan keadaannya kini. Benar-benar seperti roda yang berputar. Kini ia merasa sedang terlindas di bawah. Andai saja ia tidak tergesa-gesa membuat sayembara, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Dan mungkin saja kini ia akan hidup bahagia bersama Faris.


Kembali Hafiza mendesah. Ia bangkit dan mulai berjalan.


Tak ada gunanya memikirkan masa lalu. Itu sama saja dengan mengasah pisau menjadi tajam kemudian menusukkannya ke jantungnya sendiri. Toh, memikirkan Faris, tidak akan memberinya peluang untuk kembali bersamanya. Ada baiknya ia memikirkan mau kemana ia harus melangkahkan kakinya. Dia berharap, di depan sana ia menemukan toko emas. Ia harus menjual salah satu perhiasan yang ia bawa, agar ia bisa makan dan menyewa tempat tinggal sementara waktu.


*


Matahari sudah condong ke arah barat. Udara yang sejuk dengan pemandangan sawah yang menghijau menambah indah suasana senja.


Rumaniati, Faris, pak Nasirin keluar dari gerbang rumah ketika melihat sebuah mobil kijang berhenti di depan rumah. Rumaniati dengan sigap menyambut bu Rahma begitu keluar dari mobil.


"Bapak mana Bu," kata Faris. Dia menoleh ke arah mobil, namun tak melihat sosok pak Abbas.


"Bapakmu gak bisa datang Nak, tiba-tiba penyakit batuknya kambuh. Dia titip salam gak bisa datang," kata bu Rahma. Ia tersenyum ketika pak Nasirin datang menyalaminya.


"Ayo Ruman, ajak ibumu masuk," kata pak Nasirin. Rumaniati segera menghampiri bu Rahma dan mengajaknya masuk. Pak Nasirin sendiri langsung menghampiri rombongan yang lain dan mengajaknya masuk.


Suasana di rumah pak Nasirin perlahan terlihat ramai. Para tetangga mulai berdatangan memenuhi halaman rumah pak Nasirin.


Di dalam kamar, tampak Rumaniati dan Faris sedang di rias beberapa orang. Rumaniati nampak tersipu malu melihat Faris menatapnya dari belakang cermin. Dia senang melihat malam ini Faris terlihat ceria. Kemarin ia terlihat murung, mungkin karna tempat pernikahan yang diadakan di rumahnya. Mungkin ia merasa malu numpang nikah di rumah calon mertuanya.


Di luar rumah, satu persatu tamu undangan dan orang-orang yang ingin menyaksikan pernikahan Faris dan Rumaniati mulai berdatangan.


Rumaniati terlihat anggun dengan gaun putih motif kembang warna merah. Dia bak seorang putri dengan dua dayang-dayang memegang ujung gaun di belakangnya. Di sampingnya, Raka dengan jas putih, nampak gagah memegang tangannya dan menuntunnya pelan ke tempat acara. Semua pandangan mata tertuju kepada keduanya. MC mulai terdengar membuka acara ketika melihat para tamu undangan sudah memenuhi tempat yang telah dipersiapkan. Kedua mempelai terlihat bahagia dengan senyum yang sesekali terkulum.


"Faris Salmani, Aku nikahkan kamu dengan anakku Rumaniati, dengan maskawin emas dua puluh gram dan seperangkat pakaian shalat,"


"Aku terima nikahnya Rumaniati binti Ahmad Nasirin, dengan maskawin emas dua puluh gram dan seperangkat pakaian shalat."


Sah!


Suara orang-orang yang menyaksikan akad nikah Faris dan Rumaniati terdengar riuh saat Faris menyelesaikan ijab kabulnya. Di sela-sela riuhnya suara orang-orang, air mata Rumaniati menetes. Melihat itu, Faris memegang punggung telapak tangan Rumaniati dan menepuknya lembut. Rumaniati menunduk mengusap air matanya.

__ADS_1


*


*


Hafiza mendesah lega. Setelah seharian berjalan hingga malam tiba, tak sadar, ia telah memasuki kawasan pertokoan di pusat kabupaten. Suara klakson mobil dan sepeda motor yang lalu lalang mengentrit bising. Di trotoar jalan, pedagang asongan maupun lesehan terlihat berjejer di depan toko-toko yang tutup. Bau makanan yang dijajakan, membuat Hafiza menelan ludahnya dalam-dalam. Perut yang seharian hanya ia isi dengan buah bidara yang ditemuinya sepanjang perjalanan, semakin meronta minta diisi. Satu persatu tulisan di depan toko yang dilewatinya dibacanya.


Hafiza tersenyum. Kini ia berdiri di sebuah toko emas. Ia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan surat cincin emas yang dipakainya. Perlahan ia mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya dan melangkah masuk ke dalam toko.


"Dua gram ya Bu, harganya satu juta delapan ratus. Kalau ibu setuju, emasnya kami ambil," kata seorang perempuan muda di depannya. Hafiza menatap cincin yang ia letakkan di atas etalase. Ia harus menjual cincin itu berapapun harganya. Ia butuh makan dan biaya untuk menginapnya malam ini.


Hafiza mendesah pelan lalu menyodorkan cincin itu kepada perempuan di depannya. Hafiza mengangguk kecil. Perempuan di depannya mulai menghitung satu persatu lembaran uang di tangannya. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Hafiza.


