JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#12


__ADS_3

Faris tersenyum. Dia memantapkan hatinya untuk membenarkan bahwa saat ini memang itulah yang terjadi. Itulah yang kini akan dikatakan Hafiza. Dan inilah alasannya untuk membawa serta photo itu dalam saku jaketnya, setelah beberapa hari yang lalu ia melemparkannya ke atas plavon rumah. Tak ada yang harus tersisa apa yang nampak dan nyata dalam diri Hafiza. Biarlah wanita itu jadi kenangan indah dalam hatinya. Seiring waktu ia akan bisa hidup layak tanpa kehadirannya. Faris melipat kembali kertas photo di tangannya. Ia mendesah dan mendongak ke atas. Tatapannya menerawang jauh, mencoba menahan benih-benih air mata yang ingin sekali tumpah. Kembali Faris mendesah. Keras mengalahkan hempasan angin.


Faris mengambil sepotong kayu yang tergeletak di dekatnya. Ia bersimpuh di atas pasir. Untuk beberapa saat ia terdiam dan sejurus kemudian ia menggenggam erat sepotong kayu di tangannya. Perlahan ia mulai menggali pasir di depannya. Setelah dianggapnya cukup dalam, ia berhenti menggali. Kembali ia membuka lipatan kertas photo di tangannya. Setelah merasa puas memandangnya, ia kemudian menciumnya dengan penuh penjiwaan.


“Duhai engkau yang menjadikanku musisi jalanan. Duhai engkau yang membuatku cekatan merangkai kata demi kata yang berserak, menjadi sajak yang indah. Duhai engkau yang rela basah di bawah derasnya guyuran hujan, ketika hendak memperlihatkan bukti cintamu padaku. Pernah kau mengingat lagi bagaimana kita memadu kasih dahulu? Jika ada waktu, aku ingin sekali mengajakmu duduk sejenak, mengingatkanmu tentang kata dan pembicaraan yang dulu pernah terlontar dari mulut kita. Ingatkah kau sajak-sajak cinta yang pernah kugubah untukmu. Juga lagu yang sering aku nyanyikan untuk memuji kecantikanmu. Ingatkah kau ketika berdua menghabiskan waktu di beranda sebuah rumah, selepas isya’. Waktu itu Kau menangis saudariku. Kau menangis sebab aku meragukanmu mencintaiku. Pastinya kau ingat ketika aku meminta maaf dan membelai wajah dan rambutmu lembut. Itu puncak bahagia yang aku rasakan. Duhai itu akan aku bawa sampai mati.


Duhai engkau yang pernah menggenggam tanganku, menguatkanku untuk tetap mencintaimu dan bersamamu. Duhai engkau yang pernah kukecup wanginya keningmu. Duhai engkau yang pernah menemaniku di beranda malam, merangkai indahnya rasa kebersamaan dalam mencintai. Duhai engkau yang selalu mengerti aroma dan rasa kopi hitamku. Duhai engkau, yang bayanganmu telah jadi lukisan abadi di setiap ruang mataku memandang. Duhai engkau yang selalu mengijinkanku menjamah selendangmu. Duhai Engkau adalah kumpulan shohifah yang menguntai nada-nada indah nan menakjubkan pembacanya. Duhai engkau yang tak terhitung syair dan lagu yang tercipta karenamu. Duhai engkau imaji terindahku. Duhai engkau yang pernah berdansa denganku di atas kereta kencana. Duhai engkau yang akan selalu bertahta di hatiku. Duhai engkau yang pernah menangis karnaku. Aku telah membayarnya dengan tangisku yang mungkin melebihi tangismu. Aku sudah merasakan bagaimana sakitnya hatiku ketika serpihan kaca menyayat lukanya. Duhai engkau yang jika saja melihatku menangis, kau tak akan pernah menganggapku mengada-ada. Aku menangisimu saudariku. Duhai Aku yang tak akan melupakanmu dalam dunia imajiku. Duhai engkau yang harus tahu, aku menginginkanmu kelak di akhiratku. Aku yang selalu menyertakan lantunan Fatehahku untukmu lewat pawana yang berhembus. Aku pun berdoa kaupun jua menginginkannya. Setidak-tidaknya, ketika kau mengingatku walau sejenak, itu adalah amin-mu atas doa terselubungku. Dan Berbahagialah dengan doaku. Kemanapun dan dengan siapapun kau menjalani hidupmu, sajakku akan selalu tersimpan di relung hatimu. Akan terus mengikutimu. Kau akan mengingatnya, walaupun sebait, tentunya ketika kau membutuhkannya.”.


Air mata Faris mengalir bersamaan dengan dilipatnya kembali kertas photo itu menjadi lipatan yang lebih kecil. Ia lalu melemparkannya ke dalam lubang yang telah digalinya dan kemudian menimbunnya kembali. Habis sudah yang tersisa selain kenangan yang tersimpan dalam hatinya. Biarkanlah hanya dia dan Tuhan yang tahu, betapa di kedalaman hatinya, ia terus berharap, jika tidak di dunia, Allah akan menganugrahinya Hafiza kelak di kehidupan yang lebih abadi. Dipan dunia mungkin tak layak untuk persandingannya di dunia. Kamar pengantin dunia tak akan pernah sepadan dengan detak bahagia sang pengantin.


