
Tepat jam 5 sore, Faris tiba di sebuah pertigaan jalan. Beberapa plank di pinggir jalan menunjukkan arah yang tepat sesuai tujuannya. Sudah sangat sore, dan jika ia memutuskan untuk mengantarkan dompet itu kepada pemiliknya dengan alamat yang tertera di ktp, jaraknya masih sangat jauh. Ia akan kemalaman di jalan. Jalan pulang yang akan ia lewati, sudah masyhur sebagai jalan yang rawan penghadangan dan perampokan jika malam telah tiba.
Faris merenung saja, mencoba memantapkan pilihannya. Barang-barang yang ada di dalam dompet semuanya berharga. Pemiliknya mungkin saat ini sedang susah memikirkannya. Apalagi jika dia sedang membutuhkan sesuatu. Anak atau keluarganya sakit barangkali.
Ah, Faris mengambil ponsel di saku bajunya. Ia sudah memutuskan untuk menelpon ibunya, memberitahukan kepadanya bahwa saat ini ia tidak bisa pulang dan akan menginap di rumah temannya.
Setelah mendapatkan ijin dari ibunya, ia melanjutkan perjalanan melewati jalan panjang dan berlubang.
Faris menghentikan sepeda motornya di sebuah jalan kecil menurun di depan sebuah warung. Dia memeriksa tangki bensinnya dan mengisinya beberapa liter. Dompet yang ia temukan tadi pagi dikeluarkannya dan mengambil salah satu kartu pengenal dari dalamnya. Setelah membayar, ia mendekati pemilik warung.
"Bu, saya mau nanya, desa Piling itu dimana ya Bu,"tanya Faris sambil membacakan alamat dalam kartu.
"Terus aja Nak lewat jalan kecil itu,"kata pemilik warung sambil menunjuk ke arah jalan menurun di samping Faris. "Memangnya mau cari siapa ke Piling Nak,"sambung pemilik warung.
Kembali Faris memperhatikan kartu."Ke rumah bapak Ahmad Nasirin Bu, Ibu kenal?"
Ibu pemilik warung tersenyum.
"Siapa yang gak kenal pak Nasirin di sini Nak, Dia itu mantan kepala desa kami dulu,"jawabnya. "Kamu nanti terus saja ke sana, nanti kalau kamu sudah ketemu rumah paling besar, ada mobilnya warna hitam dan bercat biru, itu dia rumahnya, tapi hati-hati jalannya agak gelap,"sambungnya.
Faris mengangguk dan berpamitan kepada pemilik warung. Dengan pelan ia mengendarai sepeda motornya melewati jalan kecil di depannya. Baru setelah kurang lebih satu menit, akhirnya ia sampai di rumah yang disebut pemilik warung.
Suasana di sekeliling rumah besar bercat biru itu tampak terang benderang oleh cahaya lampu di setiap sudutnya. Seperti cerita ibu pemilik warung, rumah itu paling mencolok dari rumah sekitarnya, dan yang paling besar. Di garasi juga terlihat sebuah mobil sedan warna hitam terparkir. Halaman rumah itu amat luas. Dari luar pagar ia melihat beberapa anak kecil sedang bermain di teras rumah.
Faris melambaikan tangannya kepada salah seorang anak yang melihatnya berdiri di gerbang rumah. Anak itu terlihat masuk ke dalam rumah, dan tak lama kemudian ia keluar bersama seorang laki-laki paruh baya.
Laki-laki paruh baya itu mendekat. Melihat sosoknya yang masih menyimpan aura seorang pemimpin, Faris meyakini bahwa orang yang berjalan ke arahnya adalah pak Ahmad Nasirin, pemilik rumah.
"Assalamualaikum Pak," Faris mengucap salam.
"Waalaikum salam,"kata laki-laki itu dari balik pagar gerbang."Mau cari siapa Nak,"tanya kemudian. Faris tersenyum
"Saya mau cari bapak Ahmad Nasirin Pak,"
"Oh, saya sendiri. Ada urusan apa Nak,"
__ADS_1
"Saya mau mengantarkan sesuatu milik Bapak."
Pak Nasirin membuka gerbang dan mempersilahkan Faris masuk.
"Ngomong-ngomong Nak_siapa kalau boleh tahu,"
"Faris Pak,"
"Oya, Nak Faris ini dari mana," sambung pak Nasirin.
"Saya dari Jerowaru Lombok Timur Pak,"
"Wah, jauh sekali. Bapak jadi penasaran, Nak Faris jauh-jauh kesini hanya untuk menemui saya." Pak Nasirin mempersilahkan Faris duduk ketika sudah sampai di ruang tamu.
"Rumaniati, buatkan kita kopi dua Nak," Panggil pak Nasirin. Seorang perempuan keluar dari dalam kamar.
"Tamunya dari mana Pak," kata perempuan itu.
"Ini Nak Faris, dia dari Jerowaru,"
"Ini istri saya Nak Faris," berhenti sejenak, "lho Bu, Rumaniatinya kemana," pak Nasirin menoleh ke belakang.
"Sudah Pak, lagi buat kopi di dapur." Pak Nasirin mengangguk.
Tidak berapa lama kemudian, wanita cantik berkaca mata keluar. Faris menoleh. Agak tertegun sejenak. Saat menghidangkan kopi di depan Faris, wanita itu melirik ke arah Faris.
"Ini anak saya Nak Faris, namanya Rumaniati,"kata pak Nasirin memperkenalkan anaknya. Wanita yang dipanggil Rumaniati hanya tersenyum menganggukkan kepala ke arah Faris. Setelah itu ia melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ngomong-ngomong ada keperluan apa ni Nak Faris,"kata pak Nasirin. Faris mengeluarkan sebuah dompet warna hitam dari celananya. Merasa mengenal dompet itu, pak Nasirin memanggil kembali Rumaniati.
