JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#16


__ADS_3

Matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat meninggalkan cahaya keemasannya di langit maghrib. Adzan maghrib yang terdengar merdu mengantarkan matahari tenggelam jauh di peraduannya.


Faris masih berdiri bersedekap memandang seberkas cahaya merah di ufuk barat, di tepi laut. Dia masih memikirkan mimpinya tadi malam. Ia bermimpi melihat photo Hafiza yang tergantung di kamarnya tiba-tiba terjatuh dan kacanya pecah di lantai. Sebelum Hafiza menikah, ia memang menggantung photo itu di dinding kamarnya, tepat di depan tempatnya tidur. Ia menggantungnya di sana dengan harapan, ketika bangun nanti ia bisa langsung melihat wajah Hafiza.


Tapi photo itu sudah ia kubur di dalam tanah, dan ketika ia memimpikannya tadi malam, ia benar-benar memikirkannya. Mimpi yang menurutnya ekstrim dan patut dicarikan tafsirnya. Karna menurutnya, ada saat dimana sebuah mimpi dianggap hanya sebagai bunga tidur saja dan ada saat mimpi itu sebagai isyarat dan pertanda tentang sesuatu yang akan terjadi.


Tapi untuk apa menafsirkan mimpi yang sudah tidak ada kaitannya lagi dengan dirinya. Hafiza sudah memilih jalan hidupnya sendiri dan tahu resiko apa yang akan ia temui ketika menikah. Hidup bersama orang yang kita cintai merupakan kebahagiaan paling indah dalam hidup. Resiko yang ada bisa jadi penguat rasa cinta dalam hati.


Faris melangkah menuju sepeda motornya dan memutuskan untuk pulang.


Hafiza masih duduk di halaman rumah. Raka belum juga pulang sejak pagi tadi mengantarkan Kasni pulang ke rumahnya. Ia tidak tahu Raka dimana saat ini. Apakah masih di rumah Kasni ataukah sudah pulang dan berada di tempat lain. Ia tidak bisa menghubunginya sebab ponselnya tertinggal.

__ADS_1


Pengantin baru sepertinya seharusnya tak bisa ditinggalkan seperti itu sendirian. Apalagi dalam jangka waktu yang sangat lama. Sejak pristiwa tadi malam, ia merasa malu untuk berkunjung ke rumah tetangga, apalagi ke rumah keluarga Raka. Hanya ibu mertuanya tempat ternyamannya saat ini, tapi pintunya sudah tertutup sejak tadi. Ia tak tega mengganggunya karna ia tahu mertuanya lelah karna seharian bekerja.


Terdengar suara sepeda motor dari arah samping. Hafiza mengurungkan niatnya masuk. Ia tersenyum ketika Raka menghentikan sepeda motornya di depan rumah. Raka hanya terdiam. Tak berekspresi sedikitpun. Ia langsung saja masuk ke dalam kamar. Bahkan ia tak berkata apa-apa ketika lewat di depan Hafiza.


Hafiza mengikutinya dari belakang. Sesampainya di kamar Hafiza langsung menuangkan segelas air putih untuk Raka.


"Taruh saja di sana,"kata Raka ketika Hafiza menyodorkannya minuman. Ia sibuk melepaskan baju kemeja yang dipakainya dan menggantinya dengan baju kaos. Ia lalu mengambil tas raket yang tergantung di sisi lemari pakaian. Melihat itu Hafiza mendekatinya. Kerah kaos yang dikenakan Raka dirapikannya. Raka terdiam saja.


"Aku mau main bulu tangkis dulu. Sudah lama aku tidak olah raga,"


"Kapan pulang,"

__ADS_1


"Tunggu saja di rumah, nanti kalau sudah waktunya pulang aku pasti pulang,"


Raka kemudian pergi. Hafiza berdiri termangu. Sama sekali tak ditinggalkan untuknya satu saja kecupan di kening atau di bibirnya. Benar-benar dingin dan tak menghargai dirinya yang telah menunggunya sejak tadi pagi. Perubahan yang aneh. Perubahan yang amat cepat dan sulit ia mengerti.


Hafiza mulai mengingat kejadian tadi malam saat ia bercumbu dengan Raka. Jika Raka merasa tidak puas dan kecewa dengan pelayanannya di ranjang, dia tidak akan melakukannya sampai tiga kali. Jika ia boleh mengibaratkan, Raka seperti singa yang tidak makan berhari-hari. Begitu buas. Ia berusaha menahan rasa sakit karna tidak mau mengecewakan Raka.


Raka seperti sudah dihipnotis. Seperti seorang yang sudah dikendalikan jiwanya. Ia seperti hampa dan dingin. Jika dipikirkan, sejak akad nikah sampai kemarin malam, tidak hal dan tindakan dari dirinya yang menurutnya sendiri bisa membuat kecewa Raka. Ia selalu tersenyum karna itulah yang seharusnya pengantin baru lakukan. Tak ada hujan, tak ada angin, Raka tiba-tiba saja bersikap seperti itu.


Benar-benar aneh untuk masa bulan madu yang seharusnya indah. Ia masih ingin merasakan kasih sayang dari Raka. Ia butuh itu saat ini dan untuk beberapa minggu ke depan. Setidak-tidaknya hanya sekedar bercerita satu sama lain dan mengisi malam dengan tawa ceria. Bukankah itu seharusnya pengantin baru?Tapi kini ia harus menunggu lagi sampai waktu yang belum pasti.


Hafiza merebahkan tubuhnya. Tatapannya menerawang jauh. Ada bayangan seseorang yang kini hadir dalam keresahannya. Seseorang yang ia tinggalkan di persimpangan jalan sebab keinginannya hidup bersama Raka yang lebih tampan dan lebih segala-galanya. Waktu terus berlalu. Ia masih menyimpan tatapan memelas laki-laki itu saat akad nikah kemarin malam. Ia tahu laki-laki itu sedih kehilangannya, walaupun ia sembunyikan dalam senyumnya. Tapi ia yakin keputusannya menikah bukan dengan laki-laki itu dan apa yang kini terjadi, semua ada hikmah. Tinggal ia siap menerimanya atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2