JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#52


__ADS_3

"Hus,hus,hus, ayo pergi sana. Jangan ganggu kami lagi. Lihat, kekasihku sudah terbangun," Faris, seperti orang yang terkejut, segera naik ke atas gundukan kuburan Hafiza. Ia tampak melakukan gerakan seperti orang yang sedang mengangkat tubuh seseorang untuk berdiri. Faris tersenyum. Ia kemudian menari di sisi kubur. Setelah puas menari sendiri di sisi kubur Hafiza, Faris menoleh ke arah bu Rahma dan Rumaniati yang masih bersimpuh di depannya.


"Bangun, bangun, hep,hep, hep, ayo bangun," kata Faris menyuruh keduanya untuk bangun. Rumaniati memegang tubuh bu Rahma dan mengajaknya berdiri.


Faris mengambil sebuah ranting kering di dekatnya. Dengan posisi orang yang sedang memanah, ia mengarahkan salah satu tangannya, bergantian ke arah Rumaniati dan bu Rahma.


"Terimalah, panah dewa Amor akan melesat ke arahmu, hep...sssiat," Faris mengayunkan salah satu tangannya ke arah Rumaniati. Melihat Rumaniati hanya berdiri saja, ia berbalik dan meloncati kubur Hafiza.


Faris terlihat bingung ketika melihat tidak terjadi apa-apa pada Rumaniati. Ia menyangka panah yang ia lihat melesat dari tangannya akan melukai Rumaniati. Matanya melirik kesana kemari sambil menyembunyikan wajahnya di balik gundukan tanah kuburan Hafiza.


Rumaniati mendesah. Terlihat tatapan putus asa dari matanya. Usahanya membawa Faris pulang hari ini menjadi sia-sia. Ia menatap bu Rahma yang tampak terdiam pasrah di sampingnya. Bu Rahma mengangguk kecil mengajak Rumaniati pulang.


"Sudahlah, Nak, kita pulang saja. Tak ada gunanya lagi kita menemui Faris. Kita ikhlaskan saja," kata bu Rahma. Rumaniati menggeleng.


"Tidak seperti itu, Bu, kita harus berusaha agar kak Faris sembuh," kata Rumaniati. Ia memegang tangan bu Rahma.


"Aku akan menghubungi bapak, aku akan meminta bantuan untuk membawa kak Faris ke Selak Alas," Lanjut Rumaniati. Bu Rahma mengernyitkan dahinya.


"Selak Alas?, Di mana itu, Nak," tanya bu Rahma ingin tahu.


Rumaniati melirik ke arah Faris.


"Rumah sakit jiwa, kak Faris harus kita bawa ke sana untuk mendapatkan perawatan sampai dia sembuh," kata Rumaniati.


Bu Rahma mendesah. Ia menarik tubuh Rumaniati pelan dan mengajaknya menuju sebuah pohon di dekat gerbang masuk pekuburan. Melihat orang-orang di depannya menjauh, Faris mengeluarkan wajahnya dari balik gundukan tanah.

__ADS_1


"Gak usah, Nak, ibu malu kalau bapakmu sampai tahu apa yang menimpa suamimu. Keluargamu sudah berkorban terlalu banyak untuk kami," kata bu Rahma berusaha mencegah.


"Kak Faris itu suamiku, Bu. Dia juga menantu bapak. Bapak sangat menyayangi kak Faris. Beliau pasti akan marah karna kita tidak memberitahunya keadaan kak Faris saat ini,"


Bu Rahma terdiam menatap Rumaniati. Rumaniati tersenyum.


"Serahkan sama saya, Bu, ini untuk kebahagiaan kita berdua, Bu. Jika kak Faris sembuh, kita tidak akan tersiksa seperti ini lagi. Kita belum berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan kak Faris. Kita hanya butuh bersabar beberapa bulan untuk melihatnya sembuh seperti sedia kala." Rumaniati kembali memegang kedua tangan bu Rahma. Ia menggenggam tangannya erat. Bu Rahma mendesah pelan. Setelah menatap wajah Rumaniati yang terus menebarkan senyum ke arahnya, ia mengangguk pelan.