"Nak, keluar Nak,ni dompet bapak sudah ketemu,"kata pak Nasirin sebelum sempat Faris mengatakannya. Faris meletakkan dompet diatas meja. Rumaniati keluar, melihat dompet di atas meja, ia nampak kegirangan. Pak Nasirin mengambil dompet dan memeriksa isinya satu persatu. Tidak ada yang kurang, baik uang maupun beberapa kartu di dalamnya. Sebuah kalung emas juga dikeluarkannya dan memberikannya pada Rumaniati.
"Terimakasih sekali Nak Faris, dari kemarin kami mondar-mandir mencari dompet ini, kami sama sekali gak ingat kalau kemarin kami pergi liburan ke pantai kura-kura,"kata bu Nasirin.
"Kami ke pantai kura-kura dalam rangka liburan sekaligus kampanye Nak Faris. Insya Allah bapak akan ikut pemilihan caleg tingkat provinsi tahun depan,"kata pak Nasirin sambil tersenyum. Faris membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
Faris mendehem mencoba mengusir serak di tenggorokannya. Secangkir kopi di depannya diseruputnya setelah pak Nasirin mempersilahkannya minum.
"Saya pamit Bak, Bu, sudah malam. Saya takut ibu mencari saya,"kata Faris kemudian.
Pak Nasirin memeriksa jam tangannya. Karena keasikan, waktu telah menunjukkan jam sepuluh lebih. Pak Nasirin menatap Faris
"Ini sudah malam Nak Faris, terlalu berbahaya kalau Nak Faris harus kembali ke Jerowaru jam segini. Menginaplah di sini semalam saja. Anggap ini sebagai ungakapan terimakasih kami kepada Nak Faris,"
Faris menggaruk-garuk kepalanya. Melirik kesana kemari. Masih belum bisa memutuskan walaupun sebenarnya ia ragu untuk pulang. Mengingat jalan yang akan ditempuhnya sangat sepi dan berbahaya, ia tertarik dengan tawaran pak Nasirin. Jujur ia juga takut kalau harus pulang, tapi ia menunggu ketegasan pak Nasirin. Setidak-tidaknya pak Nasirin memaksanya.
"Rumaniati, kamu beres-beres di kamar kakakmu sana, biar Nak Faris tidur di sana. Sudah malam, Nak Faris gak boleh pulang,"kata bu Nasirin. Faris sedikit lega. Rumaniati segera melaksanakan perintah ibunya. Kamar itu ada di belakangnya. Terpisah dari ruang utama. Setelah selesai membenahi kamar, Rumaniati keluar
"Nak, siapkan kue-kue untuk Nak Faris, biar ada cemilan begadang,"kata pak Nasirin, "Kasih juga password wifi,"sambung pak Nasirin. Rumaniati hanya tersenyum. Faris serba salah, ia merasa pak Nasirin terlalu berlebihan melayaninya.
"Kalau begitu, kita istirahat Nak Faris, besok kita bincang-bincang lagi."Pak Nasirin dan bu Nasirin bangkit dan melangkah ke dalam rumah.
"Gak usah sungkan-sungkan Nak, kami sudah terbisa menerima tamu. Jadi, anggap rumahnya sendiri," kata bu Nasirin begitu berada di dalam rumah. Faris mengangguk tersenyum.
Faris memperhatikan ruangan ukuran 5 x 4 bercat ungu di depannya. Ranjang besar beralaskan spray merah muda dan beberapa bantal guling seperti menunggu Faris merebahkan tubuh lelahnya. Di samping kamar, agak menjorok seperti lorong terdapat kamar mandi ukuran 2 x 1 meter.
Setelah meletakkan tasnya di atas lantai, ia membaringkan tubuhnya perlahan di atas ranjang. Terdengar suara deheman lembut dari arah pintu. Faris bangkit.
...****************...
Rumaniati masih berdiri di depan kamar tempat Faris berada. Ia masih ragu untuk mengetuk pintu kamar itu. Ia hanya mendehem berharap Faris mendengarnya.
Pintu kamar terdengar dibuka, Rumaniati berusaha tetap tenang. Faris terlihat keluar.
"Bapak menyuruh saya memberikan Kakak kode wifi,"kata Rumaniati sungkan. Faris menggaruk-garuk kepalanya. Pak Nasirin benar-benar serius dengan ucpannya tadi. Ia kembali ke dalam kamar dan keluar kembali membawa ponselnya. Sambil berdiri Rumaniati mulai memasukkan kode wifi.
"Boleh saya minta nomornya,"kata Faris memberanikan diri ketika Rumaniati berbalik hendak pergi. Wangi parfum yang digunakan Rumaniati sesekali tercium di hidung Faris. Wanita itu sangat cantik. Mulai dari mata dan keseluruhan yang menempel di wajahnya sangat mengagumkan. Ibarat bertemu artis idola, rugi kalau tidak bisa mendapatkan nomor hp nya.
Rumaniati memperlihatkan sebuah nomor di hp nya dan Faris segera mencatatnya. Dengan perasaan malu, Rumaniati pamit meninggalkan Faris.
"Kapan-kapan, kalau mau main-main ke rumah, saya siap membantu,"kata Faris sebelum Rumaniati masuk ke dalam rumah. Rumaniati tersenyum menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Malam beranjak larut. Dua insan yang telah menebarkan ketertarikan satu sama lain, kini gelisah di kamar masing-masing. Masing-masing sibuk berkelana di dunia maya untuk mencari identitas masing-masing. Mulai mencari pencarian di facebook dan instagram, hingga kantuk memaksa mereka lelap dalam tidur dan mimpi indah.