JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#45


__ADS_3

Faris menghentikan sepeda motornya di depan sebuah warung kopi di pinggir jalan. Setelah seharian berkeliling, ia memutuskan untuk singgah di warung itu. Panas matahari yang terik, membuat kerongkongannya terasa kering. Dia memutuskan istirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali perjalanannya. Dia langsung memesan minuman dingin kepada pemilik warung.


Terdengar sirene mobil ambulan meraung-raung dari kejauhan. Semakin dekat dan perlahan terlihat berhenti di sebuah gang kecil di seberang jalan. Nampak orang-orang, baik yang keluar dari arah dalam gang, maupun yang datang bersamaan dengan mobil ambulan mulai berkerumun di muka gang. Di depan toko-toko, juga tampak dua buah mobil polisi yang sedang terparkir. Faris penasaran.


"Ada apa Bu, kok ramai sekali," tanya Faris ketika pemilik warung membawakannya minuman yang dipesannya.


Pemilik warung menoleh ke seberang jalan.


"Ow itu, tadi siang ada pembunuhan di salah satu rumah kontrakan di ujung gang sana," kata pemilik warung. Ia kembali masuk ke dalam warungnya.


"Astaghfirullah," desah Faris.


"Tapi pelakunya sudah tertangkap. Pelakunya dua orang perempuan, korbannya juga perempuan,"


"Pelakunya orang mana Bu,"


Pemilik warung mengernyitkan dahinya, seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Menurut cerita orang-orang yang menyaksikan, katanya sih dari lombok timur." Gantian Faris yang mengerutkan dahunya.


"Lombok Timur? Lombok timur mana Bu,"

__ADS_1


"Nah, kalau itu, ibu tidak tahu.


Faris mengalihkan perhatiannya ke arah mobil ambulan dan orang-orang yang semakin banyak berkerumun. Terlihat orang-orang seperti sedang membopong sesuatu dan memasukkannya ke dalam mobil ambulan. Tak beberapa lama kemudian, suara sirine mobil ambulan berbunyi bersamaan dengan berangkatnya mobil meninggalkan tempat itu. Salah satu mobil polisi jenis pikap terlihat bergerak ke arah gang dan terlihat beberapa orang naik ke atas mobil.


"Itu mungkin pelakunya," kata pemilik warung sambil keluar dari dalam warungnya. Karna penasaran, Faris pun ikut keluar. Sebentar lagi mobil polisi itu akan lewat dekat warung dan dia mungkin bisa melihat pelakunya.


"Oh ya, benar, dua orang perempuan yang di belakang itu memang pelakunya," kata pemilik warung saat mobil polisi itu lewat depan warungnya. Mata Faris tak berkedip melihat dua orang perempuan di atas mobil. Punggung-punggung petugas kepolisian mengganggu pandangannya. Faris mendesah, sedikit kesal.


Mobil polisi terlihat berhenti di belakang mobil-mobil yang antri karna lampu merah. Faris melangkah lebih dekat dan bersandar di salah satu tiang papan reklame. Ia bisa melihat salah satu perempuan itu mengangkat kepalanya. Salah satu petugas yang mengapitnya terlihat memberikannya masker.


Faris mengerutkan keningnya. Dia seperti mengenal salah satu wajah dari perempuan itu. Faris lebih mendekat dan kini sudah sangat dekat dengan mobil itu. Perempuan itu sempat memandangnya dengan raut muka kaget ketika melihat Faris berdiri di belakang mobil. Ia buru-buru menundukkan wajahnya dan memasang maskernya.


Suara klakson mobil dari arah belakang mengagetkan Faris. Dia tidak sadar lampu hijau telah menyala dan mobil-mobil yang antri telah bergerak maju. Dengan spontan ia mundur ke belakang dan melangkah kembali menuju warung.


"Bu, Ini bayarnya Bu," kata Faris tiba-tiba dengan tergesa-gesa. Ia meletakkan selembar uang dua puluh ribu di atas meja. Dia segera menaiki sepeda motornya.


"Nak, kembaliannya," kata pemilik warung setengah berteriak sembari keluar mendekati Faris.


"Sudah, ambil saja Bu, Saya buru-buru," kata Faris sambil mulai menstarter sepeda motornya. Segera setelah sepeda motornya masuk ke jalan raya, dengan kecepatan kencang, Faris menggeber sepeda motornya.


