
Faris masih membuntuti mobil polisi di depannya. Sepanjang perjalanan, beberapa kali terdengar nada panggilan ponsel di saku bajunya berbunyi. Dia hanya meliriknya saja dan tak punya kesempatan untuk mengangkatnya.
Faris memperlambat laju sepeda motornya ketika melihat mobil polisi itu terus melaju kencang. Ia sempat mengira mobil itu akan berbelok di pertigaan menuju rumahnya. Rupanya mobil itu langsung membawa kedua pelaku pembunuhan itu menuju polres. Dia sudah terlalu lelah jika harus mengikuti mobil itu setelah perjalanan panjangnya sejak pagi tadi. Dia juga sudah tidak punya uang lagi untuk membeli bensin, sedangkan jarak menuju polres masih tiga puluh kilo lebih.
Faris meraih ponsel di dalam sakunya. Ia mendesah. Terlihat ada sepuluh panggilan dari Rumaniati. Panggilan yang tak pernah dilakukan Rumaniati sejak ia mencari Hafiza. Kali ini mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan Rumaniati.
* * *
Sementara itu. Suasana berduka terlihat di kediaman pak Abbas. Orang-orang yang datang melayat, memenuhi halaman rumah pak Abbas. Tangis masih terdengar di dalam rumah. Pak Abbas sendiri terlihat tabah dan sudah menerima kenyataan yang menimpa anaknya, Hafiza.
Terlihat juga beberapa orang petugas dari kepolisian ikut duduk bersama orang-orang di teras rumah menemani pak Abbas.
"Maaf, Pak," kata pak Abbas kepada salah satu polisi di depannya. "Untuk kelanjutan kasus ini bagaimana Pak. Anak saya yang menjadi tertuduh sudah meninggal" sambung pak Abbas lemah sambil menundukkan kepalanya.
"Itu yang ingin kami bicarakan sama Bapak. Ini juga yang pernah kami katakan kepada keluarga dari pihak korban. Penyelidikan kasus ini terus berlanjut. Kami masih mendalami keterangan dari salah satu warga di desa itu. Insya Allah, cepat atau lambat kasus ini pasti akan terungkap."
Pak Abbas menatap petugas itu dengan mata berbinar- binar.
"Berarti anak saya bukan pelakunya?" tanya pak Abbas. Orang-orang yang penasaran, mengarahkan pandangan mereka ke arah petugas.
"Penyelidikannya masih berlanjut Pak, percayakan pada kami untuk mengungkapnya. Jika anak Bapak terbukti tidak bersalah, maka tugas kami adalah mengembalikan nama baik anak Bapak. Kami minta doa dan dukungan dari bapak-bapak yang ada di sini," jelas petugas itu panjang lebar. Pak Abbas mengangguk penuh harap.
__ADS_1
* * *
"Nak,apa kamu sudah menghubungi suamimu," kata bu Rahma kepada Rumaniati yang masih menemani bu Abbas di samping jasad Hafiza.
"Sudah Bu, tapi kak Faris belum menjawab. Mungkin dia lagi atas sepeda motornya," jawab Rumaniati. Bu Rahma mendesah dan melangkah mendekati bu Abbas yang duduk termenung menatap wajah kaku Hafiza. Bu Rahma mengusap-usap pundak bu Abbas. Ia tersenyum saat bu Abbas menatap ke arahnya.
"Kak, saya dan Ruman pamit pulang dulu, saya takut Faris pulang dan tak menemukan orang di rumah. Insya Allah, nanti malam saya datang lagi kalau memang jenazah Hafiza akan dimakamkan nanti malam," kata bu Rahma. Bu Abbas tersenyum sembari menganggukkan kepala.
"Pulanglah Dik, beritahu nak Faris baik-baik, jangan sampai kamu mengagetkannya,"
Bu Rahma tersenyum. Ia mencium kening bu Abbas. Rumaniati ikut duduk dan menyalami bu Abbas.
Setelah berpamitan dengan pak Abbas dan orang-orang yang bersamanya, bu Abbas dan Rumaniati kemudian pulang.