"Baiklah, Nak, semua ibu serahkan kepadamu. Ibu hanya bisa berdoa, semoga suamimu cepat sembuh," kata bu Rahma.


Keduanya kemudian membalikkan tubuh mereka dan menghadap ke arah Faris yang kembali bersembunyi di balik gundukan tanah. Setelah tersenyum ke arah Faris, Rumaniati mengajak bu Rahma pulang.


Adzan Dhuhur terdengar dari seberang jalan. Angin yang menghempas daun-daun kamboja, membuat bunga-bunganya berguguran di tanah pekuburan.


* * *


* * *


Hari ini, seperti biasa, Rumaniati telah bersiap-siap dengan makanan yang telah ia siapkan dalam rantang. Bu Rahma yang sedang menyapu di halaman segera menghampirinya.


"Nak, perginya sendiri dulu ya, ibu sudah ada janji sama bu Ijan," kata bu Rahma ketika Rumaniati berhenti di depannya.


"Ya, Bu, mudah-mudahan kak Faris mau makan seperti kemarin. Saya sudah buatkan dia bubur kacang ijo, mumpung masih hangat," kata Rumaniati.


"Amin, Nak, mudah-mudahan saja ada perubahan," harap bu Rahma.

__ADS_1


Rumaniati segera menaiki sepeda motornya.


"Bu, kalau bapak dan ibu sudah datang sebelum Ruman kembali, tolong beritahu ya, Bu," pesan Rumaniati. Bu Rahma tersenyum menganggukkan kepala.


Motor yang ditunggangi Rumaniati perlahan mulai meninggalkan halaman rumah. Bu Rahma mengikutinya dari belakang. Tubuh Rumaniati yang semakin jauh di pandangnya lekat hingga tak terlihat lagi.


* * *


Rumaniati melangkah hati-hati menuju tempat berbaring Faris. Tubuh Faris yang kurus, hampir tak dikenali sebab seperti menyatu dengan tanah.


Rumaniati duduk dan memperhatikan sedih wajah Faris. Faris terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya. Dadanya yang rata, tak memperlihatkan dengan jelas turun naik nafasnya.


Rumaniati menjulurkan tangannya pelan dan mencoba menyingsingkan rambut kusut Faris yang menutupi sebagian wajahnya. Faris terlihat membuka matanya perlahan. Tatapannya yang lemah langsung menatap ke arah wajah Rumaniati. Rumaniati tersenyum dan tetap berusaha menguatkan hatinya.


Rumaniati membuka rantang berisi bubur kacang hijau di depannya. Setelah mengaduknya beberapa saat, ia mengambilnya satu sendok dan menyodorkannya ke mulut Faris. Faris membuka mulutnya pelan. Rumaniati tersenyum. Ia begitu bahagia ketika melihat Faris mulai mengunyah makanannya.


Rumaniati mengernyitkan keningnya. Bibir Faris terlihat bergerak. Seperti ada sesuatu yang ingin dikatakannya.


Rumaniati mendekatkan telinganya hingga bersentuhan dengan bibir Faris. Ia mencoba menyimak setiap huruf yang diucapkan Faris dengan terbata.


"Ru_ma_ni_ati,"


Rumaniati terkejut, namun ia belum yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia dekatkan lagi telinganya. Dadanya bergemuruh dengan perasaan bahagia. Ia harus mendengar satu kali lagi apa yang dikatakan Faris tadi.


Katakan sekali lagi, Kak. Katakan, Ruman mau mendengarnya satu kali lagi," harap Rumaniati cemas.

__ADS_1


"Ru_ma_ni_ati."


Rumaniati menggelengkan kepalanya. Air matanya deras mengalir. Ia bisa mendengar dengan pasti, huruf demi huruf yang dikatakan Faris walaupun dengan terbata-bata.


__ADS_2