
Saking bahagianya, Rumaniati tak sadar Faris memonyongkan mulutnya seperti hendak meminta disuapkan lagi.
Rumaniati melepas sendok yang ada di tangannya. Perasaan bahagia dalam hatinya membuatnya tidak begitu memperhatikan Faris.
Rumaniati bangkit dan segera bergegas menuju sepeda motornya. Perasaan bahagia mengetahui Faris menyebut namanya, membuatnya seperti orang linglung, yang bergerak kesana kemari. Karna bahagianya, ia hampir meninggalkan sepeda motornya.
* **
Sebuah mobil warna merah berhenti di depan rumah bu Rahma. Bu Rahma segera keluar dari rumah ketika terdengar klakson mobil beberapa kali di luar rumah. Sebelum pergi mengunjungi Faris, Rumaniati sudah memberitahukannya bahwa hari ini, pak Nasirin, bapaknya, akan datang. Bu Rahma yakin, pemilik mobil di depan rumah adalah milik pak Nasirin.
Bu Rahma tersenyum ketika pak Nasirin dan istrinya keluar dari mobil.
"Alhamdulillah, sampai juga, Bu, Pak," sapa bu Rahma saat menjabat tangan keduanya. Setelah itu ia bergegas membuka gerbang rumah lebih lebar. Ia mempersilahkan keduanya masuk.
"Rumannya dimana, Bu," kata bu Nasirin sesaat setelah duduk di kursi teras rumah. Bu Rahma menundukkan kepalanya. Ia masih malu mengatakan bahwa saat ini Rumaniati sedang mengantarkan Faris makanan di pekuburan umum. Sekalipun Ruman sudah menceritakan semua yang terjadi pada Faris, namun ia masih merasa malu.
"Saya turut prihatin atas apa yang menimpa nak Faris. Saya cuma menyayangkan kenapa tidak ada yang memberitahu saya secepatnya." sela pak Nasirin saat melihat bu Rahma masih bingung menjawab pertanyaan istrinya.
"Tapi ibu gak usah khawatir. Hari ini kita akan membawa nak Faris menuju Selak Alas. Insya Allah, mudah-mudahan, dengan ijin Allah, nak Faris akan segera sembuh," sambung pak Nasirin berusaha menenangkan bu Rahma. Bu Rahma tersenyum.
"Pagi-pagi sekali, nak Ruman meninggalkan rumah menjenguk suaminya di pekuburan umum." Bu Rahma menunduk malu.
"Sebenarnya ceritanya bagaimana, Bu. Kok tiba-tiba saya dapat berita seperti ini," kata bu Nasirin. Ia merangkul punggung bu Rahma dan mengusapnya.
__ADS_1
"Entahlah, Bu. Saya malu sama ibu, sama Bapak, sama keluarga yang di sana. Seharusnya nak Ruman menikmati masa-masa bahagia pernikahannya. Saya sebagai orang tuanya Faris, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang terjadi sama anak saya," kata bu Rahma. Ia mulai menangis sesenggukan. Pak Nasirin menatap ke arah istrinya. Rupanya ia tak senang bu Nasirin menanyakan itu.
"Tak ada yang harus disalahkan, Bu. Semua ini memang sudah menjadi kehendak Allah. Terkait dengan Rumaniati, dia sudah menentukan pilihannya secara sadar. Saya yakin, Rumaniati akan menerima keadaan ini." Bu Nasirin mengeluarkan tissu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada bu Rahma.
"Kami juga tak mengijinkan Rumaniati pulang meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti ini. Dia harus tetap di sini menjaga suaminya sampai sembuh," tegas pak Nasirin.
"Bu Rahma tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak ataupun merasa enak dengan keadaan ini. Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua adalah kehendak Allah," sambung pak Nasirin. Bu Rahma mengangguk.
"Pak, Bu, saya mau ke dapur dulu," kata bu Rahma.
"Gak usah repot-repot, Bu," kata pak Nasirin.
"Gak apa-apa, Pak. Mungkin nak Ruman pulangnya agak lama. Hitung-hitung sambil nunggu," kata bu Rahma. Ia kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana, Pak," kata bu Nasirin ketika melihat kedua kalinya mencoba menghubungi Rumaniati.
