JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#42


__ADS_3

Delisa masih memperhatikan photo Hafiza yang ia ambil di rumah Hajjah Sayuti siang tadi. Ia mencoba membandingkan photo itu dengan photo yang beredar di beranda facebooknya. Mirip dan beralasan jika orang yang ia temui di rumah Hajjah Sayuti adalah perempuan yang beritanya tersebar di media sosial. Sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah melihatnya saat masih tinggal di kos Hajjah Sayuti.


Delisa mendesah. Ia tersenyum puas. Ia meyakinkan dirinya bahwa perempuan itu memang Hafiza, istri Raka. Walapun hubungan perselingkuhannya dengan Raka sudah berakhir dan ia sendiri tidak punya dendam dan urusan dengan Hafiza, tapi ia bisa mengambil keuntungan jika ia memberitahu keluarga Raka keberadaan Hafiza. Akun fb atas nama SutijahIjah yang ia baca sehari yang lalu, memberikan penawaran yang menggiurkan bagi siapa saja yang melihat Hafiza. Apalagi dengan keadaannya saat ini yang susah pasca dipecat akibat perbuatan mesumnya dengan Raka, Ia sangat membutuhkan uang sepuluh juta itu.


Delisa memeriksa kembali akun fb milik SutijahIjah. Nomor telpon yang tertera di profil ia catat. Dengan senyum mengembang, ia mulai melakukan panggilan.


"Assalamualaikum." Delisa memperbaiki posisi berbaringnya. "Waalaikum salam," terdengar suara seorang wanita dari seberang.


"Benar ini dengan pemilik akun fb Sutijahijah,"


"Benar, ada apa ya, dan ini dengan siapa,"


Delisa tersenyum. Kaki kanannya dinaikkannya diatas lutut kaki kirinya.


"Aku tahu dimana Hafiza," kata Delisa singkat, membuat orang di seberang penasaran.


"Beritahu kami, dimana dia,"


"Apakah sayembaranya masih berlaku?"


"Ya, tentu, kamu tunjukkan saja dimana, masalah uangnya, akan langsung kami berikan setelah kami memastikan bahwa itu memang dia,"


"Sebentar." Delisa menghentikan pembicaraannya. Ia mulai mengusap layar ponsel mencari photo Hafiza yang ia simpan dalam galeri. Setelah menemukannya, ia langsung mengirimnya.


"Aku sudah mengirimkan photonya, silahkan cek di watsup," sambung Delisa.


Untuk beberapa saat orang di seberang terdiam. Delisa yakin saat ini dia sedang memeriksa photo itu.


"Dimana kamu dapatkan photo ini,"


"Di tempat aku menemukannya. Temui aku besok di pusat pertokoan kota praya, jam satu,"


"Ok, sepakat,"

__ADS_1


Delisa menutup panggilannya. Ia terlihat tersenyum puas.


* * *


Faris melirik ke arah jam di tangannya. Sudah jam 8 malam. Suasana di sekitar terlihat sepi. Dia sudah menyusuri jalanan hingga di perbatasan kabupaten. Setiap warung dan dimana orang berkumpul diperlihatkannya photo Hafiza. Rata-rata mereka tahu tentang Hafiza dari selebaran yang tertempel di pohon-pohon tepi jalan, walaupun kini photo-photo itu sudah dirobeknya.


Faris mendesah. Dia harus pulang memenuhi janjinya kepada ibunya, juga Rumaniati. Dia tak mau membuat mereka berdua menunggu cemas.


Faris menaiki sepeda motornya dan memutuskan pulang.


Sementara itu, Rumaniati dan bu Rahma tampak sedang duduk di teras rumah menatap ke arah jalan yang gelap. Bu Rahma terlihat cemas melihat Rumaniati yang masih menunggu gelisah sejak isya tadi. Tak seharusnya ia mendapati keadaan seperti itu. Masa berbulan madu, yang seharusnya ia habiskan di dalam kamar pengantin bersama suaminya, harus ia lalui dengan menunggu cemas di beranda rumah. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegah Faris. Dia tahu sifat Faris. Dia tidak akan berhenti sebelum apa yang ia inginkan tercapai.


"Bu, tidurlah, biar Ruman sendiri yang nunggu kak Faris pulang," kata Rumaniati. Ia memegang tangan bu Rahma sembari tersenyum.


Bu Rahma membalas memegang tangan Rumaniati balas tersenyum.


"Gak apa-apa Nak, ibu biasa kok tunggu Faris pulang,"kata bu Rahma. Ia menatap wajah Rumaniati.


"Oh ya, Nak, apa kamu sudah coba menghubungi suamimu lagi," sambung bu Rahma.


"Bu, sebenarnya ada hubungan apa sih antara kak Faris dengan Hafiza," tanya Rumaniati memberanikan diri. Pertanyaan itu sudah ia persiapkan sejak Faris secara tiba-tiba mengajaknya pulang ke rumahnya.


