JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#30


__ADS_3

Malam mulai larut. Suara jangkrik terdengar ramai mengerik, sesekali disahuti suara kodok di belakang rumah.


Hafiza membuka matanya pelan. Selimut yang ia pakainya seperti ada yang menariknya pelan dari bawah. Hafiza menahan nafasnya.Seperti ada yang begerak menggerayangi tubuhnya. Semakin ke atas, dan ia yang masih tertidur miring kini merasakan tubuh berat seseorang mulai menindih tubuhnya. Hafiza memegang dadanya yang masih sakit. Ia menoleh dan melihat Raka yang mulai mencium telinganya. Hafiza mencoba menghalau Raka, namun tenaga Raka yang kuat membuatnya tak berdaya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu, mau sikat gigi,"kata Hafiza ketika melihat Raka hendak mencium bibirnya. Raka tersenyum dan menyingkirkan tubuhnya dari tubuh Hafiza. Hafiza mengangkat tubuhnya pelan dengan menyangganya dengan salah satu tangannya.


"Cepatan sayang, aku sudah tidak tahan," kata Raka penuh nafsu. Hafiza hanya diam. Rasa sakit di dadanya membuatnya kesulitan bernafas.


Dengan masih menahan rasa sakit, Hafiza bangkit dan melangkah ke arah dapur. Ditatapnya dua buah pisau dapur yang tergeletak di samping kompor. Ia lalu mengambil salah satu pisau itu dan menyelipkannya di balik bajunya. Setelah itu, Hafiza bergegas menuju kamar mandi.


Setelah mencuci mukanya beberapa saat, Hafiza keluar dan kembali menuju tempat tidurnya. Selimut yang ia tinggalkan tadi di samping Raka diambilnya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di sudut ranjang, jauh dari Raka. Melihat itu Raka mengernyitkan dahinya.


"Loh, kok tidurnya di sana Sayang." Hafiza terdiam. Ia tutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Mendengar Raka memanggilnya sayang, tiba-tiba saja membuat perutnya mual dan ingin muntah. Ia menggeleng-geleng. Raka sama sekali seperti tak mengingat bagaimana perlakuannya tadi yang hampir membahayakan nyawanya. Dia sama tak pernah berpikir bahwa ia masih membutuhkan kehangatan tubuhnya untuk meredam nafsunya setelah diluar sana, begitu banyak wanita menggairahkan yang dilihatnya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Raka. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Bahkan ia sama sekali tak menghiraukan suara ringis kesakitannya. Dia merasa Raka hanya membutuhkan tubuhnya untuk memenuhi hasrat seksualnya.


Terdengar suara reot ranjang ketika dengan perlahan Raka mendekati Hafiza. Pisau yang disimpan Hafiza di balik bajunya, dipegangnya erat-erat.


Perlahan Raka membuka selimut yang menutupi tubuh Hafiza. Hafiza menahan nafasnya. Dan ketika selimut sudah terbuka sampai dadanya, Raka begitu terkejut, sebuah pisau tajam yang digenggam Hafiza hampir saja mengenai perutnya. Raka segera menyingkir. Hafiza menatapnya tajam.


"Jangan lagi berharap kamu bisa menyentuh tubuhku.Tidak sekali-kali,"kata Hafiza sembari mengacungkan pisau itu ke arah Raka. Raka mengerutkan keningnya seraya menggeser tubuhnya mundur. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar Hafiza meletakkan pisau itu, tapi Hafiza hanya menggeleng.

__ADS_1


"Tenang Dik, kita bicarakan baik-baik jika ada masalah," kata Raka berusaha menenangkan Hafiza.


Hafiza bangkit, masih mengarahkan pisau ke arah Raka.


"Jika ada masalah kamu bilang? Maksudmu, apa yang telah kamu lakukan kepadaku, menendang dan menyumpal mulutku dengan sandal, bukan masalah menurutmu?"Hafiza tersenyum sinis sambil meggelengkan kepalanya. Tak terasa, air mata Hafiza keluar. Dia sama sekali tak menyangka Raka akan sekejam itu.


