
Hafiza mulai menyusuri gelap jalan setapak di depannya. Dia harus berjalan cepat untuk menghindari keluarga Raka yang mungkin sudah menyadari kepergiannya, walaupun kemungkinannya kecil. Walaupun dadanya masih terasa nyeri setiap ia melangkah, namun ia harus secepatnya sampai di jalan besar, kira-kira satu kilo di depannya.
Suasana di jalan nampak lengang dan sepi. Suara-suara menakutkan dari ranting-ranting pepohonan di sepanjang jalan, membuat Hafiza ketakutan. Namun ia terus berjalan menahan rasa sakit di dadanya. Malam ini, ia harus menemukan tempat menginap sebelum melanjutkan perjalanannya. Ia sudah menutuskan untuk menemui salah satu temannya di perbatasan kabupaten. Dan untuk selanjutnya, ia akan menyerahkannya kepada takdir kemana kakinya akan dilangkahkan.
Hafiza menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di pertigaan jalan. Suasana di jalan itu terlihat sepi. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas di depannya. Hafiza mendesah. Tak seperti yang ia bayangkan. Kios-kios di pinggir jalan sudah tutup. Keinginannya untuk menjual cincin dan kalung emas miliknya urung dilakukannya. Dengan kondisi jalan yang sepi, dan ia satu-satunya perempuan di tengah jalan yang sepi, membuat Hafiza mulai panik. Ia takut ada orang orang jahat yang menyadari kesendiriannya dan berbuat yang tidak-tidak kepadanya, atau penduduk desa itu akan meneriakinya maling. Hafiza menoleh kesana kemari. Ia ingat, ketika melewati jalan setapak di belakangnya, ia sempat melihat pondok kecil di pinggir sawah. Jaraknya sekitar tiga ratus meter dari tempatnya kini berada. Ia harus segera kesana, karna hatinya mulai was-was terhadap hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Hafiza segera bergegas. Pisau kecil yang terselip di balik bajunya di pegangnya dan berjalan lebih cepat.
Hafiza menghentikan langkahnya. Nafasnya masih terengah-engah. Ia kini sudah sampai di depan sebuah gubuk di tepi sawah pinggir jalan. Ia segera mendekat dengan pelan dan hati-hati. Senter ponsel dinyalakannya dan mulai memeriksa sekitar pondok.
Pondok itu kosong. Pemiliknya sepertinya tidak lagi menempati pondok itu. Hafiza mengarahkan sinar senternya ke arah sawah. Ia melihat bayang-batang merambat tanaman semangka yang sebagian sudah kering. Itu artinya, pemilik sawah telah memanen semangkanya dan tak lagi menjaganya jika malam. Ia akan bermalam di pondok itu. Subuh nanti ia harus cepat-cepat pergi sebelum pemiliknya datang.
Hafiza mulai mengumpulkan jerami-jerami yang berserakan di dalam pondok. Pintu pondok yang hanya ditabiri kelambu lusuh, ia ikat kembali.
Angin bertiup dingin. Walaupun tumpukan jerami itu membuat seluruh tubuhnya gatal, tapi mau tidak mau ia harus mencari kehangatan di balik tumpukan jerami itu.
Terdengar dari kejauhan beberapa langkah kaki. Hafiza bangkit. Matanya awas memperhatikan suasana gelap di sekitarnya. Nafasnya turun naik setengah ditahan. Degup jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kita tunggu di pondok itu dulu. Jam 3 nanti kita mulai operasi." Terdengar seorang laki-laki berbicara tak jauh dari pondok. Orang-orang itu masih terdengar berbincang di jalan. Jika yang ia dengar tadi tidak salah, maka ia harus segera keluar dari pondok dan segera mencari tempat bersembunyi.
Dengan pelan Hafiza mengendap keluar pondok. Ia harus segera melewati pematang sawah dan bersembunyi di sawah sebelahnya. Suara beberapa orang itu semakin terdengar dekat. Hafiza mempercepat langkahnya. Hafiza menemukan tumpukan jerami yang menggunung di depannya. Ia segera menyembunyikan tubuhnya di dalam tumpukan jerami itu.
"Kita telat bro." Dada Hafiza berdebar. Suara laki-laki itu seperti berada di depannya. Hafiza menatap tubuhnya, takut ada dari anggota tubuhnya yang luput dari tumpukan jerami.
Seseorang itu menyalakan senternya ke tengah sawah. Hafiza memejamkan matanya. Ia pasrah dan mulai berdoa.
__ADS_1
"Apanya yang telat," terlihat salah seorang temannya mendekat.
