
Mentari pagi bersinar di ufuk timur. Suara kicau burung pagi bersahutan mengiringi segala aktifitas yang perlahan mulai bergerak. Beberapa perempuan mulai terlihat satu persatu mendatangi rumah Raka. Beberapa gadis juga terlihat berdatangan membawa beberapa perlengkapan memasak. Para tetangga terlihat mulai sibuk membantu mempersiapkan acara akad nikah Raka dan Hafiza. Perlahan suara ramai terdengar memecah sunyi pagi.
...*****...
Hafiza mendongakkan kepalanya. Seperti ada suara ribut-ribut yang terdengar dari sebelah rumah. Ia bangkit tapi kembali duduk. Mungkin itu suara ramai dari orang-orang yang datang dan ikut berpartisipasi mempersiapkan acara akadnya nanti malam. Tapi suara itu terdengar lagi, kali ini semakin jelas. Itu seperti suara teriakan seorang wanita. Kembali Hafiza bangkit dan hendak pergi ke sumber suara, tapi buru-buru ibu mertuanya mencegah.
“Nak Hafiza sini, bantu ibu membersihkan beras yang sudah ibu tampi," katanya sambil memegang tangan Hafiza. Tangan perempuan tua itu segera mengarahkan tubuh Hafiza ke teras rumah. Tapi baru saja Hafiza hendak menaiki teras rumah, tiba-tiba terdengar panggilan dari arah belakangnya.
__ADS_1
“Hafiza!" Hafiza menoleh, dan tampak olehnya seorang perempuan muda melangkah ke arahnya. Nafas Hafiza terhenti sejenak. Dahinya mengerut seperti mengingat sesuatu. Jantungnya berdegup semakin kencang. “Ya Allah, kalau gak salah itu mantan istrinya Raka," gumamnya. Ia pernah melihat photo profilnya di facebook. Tapi ia belum mengerti mau apa dia kesini, padahal ia sudah bercerai dengan Raka. Perasaan was-was dan takut menghinggapi hati Hafiza, seiring berbagai pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
“Kasni, kapan kesini Nak. Sendirian saja, dimana anakmu.” ibu Raka mencoba membuyarkan suasana tegang yang ia tangkap dari wajah Hafiza.
Kasni tersenyum dan menyalami bu Raka. “Sendiri saja bu, tapi insyaallah besok saya bawa Nabil ke sini. Sekalian kenalan dengan ibu barunya," kata wanita yang dipanggil Kasni itu sambil melirik ke arah Hafiza. Mendengar kata-kata wanita itu, Hafiza menundukkan kepalanya. Memang benar, wanita itu adalah mantan istri Raka. Hafiza mengambil nafas panjang, ia berusaha terlihat tenang dan melempar senyum bersahabat kepada Kasni yang terus memperhatikannya.
“Hafiza, aku minta waktunya sebentar saja. Ada yang harus kamu dengar.” Jamila menatap bu Raka, seperti meminta pertimbangan. Bu Raka menatap Kasni sejenak dan kembali mengarahkan pandangan ke arah Hafiza. Kali ini memberi isyarat dengan anggukan kecil kepalanya. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Tahu enggak, sebenarnya aku ingin rujuk dengan bapaknya Nabil, tapi aku gak tau tiba-tiba aku dapat kabar dari bibinya bahwa ia telah menikah lagi.” Kasni mendesah panjang dan kembali melanjutkan pembicaraannya,“Selama ini, ia belum pernah memberi nafkah kepadaku dan juga kepada anaknya. Ia beralasan bahwa aku ini perempuan nusyuz, istri yang durhaka kepada suaminya. Tapi setidak-tidaknya, ia harus memperhatikan kebutuhan anaknya. Membelikannya susu dan keperluan lainnya, ee, tau-taunya ia menikah dengan kamu.” Kasni kembali terdiam. Ia menatap Hafiza sejenak dan kembali melanjutkan kata-katanya.
“Aku hanya ingin berpesan agar kamu memperlakukan Nabil dengan baik, jadilah ibu yang baik untuknya.”
Hafiza mencoba tersenyum. Kejadian seperti ini begitu mengagetkannya, walaupun pada awalnya ada rasa iba yang muncul di hatinya saat mendengar penuturan panjang perempuan itu. Sejenak ia merasa seperti perempuan jahat yang telah merebut kebahagiaan wanita lain. Hafiza mendesah pelan. Ia mengira begitu Raka memboyongnya kerumahnya, yang akan ia temukan adalah dansa panjang bahagia tanpa putus. Apalagi dihari-hari menjelang akad nikahnya. Tidak dengan suasana yang mulai ia tangkap tidak bersahabat. Terlebih lagi harus bertemu dan berhadapan langsung dengan mantan istri calon suaminya. Tentunya harus ada alasan lain dari Kasni hadir sebelum akad nikahnya. Jika hanya untuk menyampaikan pesannya tadi, tak perlu jauh-jauh datang kemari.
Menurutnya, kehadiran wanita itu jelas akan mengganggunya. Membuatnya tidak tenang dan mengacaukan pikirannya. Dia tidak mencoba menjawabnya dengan kata-kata ataupun anggukan. Karna memang ia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya mendesah dan masih menunggu kata apalagi yang akan disampaikan Kasni.
__ADS_1
“Saya ucapkan selamat berbahagia, dan bisa jadi istri yang baik buat Raka, tentunya sekali lagi ibu yang baik juga buat anakku Nabil.” Ada nada tidak ikhlas yang terdengar dari kata-kata terakhir Kasni.
Setelah mengatakan itu, Kasni bangkit dan meninggalkan Hafiza sendiri. Setelah untuk beberapa saat tercenung, Hafiza membalikkan tubuhnya. Tubuh Kasni masih terlihat. Hafiza berharap perempuan itu segera pergi dari tempat itu dan tak ia lihat lagi, apalagi saat akad nikahnya nanti. Hafiza melihat Kasni menuju ke rumah salah satu bibi Raka. Bibi Raka terlihat begitu bersemangat menyambutnya, bahkan ia melihat mereka berpelukan begitu erat.