
"Assalamualaikum!
Sebuah salam yang diucapkan dengan nada setengah berteriak, mengagetkan orang-orang yang masih berkumpul di teras rumah pak Abbas usai acara zikiran.
Pak Abbas yang sedang berada di dalam rumah segera keluar. Orang-orang mendongakkan kepalanya. Mereka masih menunggu sosok orang yang mengucapkan salam.
"Faris?" Gumam pak Abbas ketika melihat Faris dengan langkah tegap semakin mendekat ke arahnya. Dari langkahnya yang tak biasa serta senyum yang terus mengembang dari bibirnya, membuat pak Abbas mulai berprasangka yang tidak-tidak kepada Faris.
"Assalamualaikum pak Abbas, bagaimana kabarnya," kata Faris. Pak Abbas mengernyitkan dahinya. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri dan tengkuknya seperti terangkat ke atas ketika Faris menjabat tangannya dan memeluknya. Hal yang tak pernah di lakukan Faris. Pak Abbas merasa,orang yang kini di hadapannya, bukan Faris yang ia kenal sebelumnya. Faris yang pendiam, nada bicara yang cendrung datar dan selalu menundukkan kepala saat bertemu dengan orang yang lebih tua.
Pak Abbas mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus menatap terperangah ke wajah Faris.
"Ayo, Pak, duduk dulu. Ada hal yang sangat pennnting yang harus kita bicarakan," kata Faris dengan nada yang ditekan. Orang-orang yang ada di teras pak Abbas terlihat saling berbisik saat Faris memasuki teras rumah sambil menarik tangan pak Abbas.
"Sekarang, bapak duduk di depan saya," kata Faris sesampainya di teras. "Nah, bagus, seperti itu Pak," ujar Faris ketika melihat pak Abbas bersila di depannya.
"Aduh, peci bapak kok miring seperti ini, perbaiki dulu Pak."
Pak Abbas hanya terdiam saat Faris memperbaiki letak peci di kepalanya. Beberapa orang yang menyaksikan terlihat tersenyum saat melihat peci di kepala pak Abbas miring ke samping.
"Ayo, kalian lebih maju. Kalian harus jadi saksi malam ini," kata Faris lagi sambil menyuruh orang-orang lebih mendekat. Mereka hanya saling pandang.
"Pak, tadi Hafiza memanggil saya, Ia menyuruhku untuk menjemputnya malam ini. Dia bilang, dia sudah menceraikan si bangsat Raka itu. Jadi, malam ini saya datang ke sini untuk membawa Hafiza ke rumah. Bapak musyawarah dulu sama orang-orang ini kapan waktu yang tepat untuk menikahkan kami. Tapi, maskawinnya jangan terlalu banyak ya, Pak, saya belum punya uang, ha...ha...ha...," kata Faris sambil menjabat tangan pak Abbas. Diakhir pembicaraannya, Faris tertawa terbahak-bahak. Tanpa sadar, air mata pak Abbas keluar.
"Faris, apa yang terjadi padamu, Nak, kenapa tiba-tiba kamu seperti ini." Bu Abbas tiba-tiba keluar setelah beberapa saat tadi hanya bisa menatap heran dari balik kaca jendela rumah. Ia memeluk tubuh Faris sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Ibu mertua? kenapa kamu menangis? Seharusnya kamu bersyukur, Hafiza akhirnya jatuh ke tangan yang tepat. Bukan dengan bangsat Raka itu." Faris melepas kasar pelukan bu Abbas. Matanya nyalang menatap satu persatu ke arah orang-orang.
"Hei, kamu, coba masuk, dan bawa Hafiza ke hadapanku. Dia itu pemalu jika ada di hadapanku," tunjuk Faris acak ke arah orang-orang di depannya. Semuanya bergeming.
Merasa orang-orang hanya diam dan tak merespon kata-katanya, Faris bangkit dan melangkah ke dalam rumah.
"Hafiza, ow Hafizaku, dimana kamu dinda. Ayo, jangan sembunyi dari abangmu ini," panggil Faris. Bu Abbas yang mendengarnya dari luar semakin menangis sejadi-jadinya.