Sepeda motor yang dikendarai Faris terus mendahului kendaran-kendaraan di depannya. Dia harus menemukan mobil polisi itu dan mengikuti kemana mobil itu menuju. Dia hanya ingin memastikan bahwa apa yang dipikirkannya tentang perempuan itu benar atau tidak. Dia baru sadar, wajah perempuan itu sangat mirip dengan bibinya Raka, almarhum suami Hafiza. Dia pernah melihatnya sekali saat acara 'Bales Nae', salah satu prosesi dalam acara adat sasak lombok usai menikah. Sekalipun dia masih bertanya-tanya alasan yang pas kenapa bi Ijah berada di tempat yang sangat jauh dari rumahnya, tapi ia merasa harus mengikuti mobil itu.

__ADS_1


Faris tersenyum lega. Mobil polisi itu sudah terlihat di depannya di antara mobil dan sepeda motor yang mulai berhenti di sebuah perempatan jalan, saat lampu merah menyala. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Faris. Ia terus membawa sepeda motornya merengsek masuk di antara sepeda motor dan mobil yang mengantri.


Faris memperhatikan dengan seksama wajah perempuan di depannya. Sayang sekali, sebagian wajah perempuan itu tertutup masker dan rambut yang sengaja dibiarkan terurai ke samping. Dengan perlahan, Faris kembali mengikuti mobil yang perlahan mulai bergerak maju.


* * *


Suara isak tangis disertai ratapan terdengar ramai di salah satu ruang di sebuah puskesmas. Suasana terlihat semakin ramai, ketika para pengunjung puskesmas datang berduyun-duyun mendengar suara tangisan yang semakin ramai. Scurity yang sedang berjaga tampak berkali-kali menyuruh mereka pergi saat petugas dari kepolisian tiba di lokasi.


Pak Abbas dan istrinya tampak tertunduk lesu di samping tubuh Hafiza yang terbujur kaku. Mereka masih terisak-isak setelah beberapa menit tadi tak sadarkan diri. Hanya bu Abbas yang sesekali terdengar meratap dan menjerit histeris setiap kali menatap wajah Hafiza.


Bu Rahma terperangah ketika melihat wajah kaku Hafiza. Dia yang baru saja datang di temani Rumaniati langsung menghampiri pak Abbas dan memeluknya. Tangis pak Abbas kembali pecah saat menyadari kedatangan bu Rahma.


"Ya, Allah, Kak, apa yang telah terjadi. Siapa yang melakukan ini," kata bu Rahma dengan suara parau terbata-bata.


Pak Abbas terdiam. Apa yang hendak dikatakan kepada bu Rahma tertahan oleh sesenggukan tangisnya. Rumaniati yang masih berdiri, mendekat dan mengusap punggung bu Rahma.


"Kata salah satu petugas, pelakunya sudah ditangkap dan sekarang sedang diamankan di Polres," kata pak Abbas berusaha menghentikan tangisnya..


"Aku tidak akan puas jika bi Ijah itu tidak dihukum mati. Dia harus merasakan apa yang dirasakan anakku," kata bu Abbas menyahut geram. Giginya terdengar bergemeretak menahan amarah. Matanya melotot tajam seakan-akan bi Ijah ada di depannya.


Bu Rahma memegang pundak pak Abbas dan menatapnya seperti ingin mencari pembenaran. Pak Abbas memegang tangan bu Rahma. "Benar Dik, bi Ijah dan mantan istri Raka yang melakukannya," kata pak Abbas lirih. Bu Rahma menggeleng beberapa kali. Nafasnya terlihat turun naik dengan cepat. Emosinya mulai tersulut. Melihat perubahan sikap mertuanya, Rumaniati memeluk bu Rahma dari belakang.

__ADS_1


"Bu, ingat Bu, sabar," bisik Rumaniati lembut mengingatkan. Bu Rahma menoleh dan mengusap kepala Rumaniati.


"Permisi, Bapak dan Ibu sudah bisa membawa jenazah anak ibu ke rumah. Mohon beri ruang para petugas untuk membawa jenazah ke mobil ambulan," kata salah seorang petugas puskesmas yang menghampiri mereka. Bu Abbas dan Pak Abbas serta orang-orang yang berada di dekat ranjang bangkit dan memberi ruang beberapa petugas mendorong ranjang tempat tubuh Hafiza terbaring menuju mobil ambulan di depan ruangan.


__ADS_2