
"Aku yakin, yang menempel dan menyebarkan selebaran itu adalah bi Ijah, aku lihat di polsek, dia yang paling memprovokasi," kata seorang kerabat pak Abbas. Pak Abbas mengangguk-angguk kecil. Ia seperti ingat bagaiamana sikap bi Ijah saat bertemu di lokasi kebakaran. Ia tak segan-segan memperdengarkan tuduhan langsungnya kepada Hafiza.
"Yang harus kita pikirkan sekarang ini adalah bagaimana menemukan Hafiza. Jika kita sudah menemukannya, kita bisa serahkan dia secara baik-baik pada pihak kepolisian." kata pak Abbas. Ia seperti mengusap air mata yang mulai mengalir di ujung matanya. Bu Rahma yang berada di tengah-tengah antara pak Abbas dan bu Abbas, secara bersamaan mengusap-usap punggung keduanya. Untuk sejenak mereka larut dalam isak tangis.
"Aku gak habis pikir, kenapa Hafiza melakukan semua itu. Aku masih saja tidak percaya dia melakukan hal menakutkan seperti ini," kata bu Abbas sambil terisak. Bu Rahma meletakkan kepala bu Abbas di atas pundaknya, dan mengusap rambutnya.
"Ini salahku, aku salah karna tidak pernah memperdulikannya. Aku tidak marah kepadanya, aku marah karna ia lebih mementingkan suaminya daripada aku. Aku marah sama Raka yang tidak mengijinkannya pulang walaupun sebentar," sambung bu Abbas sesenggukan.
"Jika ia begitu menghargai dan lebih mementingkan suaminya, jadi tidak masuk akal bagi saya Hafiza melakukan pembakaran itu, apalagi sampai membunuh suaminya, aku sangat ti_," bu Rahma menghentikan kata-katanya. Ia melepaskan pegangan tangannya pada tubuh bu Abbas. Ia bangkit dan menengok ke arah jalan. Orang-orang yang melihat sikap bu Rahma, ikut mengarahkan pandangan mereka ke arah jalan.
"Faris?" kata bu Rahma lirih. Faris terlihat di ujung belokan jalan dan kini semakin dekat ke rumah pak Abbas.
Bu Rahma segera berjalan menyongsongnya. Faris turun dari sepeda motornya dan bu Rahma segera memegang tubuhnya.
"Kenapa kamu kesini Nak, " kata bu Rahma, Faris tidak menjawab. Ia langsung berjalan ke arah orang-orang yang duduk dan membiarkan bu Rahma terus memegang tangannya.
Faris duduk bersila dan menatap orang-orang di depannya satu persatu. Terakhir, ia menatap ke arah bu Rahma dengan berlinang air mata.
"Kenapa Bu, kenapa Ibu tidak memberitahukan aku kejadian ini. Kenapa Ibu dan Bapak memperlakukan aku seolah-olah aku ini bukan bagian dari keluarga kalian," kata Faris mulai menangis. Orang-orang yang ada di hadapannya ikut menangis.
Pak Abbas bangkit dan mendekati Faris. Ia lalu duduk dan memeluk tubuh Faris.
__ADS_1
"Maafkan bapak Nak, bapak tak ingin mengganggu akad nikahmu. Sudah waktunya kamu bahagia," kata pak Abbas. Faris memijat-mijat ujung kedua matanya , seperti hendak menahan air mata yang keluar.
"Bukan ini caranya Pak. Akad nikah itu seharusnya ditunda dan tak boleh dilakukan saat Bapak dan Ibu sedang berkabung," kata Faris. Bu Rahma hanya bisa mendesah. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pikirannya kini tertuju kepada Rumaniati. Baru sehari menikmati masa pengantinnya, Faris sudah meninggalkannya. Dia berharap pak Nasirin bisa memakluminya dan tak terjadi konflik antara mereka.
"Masalahnya Nak Faris, kita tak tahu harus mencari adikmu kemana. Tak seorangpun yang pernah melihatnya. Bapak sempat berpikir dia ikut terbakar di dalam rumah bersama Faris, tapi pihak kepolisian memastikan, hanya ada satu orang yang jadi korban, yaitu Raka," kata pak Abbas.