"Itu, semangkanya sudah dipanen,"
"Ini, aku dapat satu, besar lagi," kata salah seorang lagi terdengar mendekat.
"Kalau gitu, kita makan di sini saja,"
Tiga orang itu terlihat duduk dan mulai memakan semangka yang mereka belah. Hafiza berharap malam ini batuknya tidak kambuh, atau orang-orang itu segera menjauh dari tempatnya. Jaraknya dengan orang-orang itu hanya lima meter saja. Itu sangat mencemaskannya.
"Hebat juga pak Ridwan, sudah dua kali ini dia tanam padi," kata salah seorang. Ia mengarahkan sinar senternya ke arah tumpukan jerami tempat Hafiza bersembunyi. Hafiza memejamkan matanya.
"Masih ingat gak waktu kecil dulu, kita paling suka jungkir balik di tumpukan jerami," kata salah seorang lagi.
"Ayo kita coba,." Dada Hafiza semakin berdebar. Jika benar mereka akan jungkir balik di tumpukan jerami itu, maka tamatlah riwayatnya. Hafiza memejamkan matanya. Ia benar-benar takut. Ia mulai menyesali perbuatannya meninggalkan rumah tanpa ijin Raka.
"Kira-kira kapan kita akan menerima bayaran yang setengahnya lagi,"
"Setelah kita menghabisi Raka." Mata Hafiza terbelalak, nafasnya kembali tertahan ketika salah seorang dari mereka menyebut nama Raka. Tapi ia harus mendengar lebih seksama lagi pembicaraan orang-orang itu. Ada banyak nama Raka di dunia ini.
"Kenapa sih si Edo begitu dendam sama Raka sampai-sampai menyuruh kita membunuhnya,"
"Biasa, masalah perempuan. Si Raka itu pacaran sama mantan istrinya Edo. Ditambah lagi, Raka mempermalukan Edo di depan orang banyak. Kata Raka, Edo itu impoten sehingga istrinya minta cerai. Aku juga pasti akan membunuh Raka jika dipermalukan seperti itu,"
Hafiza masih mendengar dengan seksama. Suasana malam yang hening, membuat pembicaraan orang-orang itu terdengar jelas di telinganya.
__ADS_1
"Benar kata orang, mulutmu harimaumu. Hanya karna tak berpikir dulu sebelum berkata, kita bisa kehilangan nyawa,"
"Ngomong-ngomong, anak siapa sih si Raka itu. Aku kok gak pernah melihatnya. Aku sering ke desa itu, dan kenal beberapa pemuda di sana, tapi aku belum kenal nama Raka,"
"Dia anaknya memang agak sombong, jarang mau bergaul dengan orang-orang di desanya. Kebanyakan waktu mudanya ia habiskan di kota. Sekarang ia bekerja di dinas pertanahan, satu kantor dengan mantan istri Edo. Memang, siapa yang gak cepat tergoda melihat mantan istri Edo. Cantik dan genit"
Hafiza mengerutkan dahinya. Suatu kebetulankah? Batinnya.
"Apa kira-kira aku kenal orang tuanya?"
"Itu loh, bapaknya dulu pernah jadi saudagar gabah, aku kok lupa namanya, padahal ada di ujung lidahku,"
Sejenak mereka terdiam. Sepertinya salah seorang dari mereka sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Almarhum Haji Siddik maksudnya," kata seseorang.
"Ya, itu, almarhum Haji Siddik,"
Hafiza terperanjat kaget. Ternyata Raka yang mereka maksudkan adalah Raka, suaminya.
"Pantes dia sombong, memang keturunannya. Beberapa kali ia menipu tetanggaku dengan timbangannya yang curang,"
"Katanya si Raka ini juga baru menikah. Istrinya cantik. Kalau mau, kita culik saja dulu istrinya. Kasihan kalau harus ikut terbakar,"
Hafiza memejamkan matanya dan tak henti-henti mengucap syukur dalam hati. Untung saja ia pergi dari rumah itu. Beruntung sekali Raka sedang tidak berada di rumah. Tapi bagaimana jika Raka ternyata pulang?
__ADS_1
"Ya, Allah, lindungi Raka," batin Hafiza. Dia tidak punya daya untuk mencegah orang-orang itu. Kalaupun harus memberitahu penduduk terdekat, malam yang larut serta kondisinya yang lemah akan menyulitkan.
"Juned, Basar, ayo, waktunya berangkat, sudah hampir jam tiga" terdengar suara salah seorang mereka memerintah berangkat. Mereka terlihat bangkit dan segera meninggalkan tempat itu. Setelah suasana benar-benar aman, dengan sangat hati-hati, Hafiza keluar dari tumpukan jerami.