
Hafiza merasakan kepalanya begitu berat ketika terbangun dari tidurnya. Cahaya terang dari lubang angin di kamarnya membuat matanya silau. Suara kipas angin masih terdengar menderu membuat kelambu penutup jendela bergerak ke sana kemari.
Dengan tubuh berat, Hafiza bangkit. Hafiza terdiam dan mengusap matanya. Ia melihat Raka terbaring miring memeluk bantal gulingnya. Ia begitu nyenyak. Ia mungkin terlalu lelah sehingga tak sempat membangunkannya setibanya di rumah. Tali tas ranselnya saja masih tersangkut di salah satu lengannya. Hafiza mengambil selimut dan menutup bagian bawah tubuh Raka.
Ia harus segera ke dapur mempersiapkan makanan untuk Raka nanti jika sudah bangun dari tidurnya. Ia tidak tahu apa yang bisa ia masak untuk Raka. Hanya ada beberapa potong daging ayam yang ia simpan di dalam kulkas. Beberapa bahan dapur sebagiannya sudah habis. Uang yang tersisa sudah ia gunakan untuk membayar tagihan listrik tadi pagi.
Hafiza terdiam. Dipandanginya potongan-potongan ayam yang sudah ia campur dengan tepung. Wadah minyak goreng yang ia balik tadi pagi untuk mengeluarkan sisa-sisa minyak di dalamnya, tidak cukup untuk menggoreng daging ayam itu.
Hafiza menoleh ke arah jendela kecil dapur yang mengarah langsung ke rumah mertuanya. Setelah untuk sejenak terdiam seperti memikirkan sesuatu, ia melangkah keluar dan menuju ke rumah mertuanya.
"Ibu lagi masak apa," tanya Hafiza. Bu Raka yang saat itu sedang membersihkan beberapa butir bawang merah terkejut dengan sapa tiba-tiba Hafiza dari arah belakang. Hafiza tersenyum dan memeluk punggung perempuan tua itu.
"Masya Allah Nak, ibu kaget sekali, kamu kok gak salam dulu," kata bu Raka sembari mengusap dadanya.
"Maaf Bu, lupa," kata Hafiza. Kedua pundak bu Raka dipijatnya pelan.
"Ada apa Nak, kok tumben datang-datang langsung mijit," kata bu Raka tanpa menoleh. Ia masih sibuk memilih dan membersihkan bawang merah di depannya.
"Kak Raka sudah pulang Bu,"
Bu Raka berbalik.
"Alhamdulillah, kapan suamimu pulang Nak," tanya bu Raka.
"Gak tahu Bu, begitu bangun, Kak Raka Hafiza lihat sudah tertidur di samping Hafiza," kata Hafiza masih memijit pundak bu Raka.
Hafiza terdiam. Ia agak ragu menyampaikan maksudnya. Tapi ketika ingat ia harus segera menyiapkan makanan buat Raka, ia memberanikan dirinya.
"Bu, Hafiza pinjam minyak gorengnya, setengah gelas saja Bu. Saya belum masak apapun untuk Kak Raka," kata Hafiza tertunduk malu. Bu Raka berbalik.
__ADS_1
"Kenapa harus minjam Nak, ambil sana di rak," kata bu Raka sembari menunjuk ke arah rak di samping dengan mulutnya.
Hafiza tersenyum lalu bangkit dan melangkah menuju rak. Botol plastik minyak goreng yang tinggal setengah diambilnya.
"Bu, saya mau pulang, mau langsung masak buat Kak Raka." Bu Raka mengangguk tersenyum.
"O ya Bu, nanti saya kembalikan minyaknya," sambung Hafiza berbalik. Bu Raka mendesah pendek.
"Gak usah Nak, pakai saja, ibu masih punya satu botol lagi di lemari. Ayo, sana cepat, nanti suamimu keburu bangun," kata bu Raka. Hafiza tersenyum dan melangkah keluar rumah.
*
*
Suasana perlahan mulai gelap. Adzan maghrib sudah mulai terdengar dari beberapa arah. Hafiza masih menunggu Raka yang masih tertidur di ranjang. Dia tidak tahu jam berapa tadi Raka pulang dan mulai tidur. Tidurnya begitu pulas dan ia jadi ragu untuk membangunkannya. Dia takut Raka marah dan mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti hatinya. Ada baiknya ia shalat dulu, siapa tahu setelah shalat nanti Raka bangun.
*
Hafiza bangkit dan melangkah ke arah Raka. Perlahan ia naik ke atas ranjang dan mencium kening Raka. Raka terlihat bergerak, namun matanya masih terpejam. Kembali Hafiza mencium kening Raka, kali ini Raka membuka matanya. Tatapannya membelalak menatap Hafiza yang tersenyum di depannya. Ia terlihat begitu marah, sekali kibas, tangan kanannya menghantam dada Hafiza dengan keras dan menghempaskannya ke bawah ranjang.
Hafiza tak bergerak. Bekas terjangan keras tangan di dadanya membuat dadanya sangat sakit dan membuatnya sulit bernafas. Ia meringis kesakitan, namun Raka yang sudah terbangun dan duduk di sisi ranjang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Sudah aku bilang, jangan ganggu aku kalau aku sedang tidur, kayak gak ada pekerjaan saja." Raka bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Hafiza yang mulai menangis karna rasa sakitnya, tak dihiraukannya sama sekali.
