JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#07


__ADS_3

Tangis Faris semakin terdengar di antara sesekali deru mesin sampan yang sesekali melintas. Sekaligus membuyarkan segala rencana yang mulai tersusun acak dalam pikirannya. Sudah larut malam, Faris pun ingin tertidur pulas membawa rasa bahagianya dan merangkumnya dalam mimpi indah pula. Hafiza tidak akan memikirkannya sebagaimana ia memikirkannya kini. Sudah pasti Hafiza bahagia, bahkan mungkin Raka sudah memeluknya penuh gairah. Sial, beruntung sekali laki-laki itu mendapatkan Hafiza. Dia tidak tahu saja, sebenarnya sebulan sebelum ia berencana menceraikan mantan istrinya, yang sudah terancang matang dalam kepalanya adalah mendapatkan maaf Hafiza, selanjutnya menikahinya. Tapi benar-benar sial, Raka memang ditakdirkan sebagai Ramapati, yang akan mengacaukan segala harapannya.


Faris menggeleng. Ia merasa tak punya sama sekali jalan keluar untuk membungkam rasa tidak tenang dalam hatinya. Faris menjambak rambutnya sekuat mungkin. Ia ingin mencabut pikiran kalutnya sampai ke akar-akarnya. Ia meringis dan tak sadar spontan berteriak.


Faris menunduk dan menghempaskan tubuhnya di tanah. Berteriak sekeras apapun tak akan menghilangkan rasa sakitnya. Sebaliknya teriakannya akan mengundang tanya dan pastinya orang-orang sekitar akan berdatangan dan pada akhirnya mereka akan mengumpatnya, atau menganggapnya gila. Kini rintihannya semakin melemah.


Kenapa malam ini aku begitu merindukannya Ya Allah. Kenapa aku merasa seperti tak berpijak lagi di tanah. Kenapa aku merasa semua sepi dan menghilang? Kenapa tak terlihat gemintang seperti biasanya yang sebelumnya selalu membuatku takjub dan bernyanyi. Semuanya seperti tenggelam dalam kelam. Aku bagaikan pasir yang luruh dan berserakan terhempas angin. Adakah yang masih tersisa dari serakannya nanti walaupun hanya sebutir? Selemah inikah aku sehingga tangisku tak habis-habisnya menangisi makhlukmu?

__ADS_1


Tuhan, dialah wanita yang telah mengajariku bagaimana bersyair yang baik. Dialah wanita yang telah memberikanku ciuman terindahnya. Telah aku dapatkan semua darinya, dan seharusnya, inilah saatnya aku memilikinya utuh. Akan berapa lamakah aku harus melangkah dengan hati yang kalut.


Tuhan, Aku tak menangisi kecantikannya yang kini akan dinikmati lelaki lain. Duh, bagaimana mungkin aku bisa melukisnya, ketika wajah indahnya kini telah terhijab dariku. Aku mencintainya sebagai masa laluku yang teraniaya sebab ketidakdewasaanku. Aku mencintai masa-masa indah bersamanya dulu. Masa dimana dan kemanapun pandanganku ku arahkan, maka yang kulihat adalah sajak-sajak indah. Sajak-sajak indah yang telah membuatku mengerti arti sebuah rasa. Dan mampukah esok malam, dan malam-malam seterusnya aku melaluinya tanpa menangis lagi? Jika tidak Kau hilangkan gundah dan risaunya hatiku, maka malam akan selalu menjadi momok paling menakutkan dalam hidupku. Dan jika aku terus terluka karnanya, adakah waktuku yang tersisa untuk mengingat-Mu sebagai Tuhanku?


Ya Allah, jika memang dia tidak Kau takdirkan untukku, maka hilangkanlah ingatanku tentangnya. Hilangkanlah segala rasa tidak enak dalam hatiku. Jangankan bertemu, mendengar tentangnyapun jangan. Kau Pencipta rasa ini, Kau Maha membolak-balikkan hati. Dan sebaliknya, jika Kau perkenankan segala harapan dan rintihanku malam ini, maka batalkan hubungan itu ya Allah, jadikan wanita itu menjadi milikku seutuhnya. Dan Apapun yang Engkau inginkan dariku, akan aku lakukan. Nazarku tak terhingga. Akibat rasa syukurku sedalam lautan. Bahkan jika harus menukar segala pahala yang kumiliki dengan tubuh dan jiwa Hafiza, aku bersedia.


