
Raka tersenyum ketus.
"Memenjarakanku? coba saja Hafiza. Aku ingin lihat sampai sejauh mana perjuanganmu mencari keadilan," Raka bangkit dan mengambil kembali tasnya. Ia kemudian keluar rumah dan terlihat pergi ke rumah orang tuanya.
Hafiza meletakkan pisau di tangannya di atas meja. Kancing bajunya yang terbuka di pasangnya kembali.
Sekarang ia merasa seperti orang asing di rumah itu. Sebenarnya ia mulai menyerah dan ingin membuka diri untuk permintaan maaf terakhir dari Raka, namun sejak kedatangannya, sikap Raka tidak menunjukkan sikap yang bersahabat. Ia malah secara ringkas langsung ke inti pembicaraannya. Ingin bercerai dengannya. Tak ada rasa takut sama sekali saat Hafiza mengancamnya ke kepolisian.
Hafiza meraih ponsel di sampingnya. Satu-satunya orang yang bisa ia minta bantuan saat ini hanyalah Faris. Tapi meminta bantuan Faris untuk menjemputnya di saat seperti ini, sama saja akan merugikan Faris sendiri. Ia tidak mau melibatkan Faris. Ia tidak mau Faris dituduh melarikan istri orang. Dan Itu akan semakin memojokkan posisinya.
Hafiza melepas kembali ponselnya. Ia benar-benar bingung harus kemana. Ia kembali termenung. Beberapa cara telah dipikirkannya untuk keluar dari masalah itu, tapi ujung-ujungnya, Farislah jawaban terakhirnya.
Hafiza mendesah. Tak ada pilihan lain selain menghubungi Faris. Hanya dia yang nomornya masih tersimpan di ponselnya. Nomor ponsel Akmal sudah ia hapus karna Raka selalu mencurigai Akmal ada rasa kepadanya.
*
Setelah menuruni jalan kecil di sebuah belokan jalan, akhirnya mobil yang ditumpangi Faris dan rombongan sampai di sebuah rumah besar bercat biru. Nampak beberapa orang, termasuk pak Nasirin berdiri berjejer menyambut kedatangan mereka. Satu persatu mereka turun dan dipersilahkan masuk oleh pak Nasirin.
Bu Rahma menarik tangan Faris saat hendak memasuki rumah.
"Nak, mari ibu bawakan hp nya,"
Faris melirik ke sekitarnya.
"Ada apa Bu," tanya Faris heran.
"Sudah, biar ibu yang bawakan,"
Melihat ibunya setengah memaksa, Faris mengeluarkan hp nya dan memberikannya pada bu Rahma. Wajahnya masih terlihat kebingungan. Mereka kemudian duduk di dekat pak Abbas yang lebih dulu duduk.
"Bagaiman persiapan untuk menghadapi pemilihan nanti Pak," kata pak Abbas memulai pembicaraan. Pak Nasirin tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, mudah-mudahan hasilnya tak mengecewakan Pak." Melihat pak Abbas tampak kebingungan membuang abu rokok di tangannya, pak Nasirin memerintahkan beberapa kerabatnya yang duduk di pojok untuk mengambil asbak.
"Kami sekeluarga memohon dukungan Bapak sekeluarga untuk mendukung saya," kata pak Abbas. Satu persatu orang-orang di depannya ditatapnya.
"Insya Allah Pak," kata pak Abbas. Yang lain mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya Pak, ngomong-ngomong, saya kok belum lihat calonnya nak Faris," kata pak Abbas. Pak Nasirin menoleh ke arah istrinya.
"Bu, ayo panggil anakmu," kata pak Nasirin. Bu Nasirin bangkit dan segera beranjak menuju belakang.
"Jadi bagaimana hasil kesepakatan keluarga yang di sana Pak, terkait hari yang pas untuk pernikahan anak kita," kata pak Nasirin. Pak Abbas menoleh ke arah bu Rahma. Bu Rahma memberi isyarat dengan matanya agar pak Abbas menjawab.
"Yah, Seperti yang Bapak katakan, lebih cepat lebih baik. Tapi kan harus cari tanggal dan hari yang tepat sesuai penanggalan orang tua kita." Pak Abbas menghentikan pembicaraannya. Batuknya tiba-tiba pecah. Melihat itu, Faris segera menyodorkannya air gelas kemasan.