Tak terasa senja telah berlabuh. Sejengkal lagi sang mentari akan tenggelam dan kembali ke peraduannya. Angin semakin dingin, memaksa Faris meninggalkan tempat itu. Meninggalkan segala kenangan yang menyiksa batinnya. Malam nanti adalah akhir dari segalanya. Ia harus menyambut hari baru. Perlahan hingga ia akhirnya mendapatkan kehidupan yang baru. Terdengar nyanyian sumbang dari mulutnya, mengikuti langkah kakinya menuju tempat sepeda motornya terparkir.


“Hai, anggap semua tragedi yang menimpa dalam hidup, adalah lelucon yang patut ditertawakan. Segala yang menyakitkan dan duka adalah sesuatu yang lucu, yang membuatmu tertawa ketika menjumpainya. Tragedi akan selalu datang dalam hidupmu, selama engkau masih bernafas. Ia akan datang silih berganti dengan kebahagiaanmu. Jika itu sudah bisa engkau lakukan, maka kau tidak akan pernah lagi menangisi rasa sakit dan kehilanganmu. Engkau akan berkata, itu sudah biasa. Itu memang yang akan terjadi dalam hidup.”


*******

__ADS_1


Sementara di tempat lain. Hafiza dan Raka masih menikmati suasana senja di tepi pantai. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Kebersamaan yang mereka rasakan begitu indah, sehingga benar kata pujangga, dua orang yang tenggelam dalam cinta, tak akan menghiraukan kehadiran siapapun di dekat mereka. Bahkan dengan gelap yang mulai menyelimuti alam.


Mereka berdua seakan-akan telah tenggelam bersama gedebur ombak yang menghembas pantai.


Dan ketika matahari perlahan mulai tenggelam, mereka masih enggan beranjak dari tempat mereka. Dua tangan yang saling berpegangan seperti enggan melepas satu sama lain. Sesekali Raka menjamah kepala Hafiza dan mencium keningnya. Hafiza merasakan getaran yang menerobos memenuhi rongga-rongga tubuhnya. Indah dan amat membahagiakan. Bahagia yang tiada taranya. Inilah yang diinginkan Hafiza. Raka hadir menenangkannya setelah sebelumnya tadi, dia harus menghadapi perkara yang tak pernah sama sekali ia bayangkan. Dan kini semua kemelut dalam hatinya telah hilang. Ia yakin Raka bisa mengatasinya, dan tentunya ia tidak akan mengalami lagi kejadian yang tidak mengenakkan seperti sore tadi.


“Hampir malam. Kita harus pulang. Orang-orang pasti mencari kita. Bukankah malam ini kita akan menyelesaikan perkara kita. Aku ingin kamu segera halal untukku.” Raka mengusap kepala Hafiza lembut. Hafiza tersenyum. Dipegangnya pipi Raka dan menyandarkan dagunya di kaki Raka yang diangkat sebelah. Hafiza bergelayut manja seperti gadis kecil yang pernah digendong Raka bertahun-tahun lalu.


“Tapi Kasni ada di sana. Aku takut dia akan mengacaukan pernikahan kita,” kata Hafiza mencoba mempertegas. Ia ingin mendengar jawaban dan sikap Raka. Raka bangkit dan menarik lembut tangan Hafiza. Keduanya kini berdiri berhadapan. Keduanya saling berbalas senyum. Raka mencium kening Hafiza. Hafiza memegang kedua telapak tangan Raka dan menciumnya. Raka tak menjawab, tapi ciumannya yang lembut sudah cukup bagi Hafiza untuk mengambil kesimpulan, bahwa semua akan baik-baik saja.


Alam mulai berselubung gelap. Gedebur ombak yang menghempas bibir pantai, menghapus jejak-jejak kaki manusia yang lalu lalang siang tadi. Suara angin yang menderu meniup dedaunan, seperti gabungan musik yang mengiringi kepergian Raka dan Hafiza. Suara burung laut sesekali lantang terdengar, mengisi di antara ruang kosong yang ditinggalkan gedebur ombak.


Suara musik terdengar ramai memecah malam ba’da isya. Orang-orang terlihat mulai berkumpul di halaman sebuah rumah bercat hijau. Para tamu undangan juga nampak sudah bersila di teras dan halaman rumah yang sudah dipersiapkan tuan rumah. Beberapa rombongan tamu undangan yang baru tiba, juga terlihat disambut beberapa orang yang berdiri di pintu gerbang rumah. Beberapa orang yang lain juga nampak sibuk lalu lalang mempersiapkan hidangan di antara suara riuh orang-orang yang hendak menyaksikan akad nikah malam itu.


