
Malam mulai beranjak larut. Suasana di rumah pak Nasirin mulai terlihat sepi. Di sisi ranjang, Rumaniati masih duduk dengan perasaan campur aduk. Faris kini telah berdiri di depannya setelah beberapa menit tadi masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Wangi tubuhnya begitu harum, membuat dadanya semakin berdebar. Ia menatap Faris malu saat Faris semakin mendekat ke arahnya. Kipas angin yang kencang berputar, tak mampu mengusir keringat dingin di tubuhnya.
"Kamu sudah berwudhu'?" tanya Faris dengan suara bergetar. Rumaniati tersenyum tersipu malu. Faris meletakkan tangannya di ubun-ubun Rumaniati. Ia memejamkan matanya dan bibirnya bergerak seperti melafalkan sesuatu.
"Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan kebiasaan yang sudah Engkau berikan kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istri dan keburukan kebiasaan yang sudah Engkau berikan kepadanya."
Rumaniati tersenyum sembari melafazkan kata Amin. Dada Rumaniati berdebar kencang. Ia memejamkan matanya ketika bibir Faris mengarah ke lehernya. Suara Faris lirih ketika mengucapkan "Ya Raqibu" sebanyak tujuh kali di leher Rumaniati. Darah Rumaniati berdesir, mengalir terasa cepat ke seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan, Faris membaringkan tubuh Rumaniati di atas ranjang. Wangi aneka bunga yang dihias rapi di atas ranjang, semakin membuat gairah keduanya bergejolak. Rumaniati tetap memejamkan matanya. Ia memasrahkan seluruh tubuh dan pikirannya untuk Faris, yang kini tengah menindih tubuhnya dengan lembut. Rasa bahagia yang disatukan dalam penyatuan dua tubuh yang kini hanya berbalut selimut, mengantarkan mereka pada puncak kenikmatan tiada tara.
*
*
Malam semakin larut. Hafiza masih belum bisa memejamkan matanya setelah seharian tadi memaksa tubuhnya berjalan berkilo-kilo meter. Di ruangan sempit dan hanya beralaskan tikar, ia hanya bisa menatap lampu temaram di atasnya. Sesekali ditepuknya nyamuk-nyamuk yang bernyanyi di telinganya. Pikirannya kini tentang rumahnya yang terbakar, serta bagaimana susahnya kedua orang tua dan keluarganya memikirkannya, menjadi topik yang membuat matanya semakin terjaga.
Hafiza meraih hp nokia 3310 di samping kepalanya. Dia belum berani mengaktifkan kembali ponselnya. Dia takut orang-orang menghubunginya dan akhirnya mengetahui keberadaannya. Dia tidak pernah lagi membuka Fb sejak Raka menukar ponselnya dengan ponselnya kini. Raka beralasan, tidak mau melihatnya terpengaruh dengan apa yang ia lihat di media sosial. Mungkin malam ini, berita kebakaran dan kematian dirinya telah tersebar di dunia maya. Akan ada banyak ungkapan duka cita kehilangan dari teman-temannya, atau mungkin mengomentari status Raka yang dramatis karna merasa kehilangannya.
Ah, Hafiza mendesah. Raka akan menikmati kebahagiaannya karna bisa menikahi selingkuhannya. Dan, bagaimana juga kabar Faris malam ini? Mungkin ia sudah menikah dan tentu malam ini ia sedang memadu kasih dengan istrinya. Memang sudah saatnya kekasih masa lalunya itu berbahagia. Dia harus ikut berbahagia dan mendoakannya agar tak menemui nasib yang sama seperti dirinya.
Tapi sudahlah, ia akan jadi orang lain yang tak akan dikenal lagi oleh siapapun. Semuanya ia serahkan kepada Tuhan, jika suatu saat nanti Ia menghendaki untuk mempertemukannya kembali dengan keluarganya, waktu pasti akan membawanya kesana.
Hafiza mencoba memejamkan matanya. Mulutnya mulai terdengar bergumam mendendangkan lagu-lagu islami. Ia seperti berusaha menikmatinya, walaupun tanpa disadarinya, air mata telah mengalir di pipinya.
Suara gemericik air dari selokan seberang jalan terdengar menyejukkan. Jangkrik-jangkrik dan binatang malam lainnya terdengar ramai di belakang rumah. Suara pepohonan di kebun belakang rumah terdengar bergemerisik, menina bobokan Hafiza menuju alam tidurnya.
*
*
__ADS_1
Suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Pagi-pagi sekali, sehabis shalat subuh, ia sudah berada di halaman rumah membersihkan dedaunan yang berserakan akibat angin semalam. Hajjah Sayuti yang baru keluar dari rumahnya segera menghampiri Hafiza.
