JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#20


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul satu malam lebih lima belas menit. Hafiza masih duduk termenung di atas ranjangnya. Ia belum melepas mukena yang dipakainya setelah selesai shalat isya beberapa menit lalu.


Seperti malam sebelumnya, Raka belum juga pulang. Setelah Isya' tadi, ia sudah menghilang seperti biasa dengan alasan yang sama. Hafiza memijit-mijit tangannya yang masih terasa pegal. Beberapa menit setelah kepergian Raka, Kasni datang lagi membawa anaknya. Ia harus menggendongnya sampai ia benar-benar tertidur pulas. Karna Kasni meminta baik-baik, Hafiza tak mempermasalahkannya. Ia sudah mulai merasa akrab dengan bayi itu. Begitupun sebaliknya, bayi itu sepertinya merasa nyaman didekap Hafiza. Dia selalu tertidur pulas jika sudah berada dalam dekapan Hafiza.


Mungkin apa yang dikatakan Kasni tadi pagi tentang Raka benar. Beginilah siklus kehidupan Raka. Begitupun ia. Saban malam, ia akan duduk menunggu sampai Raka pulang atau sampai ia tertidur. Uang yang dititipkan saudara misannya tinggal tiga ratus ribu. Setiap Kasni datang, ia akan memberinya uang, lagi-lagi dengan alasan yang sama, susu formula dan popok Nabil habis. Bukannya ia takut sama Kasni, tapi lebih kepada menjaga agar hubungan mereka tetap baik tanpa harus saling membenci. Sebenarnya,- yang ia tidak sukai bukanlah Kasni, tapi kerabat Raka, terutama bi Ijah yang terus menerus menampung Kasni di rumahnya. Kasni merasa punya kekuatan untuk datang melabrak dan mengganggu rumah tangganya. Kemanapun ia datang berkunjung, selalu ada Kasni yang datang menghalangi. Kata-kata sindiran yang ia ucapkan selalu memojokkan dirinya. Ia selalu menghalanginya mendapatkan perhatian dari keluarga Raka. Terkadang, ia mendengar mereka mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Kasni. Kasni lebih ramahlah, lebih bisa berbaur dengan masyarakat dan lebih segala-galanya dari dirinya.


Dan kini, seperti pengantin baru lainnya, ia masih ingin Raka mendekapnya dalam pelukannya. Ia ingin Raka menumpahkan seluruh kasih sayangnya untuk menjadikannya benar-benar sebagai seorang ratu. Seperti malam pertama dan kedua, walaupun selalu ada konflik sebagai pembuka. Ia selalu tampil maksimal. Ia sudah berhias secantik mungkin sedari tadi. Parfum yang katanya amat disukai Raka pun sudah melumer di tubuhnya. Ia ingin semua itu menggugah selera Raka agar tidak bosan menyentuhnya.

__ADS_1


Terdengar suara sepeda motor berhenti di luar rumah. Raka sudah pulang. Hafiza mulai berbenah. Ia sempatkan diri sejenak menengok ke arah cermin, takut wajahnya terlihat berantakan di depan Raka. Ia menunggu Raka di balik pintu, berharap Raka melihatnya yang sudah berdandan cantik dan berharap Raka langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Raka sudah berada di dalam rumah. Tak seperti harapannya, Raka malah langsung menghempaskan tubuhnya sendiri di atas ranjang beserta seluruh peralatan bulu tangkis yang dibawanya. Dia menunjuk-nunjuk dengan tangan kirinya ke arah lampu, isyarat agar Hafiza mematikannya.


Suasana di dalam ruangan mulai gelap. Hafiza masih berdiri termangu menahan nafas dan sakit hati dalam kegelapan. Raka sama sekali tidak tertarik untuk sekedar meliriknya. Apa yang ia lakukan terasa sia-sia.


Hafiza melepaskan mukena yang dipakainya. Ia lalu duduk di samping Raka sambil terus memperhatikannya dalam gelap.

__ADS_1


Jika kamu melihat seseorang istiqomah menjaga shalatnya, maka sangkakanlah ia sebagai orang baik. Tapi jika sebaliknya, jika kamu melihat seseorang menganggap enteng shalatnya, maka yakinlah, terhadap urusan lain ia akan lebih menyia-nyiakannya.


Ah, sudahlah. Hafiza mendesah. Dia ikut berbaring di sisi Raka. Dia tak punya keinginan untuk memeluk Raka seperti biasanya. Ia hanya menatap dengan penuh pikiran, menerawang ke langit-langit kamar.


Hafiza belum juga bisa memejamkan matanya. Suara detak jam yang membelah keheningan seperti suara ketukan yang membawanya jauh berkelana ke masa lalu. Wajah Faris tiba-tiba muncul membawanya tenggelam mengenang masa yang jauh berlalu. Saat dimana mereka berdua menghabiskan waktu berdua di pesisir pantai. Saat banyak rencana yang mereka susun jika menikah nanti, mulai dari menabung bersama sampai bentuk rumah kecil sederhana yang mereka oret-oret di kertas. Dia masih ingat telah menyimpan beberapa puisi milik Faris di rumah ayahnya. Dia tak tahu apakah masih tersimpan disana atau tidak. Yang jelas, saat ini ia sangat merindukan membaca puisi itu.


Hafiza tersenyum. Kini ia sedang mengingat sebuah lagu yang sering dinyanyikan Faris saat bertemu dengannya. "Kamu cantik hari ini", yang dinyanyikan oleh Lobow. Perlahan ia menggumam menyanyikannya. Senyumnya yang mengembang, sejenak membawanya melupakan kesedihan hatinya.

__ADS_1


Untuk sejenak, ia seperti tidak berada bersama Raka. Saat ini imajinya berada bersama Faris. Di dunia lain yang tak pernah dimengerti Raka. Mengingat sikap dan sifat Raka yang tak mencerminkan apa yang terlihat dulu saat pacaran, ia rindu segala yang kini tampak dalam bayangan Faris. Sangat jauh berbeda, tapi untuk menyesalinya, itu hanya akan memperberat pikirannya.


Suara tarhim membuyarkan lamunan panjang Hafiza. Ia bangkit dan menyalakan lampu. Suara geraman terdengar dari arah Raka. Hafiza sadar telah membangunkan Raka. Ia buru-buru mematikannya. Tapi ia begitu terkejut saat sebuah sabetan sajadah melayang ke wajahnya. Hafiza meringis kesakitan. Ujung sajadah mengenai matanya. Hafiza terlihat benar-benar kesakitan. Dalam posisi sujud, ia memegang matanya. Raka tak bergeming. Ia malah berbalik dan melanjutkan kembali tidurnya. Ia sama sekali tak menghiraukan Hafiza yang sedang kesakitan memegang matanya.


__ADS_2