"Biar Pak Kadus saja yang jelasinnya Pak, takut salah omong," kata pak Abbas setelah menenggak minumannya.
Pak Kadus mendehem dan memperbaiki posisi duduknya.
Pak Nasirin terdiam. Jari-jari tangannya bergerak, seperti sedang menghitung.
"Hari rabu, berarti tinggal 3 hari lagi," yang lain mengangguk. Faris terlihat menunduk.
Bu Nasirin muncul bersama Rumaniati yang terlihat cantik dengan kebaya putihnya. Untuk sejenak, pandangan orang-orang tertuju kepadanya.
Satu persatu di datangi oleh Rumaniati dan menyalami mereka. Rumaniati kemudian duduk di dekat bu Nasirin, berhadap-hadapan dengan Faris. Rumaniati tersenyum saat Faris mengangkat kepalanya.
Nada Hp terdengar berbunyi di dalam tas bu Rahma. Faris menoleh. Ia mencolek tangan ibunya yang belum juga mengangkat hp. Bu Rahma tersenyum saat orang-orang menatap ke arahnya.
"Pak, Bu, saya permisi keluar dulu," kata bu Rahma sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Oh, silahkan Bu," kata pak Nasirin. Bu Rahma segera keluar ruangan. Sesampainya di luar, ia membuka hp.
__ADS_1
"Hafiza," desahnya saat melihat nama yang tertera dalam panggilan. Ia kembali berjalan mencari tempat yang tak dilihat oleh orang-orang di dalam, terutama Faris.
Ia merasa keputusannya mengambil hp Faris tadi sudah tepat. Ia sudah cemas dengan gelagat Faris yang mengkhawatirkannya.
"Ada apa Nak," kata bu Rahma tanpa menunggu Hafiza menyapa terlebih dahulu. Sejenak Hafiza terdiam ketika orang yang mengangkat telpon bukan Faris, tapi bu Rahma.
"Kak Farisnya mana Bu," kata Hafiza dari seberang.
Bu Rahma menoleh.
"Ada di dalam Nak, kami lagi di rumah calon mertuanya Faris, mau membicarakan tanggal pernikahan mereka," kata bu Rahma setengah berbisik.
Hafiza di seberang terdiam. Bahkan setelah berkali-kali bu Rahma menegurnya, ia tetap terdiam. Bu Rahma menutup telponnya. Riwayat panggilan Hafiza dihapusnya.
Bu Rahma mengernyitkan dahinya.
"Ya, Allah, ada apa dengan mereka berdua," desah bu Rahma. Ia kemudian buru-buru kembali ke tempat duduknya.
"Telpon dari bu Ramlah," bisik bu Rahma di telinga Faris.
"Ee..., Dik Rahma, jadi, kita sudah sepakat dengan Pak Nasirin. Akad nikahnya nanti malam rabu setelah shalat isya," kata pak Abbas begitu melihat bu Rahma sudah duduk di sampingnya."Jadi, sore selasa kita sudah ada di sini," sambung pak Abbas. Bu Rahma mengangguk dan tersenyum.
*
*
Hafiza terdiam dan shock begitu mendengar berita lamaran Faris dari bu Rahma. Kini ia merasa semakin terasing. Faris yang ia inginkan menjemputnya keluar dari rumah itu, ternyata sedang berbahagia bersama calon istrinya.
Hafiza mengangkat tubuhnya. Sembari memegang dadanya, ia melangkah mendekati jendela rumah. Sudah hampir malam. Ia akan menunggu sampai gelap. Ia harus segera meninggalkan tempat itu, walaupun tempat yang akan ia tuju belum pasti.
Hafiza berbalik dan melangkah kembali menuju ranjang. Perlahan ia membaringkan tubuhnya. Air matanya kembali mengalir.
__ADS_1
Jodoh memang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Dulu Faris menghianatinya dengan menikah dengan wanita lain. Saat Faris berpisah dengan istrinya, dan seharusnya hubungan yang bersemi kembali akan menyatukannya dengan Faris, justru ia menikah dengan Raka. Dan saat rumah tangganya dengan Raka telah berakhir, ia punya harapan besar untuk kembali ke pelukan Faris. Namun takdir berkehendak lain, Faris punya jodoh lain yang telah dipersiapkan Tuhan. Dan kini ia harus berduka kembali.