"Silahkan dihitung kembali Bu," kata perempuan itu. Hafiza mulai menghitung uang di tangannya.


"Satu juta delapan ratus," kata Hafiza menatap perempuan itu. Perempuan itu tersenyum sembari mengangguk. Hafiza mendesah dan memasukkan uang itu ke dalam tasnya.


"O ya Bu, saya mau nanya, orang yang menyewakan kos-kosan di sini dimana ya," tanya Hafiza sebelum beranjak pergi.


"Coba ibu lewat jalan samping toko, di belakang toko ini ada sebuah rumah paling ujung, dekat sawah dan perkebunan. Mungkin ada kamar yang masih kosong. Nama pemiliknya Hajjah Sayuti. Ibu pasti menemukan plank nama dengan nama Hajjah Sayuti," jelas perempuan itu.


Jalan yang kini dilewati Hafiza adalah jalan kecil yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Di samping kiri jalan terdapat selokan yang hampir dipenuhi oleh air yang mengalir. Di samping kanan jalan, berjejer lima rumah besar dengan gerbang tinggi dan tertutup.


Hafiza terus berjalan sambil memperhatikan rumah-rumah yang dilewatinya, hingga di sebuah rumah dengan gerbang kombinasi merah putih, ia berhenti. Di atas gerbang tertulis; Kos Hajjah Sayuti.


Hafiza tersenyum. Sejenak ia berdiri menatap pintu gerbang yang tertutup. Di salah satu dinding gerbang ia melihat tombol berwarna putih. Ia awalnya ragu untuk menekannya. Melihat rumah yang begitu besar, ia takut biaya sewanya mahal dan uang hasil penjualan cincinnya tidak cukup. Tapi ia segera ingat masih memiliki kalung di dalam tasnya. Berapapun mahalnya, ia harus menerimanya. Malam sudah mulai larut dan ia takut tak menemukan tempat untuk bermalam malam ini.


Hafiza perlahan menekan tombol. Belum terdengar suara mendekat ke arahnya. Ia kembali memencet tombol hingga tiga kali. Terdengar suara seperti orang membuka gerbang. Hafiza mundur dan merapikan jilbabnya. Seorang perempuan paruh baya dengan kerudung putih telah berdiri di depannya. Hafiza menundukkan kepala sembari tersenyum.


"Ada apa Nak," kata perempuan itu.


"Benar ini rumahnya bu Hajjah Sayuti?" tanya Hafiza. Perempuan itu tersenyum.


"Ya, benar, saya sendiri, ada keperluan apa Nak," tanya Hajjah Sayuti ramah.


"Saya mau cari kos-kosan Bu,"


Sejenak Hajjah Sayuti terdiam menatap Hafiza.

__ADS_1


"Ada satu yang kosong, tapi ruangnya sempit. Yang lain sudah ada yang nyewa," kata Hajjah Sayuti.


"Gak apa-apa Bu, yang penting malam ini saya punya tempat menginap,"


"Ow, cuma semalam, kalau gitu gak usah nyewa Nak, kamu bisa tidur sama ibu,"


"Bukan begitu Bu, saya kesini mau cari kerja, jadi saya mau nyewa selama satu tahun,"


"Ayo masuk Nak, kita bicarakan di dalam."


Hajjah Sayuti mengajak Hafiza masuk. Setelah menutup gerbang, ia mengajak Hafiza memeriksa kamar yang dimaksud Hajjah Sayuti.


"Ibu cuma menyewakan lima kamar Nak, Nak...,"


"Hafiza Bu,"


Hajjah Sayuti tersenyum.


"Nak Hafiza tinggal dulu di kamar pojok itu, kebetulan dua hari lagi, penghuni kamar yang tengah itu mau pindah, jadi Nak Hafiza bisa pindah ke kamar itu," kata Hajjah Sayuti sambil menunjuk ke kamar paling ujung.


Hajjah Sayuti mengajak Hafiza masuk. Kamar dengan ukuran 3 x 4 itu hanya diterangi balon kuning yang temaram. Hanya ada tikar yang bersandar di sudut ruangan. Sementara Hafiza memeriksa ruangan, Hajjah Sayuti masuk ke dalam rumahnya dan tak berapa lama kemudian ia kembali membawakan Hafiza dua buah bantal.


"Nak Hafiza tidur saja dulu, gak usah mikir bayarnya, sebelum Nak Hafiza pindah ke kamar sebelah, sewa kamar ini ibu gratiskan," kata Hajjah Sayuti sambil memegang pundak Hafiza.


Hafiza tersenyum. Ia segera meraih tangan Hajjah Sayuti lalu menciumnya.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Bu," kata Hafiza.


"O ya, Bu, boleh saya pinjam pintu gerbangnya sebentar," sambungnya.


"Kamu mau kemana Nak," tanya Hajjah Sayuti.


Hafiza tersenyum.


"Saya mau beli makanan di didepan,"


"Gak usah, malam ini kamu makan di dalam bersama ibu, ayo, kebetulan ibu juga belum makan malam, ayo Nak, jangan malu-malu. Gak ada orang di dalam. Ibu hanya tinggal sendiri." Hajjah Sayuti mengajak Hafiza masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2