
Ada baiknya malam ini ia tafakkur di atas sajadahnya. Menghanyutkan dirinya sejenak ke dalam sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa ini semua adalah ujian dari Allah swt. Kesadaran bahwa karma itu nyata. Jika ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka berprilakulah yang baik kepada orang lain. Sekecil apapun kebaikan dan kejelekan yang kita perbuat, akibatnya pasti diterima. Sebab baik berakibat baik, demikanpun sebaliknya. Kini ia merasakan apa yang mungkin dulu dirasakan oleh Hafiza. Sakitnya yang begitu menyesakkan dada. Entah, butuh berapa lama untuk benar-benar bisa menghilangkannya. Dia bertekad akan menghabiskan sisa malam dengan berzikir sebanyak mungkin bahkan tak terhingga. Terus berzikir hingga ia benar-benar lupa, bahwa saat ini ia sedang berduka.
Tapi tak sepenuhnya Faris telah terbebas dari bayang-bayang Hafiza. Bayangan Hafiza yang singkat berkelebat dalam ingatannya, acap kali membuyarkan konsentrasinya. Kesadarannya untuk menerima ketentuan Tuhan, mulai bertarung dengan harapannya agar Tuhan mengabulkan doanya. Harapan agar segera melupakan Hafiza, dan harapan agar pernikahan Hafiza dengan Raka batal, seperti saling berebut minta didahulukan untuk dikabulkan. Konsentrasi Faris benar-benar kembali pecah. Ia sudah tidak khusyu’ lagi dan mulai merasa tidak nyaman dengan suasana yang semakin panas. Hentakan kepalanya ketika berzikir, yang sebelumnya laksana penari SEMA menjadi tidak beraturan, mengikuti perang yang berkecamuk dalam batinnya. Suara zikirnya terdengar semakin keras, namun sejurus kemudian menjadi semakin lemah. Semakin melemah mengikuti tubuhnya yang tak disadarinya telah terhempas di atas sajadahnya. Faris menangis. Tubuhnya terbujur lemah. Tatapannya menerawang kosong menembus kegelapan pikirannya.
__ADS_1
Memang benarlah apa yang sering ia dengar. Apapun kegiatan ibadah, yang tidak diringi niat karena Allah, maka yang akan didapatkan hanyalah angka nol. Nihil dan hanya menyisakan kesia-siaan. Yang membuat hati kusut menjadi lebih kusut. Membuat keyakinan semakin memudar, pun juga semangat menyembah yang perlahan pasti akan hilang. Sebab kebanyakan yang dituntut adalah pemaksaan kepada Sang Pencipta untuk segera memenuhi kemauannya. Bukan kerelaan menerima apapun yang diputuskan-Nya. Tuhan selalu menjadi yang terakhir diminta bantuan, ketika sudah merasa makhluk yang lain tak punya daya serta upaya untuk menolong. Malam yang tadinya khusyu’ mengamini, berganti dengan provokasi panjang agar melata malam menyorakinya pecundang.
...****...
__ADS_1
Oya, ia harus segera bangun. Sebagai pengantin baru, Ia harus memperlihatkan kepada orang tua dan keluarga Raka, bahwa ia layak menjadi istri Raka dan menantu mereka. Ia harus membersihkan halaman, mencuci piring dan gelas sisa tamu tadi malam ketika menjenguknya. Harus sebersih mungkin, hingga satu daun keringpun tak ada yang tersisa di halaman rumahnya. Kata orang-orang yang sudah menikah, kita harus pintar-pintar mengambil hati orang tua dan keluarga suami.
Hafiza mulai berbenah. Merapikan pakaian yang dikenakannya lalu melangkah ke luar rumah.
__ADS_1