"Aduh, jadi ngeropotin Nak, sudah, biar ibu yang bersihkan," kata Hajjah Sayuti. Ia hendak mengambil sapu lidi di tangan Hafiza, tapi Hafiza memegangnya erat.
"Gak apa-apa Bu, saya sudah biasa melakukannya di rumah. Udah Bu, biar saya yang bersihkan," kata Hafiza setengah memohon. Hajjah Sayuti menatap Hafiza. Melihat tatapan setengah memohon Hafiza, ia tersenyum. Sapu lidi yang bersandar dekat pintu gerbang diambilnya dan ikut menyapu di samping Hafiza.
"Bu, penghuni kamar yang lain kok sepi. Apa mereka masih tidur?" tanya Hafiza.
"Mereka sedang libur Nak, kebetulan pabrik sepatu tempat mereka kerja memberikan mereka cuti," jawab Hajjah Sayuti sambil terus mengumpulkan dedaunan di depannya.
"Kamu juga kerja di sana Nak," tanyanya lagi. Sejenak Hafiza terdiam. Mungkin ia harus menjawab ya agar Hajjah Sayuti tahu maksud kedatangannya menyewa tempat tinggal di rumahnya.
"Benar Bu, tapi mudah-mudahan bisa diterima," kata Hafiza mantap.
"Mudah-mudahan Nak, tapi ibu yakin Nak Hafiza pasti diterima, kebetulan kata salah seorang yang menyewa kos di rumah ibu, dia pulang untuk mengajak kerabatnya kerja di sini. Pabriknya lagi butuh tambahan pekerja,"
Hafiza tersenyum. Keterangan Hajjah Sayuti membuatnya tidak akan repot-repot mencari pekerjaan.
"Emh, ngomong-ngomong, Nak Hafiza sudah menikah?"
Hafiza lagi-lagi terdiam. Dia masih mencari jawaban. Ia pura-pura tidak mendengar pertanyaan Hajjah Sayuti. Suara sapu lidinya semakin ia keraskan.
"Nak Hafiza dengar Ibu?"
"Oh, ada apa Bu." Hafiza pura-pura kaget.
Hajjah Sayuti tersenyum dan menghentikan menyapunya.
"Ibu tanya, apakah Nak Hafiza sudah berkeluarga,"
__ADS_1
Hafiza tersenyum.
"Eh, maaf Bu, tadi saya gak denger, keasikan menyapu," kata Hafiza. "Sudah Bu, tapi suami saya meninggal karna kecelakaan,"
Hajjah Sayuti menatap Hafiza sedih.
"Maaf Nak, Ibu turut berduka cita,"
Kembali Hafiza tersenyum. Mereka berdua kembali melanjutkan aktifitas menyapu mereka.
"O ya Bu, orang-orang yang menyewa kos di sini dari mana saja," kata Hafiza setelah untuk beberapa saat tidak terjadi perbincangan antara keduanya.
"Kamar paling depan ini dari Bima, yang tengah dari Lombok Utara dan yang satu lagi, ibu tidak tahu," kata Hajjah Sayuti.
"Dia yang ibu usir dua hari yang lalu karna memasukkan laki-laki di kamarnya," sambung Hajjah Sayuti.
"Astaghfirullah," kata Hafizah sambil mengusap dadanya.
"Kerja di pabrik juga Bu," tanya Hafiza lagi. Hajjah Sayuti tak segera menjawab. Ia mengajak Hafiza duduk di sebuah bangku di bawah pohon klengkeng.
"Kata orang-orang sih, mereka berdua satu kantor. Kalau gak salah...," Hajjah Sayuti seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Dinas Pertahanan, Dinas Persawahan, atau pertanahan kali ya,"
"Kok bisa masuk Bu, gerbangnya di kunci,"
"Laki-lakinya masuk lewat belakang. Setelah ibu periksa, ternyata mereka membuka penutup lubang angin di kamarnya. Ibu sudah usir dia. Tapi dia belum membawa barang-barangnya,"
"Makanya, ibu sekarang membatasi penghuni kos di sini. Kalau sudah jam 10 malam, gak boleh ada yang membawa teman ke kamar mereka," sambung Hajjah Sayuti.
__ADS_1
Hajjah Sayuti mengambil sapu lidi yang dipegang Hafiza dan menyandarkannya di batang pohon klengkeng.
"Ayo Nak, bantu ibu beres-beres di dapur. Temani ibu sarapan," kata Hajjah Sayuti. Ia lalu memegang tangan Hafiza dan mengajaknya masuk rumah.