JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#26


__ADS_3

Pagi ini angin yang berhembus cukup sejuk membelai wajah Hafiza yang duduk manis di depan rumahnya. Setelah tadi ia berkutat dengan aktifitas paginya di halaman rumah maupun di dapur, kini ia merasa kesepian setelah ditinggal Raka. Pagi-pagi sekali, setelah shalat subuh berjamaah, Raka sudah rapi dengan pakaian dinasnya. Dia diterima kerja sebagai sekretaris di kantor pertanahan dan hari ini adalah hari pertamanya kerja. Gajinya cukup. Satu juta setengah perbulannya. Walaupun menurut Raka itu jumlah yang sedikit bila dibandingkan dengan gelar yang ia dapatkan di salah satu Universitas ternama di Mataram, tapi bagi Hafiza, itu lebih dari cukup dari pada tidak punya pekerjaan sama sekali.


Andaikan saja Raka mengijinkannya untuk berjualan gorengan di sekolah terdekat, sedikit tidak ada penghasilan tambahan untuk membantu perekonomian keluarga sambil menunggu gaji pertamanya nanti cair. Tapi Raka melarangnya. Katanya ia malu jika istrinya jualan gorengan. Tambahan lagi, itu akan merusak reputasinya. Itu kata kunci dari Raka setiap Hafiza melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan ibu-ibu tetangganya. Dan Hafiza hanya mengiyakan saja, walaupun ia merasa jenuh tanpa aktifitas di rumah.


Ia yakin Raka sudah berubah. Semenjak pertengkarannya seminggu lalu, Raka benar-benar menepati janjinya untuk lebih memperhatikannya. Termasuk kebiasaannya pulang malam.


Hafiza melirik ke arah perutnya. Merasa kesepian seperti itu, ia jadi berpikir untuk segera memiliki anak. Dia yakin Raka akan setuju dan anak itu kelak akan menambah keceriaan dalam keluarganya. Kata orang, jika sudah punya anak, seseorang akan menjadi lebih dewasa dan perhatiannya pada keluarga lebih terfokus.


Hafiza mendesah. Ia jadi teringat Nabil. Sudah seminggu ia tidak bertemu dengannya. Kasni tidak pernah datang lagi berkunjung. Mungkin Raka sudah memarahinya atau mungkin ia sudah bosan datang mengganggunya. Yang jelas, dengan perubahan yang ia rasakan saat ini dalam rumah tangganya, keluarga bahagia yang diimpikannya akhirnya menjadi kenyataan.


Terdengar bunyi hp berdering dari dalam rumah. Hafiza bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Hp yang masih tergeletak di atas ranjang diambil dan menyalakannya. Sebuah pesan singkat. Ketika membukanya, itu dari Raka.


"Kakak mungkin akan pulang agak malam. Bos menyuruh kakak lembur malam ini, ini training kerja kakak, baik-baik di rumah, mmmuach."


Hafiza mendesah. Kesepiannya akan sangat panjang hari ini sampai malam nanti.


*


Seorang wanita cantik berjilbab merah meletakkan tumpukan map di atas meja tempat Raka sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer. Raka melirik. Melihat tumpukan kertas di atas meja, ia menggaruk-garuk kepalanya.


"Kita bagi ya Kak, sama kok, aku juga dapat pekerjaan banyak," kata wanita itu sambil tersenyum melihat Raka menggaruk kepalanya. Mendengar suara lembut dan ramah wanita itu, Raka memperhatikan wajahnya. Merasa dilihat Raka, wanita itu tersenyum dan duduk di kursinya. Ia terlihat mulai memeriksa kertas-kertas di depannya. Ia menunduk tapi diam-diam melirik ke arah Raka. Ia tersenyum. Pegawai baru itu ganteng dan ia merasa tidak apa-apa semalaman bekerja malam ini. Minimal, walaupun mereka akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ia masih bisa meliriknya sambil cuci mata. Ia ingin Raka tahu ia sedang diperhatikan, dan ia akan tahu apakah laki-laki itu tertarik kepadanya atau tidak.


Di sisi lain, Raka juga punya pemikiran yang sama dengan gadis di depannya. Melihatnya sesekali membuatnya ketagihan. Wajahnya cantik dengan bola mata bening. Lesung pipi sebelah yang tampak ketika ia tersenyum, menambah kesan ramah wanita itu.


"Kak, bisa bantu sebentar gak, komputerku kok gak bisa dibuka," kata wanita itu sambil tersenyum ke arah Raka. Raka melepas remote komputer di tangannya dan melangkah mendekati wanita itu. Setelah beberapa saat memeriksa komputer, wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih Kak," katanya tersipu malu. Raka menoleh keluar. Beberapa rekan kantornya yang lain masih terlihat di ruangan masing-masing. Raka menyodorkan tangannya. Wanita itu melirik malu. Agak lama tapi akhirnya wanita menyambut tangan Raka.


