
Hafiza menggerakkan kepalanya ketika mendengar suara pintu sepeti diketuk. Sejenak ia mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia memijat keningnya kuat. Kepalanya terasa pusing dan matanya berat untuk dibuka. Entah jam berapa tadi ia bisa memejamkan matanya, setelah berjam-jam menunggu Raka pulang.
Terdengar lagi suara pintu diketuk. Kali ini terdengar agak keras. Hafiza melonjak bangun dan segera melangkah membuka pintu.
Hafiza mengusap-usap kedua matanya. Di depannya Raka berdiri dengan tatapan tak senang ke arahnya. Pintu yang setengah terbuka didorongnya keras. Bahkan tubuh Hafiza yang berdiri di depannya di dorongnya dengan tangannya sehingga membuat Hafiza hampir terjatuh. Hafiza terdiam. Sikap Raka yang kasar dan hanya diam tak menyapanya membuatnya bertanya-tanya. Tak ada kata sapaan apapun. Raka bahkan langsung saja masuk dan meletakkan tas raket di penggantungan dekat lemari. Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Jangan hidupkan lampu itu. Aku mau tidur, ngantuk." Hafiza kaget mendengar suara Raka ketika lampu ia nyalakan. Segera saja ia mematikannya kembali. Hafiza menatap tubuh Raka dalam kegelapan.
"Sudah jam 4, apa Kakak tidak tunggu shalat subuh dulu,"kata Hafiza sambil mendekat ke tempat Raka terbaring. Ia tahu Raka sedang tidak ingin diajak bicara, namun ia hanya ingin berusaha bersikap perhatian.
"Nanti saja,"kata Raka kesal. Ia membalikkan tubuhnya dan membelakangi Hafiza. Hafiza mendesah. Diambilnya selimut di dekatnya dan mulai menyelimuti tubuh Raka. Tapi lagi-lagi Raka menariknya dan melemparnya ke belakang dan mengenai wajah Hafiza. Kali ini Hafiza terlihat menangis, tapi tanpa suara. Di tatapnya lekat tubuh Raka.
"Dari sejak tadi pagi aku menunggu Kakak. Tadi malampun aku habiskan waktuku untuk menunggu kakak pulang. Kini aku serba salah dengan sikap Kakak. Jika aku punya salah, atau ada sesuatu yang membuat Kakak kecewa, katakan. Jika aku salah aku akan memperbaiki diri,"
__ADS_1
"Perbaiki saja hubunganmu dengan Ramlan,"kata Raka singkat. Hafiza mengerutkan keningnya. Ia masih tak mengerti apa yang dimaksud Raka. Dia juga tidak mengerti kenapa ia membawa-bawa nama Ramlan, saudara misannya. Sangat jauh dan tidak beralasan jika Ramlan dikaitkan dengan sikap Raka yang dingin.
"Kak Ramlan?, maksud Kakak apa?"
Raka bangkit dan melangkah menuju tempat penggantungan baju. Ia terlihat sedang mengambil sesuatu dari balik saku celana pendeknya.
Raka kembali dengan membawa beberapa lembar uang kertas. Ketika sudah berada di dekat Hafiza, ia melemparkannya ke arah wajah Hafiza. Sepuluh lembar uang kertas itu berhamburan di lantai. Hafiza masih tak mengerti. Ditatapnya wajah Raka dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Tapi dimana salahnya. Apa masalahnya sehingga kakak mempermasalahkan ini. ,"
"Dia masih mencintaimu. Dia masih mengharapkanmu. Dia mantanmu yang belum kamu putuskan bukan?, apa maksudnya dia mengirimkanmu uang. Itu sama saja ia meremehkanku,"
"Ya Allah Kak, Hafiza sudah putus dua tahun yang lalu. Dia itu juga saudara misan Hafiza. Dia bukan orang yang patut di cemburuin Kak." Hafiza mencoba meyakinkan Raka. Tapi Raka seperti tak peduli.
__ADS_1
"Jika memang karna uang ini, Hafiza akan mengembalikannya lagi. Hafiza tidak mau hanya gara-gara ini hubungan kita jadi berantakan." Hafiza mengumpulkan satu persatu lembaran uang yang tercecer dan memasukkannya ke dalam lemari. Isak tangisnya terdengar.
Untuk beberapa lagi suasana menjadi hening. Tak ada kata-kata yang yang keluar dari keduanya. Hanya sesenggukan tangis Hafiza yang terdengar sesekali.
Raka bangkit dan melangkah ke arah Hafiza yang masih berdiri dalam tangisnya. Ia kemudian memeluk tubuh Hafiza dari belakang dan mencium pipinya.
Raka membalikkan tubuh Hafiza pelan. Hafiza masih tertunduk. Isak tangisnya semakin menjadi- jadi ketika Raka mengangkat wajahnya.
Raka mengusap air mata di pipi Hafiza. Kembali ia mencium lembut kening Hafiza. Dia membisikkan kata-kata lembut di telinga Hafiza.
"Maafkan aku. Aku khilaf karna kecemburuanku yang berlebihan. Itu terjadi karna aku sangat takut kehilanganmu,"kata Raka sambil mencium tangan Hafiza. Hafiza mengangguk tersenyum. Raka kemudian perlahan mengajak Hafiza menuju ranjang.
Suara tarhim dari arah masjid terdengar lembut mengantar dua insan bercengkrama dalam penyatuan cinta. Rasa kesal, amarah dan cemas melebur dalam desah panjang cinta.
__ADS_1