"Berbahagialah kau Hafiza. Kutunggu kau sampai Allah berkehendak.” Kata Faris berusaha tegar. Dia kemudian melangkah ke arah sepeda motornya, menghidupkannya lalu perlahan meninggalkan dermaga.

__ADS_1


...******...


Jam di dinding telah menunjukkan pukul 3 ketika Faris selesai melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Entah shalat sunnah apa itu, ia tak mengerti. Ia hanya mengerti tema yang ia susun malam itu. Malam tanpa tangis dan duka , tentunya dengan shalat dan zikir. Dan ia merasa sudah bisa meraihnya. Ada sedikit ketenangan yang mulai terasa menyelinap dan menetap di hatinya. Pikirannyapun tidak mencoba untuk merayu kedua matanya untuk menangis lagi. Segala yang telah dilaluinya tadi, sebisa mungkin ia simpan dalam sedikit ruang kosong di kepalanya. Segala tentang Hafiza dan kisahnya, ingin ia kubur dalam-dalam malam ini. Tak akan ada yang tersisa. Termasuk mungkin gambar Hafiza yang sempat ia cetak beberapa minggu lalu. Tapi ia tidak tahu mau diapakan gambar itu. Gambar cantik ketika Hafiza sedang berpose manis dengan kerudung biru,di sebuah bis ketika ziarah makam yang diadakan pondok pesantren tempatnya nyantri. Photo itu dulu ia curi dari ponsel salah satu saudarinya, yang kebetulan sangat dekat dengan Hafiza. Photo itu lalu ia cetak dan dipajangnya di kamar. Warna biru itulah yang kemudian menjadi warna pavorit baru Faris. Sebuah warna yang selalu ia identikkan dengan sosok Hafiza. Ketika ia menatap sesuatu yang biru, seketika seakan-akan bercerita semua tentang Hafiza. Lebih-lebih ketika melihat bunga Telang, bunga pavoritnya. Tidak hanya senang melihatnya, tapi rebusan air bunga itu menjadi minuman yang selalu menemaninya ketika menikmati pagi. Ketika meminumnya, ia merasakan seolah-olah sari, rasa dan kecantikan serta denyut jantung Hafiza masuk dan menyatu dalam tubuhnya.


Tapi Ia tak akan membakar ataupun merobek photo itu. Ia ingin menyimpannya di tempat yang sulit dijamah matanya. Ia sudah memikirkan tempat membuangnya. Mungkin yang tepat di atas plavon rumah. Biarkan kenangan terakhir itu hilang, walaupun di tempat yang sesekali waktu bisa ia ambil jika ia mau. Sampai tikus-tikus atau rayap di plavon rumah ********** habis. Tapi ia tidak akan pernah mengambilnya kembali. Bila perlu, tangga di luar rumah akan ia bakar, agar tidak ada lagi alasan untuk naik mengambil photo itu. Lagi pula, itu hanya selembar photo dan tak akan berarti apa-apa baginya.


Kenapa aku yang harus berduka, ketika orang yang membuatku berduka menikmati keadaan yang sangat berbeda? Kenapa Aku harus menangis, ketika dia sedang tersenyum bahagia? Gilakah aku? Umpat Faris dalam hati.

__ADS_1


Faris melipat photo itu menjadi lipatan kecil, dan memasukkannya ke dalam lembaran buku dengan mata tertutup. Ia lalu melemparkannya ke atas plavon rumah. Faris membuka matanya yang mulai berlinang. Lemah tangannya menggelar sajadah, pun juga ketika ia duduk bersila dan memulai memutar butir-butir tasbih di tangannya. Dan Faris mendesah panjang.


__ADS_2