Raka mengusap wajahnya dan mendesah pendek. Ia menatap Hafiza. Tangannya gemetar memegang pisau yang masih diacungkannya ke arah Raka.


"Kan sudah berapa kali kakak harus ngomong, jangan ganggu kalau lagi tidur. Apalagi semalaman kakak lembur," kata Raka seperti tak bersalah. Membela diri.


Mata Hafiza tajam menatap Raka yang terlihat sama sekali tak merasa bersalah. Rasa sakit yang ia rasakan sepertinya dianggap Raka memang sesuatu yang harus ia terima.


"Biarkan saja orang tahu, aku sudah terlalu lelah dengan kelakuanmu. Biarkan saja mereka menganggap rumah tangga kita sedang tidak baik-baik saja. Itu memang sebenarnya. Aku sudah tidak peduli lagi," teriak Hafiza lebih keras.


"Saya minta maaf Dik, Ak_,"


"Berhenti panggil aku adik," teriak Hafiza memotong pembicaraan Raka. Raka terdiam. Baru kali ini ia melihat Hafiza semarah itu. Mata merahnya yang disertai geraman penuh amarah, membuat Raka takut. Apalagi ketika melihat Hafiza semakin maju dengan pisau yang diacungkan lurus ke bagian dadanya. Raka kembali menggeser tubuhnya ke belakang. Ia mulai khawatir Hafiza tidak sadar dan akhirnya menusukkan pisau itu di dadanya.


"Kamu sama sekali tak menghargai pengorbananku. Ketika aku butuh, kamu seakan-akan tak mempedulikan aku. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Kamu hanya butuh aku untuk menyalurkan hasratmu saja. Kamu sama sekali tak menghargai perasaanku yang berusaha sebisa mungkin menjadi istri yang baik untukmu." Hafiza menghapus air matanya dengan salah satu tangannya. Raka masih terdiam menatapnya cemas.

__ADS_1


"Dan jangan lagi pernah berharap kamu bisa mendapatkannya lagi. Coba saja kalau berani. Aku tidak akan segan-segan menusukkan pisau ini ke perutmu."


Hafiza tertunduk dalam tangisnya. Sementara Raka hanya terdiam sambil pelan meraih kaos oblong yang ada disampingnya. Dengan tatapan yang tak berpaling dari memandang Hafiza, ia memasang kembali kaosnya.


Untuk sesaat suasana menjadi hening yang sesekali diselingi sesenggukan tangis Hafiza. Raka menyandarkan tubuhnya lemah di dinding. Kepalanya lemah dengan tatapan kosong ke arah depan.


"Pernikahan kita sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Aku sudah terlanjur muak dan sulit untuk membuat baik lagi rumah tangga ini. Ceraikan aku dan kita bisa melanjutkan kehidupan kita masing-masing," kata Hafiza membuyarkan keheningan. Raka menoleh dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Ia mendesah pendek.


"Aku tidak akan menceraikanmu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah," timpal Raka.


"Maka kamu tidak akan mendapatkan apapun dariku," jawab Hafiza singkat.


"Jika aku tidak akan mendapatkan apapun dari kamu, maka aku akan mendapatkannya dari orang lain,"


"Terserah, apa yang akan kamu lakukan, aku tak peduli. Kamu bawa perempuan pun ke sini, bukan urursanku,"jawab Hafiza tak kalah sengit.


Hafiza menghapus air matanya. Ia lalu bangkit dan melangkah keluar rumah. Raka hanya memandangnya. Hafiza bersikeras dengan keputusannya dan sulit untuk berdamai. Ini memang kesempatan buatnya untuk memperistri Delisa. Namun pernikahannya yang baru seumur jagung, membuatnya merasa malu kepada para tetangga jika harus menceraikan Hafiza. Raka membaringkan tubuhnya dan tatapannya mulai menerawang ke langit-langit kamar.


Hafiza masuk. Tikar pandan yang ada di sudut kamar diambilnya dan menggelarnya di dekat lemari. ia lalu mengambil selimutnya dan membaringkan tubuhnya. Pisau di tangannya dilepas dan meletakkannya di sampingnya. Raka melirik dan mendesah panjang.

__ADS_1


__ADS_2