"Ayolah Hafiza, jangan sembunyi terus. Sekarang, aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu, owoh, tenan, sayang." Faris terus meracau. Seluruh isi kamar mulai diubek-ubeknya. Meraba sudut gelap rumah dan merangkak di bawah kolong dipan. Tak ada yang tersisa.
Merasa tak menemukan Hafiza di dalam rumah, Faris kembali keluar. Kali ini ia berdiri di depan pintu dengan nafas cepat. Matanya yang tadi nyalang perlahan meredup, berganti binar-binar yang mengandung air mata. Perlahan tubuhnya luruh ke bawah. Ia jatuh bersimpuh di lantai. Ia menangis. Isak tangisnya yang terdengar, membuat menunduk orang-orang yang menyaksikannya.
"Tolong, Bu, jangan sembunyikan Hafiza dariku, biarkan aku membawanya pulang," kata Faris menghiba dengan suara lirih. Orang-orang yang melihat Faris, mulai terlihat menangis.
Bu Abbas bangkit dan mendekati Faris. Sejenak ditatapnya Faris, mengelus kepalanya, lalu mencium kening Faris dan memeluknya erat.
"Sekarang, pulanglah, Nak, ibu dan istrimu sudah menunggu di rumah. Jangan buat mereka cemas, pulanglah."
Faris terdiam. Kepalanya mash tertunduk. Air mata dan ingus di hidungnya bersamaan jatuh. Semua mata tertuju ke arahnya dan berharap Faris akhirnya menyadari segalanya.
Faris menggeleng. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap orang-orang yang cemas memandangnya.
Perlahan Faris bangkit. Dihalaunya tangan bu Abbas yang mencoba menahannya. Kembali ia menggeleng dan tersenyum meringis sembari berjalan gontai. Pak Abbas menatapnya sedih dan memanggilnya, namun Faris terus berjalan menyusuri gelap malam.
"Mahili, dan kamu gunawan, tolong ikuti Faris. Segera hubungi aku jika ada hal-hal membahayakan yang dilakukan Faris," kata pak Abbas memerintahkan dua orang yang duduk di belakangnya. Kedua orang itu menganggukkan kepala dan bangkit menyusul Faris.
__ADS_1
Malam gelap terhampar di hadapan Faris ketika suara langkah kakinya memecah keheningan. Wajahnya sendu dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. Lolongan anjing yang bersahut-sahutan menyadari keberadaannya di tengah gelap tak membuatnya berpaling dari menyebut nama Hafiza. Dia terus berjalan hingga langkah kakinya terhenti di sebuah pekuburan umum.
Malam semakin beranjak larut. Faris kini bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah. Dua buah nisan dari belahan bambu kering dengan ujung runcing, menancap di kedua ujung kubur.
Faris menggenggam tanah basah di depannya dengan kedua tangannya, lalu melumuri wajah dan seluruh tubuhnya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya di sisi kubur Hafiza. Ia tersenyum dan mulai meracau. Dua orang yang ditugaskan pak Abbas mengikuti Faris, terlihat pergi meninggalkan pemakaman.
Tahukah kamu...,
Kekasih sejati tak akan pernah meninggalkan kekasihnya dalam kesendiriannya.
Hafiza, masih ingatkah kamu lagu yang pernah ku gubah untukmu?
Kau Mahajanaku
kau yang bertahta dalam singgasana hati.
Hafiza, bangunkan aku esok, pagi-pagi sekali.
Aku ingin menikmati segelas kopi buatanmu.
Lama sekali, Hafiza.
Lama sekali aku tak mencicipi kopi pahit buatanmu.
Faris bangkit. Sepertinya ia sedang ingat sesuatu. Ia mendekatkan wajahnya ke nisan kubur.
__ADS_1
Sebentar, sudah penuhkah celengan plastik yang saban hari kita masukkan uang receh itu?
Ada sedikit tanah kosong di depan rumah. Kita akan membangun kios kecil dan kamu bisa menjual boba dan kebab yang selalu kamu cita-citakan.