
Suara langkah kaki itu masih terdengar dan tiba-tiba berhenti di depan pintu rumah. Hafiza mendorong pelan tubuh Raka. Selimut di sebelahnya berbaring diambilnya dan langsung menutup tubuhnya.
Terdengar ketukan dari arah pintu. Jantung Hafiza berdebar. Matanya menoleh kesana kemari.
"Raka, Raka! Keluarlah, anakmu menangis terus. Keluarlah dan antar aku pulang."
Terdengar suara perempuan yang tidak asing di telinga Hafiza. Itu suara Kasni, mantan istri Raka. Ia ternyata belum tidur dan sepertinya sengaja ingin mengganggu malam pertamanya bersama Raka.
Hafiza jadi bingung. Benar-benar sesuatu di luar dugaannya. Kasni dengan bebasnya berkeliaran di tengah malam dan mengganggu kebahagiaannya. Begitu bebasnya ia mengetuk pintu rumah yang bukan lagi menjadi miliknya. Ditambah lagi permintaannya yang aneh kepada seorang yang bukan menjadi miliknya lagi. Apa dari segi hukum itu dibolehkan? Dia bukan mahrom suaminya. Rumahnya kalau diukur, jaraknya kurang lebih dua puluh kilo. Apa itu hal yang wajar? Kenapa juga ia datang di malam akad nikahnya, dengan membawa anaknya yang masih menyusui. Apa maksud sebenarnya dari wanita itu? Dan kenapa juga bibinya Raka, tempat Kasni menginap, sama sekali tidak mencegah kedatangannya?
Hafiza benar-benar bingung.
"Sebentar!" Teriak Raka sambil membenahi pakaiannya. Lampu remang-remang di matikannya. ia kemudian melangkah menuju pintu.
Hafiza hanya melihat bayangan Kasni di balik pintu yang dibuka setengah. Hafiza membalikkan wajahnya membelakangi pintu. Ia berharap Raka tegas dan memarahi Kasni.
"Ada apa sih malam-malam kesini. Apa tidak bisa menunggu besok pagi."
__ADS_1
Kasni menengok ke dalam kamar. Ia tidak bisa melihat Hafiza begitu jelas. Lampu di luar rumah terhalang oleh tirai jendela.
"Hafiza, maaf mengganggu, saya kesini hanya ingin memperingatkan suamimu akan kewajibannya. Susu formula anaknya habis, begitu juga dengan popoknya. Aku belum istirahat semalaman karna menyusui. Aku juga malu sama bibi karna Nabil ngompol terus. Nikah bisa tapi nafkah untuknya anaknya kosong. Dasar laki-laki tak tahu diri," umpat Kasni. Dada Hafiza terasa sesak mendengar kata-kata Kasni. Ia merasa tak dihargai sama sekali oleh Kasni. Tak terasa air mata mengalir di pipi Hafiza.
"Sudah Kas, ini sudah malam. Lagi pula kemana aku harus cari popok." Mata Kasni melotot tajam mendengar jawaban Raka. Sebuah pisau dapur yang sengaja ia persiapkan sebelum menemui Raka dikeluarkannya dari balik bajunya. Ia mulai menodongkannya ke arah Raka. Raka yang panik berusaha mendorong pintu dari dalam, Kasni mencoba menahannya. Tapi kekuatan yang tak seimbang membuat Kasni menyerah. Melihat pintu di depannya sudah tertutup, amarah Kasni semakin memuncak. Kali ini dia menggunakan kaki dan tangannya untuk menggebrak pintu sehingga mengagetkan orang-orang dari tidurnya. Seketika orang-orang sudah terdengar ramai di luar rumah.
Hafiza masih menangis di atas ranjangnya. Ia tampak duduk dengan kedua kaki ditekuk ke atas, menyandarkan dagunya sambil terisak-isak.