Bu Rahma tersenyum dan memegang pundak Rumaniati.


"Dia itu misannya Faris Nak. Ibu ini adik dari bapaknya Hafiza," jawab bu Rahma. Rumaniati menatap bu Rahma, seperti ingin menggali kebenaran dari cahaya mata bu Rahma.


"Ruman tahu Bu, tapi maksud Ruman, mungkin ada hubungan lain selain hubungan keluarga,"


Pertanyaan Rumaniati membuat bu Rahma serasa terpojok.


"Nak Ruman ini ngomong apa sih, gak ada hubungan apa-apa Nak. Mereka hanya bersaudara,"


"Jangan bohong Bu," Rumaniati menundukkan kepalanya. Setelah itu kembali ia memandang bu Rahma.

__ADS_1


"Aku tahu dulu ada hubungan istimewa antara kak Faris dan Hafiza. Kak Faris begitu perhatian , sampai-sampai masa bulan madunya ditinggalkan begitu saja,"


"Wajar kan Nak, ketika keluarga kita mendapat musibah, kita pasti ikut bersedih," bu Rahma mencoba membela Faris sekaligus ingin menenangkan Rumaniati.


Rumaniati tersenyum ketus.


"Tapi sikap kak Faris beda, Ruman bisa membaca itu Bu. Sudahlah Bu, Ruman gak apa-apa kok. Ruman mau ibu cerita yang sesungguhnya, hitung-hitung biar gak bosan nunggu kak Faris pulang,"


"Nak Ruman, kenapa kita harus bicara masalah yang tak ada gunanya sama sekali Nak,"


"Tapi, bagi Ruman, itu berguna Bu, Ruman gak mau ada sesuatu yang kak Faris sembunyikan dari Ruman. Ruman lebih menerima kak Faris pacaran sama Hafiza jika ia terus terang dari pada Ruman tahu sendiri suatu saat nanti,"


"Nak Ruman kok ngomong seperti itu sih,"


"Tapi Ruman gak mau terus menyimpan pertanyaan ini Bu. Rasa penasaran ini lebih menyiksa dari pada tahu kebenaran bahwa kak Faris pacaran dengan Hafiza."


Suara sepeda motor terdengar berhenti di depan rumah. Pembicaraan mereka terhenti. Bu Rahma mengelus dada lega, meskipun ia tahu Rumaniati masih penasaran. Tapi ia berharap Faris menampakkan rasa sayangnya malam ini hingga Rumaniati lupa untuk melanjutkan pertanyaannya tadi.


Melihat Faris menengok di depan gerbang, Rumaniati segera bangkit dari duduknya. Ia tersenyum dan segera berjalan membukakan Faris pintu. Rumaniati mencium tangan Faris. Faris balas tersenyum dan merangkul tubuh Rumaniati. Bu Rahma yang menyaksikan mereka tampak tersenyum bahagia. Ia mendesah panjang.


"Ibu tidak akan memaafkanmu jika saja malam ini kamu tidak pulang," gurau bu Rahma sambil mencubit telinga Faris. Faris hanya tersenyum.


"Ayo makan dulu, istrimu sudah menunggu dari tadi. Masakan istrimu top," kata bu Rahma mengacungkan jempolnya ke arah Faris. Faris tersenyum tapi terlihat setengah dipaksakan. Bu Rahma merungut, tampak tidak senang dengan raut muka tak bersemangat Faris.


Rumaniati membuka tudung makanan di atas meja. Beberapa piring kosong dibukanya dan mulai menghidangkan nasi di depan Faris. Bu Rahma sendiri menolak makan dengan alasan sudah kenyang, tapi sebenarnya ingin memberikan kesempatan mereka untuk berdua saja.


"Kak, bagaimana pencariannya tadi, apakah ada tanda-tanda keberadaan Hafiza," kata Hafiza sambil meletakkan sayur kedalam piring kosong depan Faris.


"Belum Dik, saya harap bisa saya bisa menemukannya," jawab Faris. Rumaniati menatapnya lemah.


"Kakak mau mencarinya lagi?" tanya Rumaniati dengan nada lemah. Faris menatap Rumaniati dan mengangguk kecil.


"Ijinkan aku mencarinya sampai dapat." Faris memegang tangan Rumaniati dengan tangan kirinya. Rumaniati mengangguk lemah. Ia ingin menolak tapi takut Faris kecewa.

__ADS_1


"Semoga besok, kakak bisa menemukannya,"


Faris tersenyum. Dia tahu Rumaniati kecewa, tapi ia tidak ingin Rumaniati bertambah kecewa ketika ia tidak pernah tenang karna memikirkan Hafiza. Sejenak mereka terdiam dan melanjutkan kembali makan malam mereka.


__ADS_2