
Terdengar suara sepeda motor di luar rumah. Rumaniati yang sedang berada di dapur buru-buru menyeduh teh yang ia buatkan untuk bu Rahma. Ia lalu keluar. Dilihatnya Faris mendorong sepeda motornya masuk halaman rumah. Rumaniati tersenyum. Diletakkannya teh meja samping bu Rahma duduk. Ia kembali masuk ke dalam rumah.
Bu Rahma bangkit dan berjalan menyongsong Faris. Wajah Faris yang kusam dan tak bersemangat, membuat bu Rahma semakin gelisah.
"Ayo, duduk dulu Nak, istrimu sedang membuatkanmu kopi," kata bu Rahma sambil menggandeng tangan Faris menuju kursi ruang tamu.
Rumaniati meletakkan gelas kopi di atas meja. Ia menyalami Faris dan mencium tangannya.
"Gak mandi dulu Kak," sapa Rumaniati dengan posisi bersimpuh di bawah Faris. Faris menggeleng.
"Nanti dulu, aku masih lelah,"
"Bu, temani kak Faris dulu, saya mau siapkan kak Faris makan siang." Rumaniati. Setelah mendapatkan anggukan dari bu Rahma, ia bangkit dan melangkah ke dalam rumah.
Suasana di teras rumah untuk sesaat menjadi hening setelah kepergian Rumaniati. Bu Rahma melirik ke arah Faris yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ia merasa jiwa Faris sedang tidak berada dalam tubuhnya. Terlihat seperti patung dan sama sekali tak merespon saat beberapa kali ia menoleh ke arahnya.
"Nak, kamu istrahat dulu sana. Sepertinya kamu butuh tidur," kata bu Rahma. Ia memegang tangan Faris. Faris terbuyar dari diam panjangnya.
"Apa Bu," tanya Faris. Rupanya ia tidak mendengar kata-kata ibunya. Bu Rahma tersenyum sembari menggeleng kecil.
"Kamu tidur dulu sana, biar gak melamun terus seperti ini," kata bu Rahma. Faris tak menjawab. Ia menoleh ke arah kopi di sampingnya, mengambilnya lalu menyeruputnya sedikit.
"Bu, saya ke dalam dulu," kata Faris. Ia bangkit.
"Jangan lupa, kamu shalat dulu,"
__ADS_1
Faris mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
"Gak makan dulu, Kak," tawar Rumaniati saat melihat Faris melintas di sampingnya.
"Nanti saja," kata Faris singkat sambil berlalu menuju kamarnya. Rumaniati mendesah. Ditutupnya kembali makanan yang telah dihidangkannya di atas meja. Bu Rahma yang memperhatikannya di depan pintu, melangkah menghampirinya.
"Tunggu kak Farismu istirahat dulu Nak, dia masih lelah," kata-kata bu Rahma mengagetkan Rumaniati.
"Eh, Ibu, Ruman jadi kaget," kata Rumaniati mengelus dada. Bu Rahma semakin mendekat dan merangkul tubuhnya.
"Ayo sana, temani suamimu. Tapi jangan ajak dia bicara dulu kalau dia lagi gak mood," kata Bu Rahma. Ia menatap Rumaniati dengan wajah sedih. Rumaniati mengangguk dan melangkah ke kamarnya. Ia membuka pintu dengan pelan. Dilihatnya Faris sedang berbaring terlentang di ranjang. Wajahnya terlihat kusam dan tak bersahabat. Ia jadi ragu untuk menyapanya. Ia hanya duduk di sisi ranjang, sesekali melirik ke arah Faris yang tak sedikitpun berkedip menatap plavon rumah.
Rumaniati benar-benar tak tahu harus melakukan apa-apa dengan situasi kikuk seperti itu.
"Gak usah Dik, aku hanya ingin berbaring saja, lebih baik kamu istirahat," jawab Faris. Ia menepuk bantal di sebelahnya dan menyuruh Rumaniati berbaring. Hati Rumaniati sedikit lega. Ia tersenyum dan membaringkan tubuhnya pelan di samping Faris. Rumaniati memberanikan diri meletakkan tangan kanannya di dada Faris. Faris tersenyum walaupun terkesan sedikit dipaksakan. Melihat Faris tersenyum, Rumaniati semakin berani mendekatkan tubuhnya lebih dekat. Ia lalu mencium pipi Faris.
