
Bu Rahma menyandarkan sapu lidi di tangannya di sebuah pohon mangga depan rumah. Ia melirik Faris yang masih duduk termenung di kursi beranda rumah. Dia Nampak gelisah dan sepertinya ada yang ingin ia bicarakan. Dari tadi ia mondar-mandir mengikutinya. Ketika ditanya, ia tak menjawab. Tapi bu Rahma tahu, kalau Faris bersikap seperti itu, pasti ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikannya.
Bu Rahma mendekat dan duduk di kursi sebelah Faris. Ia mengusap punggung Faris.
“Ada apa Nak, dari kemarin ibu lihat kau kok gelisah terus. Apa yang kamu pikirkan Nak,” kata bu Rahma. Ia menatap Faris dalam, seolah ingin menyelami gurat-gurat kegelisahan dari raut wajah Faris.
Faris mendesah. Ia meraih tangan ibunya dan memegangnya erat.
“Bukan masalah apa-apa Bu, Faris Cuma bingung.”
“Iya, tapi bingungnya kenapa, ceritakan sama ibu,”
Faris terdiam lama. Pandangannya dilemparkannya jauh ke depannya. Kembali bu Rahma mengusap-usap punggung Faris, berusaha merayu Faris untuk melanjutkan pembicaraan.
Faris menoleh dan menatap ibunya.
“Pak Nasirin, ayahnya Rumaniati kemarin menyuruhku datang ke rumahnya. Dia memintaku untuk menikahi Rumaniati,”
Bu Rahma mengernyitkan dahinya. Agak kaget mendengar kata-kata Faris.
“Apa? Kamu apakan anak orang Nak." Melihat ibunya dengan wajah kaget seperti itu, Faris tersenyum.
“Ah, ibu, bukan apa-apa Bu. Kata pak Nasirin, dia sudah cocok lihat hubungan Faris dengan anaknya. Dia tidak mau melihat kami pacaran terlalu lama, takut maksiat,”
“Loh, memangnya kapan kamu pacaran sama nak Ruman Nak,” Bu Rahma terlihat semakin penasaran. Perasaannya, Faris baru dua kali mengajak Rumaniati ke rumahnya.
“Sudah seminggu Bu."
__ADS_1
Bu Rahma terdiam sejenak. Ia mengarahkan pandangannya ke depan. ******* nafasnya terdengar panjang. Faris menatapnya, seperti ingin melihat respon ibunya.
“Ibu sih setuju-setuju saja Nak. Nak Ruman anaknya baik dan sopan. Tapi masalahnya kita belum punya uang Nak. Uang sewa sawah dari bu Ramlah juga belum cair. Kamu bilang saja sama pak Nasirin, nikahnya ditunda saja dulu sambil nunggu rizki,” Faris memegang tangan bu Rahma dan menepuknya.
“Sudah Bu, sudah Faris bicarakan semua sama pak Nasirin,”
“Terus, masalahnya apa,”
“Masalahnya, pak Nasirin menyuruhku untuk tidak memikirkan masalah itu. Segala urusan mengenai biaya, akan diurus sama dia,”
“Wah, wah, pakai minyak apa kamu Nak, sudah dapat calon istri cantik, dibiayai lagi, ck,ck,ck,” kata bu Rahma sambil mengacak-acak rambut Faris. Faris hanya tersenyum.
“Tapi Faris bingung Bu,”
“Loh, kok bingung lagi sih,”
“Kenapa kamu bicara seperti itu Nak, kalau memang ragu, bilang sejujurnya sama Rumaniati agar kamu tidak menyakiti perasaannya,”
Faris menundukkan kepalanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia terdengar menangis. Bu Rahma heran.
“Loh, loh, loh, kenapa jadi nangis begini,”
Faris masih terdiam, bu Rahma memeluk tubuh Faris dari samping.
“Katakan Nak, jangan sembunyikan sesuatu dari ibu, kalau seperti ini, kamu sudah buat ibu cemas" bu Rahma mengusap kepala Faris.
“Faris tidak bisa Bu, Faris tidak bisa melupakan Hafiza." Isak tangis Faris semakin menjadi-jadi. "Entah kenapa tadi malam Faris tidak bisa tidur karna memikirkan dia. Dia tidak bahagia Bu,"
__ADS_1
“Masya Allah Nak, istighfar Nak. Hafiza itu sudah menikah, gak boleh.” Bu Rahma menatap Faris cemas.