"He! ayo bangun, siapkan aku makanan." Raka menendang-nendang kaki Hafiza dengan kaki kirinya. Hafiza yang masih bersujud memegang dadanya tidak merespon. Raka menggeram dan meninggalkannya menuju dapur. Makanan yang telah disiapkan Hafiza dibukanya dan mulai menyantapnya.
"Ah, makanan apa ini, apa kamu gak bisa masak masakan lain, ayam goreng, ayam goreng terus. Bosan tahu," teriak Raka dari arah dapur. Hafiza yang merasa mulai pulih dari rasa sakitnya, perlahan bangkit dan duduk di atas ranjang. Dia melihat dua potong ayam bercecer di lantai bersama sisa-sisa nasi. Rupanya Raka sengaja membuang makanan itu, padahal makanan itu adalah makanan pavoritnya. Ayam goreng pedas yang selalu ia minta dibuatkan sebelum-sebelumnya.
"Kita sudah tidak punya apa-apa lagi di dapur. Uang sudah habis. Minyak gorengpun aku minta sama ibu," kata Hafiza lirih menatap punggung Raka yang masih terlihat menyantap hidangan di depannya. Raka terlihat berdiri. Setelah meneguk satu gelas air, ia berbalik dan melangkah keluar rumah. Hafiza menoleh. Ia mengira Raka akan pergi, namun ternyata ia kembali lagi dengan membawa satu pasang sandal dari luar. Ketika Raka telah dekat dengan Hafiza, ia memegang mulut Hafiza dan menyumpalnya dengan sandal yang dibawanya.
__ADS_1
Hafiza terbatuk-batuk sambil memegang mulutnya yang kesakitan akibat cengkraman tangan Raka. Hafiza menangis.
"Makanya jangan suka ganggu kalau aku lagi kerja. Kalau aku sudah bilang lembur, terserah kapan aku mau pulang," kata Raka berang. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihannya kepada Hafiza yang menangis kesakitan.
"Aku kerja itu untuk cari uang. Kamu itu harus ngerti, aku baru masuk kerja. Kalau kamu gak punya uang, apa kamu gak bisa minjam dulu sama tetangga, dasar perempuan tak berguna," kata Raka. Setelah mengatakan itu, Raka berbalik dan melangkah menuju pintu. Terdengar suara sepeda motornya semakin menjauh meninggalkan rumah.
Tangis Hafiza semakin pecah. Raka sama sekali tidak mempedulikannya. Bahkan dengan kejamnya semakin menambah rasa sakitnya. Apa yang telah ia lakukan untuk membuat hati Raka senang, ternyata tidak berarti apa-apa.
Hafiza menghapus air matanya. Ia berusaha menjadi tenang dan berprasangka baik. Mungkin ia yang salah karna telah mengganggu istirahat Raka setelah kerjanya yang panjang. Ia harus membiarkan Raka tenang dan nyaman dulu. Ia yakin, setelah ia cukup dengan istirahatnya, ia akan meminta maaf kepada Raka.
Terdengar suara telpon. Hafiza menoleh. Suara itu bukan dari ponselnya. Itu nada panggilan milik Raka.
"Halo, Bu, ibu tahu sopan santun gak. Ini jam istirahat Bu, apa gak bisa ibu telpon dilain waktu. Gak bisa juga ibu seenaknya suruh Hafiza pulang, harus ada ijin saya sebagai suaminya."
Hafiza tersentak. Orang yang di bentak-bentak Raka lewat telpon itu pasti ibunya. Sudah lima kali ini ibunya menelpon lewat Raka. Dia sendiri tidak dibolehkan Raka untuk menelpon ibunya sejak pertengkarannya dengan Raka dua minggu lalu. Raka waktu itu beralasan, tidak ingin diganggu siapapun selama bulan madu mereka. Ibunya tidak tahu nomor telponnya karna Raka menyuruhnya untuk menggantinya.
Hafiza menoleh ke arah Raka terbaring. Setelah memastikan Raka sudah tertidur, ia perlahan keluar.
"Assalamualaikum Bu," kata Hafiza ketika ibunya menjawab panggilannya.
"Bilang sama suamimu Nak, punya sopan santun kalau berbicara sama orang tua," kata bu Abbas dari seberang.
Hafizah mendesah.
"Bu, kak Raka lagi capek, makanya ia tak sadar apa yang diomongkan," bela Hafiza.
"Gak sadar bagaimana, sudah lima kali ibu telpon, kali ini ibu tidak terima. Kata-katanya terlalu kasar bagi ibu," kata-katanya terdengar lebih keras.
"Maafkan kak Raka Bu, maklum baru pulang kerja, ia juga lembur semalaman di kantor, mungkin belum tidur sama sekali,"
__ADS_1
"Kamu dan suamimu sama saja, sudah, ibu sudah terlanjur marah, gak usah pulang sekalian." Bu Abbas terdengar mematikan hp nya. Hafiza menghela nafas panjang. Ia melangkah lemah ke dalam rumah. Ia bingung untuk menentukan sikap. Di satu sisi, Raka adalah suaminya, yang harus ia dahulukan haknya dari pada ibunya. Tapi di sisi lain, ia sedih jika ibunya marah. Bagaimanapun juga, ia adalah orang yang telah melahirkannya.
Hafiza tertunduk lesu. Dia berharap, keadaan yang membingungkannya itu segera berakhir. Setelah bangun nanti, Raka bisa tenang dan mau meminta maaf kepada ibunya.