Terdengar beberapa orang berusaha menenangkan Kasni. Sumpah serapah Kasni masih terdengar lantang, menggebrak ruang paling sensitif dalam diri Hafiza. Dilihatnya Raka masih berdiri di hadapannya tanpa mencoba menenangkannya. Jika malam ini Kasni begitu berkuasa di tempat itu, dia tidak tahu bagaimana tersiksanya ia pada malam-malam selanjutnya. Apa yang ia bayangkan tentang sosok Raka yang tegas dan berwibawa, ternyata tak lebih hanya seorang pecundang yang bersembunyi di balik selimutnya. Jika malam ini ia tidak bisa membuatnya nyaman dan tetap bahagia, maka akan sangat naas untuk malam-malam selanjutnya.
Raka duduk di samping Hafiza. Dia juga diam sambil *******-***** rambutnya. Ia nampak bingung. Hafiza menunggu ada kata-kata yang keluar dari mulut Raka. Ia berharap Raka menghampiri dan menenangkan hatinya. Tapi Raka masih diam saja. Tidak ada sama sekali reaksi.
Hafiza menoleh,"Seharusnya kamu memberitahuku jika keadaannya akan jadi seperti ini Aku orang baru di sini, dan aku sama sekali tidak terbiasa dengan keadaan seperti..
"Diam!"
Hafiza terkejut. Ia terperangah. Ia sama sekali tak menyangka Raka akan membentaknya seperti itu. Hafiza menutup wajahnya dengan selimutnya dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
Terdengar suara bayi dari luar rumah. Tak beberapa lama kemudian, pintu kembali diketuk. Itu pasti Kasni yang membawa bayinya. Hafiza tidak tahu lagi apa maksud Kasni membawa bayinya. Ini akan jadi malam panjang yang menakutkan.
Hafiza tiba-tiba bangkit dan menyalakan lampu. Setelah merapikan rambut dan mengusap air matanya, ia melangkah dan membuka pintu. Kasni terlihat berdiri di depan pintu. Hafiza tidak mengatakan apa-apa. Dot bayi di tangan bayi diambilnya, setelah itu ia juga mengambil bayi yang di gendong Kasni dan membawanya ke dalam kamar.
Ia kemudian membaringkan bayi itu di atas ranjang dan mulai memasangkan dot di mulutnya. Perlahan bayi itu terdiam.
Pintu masih terbuka. Kasni masih berdiri di luar, begitu juga Raka yang masih tak berpindah dari tempatnya. Suasana membisu. Hanya sesekali terdengar suara bayi yang tertawa sebab digoda Hafiza. Hafiza tak peduli lagi apakah Kasni akan masuk dan tidur bersama mereka di kamar yang satu. Terserah, itu bukan urusannya. Lagi pula Raka sama sekali tidak peduli.
Bayi itu sudah terpulas di depan Hafiza. Ketika Hafiza menoleh, Kasni sudah tidak ada di sana. Raka melangkah menutup pintu dan mendekati Hafiza. Hafiza diam saja. Dari belakang, Raka memegang pundaknya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Aku sama sekali tidak menyangka akan jadi seperti ini."Raka membalikkan tubuh Hafiza pelan. Kini keduanya saling pandang. Kedua tangan Hafiza di genggam Raka erat-erat lalu menciumnya.
Hafiza memandang Raka. Wajah memelasnya seolah-olah ingin memberitahu Raka, bahwa saat ini ia ingin dijadikan Ratu di rumah itu.
Raka meraih kepala Hafiza dan mencium keningnya. Seketika hati Hafiza menjadi luluh. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, bahwa apa yang dilakukan Raka tadi mungkin karna panik dengan kedatangan Kasni. Ia menurut saja ketika Raka menggendong tubuhnya dan membaringkannya di atas tikar yang tergelar di bawah ranjang. Suasana di dalam kamar seketika gelap saat Raka mematikan lampu.
Malam kembali dengan nyanyian sunyinya. Mendendangkan irama malam yang khas, mengiringi dua insan yang sedang bercinta. Menanggalkan segala resah dan menyatukan rasa bahagia.
__ADS_1