“Faris tidak pernah berniat merebut istri orang, tapi Faris takut tak bisa mencintai Rumaniati karna Faris tak pernah bisa melupakan Hafiza,” kata Faris. Ia mengusap air matanya dengan ujung lengan bajunya. Bu Rahma hanya bisa memandangnya.
"Ibu harap kamu tidak berbuat yang tidak-tidak Nak. Walaupun kamu masih punya hubungan keluarga dengan Hafiza, tapi kamu gak boleh mengunjunginya. Masalah ia tidak bahagia, itu urusan rumah tangganya dia. Kamu akan menyakiti ibu jika kamu melakukan itu." Bu Rahma bangkit dan masuk ke dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian, ia keluar. Sebuah kalung emas melingkar dalam genggamannya. Ia kembali duduk dekat Faris. Dia meraih tangan kanan Faris. Dia meletakkan kalung emas itu di tangan Faris dan menggenggamkannya.
"Kalung itu adalah pemberian almarhum ayahmu dulu sebagai maskawin ibu. Sudah waktunya ibu memberikannya kepadamu. Berikan itu kepada calon mantu ibu sebagai maskawinnya." Bu Rahma mengusap air mata yang terlihat keluar di ujung matanya.
"Kalung itu adalah simbol kasih sayang kami. Kami tak terpisahkan sampai maut menjemput ayahmu. Ibu tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti ayahmu. Setiap melihat kalung itu, ayahmu seperti selalu ada di samping ibu." Melihat ibunya menangis, Faris memeluk ibunya. Tangis keduanya pecah.
"Itu juga harapan ibu sama kamu Nak, kalung itu kelak akan turun temurun dipakai oleh anak-anakmu. Jadi ibu mohon Nak, lupakan Hafiza. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ibu takut kamu nekat Nak," kata bu Rahma dalam isak tangisnya. Faris mengusap air mata yang mengalir di pipi bu Rahma. Ia tersenyum dan mengusap-usap pundak ibunya.
"Katakan sama ibu, kapan pak Nasirin akan mengajak ibu musyawarah," sambung bu Rahma setelah beberapa saat terdiam.
Faris tersenyum.
"Pak Nasirin menyerahkan semuanya pada Faris, dan Faris menyerahkan urusan ini pada Ibu,"
"Besok, ibu mau ke rumah bu Ramlah, mudah-mudahan dia punya rizki. Kamu harus bawa uang ke rumah calon mertuamu," bu Rahma bangkit.
"Ingat Nak, jangan kecewakan ibu,lupakan Hafiza." Setelah mengatakan itu, bu Rahma beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam rumah.
Faris kembali tertegun. Kini kata-kata ibunya tadi beradu dengan pikirannya yang melayang ke jauh sana. Menikah dengan Rumaniati akan menutup kesempatannya untuk hidup bersama Hafiza. Jikapun tetap berharap terus, itu berarti ia punya harapan melihat Hafiza berpisah dengan Raka.
Sebenarnya ia mulai bisa melupakan Hafiza. Ia punya harapan besar untuk memulai sesuatu yang indah bersama Rumaniati, tapi semuanya kembali berubah ketika ia tahu, Hafiza tidak benar-benar bahagia bersama Raka. Tepatnya saat ia menemukan Hafiza sedang menangis di sebuah dermaga. Sejak saat itu ia selalu mimpi buruk tentang Hafiza. Ia mulai selalu berharap pada akhirnya Hafiza segera mengakhiri ketidak bahagiaannya dan berpisah dengan Raka. Harapan yang sebenarnya terkadang ia tentang sendiri.
Tapi memang benar apa yang dikatakan ibunya. Hafiza masih istri sah Raka. Ada baiknya ia memaksa hatinya untuk menolak keinginan terlarang itu. Ada baiknya ia berusaha menghilangkan bayangan Hafiza dengan hubungan yang resmi dengan Rumaniati. Secepatnya, seperti kemauan ibunya.
__ADS_1
Faris bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas pembaringannya. Seakan-akan turut serta menghempas kegelisahan dalam hatinya.