"Gak diangkat, Bu," jawab pak Nasirin. Ia melepaskan ponselnya di atas meja. Keringat mulai mengalir di wajahnya. Cuaca hari ini terasa panas. Ditambah pantulan hawa panas dari aspal di jalan depan rumah. Pak Nasiri membuka dua buah kancing bajunya dan meniup-niup ke arah dadanya.
"Mungkin Rumaniati sedang dalam perjalanan, Pak. Kita tunggu saja sebentar," kata bu Nasirin. Melihat kening suaminya berkeringat, Ia memberikannya sebuah tisu.
Pak Nasirin kembali memdesah. Ia menoleh ke arah bu Nasirin. Tatapan matanya terlihat cemas.
"Perasaanku kok gak enak, Bu. Apa sebaiknya kita susul saja Si Ruman ke pekuburan," kata pak Nasirin. Bu Nasirin menatap suaminya.
__ADS_1
"Makanya gak usah berpikir yang macam-macam, Pak," kata bu Nairin. Ia tersenyum saat bu Rahma muncul dari balik pintu dan meletakkan dua gelas minuman di atas meja.
"Aduh, Bu. Kok jadi ngerepotin gini,"
"Gak apa-apa, Bu. Biasa saja," jawab bu Rahma. Ia menarik kursi di samping bu Nasirin kemudian duduk.
* * *
Rumaniati tersenyum di seberang jalan ketika melihat pak Nasirin dan bu Nasirin melambaikan tangan ke arahnya. Suasana di jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, membuatnya harus menunggu celah agar bisa menyeberangkan motornya menuju seberang jalan. Dia sudah tidak sabar memberitahukan tentang perkembangan Faris kepada bu Rahma, juga ayah serta ibunya.
Rumaniati menengok ke belakangnya. Kendaraan yang lewat mulai berkurang. Hanya ada mobil pengangkut pasir yang posisinya masih agak jauh darinya. Ia mengambil keputusan untuk segera menyeberang sebelum jalan kembali ramai. Dia sudah lelah menunggu di bawah sinar matahari yang terik menyengat. Diapun segera menyalakan sepeda motornya dan perlahan menyebrang jalan.
Rumaniati kaget. Rantang yang ia letakkan di antara kedua kakinya tiba-tiba terjatuh di aspal. Karna kaget, spontan ia melepas stang sepeda motornya dan motor berhenti di tengah-tengah jalan. Pak Nasirin,bu Nasirin dan bu Rahma berteriak ke arahnya menyuruhnya agar segera menyingkir. Tapi Rumaniati begitu panik. Ia seperti orang kebingungan di tengah-tengah jalan. Di tambah lagi dengan suara klakson mobil pengangkut pasir yang memekakkan telinga, membuat kakinya seperti sulit digerakkan. Mobil pengangkut pasir yang melaju kencang tak bisa lagi menghindari tabrakan. Suara rem angin yang diinjak paksa menciptakan suara riuh. Tubuh Rumaniati terpelanting jauh dan membentur salah satu gerbang rumah dekat rumah bu Rahma.
Pak Nasirin, bu Nasirin dan bu Rahma segera berhamburan keluar. Mereka melihat tubuh Rumaniati yang bersimbah darah tergeletak di depan gerbang rumah. Bu Rahma dan Bu Nasirin tak sempat lebih dekat ke arah Rumaniati. Keduanya jatuh tak sadarkan diri.
Dalam sekejap orang-orang sudah berkerumun di tempat kejadian. Sambil menangis, pak nasirin dibantu beberapa orang laki-laki segera mengangkat tubuh Rumaniati dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Tolong, bawa keduanya masuk," kata pak Nasirin kepada beberapa orang laki-laki yang membantunya mengangkat tubuh Rumaniati dari dalam mobil. Setelah itu, dengan tangis yang berderai, pak Nasirin menyalakan mobilnya. Dan tak berapa lama kemudian, mobil itu melaju kencang menuju puskesmas terdekat.
* * *
Pak Nasirin masih mondar-mandir cemas di luar ruangan unit gawat darurat. Dia merasa tak sanggup lagi melihat keadaan Rumaniati yang mengenaskan. Tak henti-henti ia mendongakkan kepalanya sambil berdoa semoga nyawa Rumaniati bisa terselamatkan.
__ADS_1