
Delisa menghentikan sepeda motornya ketika sudah sampai di pintu gerbang rumah Hajjah Sayuti. Dia membalik sepeda motornya ke arah jalan masuk gang, dengan maksud agar mudah tancap gas bila terjadi sesuatu di dalam sana. Dia tak mau berurusan lagi dengan Hajjah Sayuti. Dia hanya menginginkan bayaran itu dan segera cabut dari tempat itu.
Delisa turun dari motornya. Perlahan ia mendorong pintu gerbang di depannya. Delisa mendesah lega. Pintu gerbang itu tak terkunci. Dengan sangat hati-hati, ia memasukkan setengah badannya ke dalam gerbang. Ia tersenyum. Ia melihat Hafiza sedang menyapu di teras kamarnya. Delisa menarik tubuhnya keluar perlahan. Ia melambaikan tangannya kepada Kasni dan bi Ijah yang masih menunggu di depan sana. Bi Ijah memegang tangan Kasni dan mengajaknya mendekat ke tempat Delisa.
"Kalian berdua bisa bergantian melihatnya, ingat, kalian harus hati-hati," bisik Delisa ketika keduanya sudah sampai di dekatnya. Dia memegang tangan bi Ijah dan menyuruhnya masuk. Bi Ijah memperhatikan dengan seksama seorang perempuan tanpa jilbab yang sedang menyapu di dalam sana. Delisa menyentuh tangannya ketika bi Ijah semakin dalam memasukkan tubuhnya.
Bi Ijah menatap Kasni. Kasni mengerutkan dahinya. Bi Ijah kemudian menarik tangan Kasni dan menyuruhnya lebih mendekat. Melihat itu, Delisa menjadi cemas. Ia takut Hajjah Sayuti memergoki mereka sebelum ia medapatkan bayarannya.
"Tolong, berikan aku uang itu, aku harus buru-buru pergi," bisik Delisa. Bi Ijah memandang Kasni, seperti meminta kepastian bahwa perempuan yang mereka lihat saat ini benar-benar Hafiza. Kasni mengangguk dan mendekati Delisa. Dia mengeluarkan bungkusan plastik warna hitam dari tasnya dan dengan berat hati memberikannya kepada Delisa. Delisa tersenyum dan tanpa basa-basi, ia langsung mendorong sepeda motornya menjauh dari gerbang. Tak lama kemudian, Delisa menghidupkan mesin sepeda motornya dan langsung tancap gas meninggalkan keduanya.
"Kamu yakin dia adalah Hafiza," bisik bi Ijah di telinga Kasni. Kasni mengangguk . Tatapannya terus tertuju ke arah Hafiza. Kasni meraba tangan bi Ijah.
"Dia masuk," bisik Kasni. Dia membuka lebih lebar pintu gerbang dan menarik tangan bi Ijah masuk. Suasana di sekitar rumah nampak sepi. Hafiza telah menutup pintu kamarnya. Kasni dan bi Ijah masih berdiri di depan kamar. Menoleh kesana kemari memastikan tidak ada orang yang sedang melihat mereka.
Dengan pelan, Kasni mengetuk pintu. Hafiza yang baru saja membaringkan tubuhnya, bangkit dan berjalan ke arah pintu. Bi Ijah terlihat memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana panjangnya. Perlahan pintu dibuka dari dalam. Ketika tubuh Hafiza terlihat sebagian dari balik pintu, Kasni mendorongnya dan masuk ke dalam. Tubuh Hafiza terus didorongnya hingga terbentur di dinding kamar. Bi Ijah yang ada di belakang langsung menutup pintu.
Jantung Hafiza berdebar. Dia tidak menyangka bahwa Kasni dan bi Ijah sekarang ada di depannya.
__ADS_1
"Bi Ijah? Kasni?" tanyanya heran.
"Bangsat kamu Hafiza. Ternyata kamu bersembunyi di sini," kata bi Ijah geram. Ditekannya tubuh Hafiza kuat ke dinding. Hafiza mendongak sambil meringis ketika Kasni mencekik lehernya.
"Kamu telah membunuh Raka dan menganggap dirimu sudah aman dengan bersembunyi di sini," kata bi ijah dengan tatapan tajamnya. Hafiza mencoba membantah apa yang dikatakan bi Ijah dengan menggelengan kepalanya ditengah cekikan tangan Kasni.
"Aku ti_dak mem_bu_nuhnya_Bik," kata Hafiza dengan suara terpotong-potong. Dia merasa kesulitan bernafas karna tubuh bi Ijah begitu kuat menekan dadanya.
