
Mata Hafiza masih terlihat lebam oleh kejadian tadi malam. Ditambah lagi oleh tangisnya semalaman. Ia belum berani keluar dan masih duduk di dalam kamar. Ia hanya keluar habis subuh tadi untuk membersihkan halaman. Dia tidak ingin orang-orang melihat lebam di matanya dan akhirnya mencoba mencari tahu apa yang sudah terjadi. Biarlah untuk sementara waktu ia tidak keluar dulu, sampai lebam di matanya benar-benar sembuh. Raka masih tertidur pulas di atas ranjang. Seperti tanpa bersalah. Dan seperti biasa, ia akan terbangun nanti jam dua belas siang. Benar-benar pemandangan yang membosankan. Dia memikirkan uang untuk makan dan kebutuhan sehari-hari yang mulai menipis. Jika Kasni datang lagi dan meminta uang popok anaknya, maka habislah persediaan uang yang masih disimpannya.
Dia belum melihat tanda-tanda Raka akan bangun pagi. Seperti para tetangga lainnya, yang saban pagi pergi bekerja di sawah mereka. Dia masih melihatnya seperti itu sejak pernikahan mereka. Dan Hafiza sendiri merasa sudah tidak berani lagi menegurnya, setelah untuk dua malam ini, ia mendapatkan perlakuan tidak baik dari Raka. Air matanya mungkin sudah habis setelah semalaman ia sesenggukan dalam tangisnya. Ia yakin Raka mendengar tangisnya sesekali waktu ketika ia membalikkan tubuhnya, tapi mungkin ada iblis yang telah mencuri perasaan ibanya.
Hafiza mendesah. Dilihatnya kunci motor di samping Raka terbaring. Raka belum sempat memasukkan motornya ke dapur tadi malam. Motor itu masih terparkir di luar rumah.
Hafiza mulai berpikir yang tidak-tidak. ******* nafas panjangnya seperti mencoba menghalau pikiran yang terlintas. Tapi ketika ia mengingat kembali bagaimana sikap Raka tadi malam, ia cenderung mengiyakan ide yang muncul dalam pikirannya.
Mantap Hafiza bangkit. Ia melangkah pelan mengambil kunci di samping Raka. Mumpung masih gelap dan orang-orang kebanyakan masih belum keluar dari rumah masing-masing. Hafiza merencanakan keluar lewat belakang rumah yang sepi.
Dengan pelan Hafiza membuka pintu rumah dan keluar. Ia menoleh ke arah rumah mertuanya. Terlihat sepi. Begitupun juga dengan rumah-rumah di sekitarnya. Setelah merasa tidak ada orang yang memperhatikannya, Hafiza perlahan mendorong sepeda motor menuju belakang rumah dan melewati jalan kecil yang ditumbuhi semak-semak. Dan ketika telah sampai di jalan beraspal di depannya, Hafiza langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.
......................
Di sebuah warung kopi di tepi jalan, Faris menghentikan sepeda motornya. Jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 9 pagi. Kira-kira tiga kilo lagi ia akan sampai di rumahnya. Tapi sepanjang perjalanan tadi ia merasakan kepalanya pusing. Dia memutuskan berhenti untuk minum kopi sambil melepas penatnya. Setelah menghabiskan kopinya, ia kembali melanjutkan perjalananya. Kali ini ia mengendarai motornya tak sekencang tadi saat pulang dari rumah pak Nasirin. Tangannya masih terasa pegal ketika menekan dengan keras gas motornya.
__ADS_1
Faris menoleh ke seberang jalan. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia lebih memelankan laju sepeda motornya. Karna masih penasaran, ia menghentikan sepeda motornya dan menepikannya di tepi jalan. Kaca helmnya diturunkannya. Seorang perempuan yang sepertinya ia kenal sedang mengisi bensin di salah satu kios di seberang jalan. Perempuan itu menaiki sepeda motornya dan melaju kencang melewatinya. Faris segera menaiki sepeda motornya dan mulai menguntitnya dari belakang. Perempuan itu terus menggeber kencang laju sepeda motornya dan dilihatnya berhenti di sebuah dermaga di tepi laut. Faris mendesah. Untuk beberapa saat tadi ia sangat cemas karna perempuan di depannya, benar-benar tidak peduli dengan keselamatannya.
