JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#15


__ADS_3

Terdengar tangis bayi bersamaan dengan suara tarhim dari arah masjid desa. Hafiza melepaskan tangan Raka yang masih mendekap tubuhnya. Ia baru ingat, bayi Kasni ada di atas ranjang. Hafiza bangkit, setelah merapikan pakaiannya, ia segera menggendong bayi itu keluar rumah. Perlahan tangis bayi itu mereda setelah Hafiza memasangkannya dot di mulutnya.


Terlihat seseorang mendekat ke arahnya. Perlahan namun pasti, ia mulai mengenalnya. Itu Kasni. Mungkin ia akan mengambil anaknya. Ia akan mencoba bersikap ramah dan mengalah, mungkin dengan itu sikap Kasni akan berubah dan akhirnya mengikhlaskan hubungannya dengan Raka.


Tapi Kasni ternyata tidak mengambil bayi itu. Dia tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar. Hafiza tahu Raka masih setengah telanjang di dalam kamar. Waktu ia tinggal keluar, ia hanya memakai ****** ***** saja. Hafiza menggeleng. Betapa tidak berharganya dirinya di mata Kasni sehingga tanpa permisi nyelonong masuk ke ruang privasinya.


"Raka, ayo bangun!, antarkan aku pulang." Terdengar suara Kasni agak keras memerintahkan Raka bangun.


"Wah, wah, wah..., kayaknya kamu puas sekali menindih tubuh istrimu tadi malam. Lemes ya," kata Kasni sambil tersenyum mencibir. Sadar Kasni berdiri di depannya, Raka menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Melihat itu lagi-lagi Kasni tersenyum ketus.

__ADS_1


"Alah sok alim gak mau dilihat sama mantan istri. Memangnya sudah lupa bagaimana kamu membisikkan kata-kata "Aku puas Kasni, aku tidak akan membutuhkan wanita lain lagi, aku sudah cukup denganmu saja," kata Kasni sambil membisikkan di telinga Raka, berusaha mempraktikkannya.


"Apaan sih, ganggu saja. Sudah, keluar dulu nanti aku antar,"kata Raka. Kasni menarik selimutnya dan keluar. Tanpa bicara sepatah katapun, ia mengambil bayi yang ada dalam gendongan Hafiza dan ia pun lantas pergi.


*


*


"Aku pergi dulu sebentar, mau antar Kasni pulang,"kata Raka kepada Hafiza yang sedang menyapu di halaman rumah. Ia tidak mengangguk ataupun menjawab. Ia hanya menatap Raka yang menaiki sepeda motornya.

__ADS_1


Hafiza mendesah. Begitu takutnya Raka kepada mantan istrinya, sampai-sampai ia lupa memanaskan motornya, atau setidak-tidaknya memberikannya sedikit ciuman di keningnya.


Pernikahan yang aneh. Keindahan yang ia bayangkan sebelum menikah, hanya bertahan beberapa jam saja. Lebih banyak rasa cemas dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Ia berharap Kasni benar-benar pergi dari kehidupannya. Setidak-tidaknya, nanti malam ia lebih bisa menikmatinya bersama Raka.


Pagi telah menyingsing menyebarkan sinarnya di pucuk pepohonan. Setelah mandi dan berhias secukupnya. Hafiza mendekat ke rumah mertuanya yang jaraknya hanya satu meter dari rumahnya. Terlihat juga bi Ijah, bibinya Raka sedang sibuk membantu ibu mertuanya mengeluarkan beras dari dalam karung. Begitu Hafiza sudah sampai di teras rumah, ada pemandangan yang membuat hatinya mulai tidak nyaman. Bi Ijah membalikan tubuhnya ketika melihat Hafiza datang mendekat. Ia seperti tidak senang dengan kehadiran Hafiza. Bu Raka terlihat seperti menegur bi Ijah dengan sebuah desisan di bibirnya.


"Mari sini Nak, bantu ibu membersihkan beras. Yang masih ada kulitnya dipindahkan ke ember itu,"kata bu Raka sambil menunjuk ke arah ember di samping Hafiza. Tangan Hafiza mulai bekerja menyortir kulit-kulit padi dan memindahkannya ke dalam ember.


"Bu, aku pergi dulu. Aku mau menyiapkan sarapan dulu untuk Ayahnya Fadil."Bi Ijah bangkit dan melangkah pergi. Hafiza hanya tertunduk. Ia merasa yakin bi Ijah benar-benar tidak menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2