JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#18


__ADS_3

Fajar telah menyingsing. Pagi-pagi sekali Faris sudah terlihat memanaskan sepeda motornya di depan rumah. Hari ini ia berniat pergi ke kantor SAMSAT untuk membayar pajak. Setelah itu ia akan ke kota untuk membelikan ibunya beberapa peralatan untuk membuat kue. Ia harus menyiapkan semua kelengkapannya berkendara jauh agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Faris mengendarai sepeda motornya pelan di atas jalanan beraspal. Ia terlihat sangat menikmati belaian angin yang berhembus, sembari merasakan hangatnya sinar matahari yang mulai terlihat di sebelah timur.


Raka memelankan laju sepeda motornya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di belakang. Saat melihatnya pertama kali, ia ragu untuk berhenti. Tapi sesuatu berbentuk segi empat berwarna hitam yang tergeletak di sisi jalan membuatnya memikirkannya terus. Ia membalikkan sepeda motornya dan mendekat ke arah sesuatu itu.


Sebuah dompet berwarna hitam tergeletak di sisi jalan. Faris mengambilnya. Sebelum membalikkan motornya, ia mencoba membuka dompet. Ada beberapa lembar uang di dalam dompet, STNK, SIM dan beberapa kartu ATM. Di lipatan lain, ia juga menemukan sebuah kalung emas. Faris menoleh ke sekelilingnya. Suasana di jalan raya masih sepi.


Faris memeriksa identitas dalam KTP. Pemiliknya bernama Ahmad Nasirin yang beralamat di desa Janapria kabupaten lombok tengah. Kebetulan ia akan melewati wilayah lombok tengah setelah urusannya di kantor pajak selesai. Mungkin sepulangnya nanti dari membeli peralatan kue ibunya, ia akan mencoba mencari alamat itu.


Faris melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia berhenti di warung kopi ketika ia merasa letih selama perjalanannya. Setelah urusannya selesai di kantor pajak, ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju Mataram.


...*****...


Hafiza memulai pagi ini dengan wajah ceria. Hatinya berbunga-bunga setelah tadi malam Raka memberikannya suntikan semangat untuk menjalani hari-harinya. Kali ini ia akan berusaha tidak terlalu terbawa oleh perasaannya. Ia harus menampakkan kepada orang-orang, terutama Kasni, bahwa ia adalah istri sah Raka dan hanya dia yang berhak untuk Raka.

__ADS_1


Sebuah sepeda motor terlihat melaju ke arah rumahnya. Seorang laki-laki memakai helm warna hitam dengan membawa seorang perempuan di belakangnya. Semakin mendekat dan perlahan Hafiza mulai mengenali seorang perempuan yang sedang menggendong seorang bayi di belakang laki-laki itu. Dia adalah Kasni. Dia datang lagi. Entah untuk apa, yang jelas kali ini Hafiza sudah siap menghadapinya.


"Kemana Raka," tanyanya singkat. Ia seperti hendak masuk ke dalam rumah, tapi dengan tegas Hafiza mencegahnya.


"Dia sedang tidur. Katakan saja apa keperluanmu. Jika itu menyangkut anaknya, aku akan membantumu. Tapi jika itu masalah pribadimu dengan Raka, maka aku sebagai istri sahnya akan melarangmu." Hafiza menatap ke arah Kasni. Kasni mengangguk dan tersenyum ketus.


"Wah, kayaknya sudah mulai tegas nih Nyonya Raka. He! Saya kasih tahu ya, kamu itu memang istri sahnya tapi kamu itu pelakor. Pelakor itu tak lebih dari pencuri,"kata Kasni berusaha mengejek. Telunjuknya bergerak cepat mengarah ke wajah Hafiza, berusaha menjelaskan. Hafiza tersenyum.


"Terserah apa katamu, yang jelas kalian telah bercerai,"sambung Hafiza. Kasni lebih mendekat.


"Sudah Nak, gak enak dilihat tetangga pagi-pagi ribut,"kata bu Raka sambil memegang tubuh keduanya. "Ada apa pagi-pagi datang Nak Kasni,"sambungnya.


"Ini Bu, susu formula Nabil sudah habis, popoknya juga sudah habis. Saya kesini mau minta uang sama bapaknya,"kata Kasni. Tatapan matanya masih tak mau berpaling dari Hafiza. Begitu juga Hafiza, ia masih membalas tatapan Kasni.


"Kalau hanya untuk popok dan susu formula gak perlu menemui Raka, biar aku yang urus." Hafiza masuk kedalam rumah. Tak beberapa lama ia kembali dengan membawa tiga lembar uang kertas. Ia langsung memberikannya kepada Kasni.

__ADS_1


Bayi yang ada dalam gendongan Kasni menangis. Melihat itu Hafiza hendak mengambilnya. Tapi bu Raka mendahuluinya, ia buru-buru membawanya ke rumahnya


"Ingat Nak, jangan ribut,"kata Bu Raka sambil menggendong cucunya pergi.


"Jangan sombong, ini baru awal. Selanjutnya kamu pasti akan menyesal telah menikah dengan Raka. Siklus kehidupannya seperti itu-itu terus. Siap-siaplah jadi kepala rumah tangga."


Kasni melangkah pergi menyusul bu Raka. Hafiza masih menatapnya. Kata-kata terakhir Kasni mengganggu pikirannya.


Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamarnya. Di sisi ranjang ia duduk menatap Raka yang terbaring pulas dalam tidurnya.


Ia belum tahu pasti apa pekerjaan Raka selama ini. Bagi orang yang belum mengenalnya, pasti berkesimpulan bahwa Raka adalah laki-laki elit yang pastinya berduit. Bentuk tubuhnya yang seratus persen milik orang kaya, cara berpakaian yang selalu rapi dan sikapnya yang sedikit angkuh dan semua tanda kebanyakan orang kaya ada pada dirinya.


Ia sendiri baru menyadari ketika mendengarnya tadi dari Kasni. Kasni tentu lebih mengenal Raka dari pada dirinya, karna Raka adalah mantan suaminya. Walaupun usia pernikahan mereka hanya bertahan satu tahun, tapi itu cukup bagi Kasni untuk memberi penilaian terhadap sikap dan sifat Raka.


Ia tidak bisa menafikan kekhawatiran tentang pekerjaan Raka. Itu juga bukan berarti ia tidak percaya pada rizki yang diberikan Allah. Tapi untuk hidup harus ada kepastian, karna itu merupakan ikhtiar untuk menyambung hidup.

__ADS_1


Hafiza mendesah dan ikut membaringkan tubuhnya di samping Raka. Dari belakang, ia memeluk tubuh Raka dengan berbagai pikiran yang mulai mengganggunya.


__ADS_2