* * *
Faris mendesah. Hafiza tak juga bisa ia temukan sampai hari ini. Dia sendiri sadar pencariannya selama ini memang sia-sia. Tanpa petunjuk yang jelas dan hanya mengikuti kata hatinya yang resah. Gagalnya hari ini menemukan Hafiza, membuatnya tak bersemangat pulang. Setiap kali memikirkan Hafiza, pikirannya menjadi kacau. Terus berpura-pura tersenyum di depan Rumaniati membuat batinnya tersiksa. Jika tidak karna pernikahannya dengan Rumaniati sudah terjadi, tentu saat ini ia sudah membatalkannya. Bukannya ia tak mencintai Rumaniati. Ini hanyalah masalah rasa yang sangat sulit ia ceritakan pada siapapun. Sekalipun mereka mengerti, itu semua hanya akan jadi gunjingan panjang yang menyakitkan. Bahkan ia sudah mengambil sebuah keputusan berat. Jika ia berhasil menemukan Hafiza dan kasus hukumnya sudah selesai, ia akan menikahi Hafiza. Dia merasa tidak bisa lagi memendam perasaannya hanya karna tak ingin menyakiti perasaan orang lain. Ia akan memberikan pilihan kepada Rumaniati, memilih bertahan dengan menerima Hafiza sebagai madunya atau berpisah dengannya. Ia tak mau lagi terhalang oleh kata-kata orang tentang keputusan yang akan diambilnya. Dia tak mau menyakiti perasaannya lagi, bahkan jika ia harus kehilangan nyawa karna keputusannya, ia akan menerimanya dengan penuh keikhlasan.
Adzan ashar terdengar berkumandang,membuyarkan Faris dari lamunannya. Ia menyeruput kopinya sekali dan mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Berapa Bu," Kata Faris sambil menyerahkan uang lima puluh ribu kepada perempuan pemilik warung.
__ADS_1
"Sepuluh ribu," jawab perempuan itu. Ia mencabut charger hp dan meletakkan di atas meja depan Faris.
"Terimakasih Bu," kata Faris. Setelah menerima kembalian uangnya, ia segera bergegas menuju sepeda motornya.
* * *
Rumaniati melepas mukena yang dipakainya ketika terdengar suara ketukan dan panggilan dari bu Rahma dari luar pintu kamarnya. Ia segera bergegas membuka pintu kamar.
"Ada apa Bu," kata Rumaniati ketika melihat bu Rahma di balik pintu.
"Maaf Nak, Ibu cuma mau tanya, apakah kamu sudah menghubungi suamimu lagi," jawab bu Rahma. Rumaniati mendesah dan menganggukkan kepala lemah.
"Sudah Bu, tapi kayaknya kak Faris mematikan ponselnya,"
Bu Rahma mengernyitkan dahinya. Faris benar-benar membuatnya khawatir. Dari tadi ia masih memikirkan bagaimana reaksi Faris saat mengetahui bahwa Hafiza sudah meninggal. Siang tadi, ia tak mau memejamkan matanya, takut Faris pulang dan Rumaniati memberitahunya. Bukannya ia tidak ingin Faris tahu, tapi ia khawatir Rumaniati tak bisa mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskannya pada Faris. Faris sudah mencari Hafiza seharian selama dua hari ini. Dan betapa akan terpukulnya ia saat mengetahui Hafiza sudah mati.
"Coba sekali lagi Nak, siapa tahu sekarang bisa," kata bu Rahma sambil tersenyum. ia mencoba sebisa mungkin menyembunyikan kegelisahannya di hadapan Rumaniati.
Rumaniati berpaling dan melangkah mengambil ponsel di atas meja. Setelah menekan nomor Faris di daftar panggilan, ia kembali menghampiri bu Rahma.
Rumaniati menggeleng. Bu Rahma kembali mendesah pendek.
__ADS_1
"Mungkin, baterai ponsel kk Faris mati Bu. Sekarang, ibu tunggu di luar dulu ya. Nanti Ruman menyusul. Ruman mau buatkan ibu teh dulu biar ibu lebih tenang." Rumaniati merangkul tubuh bu Rahma dan mengajaknya ke teras rumah. Setelah mendudukkan bu Rahma di atas kursi, Rumaniati kembali masuk ke dalam rumah.