"Biar aku yang akan mencarinya. Aku telah berjanji, tidak akan pulang sebelum membawanya pulang," kata Faris tiba-tiba. Kata-katanya tegas dan membuat bu Rahma terbengong.
"Tapi bagaimana istrimu Nak, dia pasti akan bertanya-tanya kenapa kamu meninggalkannya terlalu lama, gak boleh seperti itu Nak," kata bu Rahma. Ia menatap wajah Faris lekat.
"Benar Nak, kamu tidak boleh menyakiti perasaan istrimu," sambut bu Abbas. Faris menggeleng.
"Jangan hanya mengikuti hawa nafsumu Nak, jangan kamu bertindak seolah-olah kamu tahu isi hati seseorang, menyakiti hati Rumaniati berarti menyakiti hati ibu juga," kata bu Rahma dengan nada bicara semakin melemah. Nada yang menyimpan ancaman kepada Faris.
Faris menoleh dan menatap ibunya. Ia tahu betul bahwa saat ini ibunya sedang memendam kekecewaan yang dalam kepadanya. Faris memegang tangan ibunya dan menciumnya.
"Ku mohon, mengertilah Bu, mengertilah..., aku tidak bisa tenang bersama Rumaniati jika malam-malamku terus memikirkan Hafiza. Aku janji, jika aku sudah menemukan Hafiza, aku tidak akan mengecewakan Rumaniati lagi." Faris kembali terisak. Bu Rahma menatapnya sedih. Sorot matanya terlihat melemah.
"Aku tidak akan bisa tenang, jika aku masih tahu, Hafiza ada di luar sana dalam keadaan tidak aman," sambung Faris. Ia melepaskan tangan bu Rahma.
"Baiklah, ibu mengijinkanmu." Suara bu Rahma lirih setelah sejenak suasana diliputi kebisuan. Faris menoleh. Ia tersenyum dan memeluk bu Rahma.
__ADS_1
"Tapi dengan syarat." Faris melepaskan pelukannya dan kembali menatap bu Rahma.
"Jemputlah Rumaniati pulang agar ibu bisa menjadi penggantimu saat ia sendiri. Dan, ibu tidak mengijinkanmu mencari Hafiza sampai malam. Jika sudah maghrib, pulanglah dan temani istrimu," kata bu Rahma. Faris mengangguk dan memegang tangan bu Rahma.
"Faris janji Bu, Faris akan mendengar kata-kata Ibu,"kata Faris meyakinkan bu Rahma.
"Sekarang, aku pamit dulu mau menjemput Rumaniati," sambung Faris. Bu Rahma dan pak Abbas mengangguk.
Setelah bersalaman, Faris pergi. Sejurus kemudian, tubuhnya segera menghilang di balik belokan jalan. Semua pandangan tertuju ke arahnya.
"Maaf jika aku mengatakan seperti itu pada Faris Kak, bukannya aku tidak peduli sama Hafiza, aku hanya tak ingin Faris membuat istrinya kecewa dan bersedih," kata bu Rahma. Ia memandang pak Abbas dan bu Abbas. Keduanya mengangguk.
"Tidak apa-apa Dik Rahma, kami mengerti maksud Dik Rahma," kata pak Abbas.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu Kak, aku harus menyiapkan kamar buat Rumaniati sambil menunggu kedatangan mereka." Bu Rahma bangkit dan mulai menyalami orang-orang di depan dan sampingnya satu persatu.
"Ayo Bib, antar ibumu pulang," kata pak Abbas kepada salah seorang di depannya. Orang yang diperintahkan pak Abbas segera bangkit dan melangkah ke arah sepeda motor yang terparkir di halaman rumah.
Untuk beberapa saat suasana kembali membisu. Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka setelah kepergian Faris dan bu Rahma. Satu persatu mereka berpamitan dan meninggalkan pak Abbas berdua dengan istrinya.
Adzan zuhur terdengar dari arah masjid desa. Matahari bersinar terik. Faris dengan perasaan tak menentu di atas sepeda motornya, terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia harus berpacu dengan waktu untuk segera menemukan Hafiza.
__ADS_1