Faris mendorong motornya perlahan dan memarkirnya agak tersembunyi di balik semak-semak. Tidak salah lagi, wanita yang kini termenung sendiri menatap laut adalah Hafiza. Mungkin itulah arti mimpinya tadi malam. Ia yakin Hafiza sedang bersedih dan lari dari suaminya, Raka.
"Hafiza," Faris memberanikan diri memanggil ketika jaraknya sudah tiga langkah berada di belakang Hafiza. Perlahan Hafiza membalikkan tubuhnya. Walaupun pelan, ia masih mengenal suara itu.
Kini Faris dan Hafiza sudah saling berhadap-hadapan. Pancaran cahaya di kedua mata mereka, menyiratkan kerinduan yang lama terpendam. Air mata Hafiza mengalir. Begitu juga dengan Faris. Sebuah kerinduan karna perpisahan yang lama. Kaki mereka seperti ditarik oleh sebuah kekuatan sehingga mendekatkan mereka sedekat mungkin, dan kedua tubuh itu akhirnya menyatu dalam pelukan masing-masing.
Untuk beberapa lamanya mereka tenggelam dalam tangis masing-masing. Tak ada yang mau melonggarkan pelukan masing-masing.
"Kenapa matamu Hafiza," kata Faris saat melihat mata Hafiza sedikit menghitam.
"Aku tak mau menceritakannya. Yang jelas ini adalah tanda ketidakbahagiaanku,"Hafiza menggeleng. Faris mengusap air mata di pipi Hafiza. Faris tersenyum.
"Tapi kau tetap cantik hari ini. Tak ada yang mengalahkan pesonamu di mataku," bisik Faris, membuat air mata Hafiza kembali deras mengalir. Kembali ia mengusap air mata di pipi Hafiza. Perlahan Faris melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Tapi kita tidak boleh seperti ini Hafiza. Kamu masih milik sah Raka." Mendengar kata-kata Faris, Hafiza menundukkan kepalanya.
"Pulanglah dan bicarakan baik-baik dengan Raka. Aku ingin hubungan kalian baik-baik saja. Aku ingin kamu bahagia, karna hanya dengan itulah aku bisa membuktikan kecintaanku padamu, kau telah mengambil resiko ini Hafiza, maka hadapi dan cari jalan keluar yang terbaik."
Hafiza menggeleng.
"Aku sudah terlanjur kabur. Aku harus pulang ke rumah bapak. Jika Raka masih menginginkanku, ia pasti akan datang menjemputku,"kata Hafiza.
"Pulanglah, kemanapun kamu akan pulang. Aku tidak mau melihatmu di sini sendirian,"kata Faris. Di tatapnya wajah Hafiza dengan tatapan sedih. Wanita yang seharusnya ia jaga, namun terhalang oleh ikatan yang kini mengikatnya. Benar kata mimpinya semalam. Hafiza memang sedang berduka. Nadinya yang berdetak, menembus ruang dan waktu dan menciptakan denyut yang sama di nadinya. Apa yang Hafiza rasakan, menciptakan sistem ketidaktenangan dalam jiwanya. Dan inilah kenyataan yang ia lihat. Hafiza seperti telah kehilangan separuh kebahagiaannya.
"Ayolah, aku akan mengikutimu dari belakang,"bujuk Faris. Hafiza melangkah lemah mengikuti perintah Faris.
Faris terus mengikuti Hafiza dari belakang. Ketika Hafiza berbelok menuju jalan ke rumah orang tuanya, Faris berhenti dan menghantarnya dengan tatapan penuh harap.
Hafiza menangis ketika melihat Faris berhenti mengikutinya dari balik kaca spion motornya. Untuk sejenak tadi ia seperti telah menemukan surganya yang hilang. Dan kini saat bayangannya semakin menjauh, dia seperti masuk kembali ke dalam lorong gelap dan menakutkan.
__ADS_1