"Bangsat! kalau memang kamu tidak membunuhnya, kamu pasti sudah ikut tewas di sana. Kalau kamu merasa tidak bersalah, kenapa kamu lari," kata bi Ijah sembari semakin kuat menekan tubuh Hafiza. Ada banyak hal yang ingin disampaikan Hafiza, namun ketika bibirnya bergerak, Kasni semakin memperkuat cekikannya. Dia benar-benar tak mampu melepaskan diri.
Bi Ijah kembali memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Perlahan ia mengeluarkan pisau kecil dari dalamnya. Dengan mulut meringis menahan amarah yang meluap-luap, ia mengarahkan ujung pisau itu ke perut Hafiza dan menusuknya. Hafiza melonjak kaget saat sesuatu yang tajam menusuk perutnya. Matanya terbelalak menahan sakit. Kasni menatap heran melihat Hafiza yang terlihat begitu kesakitan. Perlahan ia melepaskan cekikannya.
"Kenapa Bibi membunuhnya," tanya Kasni heran sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Pisau yang ada di tangan bi Ijah perlahan terlepas. Ia segera mengusap tangannya ke celananya ketika melihat tangannya berlumuran darah. Dia panik melihat darah mulai menggenang di lantai.
"Ya, Allah, Bi, apa yang Bibi lakukan. Bukan ini rencananya Bi," kata Kasni Panik. Ia seperti ingin menangis.
"Aku hanya ingin membalaskan dendam Raka. Polisi terlalu lamban, aku takut mereka tidak bisa menangkap Hafiza dan melupakan kasus ini," kata bi Ijah.
__ADS_1
Tubuh Hafiza terkapar di lantai bersimbah darah. Erangan kesakitannya membuat Kasni semakin takut. Ia segera menarik tangan bi Ijah dan mengajaknya keluar.
"Hei! siapa kalian!" teriak Hajjah Sayuti di depan pintu rumahnya saat melihat Kasni dan bi Ijah berlari menuju gerbang. Hajjah Sayuti berusaha mengejar mereka dan mulai meneriaki mereka maling. Bi Ijah dan Kasni menjadi gelagapan dan bertambah panik. Hajjah Sayuti terus mengejarnya. Teriakan Hajjah Sayuti menarik perhatian orang-orang di jalan dan di depan-depan toko.
"Tolong, tangkap mereka, mereka pencuri," teriak Hajjah Sayuti keras. Orang-orang yang melihat segera berlari dan ikut mengejar Kasni dan bi Ijah. Kasni dan bi Ijah terpojok. Mereka pasrah saat Hajjah Sayuti meminta orang-orang membawanya ke rumahnya. Dalam sekejap, orang-orang sudah berkerumun dari berbagai arah.
"Mereka mencuri apa Bu Hajjah," kata salah seorang di antara kerumunan.
"Aku belum tahu pasti, yang jelas, mereka ketakutan saat aku memergoki mereka," kata Hajjah Sayuti. Langkahnya semakin dipercepat. Ia tiba-tiba khawatir dengan Hafiza. Ia sama sekali tak terlihat keluar saat ia meneriaki kedua orang itu.
Hajjah Sayuti membuka pintu gerbang rumahnya lebar-lebar dan membiarkan orang-orang masuk membawa Kasni dan bi Ijah. Ia bergegas masuk ke kamar Hafiza, dan tak berapa lama kemudian, ia kembali terdengar berteriak histeris.
"Tolong, tolong!" Teriak Hajjah Sayuti sambil keluar dari kamar. Orang-orang sontak berhamburan ke arah kamar. Mereka terperangah begitu melihat seorang perempuan terkapar bersimbah darah di lantai.
"Dia sudah mati," kata salah seorang yang memberanikan diri memeriksa Hafiza. Tangis Hajjah Sayuti pecah. Ia meraung-raung memanggil nama Hafiza. Sambil menangis, ia mendekat ke arah Kasni dan bi Ijah. Dengan membabi buta, ia arahkan pukulannya ke wajah keduanya. Kasni dan bi Ijah berteriak kesakitan ketika kedua tangan bi Ijah bergantian menjambak rambut keduanya.
"Cepat, seseorang, hubungi polisi," kata laki-laki itu bangkit. Ia menyuruh orang-orang yang berkerumun di depan pintu untuk menyingkir.
__ADS_1
"Kamu, periksalah, apa benar ia sudah mati," katanya lagi sambil memegang tangan seorang laki-laki di depannya. Laki-laki itu segera mendekat.Setelah beberapa saat ia memeriksa bagian tubuh tertentu dari Hafiza, ia bangkit dan menganggukkan kepalanya.
"Dia sudah mati,"