JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#56


__ADS_3

Bu Rahma kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali berusaha menerka-nerka kemungkinan Faris memang telah keluar dari rumah itu dan telah pergi jauh. Ia membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan senter dari dalamnya. Setelah itu, ia segera bergegas keluar dari rumah dan langsung menuju ke jalan raya.


Kepala bu Rahma bergerak pelan ke sana kemari memeriksa suasana di sekelilingnya. Ia terdiam sejenak. Suasana benar-benar sepi. Hanya sesekali terlihat lewat truck pengangkut pasir.


Bu Rahma mulai menyusuri tepi jalan. Sinar senternya di arahkannya ke sana kemari, di sudut-sudut gelap pinggir jalan. Tidak terlihat tanda apapun. Ia sempat ragu untuk untuk melanjutkan langkahnya. Dengan kondisi Faris yang lemah, ia meragukan ia bisa berjalan sejauh itu.


Bu Rahma menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah belakang. Ia sudah meninggalkan rumah sekitar 300 meter. Ia mendesah. Sebuah truck pengangkut pasir kembali terlihat dari kejauhan. Cahaya lampu yang menyebar menerangi sepanjang jalan di depannya, digunakan bu Rahma untuk memperhatikan sekitarnya. Tapi tetap juga tidak terlihat tanda-tanda tubuh kurus Faris. Bu Rahma mulai berpikir kemungkinan tidak berjalan ke sana. Mungkin ke arah sebaliknya. Dengan tubuh lemah dan kurus seperti itu, ia memperkirakan Faris tidak akan kuat berjalan sejauh itu.


Bu Rahma kembali mendesah lemah. Ia mulai meratap sembari menatap jauh ke arah kegelapan di depannya. Ia mulai putus asa. Malam semakin sepi. Terlalu banyak jalan kecil atau gang di samping jalan utama. Jika ia harus memeriksa satu persatu jalan itu, ia mungkin akan menghabiskan semalaman untuk mencari Faris. Bu Rahma kembali mengarahkan sinar senternya ke seberang jalan. Ia menggeleng lemah.


Satu truck pengangkut pasir kembali terlihat di depannya. Bu Rahma mengernyitkan dahinya. Matanya tak berkedip ke arah depan. Ia seperti melihat sosok tubuh tertatih-tatih terkena cahaya lampu mobil. Dada bu Rahma berdebar cepat. Ia mengenali sosok tubuh yang seperti hendak menyeberang itu.


Bu Rahma segera berlari kencang.


"Awas Faris! kembali ke tempatmu!" teriak bu Rahma. Ia terus berlari, hingga terdengar suara berdenyit nyaring dari rem angin truk pengangkut pasir. Bersamaan dengan itu, ia melihat tubuh kurus itu terpental jauh.


Bu Rahma terperangah. Ia seperti mati rasa. Sel-sel di dalam otaknya seperti tercabut paksa dari kepalanya. Ia shock. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata yang mengalir deras. Bahkan ketika truk pengangkut pasir itu berlalu kencang di depannya, ia hanya terdiam. Tengorokannya seperti tercekik.


Suara nyaring dan memekakkan telinga suara rem mobil truk pengangkut pasir membuat orang-orang terlihat keluar dari rumah masing-masing. Sinar senter terlihat di arahkan kesana kemari.

__ADS_1


Salah satu dari mereka berteriak mengarahkan senternya ke arah parit tepi jalan. Orang-orang segera berhamburan melihatnya. Sesosok tubuh kurus dengan darah bersimbah di kepalanya terlihat tersangkut di akar pohon yang menembus saluran air. Dua orang dari mereka segera turun dan mengeluarkan tubuh kurus itu dari sela-sela akar pohon dan meletakkannya di tepi jalan.


Sepertinya ini Faris, anaknya bu Rahma," kata salah seorang dari mereka sambil mendekat mengarahkan senternya ke wajah Faris.


"Benar. Dia memang si Faris," katanya meyakinkan orang-orang.