"Aku senang melihatmu mau tersenyum lagi. Terimakasih telah membuatku menjadi nyaman kembali di dekatmu," kata Rumaniati setengah berbisik di telinga Faris.
Faris memalingkah wajahnya ke arah Rumaniati dan kembali tersenyum.
"Aku capek sekali Dik, aku mau istirahat sebentar," kata Faris. Pikirannya yang kacau saat ini, membuatnya tak bersemangat meladeni pembicaraan siapapun, termasuk Rumaniati. Tapi ia harus bersikap adil. Rumaniati adalah istrinya. Dia harus menjaga perasaannya.
Suara Adzan ashar terdengar dari arah masjid desa. Rumaniati mengangkat tubuhnya pelan dari pembaringannya. Faris terlihat sudah terlelap dalam tidurnya. Sejenak ia menatap wajah Faris yang masih menyisakan raut-raut kecemasan. Dengan pelan ia mendekatkan bibirnya ke kening Faris, lalu mengecupnya pelan. Ia kemudian keluar dari kamar. Dari balik kaca jendela rumah, ia melihat bu Rahma sedang duduk di kursi teras rumah. Rumaniati melangkah menemuinya dan langsung duduk di sampingnya. Bu Rahma menoleh ketika tiba-tiba Rumaniati duduk di dekatnya. Rumaniati memegang tangan bu Rahma. Ia tahu, bu Rahma saat ini sedang memikirkan cara memberitahukan Faris tentang kematian Hafiza. Mungkin sama dengan apa yang ia rasakan saat ini. Apalagi dengan suasana hati Faris seperti saat ini.
"Bu, Kak Faris sedang tidur. Ia begitu nyenyak sekali. Ibu pergi saja ke rumah bapak, mungkin saat ini bapak dan ibu sedang menunggu kedatangan ibu untuk persiapan pemakaman Hafiza," kata Rumaniati. Bu Rahma mendesah pendek. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Ia benar-benar seperti orang kebingungan.
__ADS_1
"Entahlah Nak, ibu bingung dengan suamimu, rasanya ibu ingin berteriak karna belum tahu apa yang harus ibu lakukan." Bu Rahma menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Rumaniati bangkit dan dengan bersimpuh, ia meletakkan kepalanya di pangkuan bu Rahma. Menyadari itu, bu Rahma mengusap kepalanya lembut.
" Maafkan suamimu Nak, tak seharusnya kamu mendapatkan perlakuan seperti ini. Ibu sudah berusaha semampu ibu membantumu, tapi ibu merasa sudah mengecewakanmu," kata bu Rahma sambil menangis terisak-isak. Rumaniati mengusap air matanya. Ia mendongak menatap bu Rahma.
"Tidak apa -apa Bu, Ruman ikhlas, mungkin ini adalah bentuk pengabdianku pada kak Faris," kata Rumaniati sesenggukan.
"Ibu sudah lelah dengan Faris. Sekarang, ibu tidak lagi mau memikirkan dia, Ibu hanya memikirkanmu. Ibu takut kamu kecewa Nak," bu Rahma mengusap air matanya.
"Itu alasan ibu memutuskan untuk tidak memberitahukan Faris masalah ini. Ibu yakin ia akan bertindak seperti orang gila dan tak mempedulikanmu lagi," sambung bu Rahma.
"Tidak, Bu, Kita harus memberitahukan kak Faris yang sebenarnya. Itu lebih baik daripada membiarkannya mengetahuinya dari orang lain," kata Rumaniati.
Bu Rahma menggeleng tak setuju.
"Ibu sudah tidak peduli lagi. Sikap suamimu membuat ibu tak tenang sejak berita hilangnya Hafiza,"
Rumaniati mendesah. Perlahan ia bangun dan kembali ke tempat duduknya.
"Nak, pulanglah dan tinggalkan Faris. Kamu terlalu baik untuk menemaninya terus di sini," kata bu Rahma tanpa menoleh ke arah Rumaniati. Rumaniati tercengang mendengar kata-kata Rumaniati.
"Bu, kenapa ibu mengatakan seperti itu," tanya Rumaniati heran. Bu Rahma tetap tak menoleh.
"Ibu tak mau melihatmu menangis Nak. Jika nanti Faris sudah tahu kebenarannya, ibu takut dia akan menyakitimu,"
"Aku masih istri sah kak Faris Bu, aku tidak akan kemana-mana sebelum kak Faris menceraikanku," jawab Rumaniati dengan nada lemah sembari menunduk.
__ADS_1