"Raka," kata Raka memperkenalkan namanya. Wanita itu kembali tersenyum


"Delisa,"


Raka melepaskan pegangan tangannya dan kembali ke meja kerjanya. Hawa hangat tangan delisa masih terasa di tangannya. Sepertinya wanita itu seperti enggan melepas pegangan tangannya. Jika tidak karna takut dilihat orang, ia tidak akan melepaskan tangan wanita itu.


"Gak dimarahi suaminya lembur-lembur malam-malam begini," kata Raka disela-sela mengetiknya. Delisa tersenyum. Ia tak menjawab.


"Kok diam," Raka mencoba kedua kalinya. Delisa masih tersenyum. Ia sibuk mencatat sesuatu di sebuah buku di sampingnya. Raka mengernyitkan dahinya. Ia merasa tersinggung tidak ada jawaban dari Delisa.


"Saya belum punya suami. Kalau dulu punya," terdengar jawaban dari Delisa setelah beberapa saat terdiam. Raka mengangguk faham.


"Dulu punya, tapi sekarang gak punya, jadi gak ada yang marahin," kata Delisa. Dada Raka berdebar.


"Sudah lama kerja di sini," tanya Raka.


"Baru 5 bulan Kak,..., gak apa-apa ya saya panggil kakak. Soalnya kalau panggil Ka, nanggung, sekalian saja panggil kak,"kata Delisa. Raka mengangguk sambil tersenyum menatap Delisa. Siapa yang gak suka dipanggil kakak oleh wanita secantik Delisa.


Sebuah pesan singkat masuk. Raka melirik ponselnya di atas meja. Bergantian melirik ke arah Delisa. Ia meraih ponselnya dan meletakkannya di pahanya. Pesan dari Hafiza. Raka mendesah kasar. Ia tampak tidak senang. Tak sampai selesai membacanya, ia memasukkan hp nya ke dalam sakunya.


"Dari istrinya Kakak ya," tanya Delisa ketika melihat Raka memasukkan ponselnya. Raka terlihat bingung menjawab.


"Ya nih, padahal sudah saya kasih tahu kalau malam ini lembur," kata Raka setelah beberapa saat terdiam memikirkan jawaban.

__ADS_1


Delisa bangkit dan melangkah menuju meja Raka. Segelas kopi yang sudah dihabiskan Raka diambilnya. Ia lalu meletakkannya di sisi mejanya. Lenggok pinggulnya yang terbungkus rok ketat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh bagian bawahnya, membuat Raka hanya bisa menelan ludah.


Raka mendesah. Melihat Delisa yang diam tanpa bertanya lagi, ia jadi berpikir, mungkin Delisa kecewa karna tahu dia sudah beristri.


"Gak ngopi lagi Kak, sekalian, aku juga mau buat kopi."


Raka tersenyum. Kata-kata lembut Delisa kembali membangkitkan semangatnya. Raka mengangguk dan tersenyum. Delisa mengambil kembali gelas di sampingnya dan melangkah menuju dapur. Raka tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat lenggok tubuh Delisa yang berjalan menuju dapur. Raka mendesah pelan.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul satu malam. Beberapa orang yang lembur di ruangan lain, satu persatu mulai pamit pulang. Tinggal Raka dan Delisa.


"Kamu gak pulang?" tanya Raka ketika melihat Delisa sama sekali tak terpengaruh dengan kepulangan yang lain.


"Saya biasa nginep di sini Kak, tuh, di rumah Kak Maryam," kata Delisa sambil menunjuk ke rumah dinas sebelah kantor.


"Kakak saja yang pulang, ntar dimarahin lagi sama istrinya," canda Delisa.


"Jauh Dik, Kakak nginepnya di sini saja biar besok gak telat ngantor," jawab Raka.


"Asyik dong ada yang nemenin Delisa di sini."


Raka terdiam. Gerak-gerik serta nada bicara Delisa mulai mengaburkan sisi hati yang ditempati Hafiza. Wanita itu terus menerus memancing seleranya untuk ikut tenggelam dalam setiap ucapannya yang penuh *******. Tapi ia sadar, ia orang baru di tempat itu. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan agar diterima sebagai pegawai tetap.


Terdengar Delisa menguap. Raka menoleh. Dilihatnya Delisa sedang merapika beberapa lembar kertas dan map di depannya dan memasukkannya ke dalam laci meja. Ia bangkit dan melangkah menuju Raka.


"Kak, aku duluan ya. Sudah ngantuk nih. Aku ucapkan selamat bekerja ya," kata Delisa sambil tersenyum manja ke arah Raka. Raka mengangguk dan membalas senyuman Delisa. Delisa keluar dan lagi-lagi Raka dibuatnya terperangah dengan lenggak lenggok tubuh Delisa yang seperti dibuat-buat. Raka mendesah. Komputer di depannya dimatikannya dan melangkah menuju sofa panjang di depannya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2