
Langit di atas desa terlihat mendung. Suasana menjadi gelap. Kilat menyambar-nyambar disertai gemuruh yang menggelegar. Perlahan hujan mulai turun dengan derasnya. Hafiza masih terlihat berdiri dan berteduh di bawah daun pisang, tak jauh dari rumahnya. Air yang mulai menggenang di halaman rumah terlihat semakin meninggi. Hafiza terkejut ketika seekor anjing berwarna hitam tiba-tiba lewat di depannya. Anjing itu terus berjalan dengan santainya menghindari genangan air, lurus dan mengarah ke rumahnya. Pintu rumahnya masih terbuka lebar akibat angin yang menghempas. Hafiza mulai panik ketika melihat anjing itu masuk ke dalam rumahnya. Hafiza segera melempar daun pisang yang menaungi kepalanya dan segera berlari sembari berteriak mengusir anjing itu. Tapi sayang, anjing itu sudah teranjur masuk.
Hafiza menoleh kesana kemari begitu tiba di dalam rumahnya. Dia tidak melihat anjing itu. Dada Hafiza berdebar. Dia menggeser tubuhnya pelan ke arah sapu yang bersandar di dekat pintu. Hafiza terdiam sejenak. Pintu kamar semuanya tertutup. Kemungkinannya hanya satu, anjing itu berada di dapur. Itu satu-satunya ruangan yang tak berpintu.
Hafiza memegang kuat gagang sapu itu kemudian dengan hati-hati melangkah menuju dapur.
Hafiza hanya bisa tertegun begitu sampai di dapur. Ia melihat anjing itu sedang menjilat tempat nasi yang ia letakkan di atas meja. Begitu juga dengan wadah-wadah berisi makanan lainnya.
Hafiza mendesah geram. Amarahnya menyingkirkan rasa takut di hatinya. Ia melangkah maju sambil mengayunkan sapu di tangannya ke arah anjing itu. Bukannya takut. Anjing itu berbalik dan meloncat menerkam Hafiza. Anjing itu berhasil menggigit salah satu kakinya. Hafiza berteriak keras meminta tolong.
__ADS_1
Tidaaa...k! Tolong!
Hafiza melonjak kaget dan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya terengah-engah dan dadanya berdebar kencang. Sejenak ia tertegun. Apa yang dilihatnya tadi benar-benar nyata. Mimpi yang menyeramkan.
"Astaghfirullah," desah Hafiza sambil mengelus dadanya. Perlahan Ia menggeser tubuhnya ke belakang dan menyandarkannya di dinding kamar. Malam terasa hening. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia merasa ketakutan.
Hafiza meraba-raba ke sampingnya. Ponsel yang seingatnya ia letakkan di sampingnya berbaring tak juga ditemukannya. Ia ingin tahu jam berapa saat ini. Dia belum berani menyalakan lampu. Rasa takutnya bahkan tak membiarkannya membuat gerakan apapun.
Hafiza menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Tidak mungkin Raka berselingkuh. Mimpi hanyalah bunga tidur. Mimpi hanyalah gambaran apa yang kita alami pada siang hari. Dia tak perlu memikirkan yang macam-macam, apalagi berprasangka yang tidak-tidak pada suaminya. Rumah tangganya akan baik-baik saja. Walaupun Raka telah bersikap kasar kepadanya, ia masih meyakini raka tidak akan selingkuh.
__ADS_1
Hafiza memejamkan matanya dan berusaha menenangkan hatinya. Perlahan ia bangkit dan melangkah pelan menuju kamar mandi. Setelah membasuh mukanya, ia kembali ke kamarnya dan membaringkan kembali tubuhnya. Tatapannya mulai menerawang ke langit-langit kamar. Tak terasa, air mata mengalir di pipi putihnya. Sesenggukan ia dalam isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
Ia sudah berusaha menolak arti mimpi itu. Tapi ketika ingat kembali bagaimana Raka mengatai-ngatainya kasar, juga sikap Raka setelah semalaman menghilang di tempat kerjanya, ia mulai mengiyakan kebenaran arti mimpi itu.
Benarkah mimpi itu ingin memberi isyarat kepadanya bahwa Raka memang selingkuh? Benarkah perubahan sikapnya yang tiba-tiba karna ada wanita lain di hatinya saat ini? Secepat itukah? Atau apakah kerja lembur hanya alasan saja agar bisa bertemu dengan selingkuhannya? Kata orang di desanya, jika melihat anjing menjilat tempat nasi, itu artinya ada wanita lain yang ingin merebut suami, atau sang suami sedang berhubungan badan dengan wanita lain. Hafiza resah.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benaknya. Ia mulai meragukan Raka tidak benar-benar bekerja di dinas pertanahan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
Hafiza benar-benar merasa tidak nyaman. Kemanapun ia menghadapkan wajahnya, yang terbayang adalah sesuatu yang buruk telah terjadi pada Raka dan akan terjadi juga dalam rumah tangganya. Kipas angin kecil yang berputar di atas meja, tak mampu menghilangkan panas dan gerah pada tubuhnya. Berbagai rasa tidak enak dalam hatinya bercampur menjadi satu dan tak mampu ia bendung lagi. Tanpa ia sadari, ia tiba-tiba berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Menjambak rambutnya sendiri dan berguling di atas ranjangnya. Berharap berbagai rasa tidak enak itu segera menyingkir dari hatinya.
__ADS_1
Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar menjelang subuh tiba. Suara yang terdengar amat merdu saat malam-malam bulan madunya bersama Raka, kini terdengar menyayat dan seperti menguliti hatinya. Hafiza terkapar lemah, tenggelam dalam tangisnya yang menyayat.