Di antara orang-orang, juga terlihat Faris memasuki tempat acara. Ia nampak kikuk, tapi seperti sedang berusaha menstabilkan debar jantungnya. Ia berjanji akan tenang. Ia berjanji esok pagi ia akan datang dengan orang yang baru. Yang akan menggantikan tempat Hafiza di hatinya.

__ADS_1


Hafiza masih tersenyum memandang dirinya di depan cermin. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya, membuatnya merasa benar-benar sempurna memantapkan langkahnya. Terlihat lebih cantik dari biasanya. Benar-benar seorang ratu yang akan membuat mata yang melihat terpukau.


Suara pintu kamar terdengar dibuka. Hafiza menoleh. Tampak olehnya Raka dengan setelan jas putih berdiri di depan pintu. Hafiza tersenyum dan mendekat ke arah Raka. Pelan ia berbisik di telinga Raka,“Kamu tampan.”


Raka tersenyum dan mencium kening Hafiza lembut.


“Acaranya akan segera dimulai. Orang-orang sudah menunggu kita.” Kembali Hafiza tersenyum dan memegang tangan Raka. Keduanyapun keluar dan melangkah menuju tempat acara. Tapi tiba-tiba saja dengan spontan Raka melepas pegangan tangan Hafiza. Ketika Hafiza hendak meraih tangan Raka kembali, Raka mendorongnya. Langkah Hafiza terhenti. Ia heran dengan perubahan sikap Raka yang tiba-tiba. Ia juga merasa malu ketika menyadari orang-orang yang berkerumun melihat kejadian itu. Ada apa dengan Raka?" Batin Hafiza keheranan. Ia menoleh, mencoba mencari tahu apa gerangan yang membuat Raka tiba-tiba berubah sikap.


Hafiza kembali melangkah menyusul Raka. Sambil terus menelisik sekitarnya. Dan ia melihat wajah seseorang di antara kerumunan orang-orang. Itu Kasni yang kini seperti menatapnya dengan penuh kebencian. Itu mungkin penyebab Raka spontan melepas pegangan tangannya. Raka mungkin malu, atau mungkin juga takut Kasni melihatnya begitu mesra dengannya. Atau mungkin Raka hanya ingin menjaga perasaan mantan istrinya. Tapi apapun alasannya, tak seharusnya ia mengorbankan perasaanku,” gumam Hafiza setengah kesal.


Hafiza duduk di dekat Raka ketika sudah sampai di tempat acara. Persis di depannya, Faris terlihat menunduk dan sesekali tampak kaku menghisap rokok di tangannya. Ingin sekali ia mengangkat sedikit saja kepalanya untuk melihat sekilas wajah Hafiza, tapi ia merasakan kepalanya terasa berat untuk diangkat. Kibasan angin dari kipas angin di depannya, tak mampu mengusir keringat yang mulai membasahi sekujur tubuhnya. Sungguh menyiksa. Belum lagi memikirkan gumaman nakal orang-orang yang sudah tahu perasaannya kepada Hafiza. Entah, mungkin kini mereka saling berbisik satu sama lain. Atau merasa iba melihatnya. Ia sama sekali merasa tak mampu menoleh. Ingin sekali ia berdiri dan meninggalkan acara itu, tapi segala yang ia pikirkan tak mampu ia lakukan. Tempat duduknya kini seperti sudah menenggelamkan tubuhnya. Seperti mengikatnya hingga untuk bergerakpun ia merasa kesulitan. Hingga tak tak terasa waktu terus berjalan, dan ia tersadar bahwa kini acara sudah memasuki acara yang terakhir.


Faris berdiri tegap dengan tangan bersedekap. Ia harus siap-siap menanti kedatangan Hafiza dan suaminya untuk menyalaminya. Ia tak boleh merasa kikuk walaupun sekujur tubuhnya mulai bergetar. Ia hanya menunggu Hafiza dan tak sadar kalau Raka telah menyalaminya. Kini Hafiza lah yang ada di hadapannya. Faris tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan yang keluar dari air mata yang terlihat di ujung matanya. Tangan Hafiza yang hangat ketika ia menyalaminya, serta tatapan dan senyuman membuatnya benar-benar terluka. Mata indah itu akan jadi milik Raka. Tangan lembut nan indah itu akan jadi milik Raka. Senyuman itu akan jadi lukisan indah milik Raka. Tubuhnya pun kini sepenuhnya akan jadi milik Raka.


"Selamat!" Bisik Faris ketika ia melepas tangan Hafiza.

__ADS_1


"Terimakasih kak," jawab Hafiza sambil tersenyum kecil kepada Faris. Hafiza pun berlalu menyalami yang lain.


Malam benderang dengan rembulan purna di atas hamparan biru langit. Dedaunan seperti bermandikan akan cahayanya yang jernih. Lagu pesta sejam yang lalu telah di tutup. Para tamu undangan sudah lama membubarkan diri


__ADS_2