JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#06


__ADS_3

Malam semakin larut. Hawa dingin menyebar memeluk rata tubuh-tubuh yang meringkuk dalam selimutnya. Melata malam bernyanyi lirih. Mencoba mendendangkan semua musik paling sedih yang pernah digubah manusia. Terlihat bulan almanak dua lima mengintip resah di ufuk timur. Semakin sepi dan semakin menyayat hati Faris yang bersandar lemah di kamarnya. Ketika malam begitu kedinginan dengan angin yang bertiup, tidak begitu dengan Faris. Ia merasa tubuhnya begitu gerah. Hawa dingin yang menusuk sama sekali tak berpengaruh pada tubuhnya. Keringatnya bercucuran membasahi tubuhnya. Benar-benar tidak tenang ketika ia membolak-balikkan tubuhnya ke sana kemari dalam ketidaknyamanan.


Faris mendesah kesal sambil menjambak rambutnya keras.


Bayangan Hafiza benar-benar telah memaksanya untuk tidak berpaling kemanapun. Bahkan semakin menjalar kemana-mana. Bayangan Tentang bahagianya Hafiza malam ini bersama Raka, calon suaminya. Tentang banyaknya orang yang datang mengunjungi mereka memberi ucapan selamat. Juga bayangan tentang canda tawa bahagia mereka ,dan segala yang pernah ia rasakan dan alami ketika menikah dulu.

__ADS_1


Ah, semuanya masuk begitu saja menggerayangi dan mengeruhkan pikirannya. Wajah dan senyum Hafiza mengikuti kemana mata diarahkannya. Benar-benar menyakitkan. Tak heran jika banyak orang yang bunuh diri ataupun gila karna masalah cinta. Sakitnya benar-benar tidak bisa dilukiskan dan disembuhkan. Pilihan terakhir mungkin dengan menusukkan ujung belati atau menjerat lehernya dengan tali tambang.


Faris menggenggam kedua tangannya erat. Ia mencoba menyembunyikan teriakannya jauh di dasar hatinya. Itu membuat dadanya semakin terasa sesak. Air matanya lagi-lagi tak mampu tertahan. Ia menangis. Sesenggukan ia sambil memegang dadanya. Ia ingin membungkam dan menghentikannya. Sungguh sangat menyakitkan. Hafiza yang ia temui kemarin sore. Hafiza yang senantiasa bersamanya bercanda riang di teras tingkat dua saban malam, malam ini tak akan ia temui lagi. Malam ini tentu senyumnya tak akan berhenti tersungging sebab rasa bahagianya.


Oh secepat itukah kenangan indah itu pergi? Kenapa tak disisakannya sedikit waktu, sebulan saja untuk menghimpun kebersamaan yang pernah hilang? Kenapa ia akhirnya benar-benar memilih laki-laki itu. Kenapa ia menjatuhkan pilihannya pada laki-laki itu, bukannya dia yang benar-benar ingin membalas pengkhianatannya dulu dengan menjadikannya seorang wanita yang akan tetap bertahta di dalam hatinya. Oh, dia tak bisa membayangkan tubuh Hafiza akan disentuh lelaki lain. Bagaimana mungkin dia bisa menerimanya ketika ia memendam rasa yang begitu dalam untuk memilikinya. Sebagai ujian dengan imbalan pahala tak terhinggapun aku tak mau. Teriaknya dalam hati. Masih tak percaya. Kejadian itu benar-benar telah membawa pergi jauh ketenangannya.

__ADS_1


Tak mungkin orang-orang itu berbohong bersamaan. Dan bagaimana jika ia menghubungi Hafiza dan Hafiza mengatakan kebenaran itu? Apakah itu tidak akan lebih menyakitkan?


...******...


Malam semakin larut. Entah sudah jam berapa ketika Faris sudah sampai di sebuah dermaga, kira-kira satu kilometer jaraknya dari rumah. Ia memutuskan keluar rumah, setelah menyadari tak akan ada ketenangan yang akan dia dapatkan jika terus mengurung diri di dalam kamar.

__ADS_1


Suara gedebur ombak di ujung dermaga, serta deru angin yang bertiup menyambut kedatangan Faris di tempat itu. Mata Faris menatap jauh ke tengah-tengah laut, seakan-akan hendak membuang jauh sesak dadanya ke tengah samudra. Atau di antara kelap-kelip lampu nelayan di ujung jauh sana. Jauh dan tak akan di bawa kembali oleh ombak atau bayu ke pesisir.


Faris terduduk lemah. Seharusnya rembulan yang mengintip di balik awan hitam itu akan terlihat begitu indah malam ini. Tapi yang terlihat olehnya adalah seperti mulut yang tertawa lebar mencemoohnya. Ia mulai menangis. Ia sadar dan sangat mengerti. Sejauh-jauh ia pergi, kemanapun ia langkah kakinya, bahkan jika harus ikut tenggelam dalam penjara Ya’juj dan Ma’juj, ia tidak akan pernah tenang. Kemanapun dan dimanapun, bayangan Hafiza akan terus membuntuti dan semakin menambah luka dalam hatinya. Satu-satunya cara mungkin mendatangi Hafiza walaupun sedang berada di rumah calon suaminya. Toh hubungan keduanya belum halal menurut agama. Selama belum akad, takdir jodoh Hafiza masih belum pasti. Dia akan datang menemui Hafiza dan mengatakan kepadanya, walaupun dengan berteriak bahwa sebenarnya ia amat takut kehilangannya. Dia ingin mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin menikahi Hafiza. Ia akan mengatakan bahwa ia sangat menyesal kenapa tak tegas mengajaknya menikah.


__ADS_2