"Apakah dia masih hidup?" tanya seseorang. Laki-laki itu memegang dada dan urat nadi Faris beberapa saat. Ia memandang ke arah orang-orang. Ia menggeleng.


"Dia sudah meninggal." Laki-laki itu mengusap mata Faris yang terbelalak.


"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah bu Rahma," kata laki-laki itu.


"Ibu tidak apa-apa?" kata salah seorang. Bu Rahma tidak menjawab. Dia terus menangis tanpa mengeluarkan kata-kata. Orang-orang saling berpandangan heran. Mereka menggerak-gerakkan tubuh bu Rahma, tapi bu Rahma tetap tak bereaksi. Orang-orang segera memapah bu Rahma menuju rumahnya.


* * * * *


Dalam sekejap, orang-orang telah berkumpul di rumah bu Rahma. Pak Abbas dan bu Abbas juga terlihat datang setelah dihubungi kadus setempat. Ia begitu kaget ketika melihat keadaan bu Rahma. Bu Rahma hanya terdiam. Bahkan ketika dia menyapanya mengajaknya bicara, mulut bu Rahma hanya bisa menganga tanpa mengeluarkan kata-kata.


Malam beranjak larut. Suasana sepi dan hening. Suara jangrik seperti alunan musik yang menyayat hati. Bu Rahma masih terdiam mematung menatap jenazah Faris.

__ADS_1


* ** * *


Pagi-pagi sekali. Sesuai rapat keluarga yang diwakili pak Abbas, maka disepakati jenazah Faris segera dimakamkan. Bu Rahma yang masih tidak bisa berbicara hanya menunjuk-nunjuk ke arah pekarangan rumah ketika jenazah hendak dibawa ke pekuburan umum. Awalnya, Pak Abbas dan orang-orang yang hadir tidak mengerti maksud bu Rahma. Namun dengan bahasa isyaratnya, pak Abbas mencoba menafsirkan,bahwa keinginan bu Rahma adalah menguburkan Faris di pekarangan rumahnya. Bu Rahma mengangguk sehingga diputuskan untuk menguburkan Faris di pekarangan rumahnya.


* * * * *


Hari-hari di rumah bu Rahma terasa sepi. Bu Rahma yang tiba-tiba tidak bisa berbicara sejak tabrakan maut yang dialami Faris, lebih memilih mengurung diri di dalam kamarnya. Pak Abbas yang merasa khawatir dengan keadaan bu Rahma, sudah berusaha membawa bu Rahma ke rumahnya, namun bu Rahma menolak. Terpaksa ia harus bolak-balik menyambangi bu Rahma. Setiap hari, ia menyewa tukang ojek untuk membawakan bu Rahma makanan. Tapi setiap kali ia pergi menengok bu Rahma, kebanyakan ia menemukan makanan-makanan yang di antarkan sudah basi, bahkan ada yang sudah mengeluarkan ulat.


Hari-hari bu Rahma dihabiskannya duduk di teras rumah sambil memandang kubur Faris. Hanya diam dan tak terpengaruh ketika ada orang yang menyapanya. Wajahnya datar dan nyaris tanpa ekspresi.


Dia sudah tidak lagi bernafsu menyantap makanan yang setiap harinya diantar oleh pak Abbas. Kondisi tubuhnya berubah drastis. Tubuhnya semakin kurus tak bertenaga. Beberapa kali pak Abbas memindahkannya ke tempat tidurnya di dalam rumah, tapi bu Rahma kembali lagi dan duduk di teras rumah. Pak Abbas yang datang menemaninya bila malam tiba, terpaksa harus ikut tidur di teras rumah.


Satu minggu setelah kematian Faris, keesokan harinya, pak Abbas menemukan bu Rahma sudah tidak bernyawa lagi. Dari tubuhnya yang masih terasa hangat, pak Abbas memperkirakan bu Rahma baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.


Sama seperti Faris, pak Abbas memutuskan untuk menguburkan jenazah bu Rahma di pekarangan rumahnya, di samping kubur Faris.


Semua kita adalah milik Allah


dan kepada-Nyalah kita akan kembali.

__ADS_1


__ADS_2